CATATAN PERJALANAN PELAIHARI-KOTABARU. Bagian 2. Sesi Batulicin, Tanah Bumbu

0
27

Sekitar pukul 13,15 WITA pada Rabu, 4 September 2019, penulis bersama kawan-kawan yang akan mengurus persiapan kegiatan studi banding MKKS SMP Tanah Laut paanggl 20 September 2019 tiba di kawasan Kota Batulicin, Ibukota Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selata. Memasuki Kota Batulicin yang padat dengan berbagai kendaraan siang itu, karena kota ini  merupakan pusat pertambangan batubara di Kalimantan Selatan. Bagi penulis kedatangan di Kota  Batulicin ini merupakan yang ketiga kalinya selama ini, setelah yang terakhir pada sekitar 15 tahun yang lalu.

Luar biasa. Itulah kesan yang penulis dapatkan saat melihat kondisi kota tersebut, karena perubahannya sangat cepat sejak pemekaran daerah pada tahun 2003 yang lalu. Kabupaten Tanah Bumbu tersebut merupakan wilayah pemekaran dari Kabupaten Kotabaru, namun sekarang kemajuan daerah tersebut, khususnya Kota Batulicin sangat pesat, jauh meninggalkan kabupaten induknya. Salah satu indikasi yang dapat dilihat langsung oleh para pendatangdi daerah tersebut adalah wajah kota yang dihiasi oleh berbagai bangunan bertingkat, gedung perkantoran pemerintah dan swasta, hotel, dan sebagainya.

Mobil kami berjalan pelan menulusuri jalan utama yang lebar dengan  kiri dan kanannya bangunan bertingkat layaknya sebuah kota. Sebelum menyeberang dengan menggunakan angkutan kapal ferry ke Pulau Laut, Kotabaru, kami mampir dulu di masjid termegah di Kota Batulicin dengan gaya arsitek Timur Tengah  yang berada sekitar 2 kilometer dari pelabuhan kapal ferry Batulicin. Masjidnya bernama Al Falah. Masjid megah ini menjadi salah satu destinasi wisata religi bagi para pelancong.

Sesampai di masjid megah dan indah yang berada di Jln Kodeco Batulicin sekitar pukul 13.25 WITA, penulis segera menaiki tangga di bagian samping masjid. Subhanallah. Penulis  yang baru pertama mengunjungi masjid megah ini merasa terkagum dan takjub dengan arsitektur masjid yang indah dan sejuk ini. Sejenak penulis menikmati suasana, pemandangan, dan tentu mengabadikan lingkungan masjid yang berada di atas ketinggian ini. Sesudah dirasa cukup menikmati kemegahan masjid di bagian pelataran yang dilengkapi dengan kolam ikan mas, penulis menuruni anak tangga menuju tempat wudhu yang ada di bagian bawah.

Saat menuruni tangga menuju ke tempat wudhu dan WC , di belakang penulis Supian, S.Pd juga mengikuti penulis, sedangkan Yuliansyah, M.Pd masih asyik mengambil foto dari berbagai sudut masjid. Seusai wudhu segera penulis menuju ruang utama Masjid Al Falah,, tidak berapa kemudian datang Supian, S.Pd dan Yuliansyah, M.Pd untuk melaksanakan shalat berjamaah. Ada beberapa orang yang berada di masjid tersebut. Selanjutnya, setelah melaksanakan shalat, kami bertiga kembali ke pelataran masjid untuk berfoto lagi di depan pintu masjid yang bergaya Timur Tengah.

Terasa sejuk dan nyaman berada di pelataran Masjid Al Falah Batulicin yang berada di ketinggian, sehingga angin  yang berhembus pada siang dengan terik matahari yang menyengat. Ada sekitar 30 menit kami singgah, shalat berjamaah, dan mengambil beberapa foto masjid megah tersebut, lalu kami memutuskan kembali ke mobil yang diparkir samping masjid. Waktu saat itu menunjukkan sekitar pukul 14.00 WITA. Kami melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan ferry Batulicin untuk menyeberang ke Kotabaru yang berada di Pulau Laut.

####edisikotabaru2019###

Views All Time
Views All Time
18
Views Today
Views Today
1
Previous articleCATATAN PERJALANAN PELAIHARI-KOTABARU. Bagian 1. Sesi Perjalanan Ke Batulicin
Next articleCATATAN PERJALANAN PELAIHARI-KOTABARU. Bagian 3. Sesi Naik Kapal Ferry
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY