BUTUH ATAU GENGSI

1
130

BUTUH ATAU GENGSI

 

Penggunaan smartphone/gadjet saat ini adalah sebuah realitas yang dapat kita lihat dimana  dan kapan saja. Hal yang sangat lumrah ketika kita melihat sekumpulan orang dengan kepala merunduk dan tangannya menari-nari diatas smartphone/gadjet pribadinya. Padahal secara fisik berdekatan dengan orang lain. Tidak ada komunikasi dan interaksi dengan sekitar. Sebuah fenomena asosial ditengah modrenisasi zaman. Benda ini seolah menjadi kebutuhan pokok pada kehidupan abad 21 ini. Seolah kehidupan akan lumpuh ketika individu tidak menggunakannya. Tempat-tempat kumpul semisal cafe, warung, pusat perbelanjaan yang seharusnya menjadi tempat bersosialisasi seolah beralih fungsi menjadi tempat yang nyaman untuk “bersemedi” menghabiskan waktu menggunakan jaringan WIFI gratis yang disediakan pengelola tempat.

Bahkan penggunaan smartphone/gadjet bukan hanya fenomena diperkotaan tapi juga di pedesaan. Pemakaian smartphone/gadjet tidak hanya pada orang dewasa tetapi juga pada anak-anak bahkan pada balita. Orang tua memberikan fasilitas smartphone/gadjet pada anaknya dengan berbagai alasan, untuk mempermudah komunikasi, agar dapat memantau anak, agar anak  bereksplorasi dengan internet , membantu proses belajar, agar anak tidak gaptek  dan alasan lain.

Anak harus diberikan pemahaman agar bertanggung jawab dalam penggunaan samrtphone/gadjet. Orang tua dan anak harus sama-sama dapat memahami dampak negatif penggunaannya, cara pencegahan dan menghindarinya. Berikut ini adalah hal- hal yang harus dilakukan orang tua sebelum memberikan fasilitas smartphone/gadjet pribadi terhadap anak.

  1. Diskusikan kebutuhannya. Apakah anak sangat membutuhkan smartphone/gadjet?, adakah alternatif lain?. Jujurlah menjawab pertanyaan ini. Jangan takut dikatakan “gaptek” atau tidak “kekinian”. Pemberian smartphone/gadjet sering kali dianggap sebagai simbol satus sosial kita di masyarakat. Jelaskan pada anak bahwa jika memiliki sesuatu harus sesuai dengan kebutuhan bukan keinginan., jangan latah atau ikut-ikutan.
  2. Diskusikan tanggung jawab. Anak dan orang tua harus memahami tanggung jawab bersama. Orang tua bersama anak membuat aturan dalam penggunaan smartphone/gadjet. Anak harus menghargai aturan itu dengan mentaatinya, sementara orang tua mengawasi anak dalam melaksanakan aturan penggunaan smartphne/gadjet. Jika anak melanggar aturan harus bertanggung jawab dan siap melaksanakan hukuman sesuai dengan kesepakatan dengan orang tua. Orang tua tidak hanya mengawasi dan menghukum namun harus memberi apresiasi kepada anak jika anak menjalankan aturan dengan baik dan bertanggung jawab.

 

Anak tidak boleh marah jika orang tua bertanya untuk apa smartphone/gadjet digunakan. Orang tua secara rutin memeriksa isi smartphone/gadjet anak. Hal yang terpenting dari sisi tanggung jawab ini adalah bagaimana orang tua menjadi contoh teladan dalam penggunaan smartphone/gedjet yang baik.

Mungkin kita pernah mendengar kisah Bill Gates pencipta teknologi moderen di industri komputer. Gates memiliki 3 orang anak menjelang remaja. Bersama istrinya ia memiliki beberapa aturan terkait penggunan smartphone/gadjet yaitu.

  1. Anak tidak dibenarkan memiliki HP sebelum berusia 14 tahun.
  2. Membatasi screen time anak dan anak mendorong lebih banyak berinteraksi dengan anggota keluarga.
  3. Tidak menggunakan HP pada saat makan.
  4. Menentukan jam menonton TV dan membiasakan anak tidur lebih awal dari anak yang lain.

Selain Gates, Stave Jobs sang bos Apple yang produk gadjetnya mendunia juga memiliki aturan yang sama dengan gates dalam pengaturan penggunaan smartphmne/gadjet pada anaknya. Mereka yang ahli IT dunia dan hidup di nengara maju menyadari akan dampak negatif dari penggunaan smartphone/gadjet pada anaknya. Lalu bagaimana dengan kita ?

  1. Diskusikan resikonya. Orang tua harus memahami dampak negatif dari penggunan smartphone/gadjet dan internet. Dampak negatif itu antara lain pornografi, bullying, phedofillia, kekerasan, judi online, trafficking dan games online. Mengetahui cara pencegahan dan bagaimana menghindarinya. Biasakan anak untuk menceritakan apa yang dilihat dan dialaminya ketika menggunakan smartphone/gadjet. Apakah yang membuat anak tidak nyaman ketika menggunakan smartphone/internet. Peka terhadap perubahan fisik dan psikis anak yang tidak biasanya. Cari tahu penyebabnya, komunikasikan dengan guru dan teman-temannya. Jika perlu konsultasikan dengan pihak-pihak yang kompeten.

 

Berikut ini adalah dampak negatif lain yang harus di fahami orang tua dan anak, yaitu:

  1. Terkena radiasi. Akibatnya terjadi pengecilan pada otak dan otak menjadi merah. Aliran darah ke otak tidak lancar, degengerasi Makula dimana terjadi pengikisan Lutein (lapisan tipis yang melindungi retina mata)
  2. Terkena ayan games (nintendo epilepsi/epilepsi fotosensitif), kejang dan menyerang tiba-tiba.
  3. Terpapar konten negatif.
  4. Malas bergerak. Sistem motorik lambat perkembangannya.
  5. Mempengaruhi perkembangan otak.
  6. Terganggunya kesehatan mental dan sosial. Tidak memiliki teman dan sulit menyesuaikan diri dalam masyarakat.
  7. Tidak terampil dalam menyelesaikan masalah hidup yang dihadapi, semuanya tergantung pada gadjet yang seolah-olah sebagai solusi atas semua permasalahan hidup.
  8. Lambat dalam berfikir.

Ketika kita memahami dampak negatif diatas maka kita dapat mengatasinya dengan  melakukan beberapa hal yaitu

  1. Menggunakan self filtering dirumah dan sekolah
  2. Tumbuhkan konten positif lebih banyak yang tentunya bermanfaat dan menarik bagi anak.
  3. Lakukan dialog dan kerjasama inklusif antar berbagai pihak keluarga, sekolah, pengelola warnet, polisi dan steakholder terkait.

Kita berharap walaupun anak menggunakan samrtphone/gadjet dan bebas bereksplorasi . Namun harus dapat bijak dan aman dalam penggunaannya. Anak adalah generasi penerus bangsa yang harus dijaga dan disiapkan fisik dan mentalnya. Bukan dirusak sejak dini dengan memberikan smartphone/gadjet menjadi mainan utamanya.

*PESERTA SAGUSABU MEDAN 2017

Views All Time
Views All Time
237
Views Today
Views Today
1

1 COMMENT

LEAVE A REPLY