Proses penguatan pendidikan karakter sesungguhnya mempersyaratkan banyak hal. Setidaknya, menurut Suwendi ada tiga kunci pokok yang harus terjadi dalam penyelenggaraan pendidikan karakter. Pertama, pendidikan karakter harus diorientasikan untuk menumbuhkembangkan potensi peserta didik secara menyeluruh dan terpadu. Pendidikan harus diorientasikan untuk mengharmoniskan antara olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga. Meminjam istilah yang dipopulerkan oleh KH Tolchah Hasan, pendidikan karakter harus memberikan ruang yang cukup bagi berkembangnya potensi intuisi, emosi, dan kognisi peserta didik secara terpadu.

Kedua, pendidikan karakter hanya dapat berlangsung dengan baik jika ada keteladanan dalam penerapan pendidikan karakter pada masing-masing lingkungan pendidikan. Perpres ini mendorong lembaga pendidikan, mulai dari pimpinan, guru, hingga tenaga kependidikan pada masing-masing satuan pendidikan harus mencerminkan karakter yang baik. Demikian juga, tokoh-tokoh masyarakat sebagai bagian dari tumpu penddikan, seperti agamawan, politisi, birokrat, pengusaha, dan semua komponen masyarakat lainnya berikhtiar sekuat tenaga untuk berkomitmen dan memberikan teladan yang baik. Tak terkecuali dari itu semua, adalah lingkungan keluarga yang memberikan porsi tidak sedikit dalam proses pembentukan pendidikan karakter bagi anak-anak di keluarganya.

Ketiga, pendidikan karakter harus berlangsung melalui pembiasaan dan sepanjang waktu dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan karakter tidak dibatasi pada ruang dan waktu tertentu. Tidak hanya di lembaga pendidikan semata atau pada 5 atau 6 hari saja, proses pendidikan karakter itu terjadi. Dimanapun dan kapanpun, proses pendidikan karakter itu harus dilakukan dan menjadi kebiasaan.

Dalam konteks penyelenggaraan pendidikan karakter, Perpres PPK ini sesunguhnya hadir sebagai wujud penyelesaian atas sebagian dari sejumlah problem-problem pendidikan yang terjadi. Perpres PPK mengembalikan siapa dan peran apa yang harus dilakukan oleh masing-masing pihak. Penyelenggaraan pendidikan melalui jalur formal, nonformal, dan informal ditempatkan pada porsi yang semestinya.

Ketiganya memiliki peran dan tanggung jawabnya masing-masing, serta tidak menjadi subordinasi. Jika selama ini kita menempatkan institusi pendidikan formal, terutama pada jenis pendidikan umum, sebagai alat ukur dalam keberhasilan pembentukan karakter sehingga afirmasi anggaran pendidikan pun demikian besar untuk layanan pendidikan formal, maka sudah saatnya kita harus adil dan memberikan ruang yang seimbang bagi layanan pendidikan nonformal, seperti pendidikan keagamaan pada masing-masing agama. Dalam kontes pendidikan keagamaan Islam, terdapat madrasah diniyah takmiliyah, pondok pesantren, dan pendidikan Alquran.

Pendidikan karakter tidak hanya didominasi oleh pendidikan yang berorientasi pada aspek kognitif dan kecerdasan intelektual an scih, namun juga kecerdasan kognisi, emosi, dan spritual pun perlu mendapat perhatian dari negara. Bahkan, pendidikan karakter akan jauh lebih efektif jika dilakukan dengan pendekatan emosional dan spiritual. Dengan tanpa menafikan peran-peran pendidikan formal, kecerdasan emosi dan spiritual jauh telah diperankan oleh layanan pendidikan nonformal itu, utamanya berbasis keagamaan. Untuk itu, pendidikan pada jalur nonformal berbasis keagamaan sudah saatnya untuk direvitalisasi dan diafirmasi oleh negara.

Views All Time
Views All Time
234
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY