CATATAN MENJELANG 30 TAHUN MENGABDI – GURU DI SMPN 1 PELAIHARI ( Bagian 8. Kebersamaan Warga Sekolah)

0
21

Jumlah guru atau pendidik dan staf tata laksanaa atau  tenaga kependidikan SMPN memang cukup dibandingkan dengan sekolah lainnya di kota Pelaihari maupun di Kabupaten Tanah Laut, karena sekolah ini memiliki  jumlah siswa dan rombongan belajar yang terbanyak se Kabupaten Tanah Laut. Jumlah guru 44 orang, dan tata laksana sekolah sebanyak 6 orang. Kondisi ini memerlukan pananganan dan pembinaan yang lebih intensif oleh kepala sekolah dalam membina dan meningkatkan kebersamaan untuk mewujudkan sekolah yang lebih bermutu. Guru dan staf tata laksana sekolah merupakan elemen penting dalam sekolah.

Dalam upaya pembinaan dan peningkatan kebersamaan warga sekolah di SMPN 1 Pelaihari yang pernah penulis alami dan ketahui selama hampir 20 (duapuluh) tahun bersama keluarga besar sekolah ini antara lain melakukan kegiatan rekreasi bersama keluarga ke tempat-tempat wisata setahun atau beberapa tahun sehari, dan kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap bulanya adalah arisan keluarga sekolah yang bergiliran setiap bulan dari rumah ke rumah.  Kegiatan arisan bulanan tersebut diisi pulan dengan pembinaan mental spritual atau ceramah agama oleh ustad yang khusus diundang untuk kegiatan tersebut.

Kenyataan menunjukkan bahwa guru di SMPN 1 Pelaihari terdiri dari beberapa suku bangsa, tidak saja suku Banjar, tetapi  banyak juga dari suku Jawa, suku Madura,  dan pernah ada juga guru dari suku Batak. Guru yang berasal dari suku Jawa yang dikirim tahun 1980-an banyak berasal dari Yogyakarta, dan sudah menjadi bagian dari masyarakat Tanah Laut, karena memiliki rumah dan berdomilisi di wilayah Kabupaten Tanah Laut. Kondisi demikian,membuat suasana dan warna kebersamaan guru dan staf tata laksana SMPN 1 Pelaihari  lebih berwarna dan dinamis.

Penulis secara pribadi memiliki kedekatan dan keakraban dengan beberapa guru yang ada di SMPN 1 Pelaihari, seperti dengan Luqman, Zuchri, dan Wahyudin Noor.  Luqman, adalah guru BP/BK  yang berasal dari Jember Jawa Timur, beliau umurnya lebih tua dari penulis dan termasuk guru senior. Disamping menjadi guru BP/BK, beliau juga memiliki ilmu agama (Islam) yang tinggi, karena ayah beliau di Jember merupakan tokoh ulama. Adik beliau yang bernama Badrotin Haiti, yang kemudian pernah menjadi KAPOLRI beberapa tahun lalu, dulu sering diceritakan beliau kepada penulis semasa masih menjadi siswa AKPOL.

Selanjutnya, Zuchri, beliau juga salah satu guru senior di SMPN  1 Pelaihari yang berasal dari Jawa Tengah. Ilmu agama (Islam) beliau ini juga tinggi, sehingga penulis sering bertanya atau berkonsultasi masalah agama (Islam) dengan beliau. Zuchri dan Luqman sering menjadi  khatib dan imam dalam penyelenggaraan shalat Jumat di masjid SMPN 1 Pelaihari dan pelaksanaan shalat Tarawih selama bulan suci Ramadan. Keakraban penulis Zuchri atau Luqman tidak saja saat kegiatan di sekolah, tetapi juga penulis sering berkunjung dan bersilaturrahim ke rumah mereka berdua.

Sedangkan dengan Wahyudin Noor, penulis hampir seumur. Semula Wahyudin Noor bertugas di Kabupaten Kotabaru, khususnya di Pulau Sembilan. Kemudian, sekitar tahun 1992 pindah ke SMPN 1 Pelaihari, sedangkan asalnya dari Banjarmasin.Wahyudin Noor merupakan guru bahasa Inggris, juga aktif membina kegiatan kesiswaan, seperti PRAMUKA dan olehraga silat  Tapak Suci bersama penulis di SMPN 1 Pelaihari. Saat itu, penulis dan Wahyudin Noor masih bujangan atau belum kawin, sehingga banyak waktu untuk mengurus kegiatan di sekolah.

Menjelang tahun 2000, ketiga guru tersebut secara berturut-turut pindah ke sekolah lain. Luqman diangkat sebagai Kepala Sekolah SMPN 2 Jorong, sekitar 60 km dari Pelaihari, Zuchri dipindah ke MTsN 1 Pelaihari karena beliau  guru PNS Departemen Agama yang diperbantukan di SMPN 1 Pelaihari, dan Wahyudin Noor pindah ke SMPN 1 Banjarmasin. Dengan demikian, penulis tidak memiliki guru yang dekat dalam menimba ilmu, berdiskusi, dan menyelenggarakan kegiatan sekolah. Semua memang pasti ada perubahan, termasuk pindah atua mutasi dari tempat kerja yang ada, apalagi guru yang berstatus PNS. Namun demikian, silaturrahmi penulis dengan mereka tetap berjalan, meski tidak satu sekolah lagi.

####

Views All Time
Views All Time
123
Views Today
Views Today
1
Previous articleKisah Umar bin Abdul dan Lampu Istana
Next articleCATATAN MENJELANG 30 TAHUN MENGABDI – GURU DI SMPN 1 PELAIHARI ( Bagian 9. Mengikuti Penyataran Kuliah DIII dan S1)
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY