ANGKATAN 2020, BELAJAR TANPA GURU, LULUS TANPA UJIAN

0
55

Dalam sebuah tayangan vedio  yang viral dan menyebar di dunia maya yang dibuat oleh pemilik akun Vannda Reynaldi, digambarkan sebuah ruangan kelas atau ujian yang kosong, sepi dan haru. Kemudian, ada pengisi suara yang membacakan narasi yang terkesan puitis untuk menggambarkan kondisi yang terjadi dalam ruang ujian tersebut dengan judul “ Angkatan 2020” dilatarbelakangi dengan alunan musik yang bernada syahdu dan haru.  Si pembuat vedio mencoba memberikan gambaran tentang kondisi yang dialami menghadapi kenyataan pahit saat dunia dilanda penyebaran virus covid-19 atau corona yang berdampak terhadap semua sendi kehidupan, termasuk pembatalan ujian nasional.

Manusia memang wajib untuk berencana dan berusaha, namun Tuhan Yang Maha Kuasa jugalah yang menentukan atas segala rencana dan usaha manusia tersebut. Demikian kata-kata bijak yang menunjukkan makna bahwa betapa lemah dan tidak berdayanya manusia atas kehendak dan ketentuan Tuhan Yang Maha Kuasa. Tidak terkecuali dengan rencana penyelenggaraan Ujian Nasional atau UN yang telah direncanakan sejak awal, baik anggaran maupun langkah-langkah persiapannya mulai dari pusat hingga ke sekolah-sekolah. Namun, dengan makin merebaknya penyebaran virus covid-19 atau corona di Indonesia  yang menjadi pandemi dunia, maka penyelenggaraan UN dibatalkan oleh pemerintah, baik SMP, SMA, maupun SMK.

Kenyataan yang pahit dialami oleh dunia pendidikan Indonesia, dimana UN tahun 2020 yang digadang-gadang sebagai UN terakhir dan pada tahun 2021 diganti dengan Asesmen Kompetensi Minimal (AKM), ternyata telah lebih dulu berakhir sebelum direncanakan. Rencana tinggal rencana, dan berbagai persiapan yang sudah dilaksanakan pun hanya jadi kenangan untuk diingat dan dicatat dalam sejarah dunia pendidikan Indonesia, bahwa siswa yang lulus tahun 2020 atau angkatan 2020 dinyatakan lulus tanpa melewati ujian sekolah dan ujian nasional sebagaimana dilewati oleh siswa angkatan-angkatan sebelumnya. Angkatan 2020 dinyatakan lulus hanya dengan  nilai rapot selama belajar di sekolah tersebut.

Sekolah yang menjadi penggerak dunia pendidikan turut terdampak dan terguncang hebat dengan adanya penyebaran virus covid-19 atau corona yang melanda dunia. Siswa diminta belajar di rumah masing-masing tanpa jangka waktu yang pasti alias tidak dapat dipastikan kapan mereka dapat masuk dan belajar bersama lagi di sekolah kembali. Stay at Home. Hari-hari panjang dilewati siswa dengan belajar di rumah dibawah pengawasan dan bimbingan orang tua atau keluarga lainnya  dengan berbagai keterbatasan pengetahuan, pengalaman, dan sarana belajar. Pendidikan beralih dari ruang kelas di sekolah ke ruang keluarga di rumah-rumah yang tidak jelas kapan berakhirnya. Peran guru yang semula dominan dalam pembelajaran dialihkan kepada pihak keluarga di rumah, sehingga orangtua menjalani pameran utama sebagai guru bagi anak-anaknya.

Lalu, bagaimana peta mutu pendidikan Indonesia nantinya pasca berakhirnya masa pendemik virus covid-19 atau corona?  Tentu, sulit dibayangkan bagaimana prestasi atau mutu pendidikan yang pelaksanaan pembelajarannya tidak terprogram, terjadwal, terbimbing, dan terlebih lagi tidak terukur melalui proses penilaian seperti ujian nasional. Dalam kondisi yang normal saja dunia pendidikan Indonesia masih harus bekerja keras meningkatkan mutu pendidikan di tingkat Asia Tenggara, terlebih lagi dalam kondisi wabah korona yang tidak ada kejelasan kapan berakhirnya. Meski ada sekolah yang menyelenggarakan pembelajaran secara online, namun jumlah sekolah menyelenggarakan pembelajaran tersebut sangat sedikit dan terbatas bagi siswa yang mampu mengakses internet saja.

Indonesia harus bangkit, dan dunia pendidikan menjadi salah satu motor penggerak utama untuk membangun sumber daya manusia guna mengejar berbagai ketertinggalan yang dialami oleh bangsa tercinta ini. Guru sebagai ujung tombak dan garda terdepan pendidikan Indonesia harus  segera ditingkatkan mutu dan profesionalismenya agar dapat membantu memulihkan dan membangkitkan semangat belajar siswa yang ditengarai menurun dan pudar selama menjalani masa krisis yang tidak menentu ini. Pendidikan harus bangkit dan terus bergerak guna membantu pemerintah dalam menghadapi dan  memulihkan kondisi bangsa pasca musibah pendemik virus covid-19 atau korona.

(by Mas-2020) #dirumahsaja

 

Views All Time
Views All Time
32
Views Today
Views Today
1
Previous articleUJIAN KENAIKAN KELAS BATAL? Belajar di Rumah Akibat Covid-19 di Perpanjang
Next articleLANGKAH-LANGKAH MENULIS
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY