Bagian 10. Buku PMS-Edisi Palangkaraya. MAMPIR DI BUNDARAN BESAR dan TAMAN JEMBATAN KAHAYAN

0
52
Jembatan Kahayan Palangkaraya, Kalteng

Sesuai dengan rencana yang aku  susun dengan Saufi, bahwa besok Ahad, tanggal 11 Pebruari 2018, sebelum kembali ke Pelaihari Kalimantan Selatan, kami mampir dulu di bundaran besar  Kota Palangkaraya dan taman dekat  jembatan sungai Kahayan yang cukup terkenal itu. Pagi itu sekitar pukul 06.00 WIB kami berangkat dari rumah Saufi dengan membawa mobil masing-masing, aku sekeluarga dan Saufi juga bersama isteri dan anaknya.  Sekitar 15 menit kemudian sampai di sekitar bundaran besar,  kami parkir mobil di samping bioskop yang tekenal di kota Palangkaraya,  ibukota Provinsi Kalimantan Tengah,  lalu kami berjalan kaki menuju lingkungan bundaran besar yang sudah padat dengan pengunjung. Maklum, hari Ahad menjadi kegiatan car free day, atau bebas mobil dan sepeda motor di lingkungan  bundaran besar Kota Palangkaraya yang menjadi ikon  kota tersebut.

Cuaca pada hari itu sedikit mendung tetapi tidak hujan,  sehingga cukup bersahabat untuk kegiatan jalan-jalan dan aktivitas lainnya di luar rumah seperti di bundaran besar ini. Pada kesempatan ini,  kambali aku menggendong Icha, anak keponakanku, untuk melihat-lihat keramaian di lingkungan bundaran besar. Banyak pedagang kaki lima yang berjualan makanan, pakaian, dan berbagai barang keperluan sehari-hari lainnya. Maklum, setiap ada keramain dan kegiatan masyarakat maka dapat dipastikan ada ‘pasar dadakan’ yang mengikutinya. Demikian juga yang terjadi di bundaran besar Kota Palangkaraya ini. Kata orang, ada gula ada semut.

Setelah lelah berjalan-jalan mengelilingi bundaran besar dan melihat tugu yang ada di tengahnya, kami memutuskan untuk mencari makan guna mengisi perut yang belum diisi sejak berangkat tadi. Kami mencari tempat yang menjadi pusat penjualan makanan, dan akhirnya kami memutuskan makan nasi kuning.  Setelah selesai makan, aku membawa Icha naik odong-odong yang tidak jauh dari tempat kami makan. Icha sangat senang naik odong-odong, sehingga ketika Saufi, ayahnya Icha, mengangkatnya untuk pulang ia menangis karena masih ingin main lagi.

Sekitar pukul 08.30 WIB kami kembali menuju parkiran mobil untuk berangkat ke taman jembatan Kahayan. Kami sampai di taman jembatan Kahayan sekitar pukul 08.40 WIT, tempatnya  memang tidak jauh, tetapi karena adanya penutupan jalan untuk car free day,  maka harus menempuh jalan yang cukup jauh. Kami sempat menikmati suasana taman dekat jembatan yang megah yang membentang di Sungai Kahayan. Sementara itu, Icha masih tertidur pulas sejak berangkat dari parkiran dekat bundaran besar tadi. Cukup banyak juga masyarakat yang menikmati pagi di taman ini.  Kami hanya sekitar 20 menit di tempat ini karena harus segera berangkat pulang ke Palaihari Kalimantan Selatan. Waktu saat itu sudah menunjukkan pukul 09.15 WIB.

Setelah berpamitan dan minta diantarkan sampai ke depan kantor Saufi, kami masuk mobil dan meluncur menuju ke arah Banjarmasin (Kalsel). Saufi dengan membawa  mobilnya berada di depan mobilki untuk menjadi penunjuk arah jalan yang akan dilalui menuju ke Banjarmasin, karena aku masih belum familiar dengan arah jalan di Kota Palangkaraya ini. Sebelum meninggalkan Kota Palangkaraya, aku mengisi BBM dulu sampai penuh agar tidak perlu lagi mengisinya daat diperjalanan menuju Banjarmasin.  Selamat tinggal kota CANTIK Palangkaraya penuh kenangan.

###bukuPMS###

Views All Time
Views All Time
77
Views Today
Views Today
1
Previous articleAKU DAN KERASNYA PENDIDIK KU
Next articleLAGI, SEKOLAH MENGALAMI KEKURANGAN SISWA BARU
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY