Bagian 30. Buku OSG V : SEKOLAH BARU, PROBLEMATIKA LAMA

0
22

Membaca tulisan H.Muhammad Gazali, M.PdI dalam Banjarmasin Post, Selasa  7 Juni 2016 dengan judul Memilih Sekolah Layak untuk Anak. Membahas persoalan sekolah baru yang layak  bagi anak.  Persoalan yang kemudian muncul di tengah hiruk pikuk prosesi pendaftaran peserta didik baru bagi para orangtua adalah biaya pendaftaran dan masuk atau diterima di sekolah yang baru. Semangat anak-anak untuk masuk sekolah baru tidaklah semuanya berbanding lurus dengan semangat dan kemampuan para orangtuanya. Hal tersebut berkaitan dengan biaya pendaftaran dan masuk sekolah baru yang makin tahun makin mahal. Bagi anak-anak dari keluarga yang mampu, soal biaya tidak menjadi problem, tetapi bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu,maka persoalan biaya pendaftaran dan masuk sekolah menjadi beban berat para orangtua seiring dengan kenaikan harga harga berbagai kebutuhan hidup sehari-hari menjelang dan saat bulan suci Ramadhan tahun 1437 H ini.

Beban biaya pendaftaran dan sekolah yang semakin hari semakin mahal adalah akibat dari kenaikan berbagai kebutuhan di masyarakat, termasuk kebutuhan bagi para peserta didik, seperti pakaian, buku, tas, dan sebagainya. Sekolah berdalih dengan mengacu pada kenaikan berbagai kebutuhan tersebut untuk menaikkan biaya pendaftaran dan penebusan kebutuhan siswa bersekolah, sehingga dari tahun ke tahun akan terus mengalami kenaikan biaya sekolah tersebut.

Kenaikan harga  sembako menjelang Ramadhan yang semakin  genjar diberitakan di media massa menjelang pendaftaran dan penerimaan peserta didik baru, baik cetak maupun elektronik, menjadi pertimbangan yang penting bagi para orangtua untuk menyekolahkan putra-putrinya ke sekolah yang letaknya jauh dari tempat tinggalnya.  Demikian pula bagi sekolah, kenaikan harga sembako yang  kemudian pasti diiringi dengan kenaikan berbagai kebutuhan hidup lainnya, termasuk biaya operasional sekolah,  menjadi bahan pertimbangan yang untuk menaikkan biaya pendaftaran dan masuk sekolah, khususnya bagi sekolah-sekolah swasta. Persoalan biaya sekolah yang mahal menjelang dan memasuki tahun pelajaran baru, bukanlah persoalan yang baru, karena hal tersebut selalu terjadi disetiap awal tahun pelajaran baru. Dan persoalan ini akan sepi dan hilang dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu. Pertanyaannya adalah mengapa persoalan ini menjadi beban bagi banyak orangtua menjelang tahun pelajaran baru ?

Penerapan Kurikulum 2013 bagi beberapa sekolah yang akan ditunjuk oleh Pemerintah pada tahun pelajaran 2015-2016 ini juga dapat berdampak terhadap biaya sekolah anak. Persoalan yang akan membebani orangtua yang putra-putrinya bersekolah di sekolah yang menerapkan kurikulum 2013  kemungkinan besar tidak jauh dari buku pelajaran yang akan mereka pakai dalam pembelajaran. Isu Pemerintah, dalam hal ini Kemdikbud, akan memberikan secara gratis buku pelajaran bagi siswa dan sekolah yang menggunakan kurikulum 2013 tidak menutup kemungkinan memerlukan buku lagi selain buku yang sudah dibagikan tersebut.

Persoalan buku pelajaran menjadi persoalan tersendiri yang selalu membebani orangtua. Meskipun sudah ada buku pelajaran atau buku paket yang diberikan secara gratis oleh Pemerintah, tetapi bagi sekolah atau guru masih meminta kepada peserta didik untuk memiliki buku lain dengan cara membeli, baik secara langsung atau kolektif oleh sekolah.  Keberadaaan buku yang diberikan secara gratis oleh Pemerintah dinilai oleh pihak sekolah atau guru  tidak cukup jumlahnya, kurang luas bahasannya, dan sebagainya. Hal inilah yang kemudian menjadi alasan dan membuka peluang pihak penerbit buku untuk memasarkan buku-bukunya langsung ke sekolah atau guru.  Pembelian buku pelengkap atau pendukung ini  terkadang menjadi persoalan yang membebani orangtua setelah anaknya mulai belajar. Memang tidak salah memiliki buku pelengkap atau pendamping buku pelajaran  atau paket yang ada, namun dalam praktiknya buku pelengkap atau pendamping itu dapat mengalahkan dan meminggirkan buku paket pelajaran yang ada sehingga hal ini memicu peserta didik yang belum memiliki buku pelengkap atau pendamping untuk membeli buku tersebut.

Kemampuan orantua peserta didik yang terbatas dalam membiayai putra-putri mereka bersekolah pada sekolah unggulan , favorit, atau terkemuka  menjadikan mereka terpaksa menyekolahkan putra-putrinya ke sekolah yang ‘seadanya’ dengan keterbatasan dan kekurangannya, sehingga sekolah unggulan, favorit, atau terkemuka hanya menjadi rebutan dan ‘milik’ anak-anak dari keluarga terkaya, terpandang, dan terkenal.  Ketika persoalan biaya menjadi faktor utama, maka kepintaran atau kecerdasan peserta didik hanya sebatas wacana. Pendidikan dan sekolah gratis hanya janji manis yang mudah diucapkan tetapi masih jauh dari kenyataan.

Sekolah gratis merupakan kebijakan Nasional yang  dicanangkan oleh pemerintah sebagai bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Secara teoritis dan politis , sekolah gratis perlu dikaji lebih lanjut dan mandalam,karena dengan kebijakan sekolah gratis tersebut pihak sekolah menjadi  yang terjepit dari atas dan bawah. Bagaimana tidak, dana atau bantuan dari pemerinatah (Pusat dan daerah) kepada sekolah dari jenjang pendidikan dasar dan menengah (SD-SMP-SMA) yang berstatus sekolah ‘negeri’  tidak sepenuhnya dapat memenuhi kebutuhan dan keperluan sekolah, baik untuk fisik maupun operasional sekolah, sementara itu sekolah dilarang memungut bantuan dari orangtua.

Problem yang timbul dengan adanya kebijakan sekolah gratis di lapangan, pihak sekolah menjadi serba salah dalam memungut atau meminta bantuan kepada orangtua peserta didik.  Padahal menurut UU Sisdiknas No.20 Tahun 2003, bahwa pendidikan adalah tanggung jawab pemerintah, orangtua, dan masyarakat. Berdasarkan peraturan perundangan tersebut , partisipasi orangtua atau apapun namanya dapat dibenarkan sebagai perwujudan dari rasa tanggung jawab orangtua kepada sekolah. Namun, dalam realitasnya setiap sekolah dilarang memungut atau meminta bantuan dalam bentuk dana kepada orangtua peserta didik. Sementara itu dana bantuan dari Pemerintah sangat terbatas jumlahnya dibandingkan dengan kebutuhan sekolah yang semestinya, baik untuk pembangunan fisik dan operasional sekolah. Rasio kebutuhan riil  sekolah dengan dana bantuan yang diberikan oleh  pemerintah tidak seimbang dan jauh dari kebutuhan riil sekolah yang ideal.

Sekolah gratis memang diperlukan dan idealnya seperti itu apabila negara/pemerintah dapat memenuhi kebutuhan ideal dana bagi pengelolaan sekolah. Kenyataan menunjukkan terjadi kesenjangan antara kebutuhan sekolah dengan dana yang ada bantuan pemerintah, baik pusat maupun daerah, maka jangan heran jika banyak bangunan sekolah yang tidak layak karena tidak atau lambatnya  mendapat bantuan dari pemerintah sedangkan sekolah tidak punya dana untuk menanggulangi hal tersebut. Kebijakan sekolah gratis hendaknya menjadi skala prioritas oleh Pemerintah agar masyarakat , khususnya orangtua peserta didik , tidak selalu merasa terbebani  lagi oleh problem lama disaat awal  tahun pelajaran baru. Semoga.

##bukuosglima###

Views All Time
Views All Time
57
Views Today
Views Today
1
Previous articleBagian 29. Buku OSG V : KELUARGA DAN SEKOLAH MENYONGSONG FULL DAY SCHOOL
Next articleGuru IGI selalu Meng-Upgrade Diri
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY