CATATAN PERJALANAN PELAIHARI-KOTABARU. Bagian 3. Sesi Naik Kapal Ferry

0
21

Waktu meninggalkan Masjid Al Falah Batulicin yang berada di Jalan Kodeco Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan,  sekitar pukul 14.00 WITA pada Rabu, 5 September 2019. Hari siang itu teras panas terik, dan saat memasuki pelabuhan ferry Batulicin angina bertiup kencang.  Setelah membeli tiket masuk kapal ferry, mobil yang disetir oleh Supian, S.Pd diarahkan mundur untuk memasuki kapal ferry. Waktu menunjukkan sudah pukul 14.22 WITA saat mobil masuk kapal ferry untuk menyeberang ke pelabuhan Tanjung Serdang yang berada di seberang sana.

Kapal ferry mulai bergerak sekitar pukul 14.45 WITA. Ada  lima buah kapal ferry yang beroperasi siang itu, dan kami menggunakan kapal ferry milik salah satu perusahaan pelayaran yang banyak melayani pelayaran di pelabuhan Trisakti Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ukuran kapal ferry yang kami tumpangi ini relatif besar dibandingkan kapal-kapal ferry yang beroperasi di pelabuhan ferry  Batulicin tersebut.

Bagi penulis, naik kapal ferry pada pelabuhan Batulicin penyeberangan menuju ke Kotabaru ini merupakan yang pertama kalinya. Penulis memang pernah ke Kotabaru pada tahun 1990, namun saat itu penulis naik kapal sped  kecil yang hanya mampu memuat 4 orang penumpang atau speedbord dari pelabuhan Batulicin, yang saat itu masih sepi dan tidak ada kapal ferry.  Kini, penulis merasakan dan menikmati penyeberangan ke Kotabaru dengan naik kapal ferry dengan lama penyeberangan sekitar satu jam.

Kapal ferry terus bergerak menuju pelabuhan di seberang. Penulis, bersama Yuliansyah, M.Pd dan  Supian, S.Pd menaiki tangga untuk mencari tempat di bagian atas kapal ferry, untuk melihat pemandangan yang lebih luas dari pada duduk di kursi penumpang. Kami mendapatkan posisi di dekat ruang kemudi yang berada di bagian paling atas kapal ferry. Angin laut bertiup kencang menerpa kami. Penulis memakai jaket untuk mengurangi rasa dingin ditiup angina laut yang bertiup kencang saat itu seraya memakai kacamata hitan untuk mengurangi silau sinar matahari yang terik.

Penulis bersama kawan-kawan menikmati penyeberangan menuju ke Pelabuhan Tanjung Serdang Pulau Laut ,Kotabaru. Penulis mengambil gambar beberapa kali dengan kamera handphone, baik mulai kapal ferry berangkat dari pelabuhan hingga sampai kapal bersandar di pelabuhan seberangnya. Tidak lupa juga penulis mengambil beberapa gambar tiang pancang jembatan penyeberangan yang akan menghubungkan Batulicin yang berada di Pulau Kalimantan dengan Tanjung Serdang yang berada di Pulau Laut. Jembatan tersebut masih belum dilanjutkan pembangunannya, hingga terlihat terbangkalai, entah sampai kapan dimulai lagi pembangunannya.

Bagi penulis yang baru pertama kali melakukan penyeberangan dengan kapal ferry di Batulicin ini selama satu jam tidak terasa, karena penulis menikmatinya dengan senang hati. Tidak ada rasa bosan selama perjalanan menyeberang, dan demikian pula dengan tiupan angina laut yang kencang disertai alunan gelombang yang cukup besar siang itu, hingga akhirnya kapal ferry merapat di Pelabuhan Tanjung Serdang, Kotabaru. Penulis dan kawan-kawan memasuki mobil untuk meneruskan perjalanan di daratan Pulau Laut, atau keluar dari daratan Pulau Kalimantan.

Alhamdulillah, mobil yang bawa dapat mendarat dengan selamat di Pulau Laut, Kotabaru. Selanjutnya, kami meneruskan perjalanan sekitar satu jam atau 40 kilometer lagi untuk mencapai tempat tujuan, yaitu Kotabaru, Ibukota Kabupaten Kotabaru.

 

####edisikotabaru2019###

Views All Time
Views All Time
20
Views Today
Views Today
1
Previous articleCATATAN PERJALANAN PELAIHARI-KOTABARU. Bagian 2. Sesi Batulicin, Tanah Bumbu
Next articleCATATAN PERJALANAN PELAIHARI-KOTABARU. Bagian 4. Sesi Perjalanan Menuju Kotabaru
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY