Bagian 46. Buku OSG IV : KETIKA LEMBAGA PENDIDIKAN TAK RAMAH LAGI

0
4

Belum lama tahun 2017 berjalan kita disuguhkan peristiwa tindak kekerasan yang berakhir dengan pembunuhan di lembaga pendidikan kita. Dengan beberapa kasus tersebut  membuat kita bertanya-tanya, ada apa dengan lembaga pendidikan tersebut?.  Kisah terbunuhnya taruna Akademi Kepolisian Republik Indonesia yang bernama Mohammad Adam, berpangkat Brigadir tingkat II yang meninggal dunia usai ikut apel di kompleks barak pada Kamis, 18 Mei 2017. Korban meregang nyawa diduga setelah dianiaya senior. Kisah tergis ini seakan menambah kisah pilu duni pendidikan Indenosia setelah sebelumnya ada peristiwa yang hampir serupa, yaitu kasus tewasnya Kresna Wahyu Nurachmad (15), siswa SMA Taruna Nusantara, Magelang, Jawa Tengah. Kresna ditemukan pamong di di barak 17 pada Jumat, 31 Maret 2017, sekitar pukul 04.00 WIB, bersimbah darah akibat luka di leher.  Beberapa bulan sebelumnya, di awal tahun 2017, tepatnya 10 Januari 2017, seorang taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP), Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, bernama Amirullah Adityas Putra (18). Amir diduga tewas pada Selasa (10/1/2017) malam akibat dianiaya seniornya di asrama.

Kepercayaan orangtua kepada lembaga pendidikan yang selama ini dianggap aman, nyaman, dan menyenangkan bagi putri-putri  mereka  tidak diimbangi dengan ketahanan lembaga pendidikan itu sendiri dalam menjaga moral dan budaya yang luhur dan menusia sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Tindak kekerasan terhadap siapa pun merupakan bentuk perbuatan yang tidak manusiawi, terlebih lagi kepada peserta didik atau taruna  yang sedang menimba ilmu pengetahuan sebagai upaya menyiapkan pemimpin  bangsa ini dimasa mendatang. Pelaku tindak kekerasan di lembaga pendidikan seperti kasus di atas harusnya tidak terulang lagi, baik di lembaga pendidikan yang sama maupun lembaga pendidikan lainnya.

Perlindungan terhadap peserta didik atau taruna  yang sedang menuntut ilmu di lembaga pendidikan kedinasan  seperti STIP, Taruna Nusantara, atau Akademi Kepolisian, dan lembaga pendidikan lainnya  tidak terlepas dari  tanggung jawab pihak pengelola  lembaga pendidikan tersebut. Ketika terjadi tindak tindak kekerasan atau apapun bentuk perlakuan yang tidak menyenangkan dan menyakitkan lainnya  terhadap diri peserta didik atau taruna  tersebut maka dapat dikatakan bahwa  perlindungan dan pengawasan terhadap peserta didik  atau taruna terkesan lemah. Sekolah atau lembaga pendidikan lainnya  seharusnya memiliki aturan yang ketat dalam menjaga dan melindungi peserta didik dari upaya tindak kekerasan yang mengancam dirinya di dalam lingkungan sekolah dan lembaga pendidikan tersebut.  Kepercayaan dan dukungan orangtua yang mempercayakan putra-putrinya bersekolah atau mengikuiti pendidikan di lembaga pendidikan tersebut telah dilanggar oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Lalu, kemana lagi peserta didik atau taruna memerlukan perlindungan jika orang-orang yang ada di sekolah  atau lembaga pendidikan malah menjadi pelaku kejahatan yang mengancamnya.

Persoalan tindak kekerasan lainnya dapat dikatakan sebagai fenomena gunung es. Keengganan pihak korban, baik anak maupun orangtua, untuk melaporkan perbuatan yang sangat tidak bermoral tersebut tentunya menyulitkan pihak berwajib untuk mengungkap kejahatan tersebut secara terbuka dan tuntas. Tentunya, masih banyak peserta didik atau taruna  yang menjadi korban tindak kekerasan fisik ini namun kasus mereka tidak terekspose atau tidak  melaporkannya kepada  pihak berwajib. Bagaimanapun pihak berwajib dan pihak terkait lainnya akan sangat sulit masuk dan mengungkap secara kekerasan  ini apabila pihak korban dan keluarganya tertutup  atau setidaknya tidak mau memperpanjang dan mengungkap kasusnya sampai tuntas. Kesadaran dan niat dan itikad yang baik dari pihak korban dan kelaurganya akan banyak membantu pihak berwajib untuk mengungkap dan selanjutnya mengadili pelakunya dengan hukuman yang seadil-adilnya sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukannya. Dengan terungkapnya kekerasan  terhadap anak atau peserta didik di sekolah atau lembaga pendidikan lainnya  secara terang benderang akan memberikan pelajaran berharga bagi orangtua dan masyarakat dalam memberikan perlindungan kepada anak secara optimal.

Tindak kekerasan  terhadap peserta didik atau taruna  dengan segala bentuk dan jenisnya adalah perbuatan yang dapat menyuramkan masa depan bangsa in. Kini saatnya  dunia pendidikan Indonesia untuk memberikan perlindungan dan kenyaman bagi semua anak Indonesia, khususnya yang sedang menuntut ilmu di lembaga pendidikan, agar mereka  tidak ada lagi yang menjadi korban tindak kekerasan, dan bentuk kejahatan lainnya,  yang dilakukan oleh orang yang selama ini dianggap bagian terdekat dari mereka. Sekolah atau lembaga pendidikan dapat memberikan  jaminan  bahwa anak atau peserta didik  yang menimba ilmu di sekolah atau lembaga pendidikan terbebas dari berbagai bentuk tindak kekerasan. Pengawasan Pemerintah dan terlebih orangtuanya sangat diperlukan agar putra-putri harapan keluarga dan bangsa ini dapat menikmati dunia mereka dengan aman dan nyaman serta mereka terbebas dari ancaman yang dapat merusak masa depan mereka.  Pemerintah telah mencanang program sekolah aman dan nyaman untuk pendidikan Indonesia yang lebih baik. Semoga

 

 

Views All Time
Views All Time
21
Views Today
Views Today
1
Previous articleCatatan Kecil : CBT SNPDB MAN IC INDONESIA
Next articleBagian 47. Buku OSG IV : DICARI LEMBAGA PENDIDIKAN YANG MANUSIAWI
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY