Bagian 41. Buku PMS-Edisi Keluarga ke Tabunganen-2019. PAGI-PAGI BERANGKAT MENUJU TABUNGANEN-BATOLA

0
7

Sekitar pukul 06.45 WIT, penulis bersama isteri dan adik ipar suami isteri serta anaknya berangkat mengikuti rombongan mobil lainya dari jembatan kembar Antasan Senor Martapura, Kabupaten Banjar  menuju Tabunganen, salah satu kecamatan di Kabupaten Barito Kuala. Ada 4 (empat) mobil dalam rombongan yang berangkat bersama tersebut, salah satunya mobil penulis. Tujuan keberangkatan ini untuk mengantarkan adik bungsu  dari ipar penulis yang melangsungkan pernikahan sekaligus resepsi pernikahannya pada hari ini, Ahad, 24 Maret 2019 di tempat mempelai perempuan atau calon isterinya.

Perjalanan melalui jalur Banjarbaru, lalu masuk bundaran kilometer 17 dan seterusnya melewati jalan lingkar selatan yang nantinya akan tembus di Simpang Empat Handil Bakti Batola atau Barito Kuala.  Sesampai di jalan lingkar selatan, jalan poros trans Kalimantan yang menghubungkan Kalimantan Selatan dengan Kalimantan Tengah, penulis menepikan mobil untuk mengisi angin semua ban mobil yang kurang kencang di sebuah bengkel mobil yang baru buka. Seusai mengisi angin ban mobil,  penulis melanjutkan perjalanan lagi menyusul mobil rombongan yang telah lebih dulu.

Perjalanan menelusuri jalan lingkar selatan trans Kalimantan yang berada di sekitar Kecamatan Sungai Tabuk Kabupaten Banjar  terasa berat, karena kondisi jalan banyak yang rusak dengan adanya banyak aspal yang terkelupas dan jalan yang berlobang. Penulis tidak dapat memacu mobil dengan cepat untuk mengejar rombongan yang telah lama lewat, karena selain kondisi jalan yang rusak, juga relatif banyaknya kendaraan yang melintasi jalan lingkar selatan tersebut, khususnya truk –truk besar.

Pagi itu cuaca cukup cerah  sehingga  banyak orang  yang melakukan  perjalanan pada hari itu, termasuk rombongan kami yang melakukan perjalanan panjang menuju Tabunganen. Penulis sendiri belum pernah ke tempat yang akan dituju tersebut, termasuk tidak tahu kondisi jalan yang akan dilewati nantinya. Menurut informasi yang penulis dapatkan dari adik ipar yang pernah ke sana, bahwa perjalanan ditempuh dengan menggunakan mobil sekitar 3 jam, dengan kondisi jalan yang beragam dan banyak melewati jembatan. Oleh sebab itu, kami berangkat secara berombongan agar yang pernah ke tempat tersebut dapat menjadi pemandu bagi sopir mobil yang lainnya.

Menjelang memasuki  Simpang Empat Handil Bakti (Barito Kuala), penulis dapat menyusul dan bergabung dengan rombongan mobil yang lebih dulu meninggalkan mobil penulis. Kemudian, rombongan mobil kami memasuki kawasan Simpang Empat Handil Bakti,  yang pada pagi itu kondisinya cukup lengang. Perempatan Handil Bakti ini pada waktu tertentu sangat padat dengan berbagai kendaraan, terutama sepeda motor, karena perempatan ini menjadi titik kumpul kendaraan dari dari berbagai arah, baik dari Banjarmasin, Marabahan, Martapura, dan juga daerah dari Kalimantan Tengah.

Sekitar pukul 08.00 WIT, rombongan mobil kami memasuki kawasan Jembatan Barito, jembatan terpanjang di Kalimantan Selatan, yang menghubungkan Kalimantan Selatan dengan Kalimantan Tengah dan menjadi urat nadi trans Kalimantan. Kondisi lalu lintas di atas Jembatan Barito cukup lengang dan lancar,  di bagian trotoarnya terlihat orang sedang olahraga jalan santai.  Selepas dari Jembatan Barito, rombongan kami memasuki jalan yang dulunya pernah penulis lewati, yaitu Jalan Subarjo atau jalan ke Tamban.  Jalan Subarjo ini menjadi pintu masuk ke arah tempat yang akan kami datangi.

###bukuPMS###

Views All Time
Views All Time
24
Views Today
Views Today
1
Previous articleBagian 40. Buku PMS-Edisi Keluarga ke Tanjung-2019. MENERUSKAN PERJALANAN PULANG KE PELAIHARI
Next articlePENGALAMAN BERHARGA MENGIKUTI WORKSHOP SAGUSAKU
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY