CATATAN SILATURRAHIM AHMADIYANTO SEKELUARGA KE PELAIHARI. Bagian 5. Pulang dari Pantai Batakan

0
5

Sejenak penulis beristirahat di penginapan sambil menikmati kuaci dan makanan ringan lainnya sambil menunggu Ahmadiyanto pulang dari musolla. Rencananya malam ini penulis bersama keluarga akan pulang ke rumah di Pelaihari, sehingga tidak dapat menemani Ahmadiyanto sekeluarga menikmati suasana malam di Pantai Batakan. Setelah Ahmadiyanto datang dari musolla, maka penulis sekeluarga mohon pamit untuk pulang ke rumah. Waktu saat itu menunjukkan sekitar pukul 19.30 WITA pada Selasa, 24 Desember 2019.

Malam itu kondisi cuaca cukup baik dan cerah, tidak ada tanda-tanda akan turun hujan,sehingga perjalanan pulang ke Pelaihari tentunya akan lancar. Bagi penulis dan keluarga belum pernah pulang dari objek wisata seperti Pantai Batakan ini pada malam hari, biasanya pulangnya sore hingga tiba di rumah menjelang Magrib. Dengan demikian, perjalanan pulang dari objek wisata Pantai Batakan ini merupakan pertama kalinya dalam kehidupan penulis bersama keluarga pulang malam hari.

Saat mau keluar dari kawasan objek wisata Pantai Batakan pada malam itu penulis terlewat dari jalan keluarnya, karena tidak mengetahui persis dimana jalan arah keluar dari kawasan objek wisata tersebut. Kemudian, penulis putar balik lagi arah mobil ke tempat penginapan untuk mencari jalan keluar dari kawasan objek wisata Pantai Batakan, dan akhirnya ditemukan jalananya. Memang jalan masuk ke kawasan objek wisata Pantai Batakan tersebut tidak ada penerangan listrik atau pintu gerbang yang menunjukkan jalan masuk dan keluarnya, sehingga tidak jelas jalan keluar kawasan objek wisatan tersebut.

Seusai keluar dari kawasan objek wisata Pantai Batakan mobil meluncur menembus kegelapan malam menuju ke Pelaihari. Saat itu, tidak terlihat di depan penulis ada mobil atau kendaraan bermotor lainnya yang searah dengan penulis, baik di depan maupun di belakang. Suasana jalan sangat sepi selepasa dari kawasan perkampungan masyarakat di Desa Batakan, Meski kondisi arus lalu lintas sepi dan lengang, penulis tidak menjalankan mobil dengan kecepata tinggi, karena harus sangat hati-hati jika tiba-tiba ada binatang atau hal lainnya yang melintas jalan di tempat-tempat yang ada hutannya dan sunyi malam itu.

Sesekali penulis berpapasan dengan pengendara sepeda motor yang terlihat tidak menyalakan lampu atau mungkin tidak ada lampunya. Menurut perhitungan penulis sepanjang perjalanan dari objek wisata Pantai Batakan tadi, ada sebanyak 5 atau 6 sepeda motor yang tidak menyalakan atau tidak ada lampunya. Memang cukup membahayakan bagi pengendaranya sendiri maupun pengguna jalan lainnya jika berpapasan dengan pengendara sepeda motor yang tidak memakain lampu saat malam hari tersebut. Sungguh menjadi sebuah pengalaman nyata yang penulis temukan saat pulang dari objek wisata Pantai Batakan.

Selama perjalanan pulang  dari Pantai Batakan ke Pelaihari yang berjarak sekitar 45 kilometer,  ternyata malam itu ada kegiatan pasar malam yang cukup ramai dikunjungi oleh pembelinya. Lokasi pasar malam itu berada di pinggir jalan raya Pelaihari-Batakan, sehingga di tepi jalan dipenuhi oleh sepeda motor dan pengunjung lainnya. Penulis harus melambatkan laju mobil di lokasi pasar malam karena jalan menyempit dan banyak lalu lalang pengunjung yang hilir mudik menuju pasar tersebut.

Mendekati Pelaihari mulai ada banyak pengguna jalan yang hilir mudik, dan ketika memasuki kawasan perkotaan semakin ramai. Sebelum sampai di rumah, kami mampir dulu di sebuah tempat pengisian air minum isi ulang untuk mengisi 2 (dua) buah galon air minum yang sudah disiapkan sebelum berangkat ke Pantai Batakan tadi sore.  Seusai pengisian galon air minum, penulis melanjutkan perjalanan menuju rumah yang jaraknya sekitar 2 kilometer lagi. Alhamdulillah, akhirnya sekitar pukul 09.00 WITA penulis sekeluarga sampai di rumah kembali.

Views All Time
Views All Time
16
Views Today
Views Today
1
Previous articleCATATAN SILATURRAHIM AHMADIYANTO SEKELUARGA KE PELAIHARI. Bagian 4. Menikmati Pantai Batakan Menjelang Senja
Next articleCATATAN SILATURRAHIM AHMADIYANTO SEKELUARGA KE PELAIHARI. Bagian 6. Mengunjungi RTH Kijang Mas Kencana Pelaihari
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY