Bukan Kisah Asal ‘Kisah’

0
67

Berkumpul dan bertemu mereka meski via dunia maya tidak mengurangi esensi terhadap literasi. Malahan saya begitu senang dapat berkumpul dengan mereka yang melalang buana di lingkungan literasi, yang berbeda jauh sekali dengan saya. Sangat berterima kasih pula kepada penerbit memberikan e-sertifikat atas apresiasinya. Di sini saya mungkin bisa dijadikan ajang kritikan untuk karya saya yang memang masih ditaraf “peserta” 😂😂😂

Namun, kesukaan akan literasi tidak membuat saya harus stagnan. Daripada panjang lebar.Ini tulisan saya

          (R) asa Rindu Dipuji
Minta dkiritik dan komentar kepada diri, sangatlah cukup perlu menguatkan hati. Apalagi pada kaum wanita yang halus akan perasaan dan sedikit getaran pun menjadi buncah air mata teriring. Mudah sekali seseorang memberi tanggapan secara menyudutkan dan tidak jarang pujian sulit untuk diucapkan bahkan diberikan dengan tulus.

Berulang kali ini ketukan hati berkata, mari kita kritik diri sendiri baru limpahkan kepada orang lain. Namun janganlah semata kekurangan yang dimiliki orang lain membuat kita sehingga menganggap orang lain di bawah kita.

Malam ini Kembali, telepon genggam saya berdering. Tanda dering WA – whats app-. Mungkin hidup dengan aplikasi dunia maya sudah menjadi santapan utama karena faktor sekitar yang mengharuskan pengunaan aplikasi untuk keseharian dan kelebihan dari aplikasi ini sangat cukup membantu. Baik dari segi mencari ilmu baru dan menjalin komunikasi dengan rekan sejawat yang jaraknya berjauhan. Ketika data yang diminta /dikirim dengan kapasitas cukup sangat mumpuni. tidak mengherankan para pengguna sangat menyukai beberapa aplikasi. Tidak dipungkiri penggunaan telepon genggam menjadi barang yang sudah dikatakan hampir mendekati primer.

Pernah disarankan dan wajib penggunaan telepon genggam ketika dalam proses pembelajaran tidak dibenarkan. Namun bagi saya pribadi gadget sudah menjadi penyambung ide karena terkendala laptop ada namun tiada (efek layar hitam dan remuk akibat terinjak kaki yang tidak berdosa ini). Ketika ide terlintas, maka ter-ketiklah di layar. Ide dan hasil karya siap dikirim, tidak peduli menang atau tidak. Pengharapan agar ide tidak mandek dan kesukaan hal literasi masih tertanam di diri. Hingga akhirnya inilah Guru Now. Sibuk dengan gadget tetapi tetap tidak menghilangkan esensial menjadi “pabrik” pendidikan yang bermutu.

Awal ide sehingga terjadi aktualisasi dimulai ketika tahun 2008. Karya eL Bara Rahman – nama pena penulis masih versi “awam” – akhirnya karya yang tidak sengaja muncul di salah satu media massa lokal daerah dan dipublikasikan dalam dua eksemplar. Awal muasal indikasi pengiriman dilakukan karena akan ada reward nilai untuk mata kuliah yang pernah saya jalani dengan nilai perjanjian yaitu A. Bagi kami – para mahasiswa waktu itu- mendapatkan nilai A begitu penuh perjuangan teruntuk yang mengenal kehidupan perkuliahan.

Ketika pemuatan karya tersebut ternyata menjadikan bomerang dimana terhentinya keinginan untuk berkarya. Ketika karya yang telah ada disajikan di hadapan mata dengan secara jelas terpampang namun reward memberikan apresiasi berupa kata motivasi sulit diberikan malahan ada nada tersudut diberikan. Ketika cambukan kata-kata tidak berkenan menghampiri. Saya pun stop untuk berkarya. Cukup sebagai cara untuk mendapatkan nilai ketika perkuliahan. Saya mengerti bagaimana rumor di luar, pantas saja jika ada salah satu penggiat sastra mandek karena cambukan cecaran tidak pantas dikeluarkan dari seseorang -yang saya katakan mumpuni dalam hal perduniaan kesastraan di jagat raya sini. Mungkin.

Ketika kekecewaan terhadap tulis menulis telah mereda, tidak sengaja kakak tingkat mengajak secara langsung untuk ikut berpartisipasi belajar teater. Saat itu latihan dilakukan rutin di gedung Susu (julukan kami ketika kuliah) pada sore hari. Berawal dari teater tersebutlah, bertemu dengan Bapak Adjim Ariyadi dan istri, ibu Elly Rahmi, kala itu Yayasan Sanggar Budaya Kalimantan Selatan akan mengadakan acara dengan menampilkan pagelaran teater. Polos dan belum memahami darah kesastraan sehingga cukuplah sampai tayang perdana di media elektronik lokal, meski peran yang dibawakan hanya sebagai figuran.

Rasa senang dan bangga bisa bertemu serta mengenal beliau. Meski beliau sangat bahkan amat mumpuni tidak pernah sedkit pun beliau mengeluarkan kata cercaan untuk apresiasi kami yang tidak tepat. Yah, mungkin saat latihan terkadang keseriusan beliau cukup membuat ketar ketir hari itu tetapi habis hari itu pula. Walau berhentinya berteater kala kuliah usai tetapi komunikasi secara dunia maya masih terjalin. Terkadang beliau selalu menanyakan apakah latihan teater masih dilakukan. Saya katakan dengan beliau bahwa untuk sementara berhenti.

Masih jelas pesan beliau, “Teruslah berkarya terutama untuk anak didik”.

Kesukaan akan menulis muncul dan gencar-gencarnya saat ini ketika mengingatkan pula kepada beberapa tokoh penting dalam berliterasi. Ingatan kembali peran salah satu dosen pembimbing kuliah -Bapak Jarkasih- dan sastrawan dari Sanggar Budaya -Bapak Adjim- yang telah tutup usia. Komunikasi secara online pun usai.

Hanya doa terpanjat. Sebenarnya begitu kehilangan figur poros cambukan motivasi diri sendiri.

Figur kedua tokoh tersebut memang tidak tergambar dari ekspetasi diri secara langsung tetapi rasa kesamaan akan berkarya masih ada dalam hati apalagi menjadwalkan dengan kondisi pekerjaan utama yang ada masih belum dapat memaksimalkan waktu dengan tepat. Akan tetapi, mampulah saya kembali sedikit menulis dan berkarya sampai hari ini di sela-sela kerja di 3 lembaga dalam waktu rutin selama seminggu. Terkadang tenggat waktu kegiatan berliterasi sedkit teralihkan.

Bekerja di tiga lembaga dunia pendidikan bukanlah karena kehendak pribadi dan juga sistem menjadikan sarana adanya gerakan ingin menunjukkan bahwa berkarya itu tidak sulit bagi anak didik dan harus ada pemberian reward yang tepat atau bahkan bukan sekedar mencecar.
Berimbas dari hal tersebut, kesenangan memberikan komentar semacam opini/pendapat di kolom pojok salah satu media lokal saya lakukan supaya tidak terjadi kemandekan ide. Anak didik pun ada yang memanfaatkan media sosialnya tidak hanya untuk menuangkan kegundahan. Sehingga julukan artis “kartas lembaran” (kertas selembar) pun menghampiri. Ketika media lokal datang di sekolah berburulah siapa yang muncul/tidak di kolam media tersebut.
Kala itu Saya masih belum berani berkarya untuk lebih apalagi sang pengkritik masih berkeliaran. Sifat keminderan tingkat tinggi masih saya miliki penuh. Media sosial pun kembali ditempuh dengan mengikuti kegiatan yang diadakan oleh tiap-tiap penerbit dengan pemberian reward yang begitu apik. Meski karya hanya sebagai nominasi atau peserta tanpa menjadi juara tidak mengapa. Pengalaman dan bertambah ilmu juga keluarga baru pun terasa. Tidak heran, terjalin komunikasi dengan sesama rekan penggiat dan bertemu secara tidak langsung yang menjadikan motivasi untuk berkarya kembali muncul.

Akhirnya, lagi dan lagi berkarya dikeluarkan diri serta sampai Anda-Anda membaca salah satu tulisan saya ini. Jauh dikatakan sempurna. Akan tetapi, jika tidak dimulai dari sekarang kapan lagi ide kita dapat dikeluarkan. Cercaan yang menghampiri terkadang menyakitkan karena lidah lebih tajam dari pisau. Namun, mengingat kita tidak menopang hidup dengan mereka. Jadi, untuk apa kita ragu dan takut berkarya? Salah jika kita memiliki potensi namun hanya sebagai penonton.

Sementara itu, bagi yang telah dan mau berkarya serta akan berkarya maka kita disekitarnya lakukanlah reward yang tepat, yaitu gunakan reward berupa pujian. Metode pemberian pujian menjadikan dan memberikan salah satu bentuk penguatan (reinforcement) yang sangat diperlukan sehingga dengan penguatan tersebut diharapkan akan terus berbuat yang lebih baik, motivasi untuk senang belajar dan memberikan perhatian untuk belajar serta mendorong aktivitas sehingga belajarnya lebih terarah. Tujuan Pemberian Penghargaan dan Pujian adalah : Mendorong agar lebih giat belajar, memberi apresiasi atas usaha, menumbuhkan persaingan yang sehat untuk meningkatkan prestasi dan berperan sangat signifikan dalam upaya peningkatan motivasi belajar demi tercapainya keberhasilan.

Jika pujian kita tidak bisa memberi, izinkan dengan bebas tangan-tangan penggiat karya tanpa adanya cecaran atau sudut menyudutkan. Jadilah penonton yang sportif. Kalau pun ada kesalahan, mohon beri kritikan dengan benar tanpa merasa dirinya paling benar dan secara manusiawi dengan perasaan. Jika maju saja dihalangi bagaimana mungkin kaki dapat melangkah ke depan! Rindu akan pujian begitu berperan besar terhadap individu dalam bertindak. Rindu pujian yang sehat tanpa menghujat. eLBR

ini saya persembahkan untuk mereka yang telah dan selalu menginspirasi sehingga saya dapat menulis seperti ini.terima kasih eLBR

 

Views All Time
Views All Time
174
Views Today
Views Today
1
Previous articleEvaluasi sagusaku IGI selayar ( 28 Des 2017)
Next article4 GURU HONOR DI SMA NEGERI 1 JUHAR MENDAPAT SK GTT DARI GUBERNUR SUMATERA UTARA
EL Bara Rahma nama pena dari Lilis Suryani, kelahiran Lumajang 28 April. Telah Menyelesaikan S1 FKIP UNLAM Banjarmasin jurusan Bahasa Indonesia, Sastra dan Daerah (2010). Tenaga Pendidik di MTsN 1 Kintap (2011), SMAN 1 KINTAP (2011-2018),SMAN 2 JORONG (2014-sampai sekarang), SMAS AL HIDAYAH (2011-2017). Beberapa karya puisi pernah dimuat di media lokal Banjarmasin Post (2008), Pernah memerankan salah satu tokoh di pementasan Teater Islam, Nur Rasulullah (Adjim Ariyadi,2007). Kembali berkarya lagi, antara lain Antalogi Puisi Penyair Nusantara oleh Tuas media berjudul Simbolik Diafragma Hati (2016), Bias Setitik Harapan Hati(Peserta Lomba Cipta Puisi Ruas ke-3 Indonesia-Malaysia 2016), Antalogi Puisi Pelita Tanpa Cahaya berjudul Jadi Hati Abu (Aksara Aurora Media,2016) , Antalogi Puisi Warna judul Enkripsi Warna Duniaku(WAP,2017), Karya artikel opini ' Orang Tua Hebat adalah Orang tua Terlibat' ( Radarbanjarmasin, 2017)

LEAVE A REPLY