0
36

ILHAM NAMAMU

Ilham, itulah namamu. Cerdas, sopan, baik, begitulah sifatmu. Di antara 500 lebih siswa yang ada, dirimu begitu menonjol. Peringkat Juara umum juga kau raih. Engkau aktif dalam hampir semua kegiatan sekolah, terutama yang berkaitan dengan intelegensi.
Pertama masuk ke kelasmu dan menjadi wali kelasmu, aku sudah dapat menebak bahwa engkau adalah sosok yang baik. Keinginanmu untuk maju dapat ku lihat dari caramu yang menyodorkan diri untuk jadi pemimpin. Ketua kelas. Ku sambut keinginannmu. Namun tentu saja aku harus memastikan bahwa dirimu layak untuk jabatan itu dan di sukai oleh teman-temanmu. Terus terang saja, aku belum begitu mengenal kepribadianmu, karena di kelas 7, aku belum pernah mengajar dirimu. Apalagi engkau masuk sore, sedangkan aku mengajar di pagi hari. Selain itu, di kelas ini, ada siswa lain yang tidak sekelas denganmu dulu waktu di kelas 7. Maka aku lalu membuat sistem folling dalam pemilihan Struktur Organisasi Kelas 8.5 ini. Kelas kita. Ku minta teman-temanmu untuk menyebutkan beberapa nama selain dirimu dan sistem folling pun di jalankan. Suara terbanyak engkau peroleh dan itu membuktikan bahwa engkau di sukai oleh teman-temanmu. Dan soal kinerja akan ku buktikan setelah engkau menjabat menjadi ketua kelas nanti. Begitu pikirku.
Hari demi hari berlalu. Engkau telah membuktikan kepemimpinanmu. Mengingatkan guru saat guru terlambat masuk kelas, memimpin kegiatan kelas dan semua hal-hal yang berkaitan dengan tugasmu sebagai ketua kelas. Alhamdulillah, tiada cela menurutku. Ku rasa bukan saja menurutku, tapi juga menurut guru-guru yang lain. Engkau yang begitu sopan, yang jika masuk ke ruang majelis guru, setelah mengucap salam langsung menyalami dan mencium tangan guru, baru melaporkan ataupun memberitahukan sesuatu.Bahkan setelah urusanmu selesai, sebelum pamit, engkau kembali menyodorkan tanganmu dan mencium tangan kami, guru-gurumu. Semua guru kulihat suka padamu.
Sudah minggu ketiga kegiatan literasi kelas menulis di sekolah kita berlangsung. Selain kelas menulis, sekolah kita juga mengadakan Bimtek Sekolah Model dan Pengimbasannya. Engkau tahu, bahwa sekolah kita sudah di tunjuk menjadi Sekolah Model dan harus mengimbaskannya ke beberapa sekolah lain yang menjadi Sekolah Imbas . Telah beberapa kali Bimtek itu dilaksanakan dan entah kenapa sering di hari Selasa dan Sabtu, dimana pelajaran Bahasa Inggris yang ku ampu, di jadwalkan di kelasmu. Bukan hanya kegiatan Bimtek, rapat dan kegiatan lain kadang juga di adakan di hari yang sama. Dan ini tentu saja merugikan kelasmu, karena aku merupakan bagian dari Bimtek itu sendiri. Dan kali ini, kegiatan itu jatuh di hari selasa lagi. Di jam pertama, aku masuk ke kelasmu. Setelah salam dan tegur sapa, absensi dan lain-lain, ku pandang dirimu dan teman-temanmu. Ada rasa bersalah menyelimuti hatiku, malu karena sering meninggalkan kelasmu. Sebelum aku pamit untuk mengikuti kegiatan Bimtek, seperti biasa aku memberi tugas padamu dan teman- temanmu, sambil sebelumnya meminta maaf pada kalian semua.
“Nak, kataku. Ma’am untuk kesekian kalinya harus pelatihan lagi, Sekolah Model dan pengimbasannya. Di pelatihan ini, akan di bahas tentang hal-hal penting untuk kemajuan sekolah kita dan sekolah imbas. Maam minta maaf karena terpaksa harus membiarkan kalian untuk belajar sendiri lagi. Ma’am sadar sudah berkali-kali kelas kalian tidak belajar bahasa Inggris, karena kegiatan Bimtek dan kegiatan lain yang sering di laksanakan di hari selasa dan sabtu, saat kalian harus belajar Bahasa Inggris. Maam berharap, kalian semua mengerjakan tugas-tugas yang ma’am berikan dengan baik dan menjaga ketertiban kelas”, kataku lagi.
“Iya, ma’am”, sahutmu dan teman-temanmu. Ku pandangi wajahmu dan teman-temanmu. Ku lihat engkau menunduk, seperti menyibukkan diri menulis sesuatu. Ku tangkap seperti ada sinar kecewa di matamu.
“Ilham, kataku. Ma’am titip kelas padamu. Jaga ketertiban kelas dan kalian semua tolong bantu Ilham untuk tetap tertib, tidak ribut dan tidak mengganggu kelas lain,” pesanku.
“Baik, maam”, sahutmu dan teman-teman.
“Ma’am janji, kita akan sama-sama cari waktu luang untuk belajar sore, mengejar ketinggalan kita. Insya Allah”, janjiku.
“Baik, ma’am”, sahutmu dan teman-temanmu lagi. Ku lihat kau mengangkat wajah. Ada sorot lega di matamu. Duh, Ilham anakku. Kau membuat aku merasa makin bersalah karena aku tahu akan ada beberapa kegiatan lagi yang harus diikuti dan dilaksanakan seperti lanjutan Bimtek Sekolah Model dan pengimbasannya, SIM PKB, dll. Dan bisa saja kegiatan tersebut akan di laksanakan di hari yang sama saat aku harus mengajar di kelasmu. Entahlah, rasanya begitu banyak kegiatan yang harus dilakukan. Begitu banyak Administrasi Pendidikan yang harus di lengkapi, sejak awal tahun ajaran kemarin, yang kadang-kadang harus mengorbankan jam pelajaran dan harus menguras pikiran kami sebgai pendidik. Semoga engkau mengerti, nak. Kami, guru-gurumu kadang harus menghadapi banyak pilihan, mengutamakan kalian, keluarga atau tugas lainnya, yang kadang memaksa kami untuk tetap menjadi manusia-manusia super yang harus bisa menyeimbangkan semua aktivitas kami agar balance. Berbagi ilmu pengetahuan dimanapun kami berada. Di keluarga, di lingkungan kerja di sekolah dan di masyarakat. Dan terima kasih untuk tetap mengingatkanku dengan tetap memberikan rasa bersalah ini melekat di hatiku.

Views All Time
Views All Time
160
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY