CATATAN MENGIKUTI SHALAT IDUL ADHA 1440 DI MASJID MUJAHIDIN

0
10

Penulis bersama isteri dan ketiga anak mengikuti pelaksanaan Shalat Idul Adha yang diselenggarakan oleh Pengelola Masjid Muhammadiyah Mujahidin Panggung, sekitar 6 km dari Pelaihari, Ibukota Kabupaten Tanah Laut. Kegiatan shalat Idul Adha berlangsung di halaman Masjid Muhammadiyah Mujahidin Panggung yang berada di pinggir jalan A.Yani, jalan trans Kalimantan arah selatan.

Bertindak selaku imam dan khatib Suhrawardi, S.Ag, S.Pd dari Banjarmasin, guru SD Muhamadiyah 9 Banjarmasin. Beliau juga merupakan Ketua Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR) PW Muhammadiyah Kalimantan Selatan. Seusai melaksanakan Shalat Idul Adha, dilanjutkan dengan khutbah yang berjudul “ Menggali Nilai Kemanusiaan Dalam Demensi Ibadah Qurban”.

Khatib mengawali khutbah dengan membacakan takbir, tahmid, dan tahlil, serta shalawat. Selanjutnya, khatib menyampaikan hakikat ibadah qurban yang merupakan syariat Islam sebagai warisan risalah dari Nabi Ibrahim AS. Ibadah qurban merupakan napak tilas perjuangan dan keteguhan Nabi Ibrahim AS dalam melaksanakan dan mematuhi perintah Allah SWT, banyak hikmah dan nilai-nilai kemanusiaan yang terkandung dalam dimensi ibadah qurban.

Pada penyampaian khutbah selanjutnya, khatib menggambarkan tentang keteguhan iman dan keteladanan  Nabi Ibrahim sebagaimana tercantum dalam Quran pada Surah Ali Imran, Ayat 67, yang artinya “ Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik”.

Menurut khatib, sikap Nabi Ibrahim AS ini dapat dipahami dari dua peristiwa besar. Pertama. Ketika beliau dengan gagah berani menghancurkan  berhala-berhala yang menjadi sumber kemusyrikan dan menantang Raja Namrud yang kejam dan sewenang-wenang.Konsekwensi sungguh sangat berat. Nabi Ibrahim AS dibakar hidup-hidup, tetapi karena ridho dan pertolongan Allah Swt, api terasa dingin, sebagaimana difirmankan oleh Allah Swt dalam Quran Surah Al Anbiyaa, Ayat 69, yang artinya “ Kami berfirman : Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatan bagi Ibrahim.”

Kedua. Tiap kali Idul Adha tiba, kita diingatkan akan kisah Nabiyullah Ibarahim AS dan puteranya Ismail AS. Kedua Baiyullah ini lulus  melewati saat-saat yang menegangkan, yang menyentuh lubuk hati  yang paling dalam; yakni saat menghadapi perintah Allah agar Ibrahim AS menyembelih, mengorbankan anaknya Ismail AS, putera yang sangat dicintai dan disayangi, yang menjadi buah hati beliau dan isterinya Siti Hajar.

Selain itu, khotib juga mengutip tentang beberapa hasil penelitian tentang fenomena alam dan hikmah yang ada di balik fenemona alam tersebut, yaitu antara lain : (1) Allah menjadikan air laut asin, karena bila tidak demikian, maka seluruh air laut yang besarnya 2/3 bagian bumi akan berbau dan jelas akan mengganggu kehidupan manusia. Disamping itu, air asin ternyata menyerap gas racun yang menebar di udara; (2) Sementara itu, air hujan dan sungai dijadikan tawar, sebab jika tidak demikian, maka tanaman dan seluruh makhluk hidup lainnya akan mati,

Selanjutnya, (3) Perut bumi merupakan tempat gravitasi yang dapat menarik apa saja yang berada di atasnya. Bila tidak, niscaya makhluk hidup di atasnya setiap saat akan terpontang panting, karena bumi di samping berputar pada porosnya, juga berputar mengelilingi matahari dengan kecepatan tidak kurang dari 20.000 km/jam; (4) Jarak matahari dengan bumi kurang lebih 150 juta km, seandainya jarak itu dikurangi sedikit, maka segenap susunan tata surya ini akan terbakar.  Lalu,  seandainya jarak itu dijauhkan sedikit saja, maka yang ada di muka bumi akan kedinginan, karena kekurangan sinar matahari.

Khatib menutup khutbahnya dengan mengajak semua jamaah untuk menghilangkan potensi bahimiyah (sifat-sifat kebinatangan) yang ada dalam diri kita sebagaimana disimbolkan dengan menyembelih hewan dalam ibadah qurban.  Rangkaian pelaksanaan Shalat Idul Adha diakhiri dengan bersalaman antar jamaah sebelum kembali ke rumah masing-masing. Selamat Hari Raya Idul Adha 1440 H.

Views All Time
Views All Time
27
Views Today
Views Today
1
Previous articleIbadah Kurban : Antara Kepentingan Pribadi dan Kepedulian Sosial
Next articleCATATAN MENUJU TANAH SUCI. Bagian 5. Prosesi Keberangkatan dari Rumah
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY