CATATAN PERJALANAN PELAIHARI-LOKSADO. Bagian 14. Mampir di Pasar Kandangan

0
15

Setelah membereskan segala sesuatunya, termasuk mengganti pakaian dan celana, maka penulis dan kawan-kawan melaksanakan shalat Dhuhur di masjid di desa Rumpangi yang menjadi tempat parkir bus. Selesai melaksanakan shalat, maka perjalanan pulang ke Pelaihari dilanjutkan. Sekitar pukul 14.00 WIT bus meluncur meninggalkan Rumpangi, sebuah desa yang ada masjid dan menjadi titik akhir perjalanan dengan rakit bambu atau rafting.

Kondisi cuaca siang itu cukup sejuk, tidak terlalu panas dan juga tidak turun hujan. Dalam perjalanan pulang ini, terasa banyak sekali adanya bus berjalan banyak menurun. Tidak seperti berangkat sebelumnya, yang bus banyak menanjak. Sementara itu, penumpang BUS 001 yang penulis tumpangi terlihat mulai kelelahan dan ada sebagiannya yang tertidur. Arus lalu lintas dari arah Kandangan menuju Loksado tidak terlalu ramai, lengan dan sepi, sehingga bus dapat melaju cepat.

Selama perjalanan menuju kota Kandangan ini, penulis mencoba handphone yang tadi terkena air dan sempat tenggelam beberapa saat.  Ada sedikit gangguan yang penulis rasakan saat handphone ini digunakan untuk membuka whatapps atau sms. Tidak ada sinyal sedikitpun  dari kedua kartu SIM yang ada, sementara handphone teman di samping tempat duduk penulis,  dengan kartu SIM sama masih ada sinyalnya, meskipun sangat lemah. Beberapa kali penulis mencoba membuka whatapps atau sms ternyata masih belum ada sinyal sedikitnya, meskipun sudah berada di daerah yang banyak BTS atau sinyalnya kuat.

Tidak terasa dalam perjalanan pulang wisata MKKS SMP Tanah Laut ke Loksado pada Minggu, 14 Oktober 2018, akhirnya sampai di pasar Kandangan pada pukul 14.45WIT. Kandangan adalah ibukota Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang memiliki ciri khas kuliner utamanya, yaitu dodol dan katupat Kandangan. Selain itu, di pasar Kandangan ini ada juga kuliner khas pasar ini, yaitu lamang. Lamang adalah beras ketan yang dimasak dengan menggunakan bambu besar, cara memasaknya dengan dibakar atau dipanggang pada bara api.

Sesampai di pasar Kandangan, masing-masing mencari atau menuju warung makan yang ada di pasar tersebut, karena semuanya belum makan siang. Pasar Kandangan terkenal dengan masakan atau makanan khasnya yang menggunakan bahan lokal, baik sayur mayur maupun lauk pauknya. Penulis bersama beberapa kawan hanya mencari warung yang dekat dengan parkirnya bus, karena badan terasa lelah dan capet, sehingga malas untuk berjalan-jalan mencari warung di dalam pasar Kandangan yang cukup luas.

Selesai makan nasi kuning yang bungkusan dengan ditemani secangkir teh panas, saat mau membayar, ternyata sudah dibayarkan oleh Gunawan yang saat makan duduk di samping penulis, dan juga teman satu rakit bambu yang sama-sama tercebur ke sungai sebelumnya. Sambil menunggu teman yang masih jalan-jalan untuk makan siang dan belanja, penulis bersama kawan-kawan yang lain menunggu di warung tersebut.  Sekitar 30 menit menunggu, baru datang  kawan-kawan dari pasar dengan membawa lamang.  Ada yang beli satu  potongan bambu, tetapi ada juga yang membeli 2 atau 3 potongan bambu.

Hari semakin sore, sementara cuaca saat itu di sekitar pasar Kandangan terlihat mendung. Setelah beberapa kawan yang baru datang datang dari pasar melaksanakan shalat Ashar, kemudian BUS 001 dan 002 berangkat menuju ke Pelaihari. Kami meninggalkan pasar Kandangan sekitar pukul 15.45 WIT.

###1217###

Views All Time
Views All Time
57
Views Today
Views Today
1
Previous articleCATATAN PERJALANAN PELAIHARI-LOKSADO. Bagian 13. Balarut Banyu dengan Rakit Bambu atau Rafting serta Suka Dukanya
Next articleCATATAN PERJALANAN PELAIHARI-LOKSADO. Bagian 15. Senja dan Terjebak Macet Di Jalanan
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY