Cahaya di Ujung Negeri

0
125

*****
Entah apa yang membuatku sangat terharu saat itu. Tak pernah kurasakan kegembiraan itu sebelumnya. Luapan bahagia itu melebihi kegembiraanku meminang kekasih pujaan pendamping hidupku saat itu. Kutatap wajahnya dengan khidmad. Aku coba tarik nafasku dalam-dalam. Aku hampir menangis. Menangisku bukan menangis sedih tetapi menangis bahagia, karena baru kali ini, aku dipuji dan disanjung muridku lewat tulisan yang aku tugaskan. Murid itu adalah Adri. Nama lengkapnya adalah Adri Saputra, tetapi akrabnya ia dipanggil Adri. Ia cerdas dan energik. Selain cerdas ia juga punya jiwa pemimpin sehingga ia terpilih menjadi ketua kelas dua tahun berturut-turut. Di kelas IV dan di kelas V. Aku masih ingat betul saat itu aku memberikan tugas bercerita pada mata pelajaran Bahasa Indonesia tentang apa saja, mereka ada yg bercerita tentang keluarganya, hewan kesayangan, tamasya dan lain sebagainya. Ada hal yang sangat menakjubkan diriku. Adri salah satu siswa yang menggambarkan aku adalah sosok yang dikaguminya di dalam tulisannya. Adri selain pintar, ia juga hebat dalam semua cabang olahraga, misalnya sepakbola, tenis meja, dan badminton. Secara akademis prestasinya juga baik. Ia berada di peringkat tiga, di bawah Migel Agusto dan Rudi Rohman.
****
Isi suratnya seperti ini.
Kami mempunyai guru yang bernama Pak Suandi. Ia guru yang baik dan penyabar. Ia tak pernah marah. Ia mengajar dengan penuh kasih sayang. Semua kami dibimbingnya kalau belum mengerti tentang sesuatu yang belum kami pahami. Akhirnya kami bisa mengerti. Ada kawanku namanya Diki, awalnya ia tak bisa mengerjakan perhitungan perkalian, dengan dibimbing Pak Suandi ia menjadi bisa operasi perhitungan perkalian.Terimakasih Pak Suandi
Setelah membaca cerita tersebut aku merasa bahagia. Hatiku berkaca-kaca tetapi ada sedikit kekhawatiran. Aku takut dengan pujian muridku itu. Aku jadi besar kepala dan merendahkan guru-guru yang lain. Pikiran negatif itu aku tepis dan aku harus menceritakan kepada rekan sejawatku. Aku beranggapan itu energi positif yang bisa membangun persaingan guru dalam meningkatkan mutu belajar. Besoknya aku tak bisa menyembunyikan kegembiraan itu. Aku ceritakan kepada teman-teman rekan guru. Bahwa Adri adalah anak yang hebat. Ia bisa menulis dengan bahasa yang santun dan bisa jujur dengan isi hatinya. Akhirnya aku menyimpulkan bahwa walaupun di pelosok negeri, di tengah area perkebunan kelapa sawit, masih banyak siswa-siswa yang bertalenta tinggi dan mempunyai kemampuan yang sama dengan anak yang berada di kota. Sosok Adri dan teman-temannya merupakan cahaya di ujung negeri yang harus diasah terus kemampuan dan prestasinya.
Pujian itu bukan hanya sekali aku dapatkan tapi ini terdengar dari mulut ke mulut siswa siswaku yang sering mereka ungkapkan lewat tulisan, yaitu puisi dan tugas lainnya. Semua itu bisa terjadi mungkin karena caraku yang mengajar dengan sepenuh hati, tidak emosional dan penuh perhatian. Sering kita mendengar bahwa bekerja harus dengan cinta. Ungkapan itu selalu aku pegang dan coba terapkan ketika aku sudah memilih profesi menjadi guru. Untuk bermain tangan, kayu dan bentuk bentrokan fisik lainnya adalah sesuatu yang pantang bagiku. Bukankah marah adalah suatu hal yang dibenci oleh agama manapun. Kemarahan bisa mendatangkan murka sedang cinta mendatangkan bahagia.
Ketika cinta mengalahkan segalanya,tidak ada lagi kepedihan, kesedihan dan keperihan, semua sudah menyatu dalam sebuah iktikad baik yang bernama Pengabdian.
Cinta itu juga yang diajarkan guru Helen Keller yaitu Anni Sulivian sehingga ia menjadi seorang yang hebat.
Selain itu satu hal yang perlu di perhatikan oleh seorang guru adalah tidak pelit dengan pujian.
Sang pendiri Sang Bintang School, Yunsirno berujar” Pujian itu adalah penyejuk hati dan penggembira sukma, pujian bak bahan bakar yang akan melontarkan yang di puji kelevel hidupnya yang lebih baik.”
Ketika membuat skripsi aku mencoba mengangkat judul ini untuk di jadikan penelitian tindakan kelas (PTK). Ya, benar sekali judul skripsiku diterima dan mendapatkan penilaian lumayan baik dari pembimbing dan penguji.
Hal yang aku teliti adalah tentang penguatan verbal seperti: baik, bagus, hebat, pintar, dan sempurna. Dan hal ini aku coba terapkan ketika aku mengabdi di SDN 11 Saparan.
Semoga ke depan mereka menjadi orang besar yang membawa perubahan di tempat tugas masing- masing dan bisa membahagiakan orang tua, masyarakat, bangsa dan negara.

Views All Time
Views All Time
239
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY