ASESMEN DIAGNOSTIK DI AWAL PEMBELAJARAN SEKOLAH DASAR (SD)

0
57

Tulisan ini dirangkum dari vedio “Pentingnya Diagnosis  Di Awal Pembelajaran ” yang dikeluarkan oleh Pusat Asesmen dan Pembelajaran, Balitbang dan Pembukuan, Kemendikbud.

Dalam paparan latar belakang pentingnya diagnosis di awal pembelajaran digambarkan beberapa hal yang mendasari dilakukan upaya diagnosis oleh guru pada awal pembelajaran. Pertama. Bahwa pandemi COVID-19 telah merubah tatanan dan pola dunia pendidikan Indonesia dan dunia. Beragam kondisi selama pandemi menyebabkan proses belajar dan kompetensi siswa menjadi sangat bervariasi. Kedua. Dampak penutupan sekolah sebagai akibat pandemi bagi siswa antara lain : (1) ketidaktercapain belajar: (2) kemampuan siswa semakin menuru; (3) ketimpangan pengetahuan siswa yang semakin melebar; (4) perkembangan emosi dan psikologi siswa; (5) siswa beresiko rentan putus sekolah dan sebagainya.

 

Dalam upaya mengurangi dampak pandemi COVID-19 terhadap siswa sekolah dasar (SD), maka perlu asesmen secara berkala yang dilakukan oleh sekolah. Tujuan asesmen tersebut untuk mendiagnosis dampak pandemi terhadap perkembangan kognitif dan nonkognitif siswa. Oleh sebab itu, peran kepala sekolah sebagai penanggung jawab sekolah dalam melakukan asesmen diagnosis yang dilakukan bagi semua kelas secara berkala pada awal pembelajaran.

Asesmen  Nonkognitif
Para guru melakukan asesmen nonkognitif berhubungan dengan kesejahteraan psikologis dan sosial emosi siswa, aktivitas siswa selama belajar dari rumah, dan mengenai kondisi keluarga siswa. Adapun pelaksanaan asesmen nonkognitif tersebut, guru dapat menyiapkan alat bantu berupa gambar ekspresi emosi. Tentu saja, selain gambar ekspresi emosi tersebut, guru juga menyiapka beberapa pertanyaan kunci.

Adapun pertanyaan kunci tersebut adalah sebagai berikut : (1) Apa saja aktivitas Kamu selama belajar dari rumah?; (2) Hal apa saja yang paling menyenangkan dan tidak menyenangkan selama belajar dari rumah?; dan (3) Apa harapan-harapn Kamu? Dalam pelaksanaan asesmen nonkognitif, guru memerikan alat bantu berupa gambar-gambar ekspresi emosi, lalu guru meminta siswa untuk mengeekspresikan perasaannya melalui tulisan atau gambar dan mengidentifikasi siswa-siswa yang menunjukkan ekspresi emosi negatif.

Selanjutnya, pada minggu pertama masuk sekolah, guru mengajak siswa-siswa yang terindentifikasi berekspesi emosi negatif  untuk berbicara 4 (empat) mata. Lalu, guru mengidentifikasi siswa-siswa yang memiliki tantangan serta mendiskusikan dengan dewan guru serta kepala sekolah untuk menentukan langkah tindak lanjut. Kemudian, menindaklanjuti dengan siswa atau bahkan orang tua siswa jika diperlukan.

Asesmen Kognitif
Asemen kognitif bertujuan sebagai berikut : (1) Mengidentifikasi capaian kompetensi; (2) Menyesuaikan pembelajaran dengan kompetensi rata-rata; (30 Memberikan kelas remedial  atau pelajaran tambahan bagi siswa yang berada di bawah rata-rata..

Sebelum melakukan asesmen kognitif, guru menyiapkan jadwal pelaksanaan dan menyusun soal berdasarkan panduan yang telah dbuat oleh Kemendikbud. Guru melakukan asesmen kognitif kepada siswa dan kemudian melakukan diagnosis. Berdasarkan hasil diagnosis tersebut, guru membagi siswa dalam 3 (tiga) kelompok dengan pendekatan pembelajaran yang berbeda.

Kelompok tersebut terdiri dari : (1) Siswa dengan rata-rata kelas akan diajar oleh guru kelas; (2) Siswa yang berada 1 semester di bawah rata-rata mendapat tambahan dari guru kelas : (3) Siswa yang berada 2 semester di bawah rata-rata kelas akan dititipkan ke guru kelas bawah atau membentuk kelompok belajar yang didampingi oleh orang tua atau pendamping lain yang relevan.

Peran Kepala Sekolah

Dalam rangka memastikan para guru melaksanakan rangkaian asesmen diagnostik secara berkala dan melaksanakan pembelajaran sesuai kompetensi siswa, maka peran kepala sekolah sangat diperlukan. Dengan demikian, perkembangan nonkognitif dan kognitif siswa selama pandemi COVID-19 dapat dimonitor dan memenuhi target capaian belajar.

Demikian paparan singkat tentang pentingnya diagnosis siswa SD di awal pembelajaran berdasarkan vedio “Pentingnya Diagnosis  Di Awal Pembelajaran ” yang dikeluarkan oleh Pusat Asesmen dan Pembelajaran, Balitbang dan Pembukuan, Kemendikbud. Semoga bermanfaat.

Views All Time
Views All Time
49
Views Today
Views Today
1
Previous articleIlmu sebagai Amal Jariah
Next articleMenyelam Minum Air, Sambil Mencari Mutiara ala Mr. Desbud
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY