Bagian 25. Buku OSG V : MENGGUGAT HASIL UKG

0
11

Dalam beberapa hari terakhir ini para guru seluruh Indonesia dengan jumlah sekitar 3,8 juta guru mengikuti UKG ( Uji Kompetensi Guru ) dari semua jenjang sekolah dan mata pelajaran.  Pelaksanaan UKG tersebut dilakukan dengan  sistem  online  secara bergiliran sesuai dengan jadwal waktu yang telah ditetapkan pada tanggal 9-21  Nopember 2015.  Berbagai upaya dan usaha telah guru lakukan untuk mendapatkan hasil yang maksimal, setidaknya dapat mencapai  batas minimal lulus yang telah ditetapkan, yaitu nilai 5,5. Keberhasilan dan kegagalan dalam mengikuti dan menjawab soal UKG sangat tergantung pada kesiapan pengetahuan/akademiki, mental, dan keterampilan menggunakan komputer. Kondisi dan kemampuan setiap guru sangat berbeda, terlebih dengan adanya soal UKG yang satu sama lain juga  berbeda karena  dengan sistem online dan komputerisasi dapat menyajikan soal yang sangat variatif meskipun materinya tetap sama.

Persiapan dan perjuangan menjawab soal UKG sudah selesai dan hasilnya pun dapat segera diketahui setelah guru menyelesaikan menjawab soal yang telah dikerjakan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Hasil yang tersaji menunjukkan kemampuan guru dalam menjawab soal yang berkaitan dengan pedagogik dan profesionalisme. Hasil tersebut masih berupa kemampuan menjawab jumlah soal yang ada, belum menunjukkan nilai dari sejumlah soal yang benar di jawab. Dari jumlah yang telah dijawab benar  inilah setidaknya guru sudah dapat menempatkan dirinya termasuk di atas atau di bawah batas minimal lulus.Nilai hasil UKG ini belum disampaikan secara langsung saat telah selesai mengerjakan soal sehingga masih menjadi tanda tanya apakah dengan jawaban yang benar tersebut lulus atau tidak  dalam mengikuti UKG ini. Konon, katanya nilai UKG akan disampaikan kepada guru  sekitar 4-5 bulan lagi .

Terlepas dari soal kesiapan dan teknis pelaksanaan UKG,  secara langsung maupun tidak langsung menimbulkan beragam pendapat dan pandangan dari guru dalam menyikapi hasil yang mereka peroleh.  Melalui sosial media dan forum guru  mereka mengungkapakan perasaan, pendapat, dan mungkin juga kritik terhadap UKG yang telah mereka ikuti.  Ada yang merasa sangat lega dan plong setelah mengikuti UKG meskipun hasilnya di bawah tingkat lulus, namun ada juga yang merasa tidak puas dan penasaran  atau bahkan kecewa dengan hasil yang diperoleh karena tidak sesuai dengan harapannya.  Sementara itu, kritikan tertuju pada tidak adanya petunjuk yang jelas tentang jumlah soal per mata pelajaran. Hal ini disebabkan ketika akan menjawab soal tidak ada halaman yang secara khususnya memberikan petunjuk tentang cara mengerjakan, jumlah soal , alokasi waktu , batas lulus, dan lain-lain  sebagaimana  yang ada pada  soal tertulis biasa.

Masalah petunjuk, tekni , dan arahan , baik tulisan maupun lisan, yang kurang jelas kepada guru yang belum biasa menggunakan komputer menjadi kendala tersendiri, terlebih dengan kondisi mental yang belum siap berhadapan dengan teknologi komunikasi seperti penggunaan komputer dan internet atau online, maka tidak dapat memperoleh hasil yang diinginkan. Jumlah soal setiap mata pelajaran berbeda, misalnya IPA sebanyak 60 soal sedangkan PKn 100 soal,  dan informasinya di komputer atau secara lisan tidak terlalu jelas sehingga ada guru yang mengira sama dengan guru yang lain yang berbeda mata pelajarannya tersebut sehingga ada soal yang tidak dijawab atau tidak sempat mengerjakan karena terburu oleh waktu yang habis. Lalu, siapa yang salah kalau ada guru yang mendapat nilai kurang baik karena petunjuk dan arahan yang kurang jelas?

Pada umumnya guru cukup antusias mengikuti UKG. Hal dibuktikan dengan hadirnya guru yang di pelosok dengan menggunakan berbagai sarana transportasi menuju tempat  UKG,bahkan ada yang menginap karena jadwalnya pagi hari. Pelaksanaan UKG  yang kurang siap dapat memberikan efek kurang baik terhadap hasil yang diperoleh. Keluhan dan kritik terhadap pelaksanaan UKG 2015 ini untuk meningkatkan pelaksanaan kegiatan UKG berikutnya sehingga hasil yang diperoleh guru lebih baik dan benar-benar mencerminkan kondisi tingkat kompetensi guru yang sebanar-benarnya. Keakuratan data nilai UKG setidaknya dapat memberikan gambaran tentang  bagaimana kondisi kompetensi pedagodik dan profesional guru Indonesia, baik yang sudah maupun yang belum sertifikasi. Hal inilah yang diharapkan oleh pihak Kemdikbud, yaitu untuk memetakan  kompetensi guru berdasarkan hasil UKG sehingga dapat menyusun rencana strategis ke depan dalam rangka meningkatkan profesionalisme guru.

Sebagai guru yang berkeinginan  meningkatkan profesionalisme, maka kegiatan UKG  dapat menjadi ajang untuk mengukur tingkat kompetensi yang dikuasai dan diterapkan dalam kegiatan profesi sehari—hari, baik mengajar, mendidik,membimbing, dan mengevaluasi. Penilaian UKG  dianggap relatif objektif, meskipun soal UKG masih bersifat kognitif atau menguji pengetahuan dari kompetensi guru, setidaknya menjadi tolak ukur profesionalisme guru.  Tentu hasil UKG yang baik juga dipengaruhi dan didukung  oleh pelaksanaan UKG yang kondusif untuk suatu tempat ujian. Dengan demikian, tidak ada alasan atau argumen guru yang ‘mengambinghitamkan’ tempat, waktu, suasana, dan  fasilitas pendukung  pelaksanaan UKG   yang tidak layak sebagai tempat ujian dan hal-hal teknis lainnya. Tolak ukur keberhasilan UKG bukan hanya berorientasi pada hasil semata, tapi sisi  pelaksanaan kegiatan UKG  itu sendiri perlu diperhatikan.

Perolehan hasil UKG yang di bawah standar lulus (5,5,), bukan berarti bahwa guru tersebut tidak pintar, tetapi kompetensi guru tersebut belum optimal  sehingga perlu ditingkatkan melalui berbagai pendidikan dan pelatihan yang berbasis kompetensi guru.  Sedangkan bagi guru yang hasilnya di atas standar lulus, jangan  menganggap diri sebagai guru profesional karena hasil UKG tersebut bersifat teoritis dan pengetahuan belaka. Profesionalisme guru ditunjukkan dengan komitmen dan loyalitas yang tinggi terhadap profesi dan dibuktikan dengan pengabdian sebagai guru di hadapan anak didiknya.  Sejatinya  hasil UKG merupakan perwujudan komitmen, loyalitas, dan pengabdian yang tanpa batas terhadap profesi guru.  Gambarkan kompetensi melalui UKG, dan buktikan profesionalisme melalui pengabdian sebagai guru.

 

##bukuosglima###

Views All Time
Views All Time
24
Views Today
Views Today
1
Previous articleBagian 24. Buku OSG V : PROFESIONALISME DAN PERLINDUNGAN HUKUM GURU
Next articleBagian 11. Buku ToR : Puasa dan Kembang Api
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY