Bagian 49. Buku OSG IV : GURUKU SAYANG, GURUKU MALANG

0
13

Pada bulan November ini, tepatrnya tanggal 25 November nanti, diperingati sebagai Hari Guru Indonesia. Sebuah dedikasi  dan apresiasi bagi guru Indonesia, baik yang berstatus ASN maupun honorer. Bagi guru, peringatan Hari Guru , menjadi momentum untuk lebih meningkatkan pengabdian dan peningkatan mutu diri,  sehingga dapat menjadi guru yang lebih profesional sesuai dengan tuntutan zaman. Profesionalisme guru menjadi harapan yang terus dikumandangkan, karena dengan semakin profesional , maka diharapkan mutu pendidikan juga akan semakin meningkat.

Peringatan Hari Guru  tahun 2017 yang lalu, khususnya di Kalimantasn Selatan, diwarnai dengan kisah pilu mengenai nasib guru yang terus mendapat perlakuan yang tidak semestinya. Masih teringat dengan beberapa kasus yang menimpa guru. Ada Ibu  Junaidah (59) guru di SDN Keraton 3 , Kabupaten Banjar, oleh orang tua siswanya, dan kasus  Ibu Suprihatin, seorang guru SDN Pelaihari 7, Kabupaten Tanah Laut. Masih banyak kisah pilu yang menimpa guru di daerah lain, bahkan ada yang berujung ancaman penjara.

Terlepas dari kisah pilu yang menimpa nasib guru di era reformasi, guru adalah ujung tombak dunia pendidikan yang berhadapan langsung dengan anak didiknya. Guru menghadapi anak didiknya yang memiliki karakter dan kepribadian yang beranekaragam. Ada anak didiknya  yang pendiam, pemalu, nakal, suka usil, baik, pintar, dan sebagainya. Ketika anak didiknya ini berkumpul dalam sebuah ruang kelas yang sama, maka dapat dibayangkan bagaimana kondisi dan situasi yang terjadi di dalam ruang itu jika tidak ada guru di ruang tersebut.  Guru menjadi sosok yang dapat menciptakan suasana yang harmoni di dalam kelas yang  beragam.

Profesi menunjukkan lapangan yang khusus dan mensyaratkan studi dan penguasaan pengetahuan khusus yang mendalam, seperti bidang hukum, militer, keperawatan, kependidikan dan sebagainya. Seseorang yang mempunyai profesi dituntut untuk profesional, seperti yang dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Guru profesional pada intinya adalah guru yang memiliki kompetensi yang dipersyaratkan untuk melakukan tugas pendidikan dan pengajaran. Oleh karena itu, membedah aspek profesionalisme guru berarti mengkaji kompetensi yang harus dimiliki seorang guru. Salah satu kompetensi yang wajib dimiliki oleh pedagogik yang dalamnya mensyaratkan kemampuan guru mengenali karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural,emosional, dan intelektual sebagaimana yang tercantum dalam Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.

Pendekatan dan pengenalan karakter peserta didik ini yang menjadi  penting sebagai dasar utama dalam meniti karir sebagai guru profesional. Ketika seorang guru tidak memiliki kemampuan mengenal karakteristik peserta didiknya maka kemungkinan besar ia tidak mampu mengelola kelas menjadi medium pembelajaran yang menyenangkan. Karakter peserta didik menjadi titik awal bagaimana menentukan langkah stretegi, pendekatan, dan metode  yang akan dilakukan oleh sang guru dalam menyampaikan materi pembelajaran yang diampunya. Tatkala seorang guru tidak mampu mengenali karakter peserta didiknya maka itu berarti langkah awalnya membangun suasana dan kondisi pembelajaran di kelasnya terancam gagal.

Kasus-kasus  yang menimpa guru pada akhir-akhir ini terasa menyantak,  karena seolah  kurangnya perlindungan hukum terhadap profesi guru selama ini. Bagaimana mungkin hanya gara-gara guru mencubit siswanya ,lalu kemudian guru tersebut dipenjara?  Ketika guru memberikan sanksi kepada peserta didik didasarkan pada ketentuan bahwa peserta didik diyakini oleh tersebut telah melakukan suatu pelanggaran norma agama, kesusilaan, kesopanan, dan peraturan tertulis dan tidak terlusi yang ditetapkan oleh guru itu sendiri , sekolah, dan peraturan lainnya,maka guru berhak mendapat perlindungan  atas tindakannya tersebut.

Kegiatan pembelajaran yang dikelola oleh guru dalam kelas tidak sepenuhnya bebas dari sikap, perilaku, atau perbuatan peserta didik yang mengganggu kelancaran jalannya pembelajaran itu sendiri.  Ada satu, dua, atau banyak peserta didik di dalam kelas yang dapat menyebabkan guru perlu mengambil sikap dan tindakan persuasif dan refresif kepada peserta didik yang kurang mendukung pembelajaran di kelasnya. Faktor –faktor inilah yang kemudian dapat memicu emosi guru untuk memberikan sanksi atau hukuman kepada peserta didik. Ada peserta didik yang menerima hukuman tersebut, tetapi tidak sedikit pula yang protes, menolak, dan melaporkan kepada orangtuanya di rumah sebagaimana beberapa kasus yang menimpa guru akhir-akhir ini.

Konsekuensi dan resiko profesi yang harus di tanggung guru ketika hukuman yang ia berikan menyebabkan nasib malang bagi dirinya. Kondisi yang sangat tidak menyenangkan dan merugikan proses pendidikan di sekolah karena guru tidak tenang melaksanakan tugasnya bahkan sampai mendekan di penjara. Tetap  semangat dan berjuang untuk anak Indonesia yang cerdas  untuk Guru sayang , guruku malang. Semoga

 

 

Views All Time
Views All Time
32
Views Today
Views Today
1
Previous articleBagian 48. Buku OSG IV : PROFESIONALISME GURU SEBUAH KENISCAYAAN
Next articleBagian 6. Buku MSG I : PERKENALAN PERTAMA
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY