Berdamai dengan Sejarah

Mari sejenak kita menjelajah dunia sejarah dengan penuh inspirasi. Menembus batas ruang dan waktu. Belajarlah dari masa lalu; dan Berjuanglah untuk masa depanmu

0
58

Tentu kita masih ingat bagaimana ketika masih duduk dibangku sekolah,  dan mempelajari mata pelajaran Sejarah, terutama perjalanan bangsa Indonesia maka disadari atau tidak, seakan-akan disuguhkan pada perjalanan bangsa yang terus menerus saling membenci dan menghapuskan kebaikan (kelebihan) satu rezim ke rezim setelahnya. Sebagai contoh guru-guru kita pasti akan menerangkan bahwa bagaimana sengsara dan menderitanya rakyat kita akibat kejamnya penjajahan yang dilakukan pemerintah Kolonial Belanda, memang hal itu benar dan tak dapat dipungkiri, namun seringkali para pendidik lupa menyampaikan point yang tak kalah penting lainnya yaitu hal-hal yang patut diteruskan dan dicontoh bangsa kita pada masa tersebut, seperti bagaimana pencatatan arsip-arsip dilakukan secara lengkap, apik dan terperinci, bagaimana budaya literasi (membaca dan menulis) sangat digiatkan, para pelajar saat itu diwajibkan membaca minimal 25 buku dalam setahun, bagaimana kemudian bangunan-bangunan peninggalan Belanda masih mampu kokoh berdiri hingga kini padahal telah berusia ratusan tahun, itu karena Belanda berpikir untuk tinggal selama-lamanya di bumi Nusantara, sedangkan para pemimpin kita sekarang apabila membangun infrastruktur hanya berpikir untuk generasinya saja, tidak berfikir untuk kepentingan anak cucu sehingga dapat kita bandingkan bagaimana kualitas dan kekokohan hasil kerja dari keduanya dan juga kebaikan lainnya yang tentu tak bisa diuraikan satu persatu disini tanpa menjadikannya sebagai sebuah legitimasi pembenaran atas penjajahan yang mereka lakukan. Pembelajaran seperti itu saya pandang sangat penting agar para anak didik kita menyadari tentang urgensi hikmah dan unsur-unsur baik yang perlu diteruskan, seperti dari pencatatan arsip-arsip negara yang lengkap, jujur, terperinci dan juga tersimpan (dikelola) dengan apik, tentang betapa pentingnya pembangungan infrastruktur yang berkualitas, tanpa ada penyelewengan dana  dan juga berjangka panjang juga tentang budaya Literasi bangsa Indonesia yang memprihatinkan (menurut data UNESCO hanya 1: 1000 orang bangsa Indonesia yang gemar membaca)

Kebencian dan penghapusan segala sesuatu yang berbau Belanda mulai dilakukan ketika masuknya pemerintahan kependudukan Jepang, yang selanjutnya diteruskan oleh pemerintahan Presiden Soekarno (Orde Baru) yang menerapkan pelarangan penggunaan bahasa Belanda baik dalam dunia formal maupun informal dan menggantinya dengan bahasa persatuan kita, bahasa Indonesia, sebagai sebuah kebijakan untuk menjauhkan rakyat kita dari segala sesuatu yang berbau kolonialisme Belanda. Memandang bijak atau penting tidaknya kebijakan para pemimpin ini bukanlah tugas kita untuk menghakimi atau menilai, namun kemudian rasanya tak ada salahnya apabila bahasa Belanda tetap dipelajari tanpa menggeser pentingnya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (nasional), bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional dan melestarikan bahasa daerah sebagai bahasa ibu. Karena mungkin saja kita akan mendapat banyak manfaatnya, seperti kemudahan-kemudahan masyarakat kita untuk belajar di Belanda (tanpa ada kendala kesulitan dalam berbahasa) meningat justru arsip-arsip kita terkait zaman penjajahan justru saat ini tersimpan baik di Universitas Leiden-Belanda, sehingga ada kesulitan tertentu bagi para sejarawan kita saat ini ketika ingin memperdalam atau mengangkat sejarah mengenai kolonialisme Belanda atau mungkin mempelajari segala sesuatu yang mungkin saja bisa kita ambil sebagai sebuah kebaikan untuk kemajuan bangsa saat ini. Kita jangan terkejut ketika diantara jutaan rakyat Indonesia hanya sedikit saja mereka yang dapat berbahasa Belanda dan menjadi ahli sejarah kolonialisme di Indonesia, karena ternyata justru sejarawan-sejarawan asing (Belanda) lebih banyak menjadi ahli Kolonialisme di Indonesia mengingat banyaknya arsip-arsip masa kolonial yang berbahasa Belanda dan hingga sekarang masih apik tersimpan di negeri Kincir angin itu.

Seperti halnya rezim orde lama yang membenci rezim penjajahan Belanda, maka begitu pula dengan rezim Orde Baru yang memandang buruk rezim orde lama, atau masa reformasi yang memandang bobrok rezim orde baru, dan begitu seterusnya. Sehingga setiap pergantian satu pemimpin ke pemimpin selanjutnya (apalagi berasal dari ideologi yang berbeda) maka kita akan melihat kebijakan akan diputar 180 derajat dan akan terdengar isu-isu mengenai pencemaran rezim sebelumnya, seakan-akan semua harus terhapus dari unsur objektifitas sejarah. Hal ini tidak menjadi masalah apabila menjadikan bangsa kita terbukti semakin maju dan menjadi selalu yang terdepan, namun karena pemimpin selanjutnya selalu menerapkan kebijakan yang  berbeda sehingga kita selalu saja mulai dari nol dan selalu berjalan ditempat, kita tetap dikenal dengan bangsa penghasil tenaga kerja murah. Sedikit perbandingan, Negara tetangga kita Malaysia yang terjajah oleh Inggris, terlepas dari penderitaan masa lalu namun setelah Malaysia merdeka, mereka tetap menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa Nasional kedua mereka setelah bahasa Melayu. Setidaknya hal itu membuat mereka tidak terlalu mengalami kesulitan dalam melakukan pergaulan di dunia Internasional dimulai dari rakyat biasa hingga para pejabat tinggi negara karena fasih berbahasa asing membuat mereka lebih percaya diri dalam berkomunikasi di tataran forum Internasional.

Menyimpan dan mewariskan dendam seakan menjadi sebuah perkara besar dan sangat dilarang apabila dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, namun ternyata nilai-nilai ini pula yang kemudian mengiringi perjalanan bangsa Indonesia, menyimpan dan mewariskan dendam sejarah seakan telah menjadi sebuah kewajaran. Disadari atau tidak ketika terjadinya pergantian satu rezim ke rezim setelahnya maka rezim masa lalu sekan dipandang sebagai sebuah perjalanan penuh noda, cela dan tanpa ada kebaikan sedikitpun didalamnya, sebaliknya ketika pemimpin rezim yang menggantikan rezim sebelumnya itu akan dipandang bahwa pada masa kepemimpinnya adalah masa paling baik dan cemerlang, dan yang paling dikhawatirkan, perlahan-lahan hal ini akan menimbulkan pengkultusan terhadap seseorang, sehingga kesadaran politik masyarakat kita tetap tidak akan berkembang yaitu berdasarkan figuritas semata. Yang diharapkan kemudian disini adalah apa yang kita dapat sebagai Tesa-Antitesa-sintesa hasil dari rekonsiliasi pada masa lalu dan masa sekarang untuk masa depan yang lebih baik. Sebagai contoh apa yang ada diingatan kita mendengar kata “orde lama” adalah salah satunya adalah sistem demokrasi liberal, keberhasilan pemilu 1955 yang dikenal paling bersih, jujur dan adil, namun kesejahteraan rakyat yang kurang terperhatikan dan keamanan yang masih kurang stabil, sedangkan apa yang kita fikirkan ketika mendengar kata “orde baru” adalah kesejahteraan rakyat, stabilitas nasional dan pesatnya pembangunan juga keamanan yang terjaga tentu saja dengan konsekuensi kebebasan umum dan pers yang dibungkam, merajalelanya KKN dan menumpuknya hutang negara. Mengapa kemudian di era setelah Reformasi seharusnya tidak menghapus smeua kebaikan yang ada pada zaman sebelumnya yaitu membuat antitesa dari orde lama dan orde baru menjadi sebuah sintesa bahwa negara kita harus mengambil kebaikan dari kedua zaman itu yaitu kebebasan Demokrasi pada zaman Orde lama dan kesejahteraan, keamanan juga pembangunan pada zaman orde baru.

Meskipun bangsa kita terkenal pula sebagai bangsa yang mudah “melupakan dan memafkan” namun, pendidikan mengenai berdamai dengan masa lalu (sejarah) tanpa mewariskan dendam harus mulai dipelajari oleh para pemimipin kita, kemudian ditransformasikan oleh kita sebgai pendidik di sekolah-sekolah, berlakunya hukum Antitesa tidak perlu dipandang secara membabi buta dan mengesampingkan objektifitas-objektifitas lainnya sehingga seharusnya melahirkan sintesa baru yang mengambil hikmah dan kebaikan dari Antitesa sebelumnya. Maka sedari saat ini, para pendidik mulai menyisipkan dan menyampaikan mengenai kebaikan dan objektifitas sejarah kepada para murid kita, agar kedepannya kita dapat menciptakan generasi yang selain “mudah melupakan dan Memaafkan” namun pula menjadi generasi yang gemar mencari hikmah dan memilah kebaikan-kebaikan yang patut diambil, diteruskan dan merelevansi sesuai dengan zamannya.

Views All Time
Views All Time
69
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY