Bagian 47. Buku OSG IV : DICARI LEMBAGA PENDIDIKAN YANG MANUSIAWI

0
9

Masih hangat diingatan kita tentang kasus terbunuhnya mahasiswa STIP Jakarta di tangan seniornya, dan kini kita mendapatkan kabar buruk lagi dari lembaga pendidikan lainnnya, yaitu terbunuhnya tiga mahasiswa UII Yogyakarta yang didguga penyebabnya dari tindak kekerasan oleh mahasiswa lainnya. Rentetan kasus tersebut kian menambah permasalahan dunia pendidikan, khususnya lembaga pendidikan setingkat perguruan tinggi,  karana hal tersebut telah mencoreng kesucian dan kearifan sekolah selama ini yang dianggap sebagai lembaga yang memanusiakan manusia, pendidikan budaya, moral, dan agama, maka berbagai kasus terjadi sepatutnya tidak pernah terjadi.. Lalu,  bagaimana semua pihak dalam menyikapi fenomena yang sangat memprihatinkan lembaga pendidikan tersebut?

Kepercayaan orangtua kepada sekolah yang selama ini dianggap aman, nyaman, dan menyenangkan bagi anak mereka  tidak diimbangi dengan ketahanan sekolah itu sendiri dalam menjaga moral dan budaya yang luhur dan menusia sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Tindak kekerasan terhadap siapa pun merupakan bentuk perbuatan yang tidak manusiawi, terlebih lagi kepada anak atau peserta didik  yang sedang menimba ilmu pengetahuan sebagai upaya mencerdaskan bangsa ini. Pelaku tindak kekerasan sebagaimana banyak diberitakan oleh media massa akhir-akhir ini, khususnya tentang kematian seorang mahasiswa STIP (Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran)  Jakarta yang bernama Amrullah Aditya Putra (18).

Perlindungan terhadap peserta didik yang sedang menuntut ilmu di sekolah atau lembaga pendidikan seperti STIP  tidak terlepas dari  tanggung jawab pihak lembaga pendidikan tersebut. Ketika terjadi tindak tindak kekerasan atau apapun bentuk perlakuan yang tidak menyenangkan dan menyakitkan lainnya  terhadap diri peserta didik  tersebut maka dapat dikatakan bahwa  perlindungan dan pengawasan terhadap peserta didik  tersebut lemah. Sekolah atau lembaga pendidikan lainnya  seharusnya memiliki aturan yang ketat dalam menjaga dan melindungi peserta didik dari upaya tindak kekerasan yang mengancam dirinya di dalam lingkungan sekolah dan lembaga pendidikan tersebut.  Kepercayaan dan dukungan orangtua yang mempercayakan putra-putrinya di sekolah atau lembaga pendidikan tersebut telah dilanggar oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Lalu, kemana lagi peserta didik memerlukan perlindungan jika orang-orang yang ada di sekolah  atau lembaga pendidikan malah menjadi pelaku kejahatan yang mengancamnya.

Persoalan tindak kekerasan lainnya dapat dikatakan sebagai fenomena gunung es. Keengganan pihak korban, baik anak maupun orangtua, untuk melaporkan perbuatan yang sangat tidak bermoral tersebut tentunya menyulitkan pihak berwajib untuk mengungkap kejahatan tersebut secara terbuka dan tuntas. Tentunya, masih banyak anak atau peserta didik  yang menjadi korban tindak kekerasan fisik ini namun kasus mereka tidak terekspose atau idak  melaporkannya kepada  pihak berwajib. Bagaimanapun pihak berwajib dan pihak terkait lainnya akan sangat sulit masuk dan mengungkap secara kekerasan  ini apabila pihak korban dan keluarganya tertutup  atau setidaknya tidak mau memperpanjang dan mengungkap kasusnya sampai tuntas. Kesadaran dan niat dan itikad yang baik dari pihak korban dan kelaurganya akan banyak membantu pihak berwajib untuk mengungkap dan selanjutnya mengadili pelakunya dengan hukuman yang seadil-adilnya sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukannya. Dengan terungkapnya kekerasan  terhadap anak atau peserta didik di sekolah atau lembaga pendidikan lainnya  secara terang benderang akan memberikan pelajaran berharga bagi orangtua dan masyarakat dalam memberikan perlindungan kepada anak secara optimal.

Tindak kekerasan  terhadap peserta didik dengan segala bentuk dan jenisnya adalah perbuatan yang dapat menyuramkan masa depan bangsa in. Kini saatnya  dunia pendidikan Indonesia untuk memberikan perlindungan dan kenyaman bagi semua anak Indonesia, khususnya yang sedang menuntut ilmu di lembaga pendidikan, agar mereka  tidak ada lagi yang menjadi korban tindak kekerasan, dan bentuk kejahatan lainnya,  yang dilakukan oleh orang yang selama ini dianggap bagian terdekat dari mereka. Sekolah atau lembaga pendidikan dapat memberikan  jaminan  bahwa anak atau peserta didik  yang menimba ilmu di sekolah atau lembaga pendidikan  terbebas dari berbagai bentuk tindak kekerasan. Pengawasan Pemerintah dan terlebih orangtuanya sangat diperlukan agar putra-putri harapan keluarga dan bangsa ini dapat menikmati dunia mereka dengan aman dan nyaman serta mereka terbebas dari ancaman yang dapat merusak masa depan mereka.  Pemerintah telah mencanang program sekolah aman dan nyaman untuk pendidikan Indonesia yang lebih baik. Semoga.

 

Views All Time
Views All Time
30
Views Today
Views Today
1
Previous articleBagian 46. Buku OSG IV : KETIKA LEMBAGA PENDIDIKAN TAK RAMAH LAGI
Next articleBagian 48. Buku OSG IV : PROFESIONALISME GURU SEBUAH KENISCAYAAN
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY