Catatan Ramadhan: Kebahagiaan Seorang Guru

0
30

Oleh : Imam Syafii
Guru MAN 1 Musi Rawas

Malam ini bertepatan dengan 21 Ramadhan 1440H, serasa aku mendapat durian runtuh. Sepertinya Allah SWT benar-benar sedang memberikan rahmat-Nya kepadaku. Murid-muridku yang dulu pernah kudidik di Madrasah Aliyah kurang lebih dua belas tahun lalu di tahun 2007, tidak disangka-sangka datang berkunjung ke rumahku. Mereka berasal dari beberapa daerah yang ada di sekitaran Kota Lubuklinggau dan Kabupaten Musi Rawas.

Bukan hanya satu atau dua orang saja, tetapi mereka datang berombongan. Jika aku tidak salah hitung jumlah mereka ada sebelas orang. Tiga orang diantaranya adalah cewek dan selebihnya laki-laki. Satu orang datang dengan istrinya, dan seorang lagi didampingi suaminya.

Saat itu, jarum jam menunjukkan pukul 20.12 WIB, usai pelaksanaan sholat tarawih. Terdengar olehku suara seseorang sedang mengetuk pintu rumahku dengan sesekali diiringi ucapan salam. “Assalamualaikum,” ucap salah seorang dari mereka hingga tiga kali.

Akupun bergegas menuju ke ruang tamu, sembari kumenjawab salam mereka “Waalaikumsalam,” ucapku dari dalam rumah. Perlahan kubuka kunci pintu ruang tamu rumahku, kutarik pegangan pintu ke arah dalam untuk membuka pintu, dan “Tra ra ra ra, assalamualaikum bapak. Masih ingat dengan kami,” ucap mereka serentak ramai sembari bergaya manja sehingganya memecah sunyinya malam.

“Waalaikumsalam. Masuk, ayo masuk. Silahkan duduk” jawabku tertegun sejenak sambil mengamati satu persatu wajah ceria mereka. “Ingat tidak pak, kami ini siapa?” tanya seorang dari mereka yang berbadan kecil diiringi senyum simpul menggoda. Akupun berfikir keras berusaha mengingat satu persatu dari mereka. Yang kuingat sepertinya mereka adalah murid-muridku, sebab dari cara mereka memangilku dan gaya manjanya mengingatkanku dengan sikap manja para murid-muridku dulu saat aku menjadi gurunya.

“Kalian murid pak dulu bukan,” tanyaku sedikit ragu. “Iyalah pak, kami kan murid kesayangan bapak waktu di Aliyah dulu,” ucap salah seorang cewek dengan raut wajah manja. “Iya pak, masak sih bapak lupa dengan kami,” kata yang lainnya. “Hayo kami ini siapa pak,” timpal yang lainnya

Akupun kembali berusaha keras mengamati satu persatu wajah mereka, menggugah kembali ingatan dua belas tahun silam. Merangkai simpul-simpul tali ingatan yang selama ini terputus oleh perjalanan waktu dan usia. Tiba-tiba saja, sontak satu wajah terbayang teringat kuat, tergambar jelas menyambungkan ingatanku menuju dua belas tahun lalu.

“Ya wajah itu, wajah itu. Wajah yang selalu datang setiap hari di hadapanku. Menghiasi meja tugasku, mejaku sebagai wakil kepala madrasah bidang kesiswaan kala itu,” hatiku berkata. “Inikan Siro, Ya. Ini Siro kan,” kataku mantap sambil ku tepuk bahunya yang kokoh. “Benar pak. Nah bapak sudah ingat sekarang,” ucap Siro

“Coba absen kami pak,” kata Siro menguji. “Siap. Kalau salah ingatkan ya,” pintaku dengan suara meyakinkan.

Akupun mulai mengabsen mereka. “ini Siro, itu Dewi Eliyanti, yang itu Maruya, yang kecil ini Parida, sebelah itu Usriyansah, itu M. Azhari, yang mungil ini Ardi, yang dengan istrinya ini Beni, ini Wahyu, ini Wiro, dan yang terakhir ini adalah Ali,” sebutku yang disambut tawa gembira mereka

Akupun sangat bergembira dapat mengingat kembali murid-muridku dua belas tahun lalu. Tawa dan candapun memecah suasana terkenang kembali masa-masa kenakalan dan kemanjaan selama menjadi murid dulu.

Bercerita tentang masa-masa indah saling berkerjasama membangun jembatan kayu penyeberangan ke madrasah kala saat itu jalanan masuk terkena banjir. Semua seolah-olah tergambar kembali jelas di hadapan sembari menikmati makanan ringan dan minuman yang disajikan oleh istri.

Seiring jarum jam yang terus berputar, tidak terasa malampun mulai menghamparkan selimut dinginnya. Satu persatu murid-muridku dua belas tahun silam yang lalu berpamitan dan mengucapkan terima kasih atas bimbingan dan nasehat-nasehatnya selama ini.

Seraya berkirim doa, “Semoga bapak sehat selalu, diberikan keselamatan dan tetap menjadi guru yang terbaik,” ucap Beni mewakili rekan-rekannya sambil berdiri menuju pintu keluar dan bersalaman.

“Terima kasih murid-muridku, kalian masih mengingat gurumu ini. Meski sudah tidak muda lagi seperti masa itu. Kalian murid -murid hebat. Doaku semoga kalian selalu diberi jalan kemudahan dalam menapaki masa depan bersama keluarga, diberi kesuksesan,” ucapku dalam hati.

Inilah indahnya dan bahagianya kita sebagai guru. Bukan pemberian materi, bukan pula pujian, bukan juga jabatan, pangkat dan profesi hebat yang diharapkan. Tetapi kebahagiaan seorang guru adalah di saat namanya tetap diingat, dikenang dan bersemayam di hati setiap muridnya.

Meski kadang kala sang guru justru sudah tidak ingat lagi oleh faktor usia. Jadilah guru hebat yang menginspirasi dan memberi keteladan, sehingga akan terus hadir di hati setiap murid meski kita tidak lagi dapat mendidik mereka. Kebahagiaan seorang guru.(250519)

Views All Time
Views All Time
32
Views Today
Views Today
1
Previous articleBagian 21. Buku ToR : Ramadhan dan Lailatul Qadar
Next articleBukber Ramadhan Pererat Silaturahmi
Imam Syafii, M.Si. Guru di MAN 1 Musi Rawas Prov. Sumatera Selatan. Lahir di Desa Tebat Jaya, BK 0 (OKU Timur-Sumsel) 22 Pebruari 1978. Pendidikan dasar saya tempuh pertama kali di SDN Inpres Balikpapan Kalimantan Timur pada tahun 1984 hingga kelas 3 dan melanjutkan pendidikan dasar kelas 4 di SDN Patok Songo Kec. Buay Madang Kab. OKU Timur- Sumsel lulus tahun 1990. Kemudian melanjutkan ke MTsN Martapura Kab. OKU Timur lulus pada tahun 1993. Pendidikan menengah atas saya tempuh di Pondok Pesantrean Nurul Huda Sukaraja Kec. Buay Madang Kab. OKU Timur di MA Nurul Huda Jurusan A3 (Biologi) lulus pada tahun 1996. Saya menlanjutkan Pendidikan S1 di Universitas Lancang Kuning Pekanbaru-Riau jurusan Agronomi dan meraih predikat lulusan terbaik pada tahun 2001. Setelah enam bulan menjalani profesi sebagai asisten dosen memperoleh kesempatan beasiswa dari Pemerintah Provinsi Riau untuk melanjutkan Pendidikan Pascasarjana di Institut Pertanian Bogor (IPB-Bogor) masuk tahun 2002 dan lulus pada tahun 2004. Profesi guru saya jalani sejak lulus dari Bogor dengan menjadi guru honorer di MTsN 1 Muara Kelingi, di SMAN 1 Muara Kelingi, di MA Hidayatullah Muara Kelingi , SMAN Karya Sakti Kec. Muara Kelingi, MAN Muara Kelingi, SMAN 2 Muara Kelingi Kab. Musi Rawas. dI Tahun 2008 saya mendapatkan SK Bupati sebagai Guru TKS di SMAN 1 Muara Kelingi, dan di tahun 2009 kuliah kembali mengambil program Akta IV Pendidikan Biologi di Universitas Bengkulu dan pada tahun 2014 mendapatkan SK sebagai PNS di MAN 1 Musi Rawas.

LEAVE A REPLY