CATATAN MENUJU TANAH SUCI. Bagian 5. Prosesi Keberangkatan dari Rumah

0
7

Hari itu, Sabtu (13 Juli 2019) subuh-subuh nenek penulis Kayuh Rasyidi Ahmad bangun dan langsung mandi tidak biasanya dan mungkin inilah semangat beliau ingin menempuh perjalanan jauh menuju tanah suci Mekah guna melaksanakan ibadah haji dan umrah.

Setelah selesai mandi, isteri penulis langsung memakaikan baju keberangkatan beliau dengan gamis putih dan seragam batik yang telah diberikan oleh pihak bank BRI sebagai pakaian seragam Jamaah Haji Kalimantan Selatan. Usai memakai pakaian, beliau duduk bersama beberapa tamu yang sejak pagi itu dan bahkan beberapa keluarga yang ikut menginap di rumah untuk mengantar keberangkatan beliau ke Tanah Suci.

Sekitar pukul 08.00 WITA beberapa orang warga berdatangan yang sengaja diundang untuk mengikuti acara selamatan keberangkatan pada hari itu, dan langsung kami persilakan untuk masuk ke rumah untuk mengikuti acara selamatan dengan membaca Surah Yasin dan do’a selamat dan setelah itu kami suguhi makanan ala kadarnya.

Usai acara selamatan, kami menyuruh nenek kami Kayuh Rasyidi Ahmad untuk duduk di ruang tengah (Tawing Halat) yang telah disediakan dengan menduduki kain putih yang disusun rapi seperti layaknya penganten yang sedang akad nikah. Maka saat itu, banyak para warga yang bersalaman dan sambil memeluk beliau dan terkadang ada sedikit isakan tangis karena rasa terharu karena kepergian beliau dalam menunaikan ibadah haji tersebut.

Tepat pukul 09.30 WITA nenek kami Kayuh berangkat dan diawali dengan prosesi berdiri di depan pintu dan penulis membacakan do’a safar yang diikuti oleh nenek Kayuh dan sesudah itu sambil berjalan melangkah kecil diiringi dengan suara azan yang Alhamdulillah dikumandangkan oleh putera sulung kami Muhammad Hafizh Faudy (kebetulan Datu Kayuh Rasyidi Ahmad sendiri).

Sambil berjalan menuruni pelataran rumah yang agak tinggi, seorang tetuha masyarakat Bapak Umar Hamdan Mengucapkan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. sambil melemparkan uang recehan kepada para pengunjung layaknya penganten yang turun dari rumah menuju mempelainya.

Beberapa wargapun berdesakan bersalaman sambil mengantar nenek kami menuju mobil penulis yang sudah siap dan sampai di depan mobil nenek kami langsung menaiki mobil itu dan ada seorang warga yang menyarankan nenek kami jangan menengok ke belakang tetap saja ke depan, mungkin ada semacam pendapat jika menengok kebelakang maka akan tidak jadi berangkat, ah ini mungkin tahayul saja, penulis langsung menghidupkan mobil dan membawa nenek kami menuju Masjid Humasa Rantau untuk mengikuti pelepasan dari Pemerintah Daerah Tapin.

#opini_149#

Views All Time
Views All Time
26
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY