ANTARA GURU EMOSIONAL dan GURU PROFESIONAL

0
31

Membaca sebuah artikel dari koran Banjarmasin Post, edisi Kamis, 8 November 2018, dengan judul “ Membangun Harmonisasi Guru dengan Wali Murid” yang ditulis oleh Waluyo Satrio Adji, Dosen FTK UIN Antasari Banjarmasin.  Dalam paparannya diawali dengan berita pengianiayaan guru terhadap siswanya di sekolah yang baru-baru ini terjadi  di Garut, tanggal 24 Oktober 2018. Kejadiannya pada saat pembelajaran di sekolah siswa mengalami kekerasan fisik, yaitu kepala dibenturkan, disulut rokok, dan wajahnya ditusuk dengan polpen, sedangkan penyebabnya hanya karena siswa saat pembelajaran belum bisa menguasai perkalian.

Dalam paparan artikel tersebut tidak disebutkan sekolah, apakah jenjang SD, SMP,atau SMA sederajat. Kondisi yang dipaparkan tersebut hanya mengenai materi perkalian. Jika materi perkalian, besar kemungkinan mata pelajarannya Matematika, karena materi perkalian merupakan bagian dari mata pelajaran Matematika. Terlepas dari di sekolah mana dan mata pelajaran apa, ada masalah yang paling penting dari semunya, yaitu masih adanya guru yang melakukan tindakan fisik untuk menghukum siswanya yang tidak mematuhi aturan atau ketentuan.

Hukuman yang mungkin dianggap ringan oleh guru, namun tidak demikian bagi siswa,  karena hal tersebut dapat saja menimbulkan pengaruh yang negatif bagi pertumbuhan jiwa dan kepribadiannya. Lalu, apakah tidak ada jalan atau alternatif hukuman yang  lain, apabila ada siswa yang melakukan pelanggaran aturan dan sebagainya,  sehingga hukuman tersebut tidak menimbulkan beban fisik dan psikologis bagi siswa. Penegakan disiplin dan aturan memang perlu diterapkan dan ditegakkan kepada siswa, tetapi  hukuman fisik dan tidak mendidik,  hendaknya dihindari dan diminimalisir, sehingga tidak menimbulkan dampak yang tidak baik bagi pertumbuhan fisik dan kejiwaan siswa itu sendiri.

Selain hukum yang bersifat fisik, ada pula hukuman yang juga harus dihindari oleh guru dalam menjatuhkan hukuman kepada siswa, yaitu hukuman yang dikatagorikan bersifat verbal. Mencaci maki, menghina, atau bentuk ucapan yang dapat merendahkan harkat dan martabat siswa mestinya tidak boleh diucapkan oleh guru saat menjatuhkan hukuman kepada siswa. Kenyataannya, menurut penulis artikel di atas yang mengutip data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), bahwa kasus kekerasan di sekolah yang terjadi bulan Januari sampai Juli 2018 terdapat 100 lebih kasus, berkatagori fisik dan verbal.

Tidak adanya hukuman dalam dunia pendidikan, bukan berarti guru tidak boleh mengambil sikap dan tindakan apabila ada siswanya melakukan pelanggaran terhadap aturan dan ketentuan yang berlaku. Sebagai guru dan penegak disiplin aturan dan ketentuan dalam proses pendidikan, maka guru dibenarkan memberikan peringatan dalam batas yang wajar dan mendidik kepada siswanya untuk tidak mengulangi perbuatan yang tidak dibenarkan oleh aturan dan ketantuan yang berlaku.

Persoalannya, sejauhmana guru mampu mengendalikan dirinya untuk tidak bersikap dan bertindak emosional ketika menghadapi siswa nakal dan suka melanggar atau tidak mematuhi aturan dan ketentuan di sekolah yang berlaku. Guru adalah manusia juga, dimana emosional terkadang tidak dapat dikendalikan ketika sedang berhadapan atau bertatap muka dengan siswa  yang tidak patuh terhadap aturan dan ketentuan yang berlaku. Emosi atau marah merupakan hal yang manusiawi bagi seorang guru, akan tetapi marah yang berlebihan dan di luar batas kewajaran dan dilampiaskan kepada peserta didik dengan  perbuatannya sendiri atau melalui tangan orang lain adalah sebuah pelanggaran etika dan profesi  sebagai pendidik, bahkan dapat menjadi perbuatan pidana atau  melanggar hukum negara.

Guru yang baik dan profesional, di jenjang sekolah apapun, tidak akan menjatuhkan hukuman yang bersifat fisik maupun verbal yang dapat menyebabkan penderitaan fisik maupun psikis bagi siswanya.  Hukuman yang dijatuhkan kepada siswa sebatas hukuman yang bersifat mendidik dan mengingatkan atas kesalahannya,  sehingga dikemudian hari tidak mengulangi lagi perbuatan tersebut. Banyak cara dan alternatif yang dapat digunakan untuk memberikan ‘pelajaran’ kepada siswa yang tidak taat aturan atau melanggar tata tertib sekolah  yang tidak menyebabkan penderitaan fisik dan psikis

 

###1252###

 

Views All Time
Views All Time
13
Views Today
Views Today
1
Previous articleANTARA SEKOLAH KEKURANGAN RUANG BELAJAR dan KEKURANGAN SISWA
Next article
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY