Bagian 7. Buku MSG I : HIDUP DI RUMAH SEWAAN

0
14

Sebagai orang yang hidup merantau, jauh dari kampung halaman dan bertugas sebagai guru di kampung orang tentu jalan yang ditempuh adalah hidup di rumah sewaan. Saat pertama kali datang ke wilayah Kecamatan Lampihong tempat tugas penulis berada, langsung saja kami bersama isteri untuk mencari rumah sewaan atau tempat tinggal sementara.

Alhamdulillah setelah bertanya-tanya dengan guru-guru yang kebetulan berada disekitar sekolah dan kepada masyarakat sekitar tempat tugas kami dapat satu bedakan (rumah yang dikhususkan untuk disewakan satu kamar dan didalamnya ada kamar mandir dan toilet).  Kebetulan rumah sewaan tersebut tidak jauh dari sekolah tempat penulis bertugas dan berada di pinggir jalan depan sekolah. Kami saat itu melunasi biaya sewanya selama 1 bulan saja dulu dan kami berfikir setelah ini kami akan mencari lagi tempat tinggal yang lebih layak lagi, karena kalau hanya bedakan atau kos-kosan rasanya tidak pantas bagi kami yang sudah berkeluarga dan beranak satu.

Setelah beberapa hari kami tinggal di rumah bedakan tersebut, kamipun mencari-cari rumah yang mau disewakan dan walaupun jauh sedikit dari tempat tugas akan tetapi nyaman didiami maka kami akan mengambilnya. Kami bertanya-tanya kepada guru-guru dan masyarakat sambil jalan-jalan sore, kami bertemu dengan seorang ibu yang mengatakan bahwa ada rumah satu dan tidak ada penghuninya, kebetulan rumah tersebut kepunyaan keluarga ibu tersebut yang berada dan berusaha di Samarinda. Kamipun mencoba untuk melihat dan mensurvey rumah tersebut dan setelah musyawarah kami berdua maka kami putuskan untuk mengambilnya untuk tinggal dirumah tersebut.

Haripun berganti hari, dan tepat tanggal 29 Maret 2003 kami ijin kepada pemilik rumah bedakan yang kami diami bahwa kami akan pindah ke rumah di Desa Sungai Awang Kecamatan Lampihong dan besok harinya kami pindah untuk mendiami rumah sewaan baru tersebut. Berat rasanya kami meninggalkan rumah bedakan tersebut, karena walaupun hanya satu bulan kami tinggal di sana, terasa lama dan terasa kami berkeluarga dengan keluarga pemilik rumah bedakan tersebut. Karena ada salah satu anak pemilik rumah bedakan tersebut yang begitu akrab dengan anak pertama kami dan kamipun juga akrab dan senang dengan keluarga beliau. Mungkin ini adalah salah satu hikmah kenapa kami ditempatkan di SMPN 1 Lampihong ini, yaitu memperbanyak keluarga dan teman.

Besok harinya kami sudah menempati rumah sewaan baru dan sungguh luar biasa berantakannya rumah tersebut karena sudah beberapa bulan tidak didiami oleh orang dan walaupun sebelumnya ada yang menyewa akan tetapi bagaikan rumah tak bertuan. Kebetulan ibu dan keluarga yang pertama kali menunjukan rumah tersebut begitu perhatian dan membantu kami untuk membersihkan rumah tersebut dan dari sinilah keluarga tersebut menjadi bagian terbesar yang paling berjasa dalam kehidupan kami selama di perantauan, mereka adalah Abdullah dan isteri serta putera beliau Marsa’i dan isteri.

Perjalanan kami dirumah sewaan tersebut berlangsung sampai sepuluh tahun lebih dan pada akhirnya kami bisa membeli sebidang tanah dan pada tahun 2010 dengan ijin Allah kami bisa mendirikan rumah seadanya.

Views All Time
Views All Time
35
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY