CERPEN” INCES: DICARI TAPI TAK DIRINDU”

0
11

Oleh: Ira Nazhreen

Adalah Inces. Seorang yang tidak waras pikirannya tapi menjadi trending topik di kotaku. Ada saja kelakuannya yang menghebohkan masyarakat. Kehadirannya menjadi momok menakutkan bagi siapa saja, terutama anak-anak. Hingga terkadang ia dijadikan semacam istilah untuk menakut-nakuti anak.
“Nabila… ! lekas masuk, sudah berulang kali mama suruh masuk, tak juga kamu dengar, biar saja nanti kamu dikejar Inces,” ujar seorang ibu pada anak nya yang asik bermain meski sudah senja.
Dengan segera anak tersebut  masuk ke rumah seperti yang diperintahkan ibunya karena takut Inces akan mendatanginya.

Selain itu, masyarakat selalu mewanti-wanti apabila ada peralatan rumah tangga yang terbuat dari kaca masih terletak di luar rumah.  Dengan segera masyarakat akan mengamankannya dan memasukkan peralatan kaca tersebut ke dalam rumah.

“Kalau tak segera dimasukkan ke rumah, nanti dihancurkan Inces,” begitu kata seorang ibu yang steleng kaca dagangannya pernah diobrak-abrik Inces hingga tak berbentuk lagi.

Masih banyak kasus-kasus lain yang juga tak lepas dari tangan jahil Inces. Contohnya, seorang ibu yang kaget sepulang belanja dari pasar melihat Inces di jalanan sedang memakai baju kesayangannya sembari mengorek tong sampah. Ibu tersebut hampir pingsan, pasalnya baju itu belum pernah ia kenakan.

“Baru dibeli dan langsung saya cuci agar tak gatal dipakai, lagipula baju itu belum lunas cicilannya” tukas ibu tersebut sambil menunjukkan wajah kecewa.

“Ampun pak…ampuuuun…bukan saya yang pecahin batu bata di depan rumah Bapak, bukan saya yang pecahin kaca jendela Bapak, bukan saya pula yang berak di halaman Bapak, ampuuun pak…adoooooh…adooooooh!”

Begitulah tangisannya dengan wajah memelas ketika seorang bapak memukulnya di pinggir jalan sehabis subuh.  Si Bapak terlihat marah sekali dan membentak-bentak Inces yang telah menghancurkan batu bata dan bahan-bahan material lainnya di depan bangunan rumahnya yang baru separuh jadi.

Saat bulan Ramadhan, Inces pernah memecahkan beberapa botol sirup di depan sebuah swalayan. Tak pelak, sang pemilik langsung mengejar Inces, namun tak berhasil. Dari kejauhan, Inces mengejek pemilik swalayan dengan menjulurkan lidah dan membelalakkan matanya. Bisa dibayangkan bagaimana merahnya wajah pemilik swalayan itu.

“Awas kamu ya…!, sekali lagi kamu berulah di swalayanku, tak akan kulepaskan kamu…!” bentak pemilik swalayan sambil menggerutu.

Di hari yang berbeda, orang-orang pernah meneriaki Inces karena tak mengenakan sehelai benang pun di tubuhnya. Seketika, ibu-ibu di sekitar tempat itu berusaha mengejar dan menahannya, serta langsung mengenakan pakaian lengkap pada Inces. Antara menangis dan tertawa, ia pun berlari-lari setelah itu. Sungguh pemandangan yang unik.

Tak lama berselang, Inces melampiaskan kekesalannya dengan melempar kaca depan sebuah mobil pick up. Nampaknya ia puas sekali. Tak peduli seberapa marah pemilik mobil itu setelah tahu kaca mobilnya hancur berkeping-keping.

Kejahilan Inces ini tidak dapat lagi ditolerir, hingga masyarakat sudah berulang kali melaporkannya ke kantor polisi, namun polisi tidak bertindak apapun. Mungkin karena Inces tidak waras jadi tidak ada hukuman untuknya.
“Jalan satu-satunya ialah membawa ia ke Rumah Sakit Jiwa,” Ujar salah seorang polisi.

Beberapa kali Pemerintah Kota melalui Dinas Sosial juga telah membawa Inces ke Rumah Sakit Jiwa tingkat  provinsi, namun tak berapa lama ia lepas lagi. Selalu begitu, hingga pemerintah merasa jemu.

Namun, ada pula kelebihan dari Inces, ia dapat membubarkan paksa kumpulan bocah A-BE-GE yang asik menyabung ayam tanpa dibantu satpol PP.  Melihat Inces menghampiri mereka, para A-BE-GE tersebut akan bubar teratur tanpa ada perlawanan. Sesekali, mereka hanya meneriaki Inces dari kejauhan. tampaknya mereka tahu betul bagaimana rasanya jika batu yang berada dalam genggaman Inces melayang ke wajah mereka. Bahkan ayam-ayam hasil lagaan yang dikurung di keranjang rotan itupun ikut pula diamankan Inces.

***

Inces seorang perempuan paruh baya. Postur tubuhnya terbilang pendek. Kira-kira seratus dua puluh sentimeter. Rambut sebahu acak-acakan, bentuk kaki O, kulitnya sawo matang, gelang karet warna-warni selalu melilit di kedua lengannya. Ia suka sekali melihat laki-laki tampan. Tangannya tak akan segan menyentuh bahkan memeluk laki-laki yang ia sukai. Tentu hal ini membuat laki-laki yang waras akalnya marah dan kesal.

Beberapa tahun yang lalu, ia selalu tampak bersama seorang anak  perempuan berumur tiga tahun. Tapi belakangan, si anak tak ada kabar berita nya. Entah sudah dipungut orang atau hilang terpisah dari Inces.

Menurut cerita, ketidakwarasannya berawal sejak ia ditinggalkan suami nya saat melahirkan di sebuah rumah sakit sebuah kota nun jauh di sana. Ia tidak punya biaya sama sekali, ia tidak tahu ingin mengadu pada siapa, tanpa sanak saudara. Mungkin karena sakit hati, kecewa dan marah, hingga membuat ia jadi seperti itu.

Sore itu, hujan turun begitu derasnya. Biasanya Inces akan berlari-lari di tengah hujan. Ia akan menyirami beberapa rumah dengan air selokan dibarengi tawanya yang riang. Ia juga akan menghanyutkan ke selokan, sandal-sandal yang lupa dimasukkan pemiliknya ke dalam rumah. Ia mungkin merasa bahwa hujan adalah hari kemerdekaannya. Jadi sudah sepatutnya ia merayakan hari itu dengan kegembiraan.

“Jika ingin melihat kebahagiaan di wajah Inces, tunggulah saat hujan tiba,”  kata seseorang padaku.

Aku merasa bahwa apa yang dikatakan orang itu memang benar. Raut wajahnya sangat berbeda, begitu ceria. Seperti ada beban berat yang lepas dari pundaknya. Kasihan sekali ia. Dari kejauhan, kupandangi dalam-dalam wajah tua itu, guratan demi guratan terukir jelas di wajahnya, menandakan betapa keras perjuangan hidupnya. Tiba-tiba, tak kusangka ia menoleh dan melambaikan tangan padaku, seolah-olah mengajakku bermain bersamanya. Aku begitu terkejut. Segera kututup pintu. Jantungku berdegup kencang, berharap ia tak mendatangi rumahku. “Bisa panjang nanti ceritanya,” batinku.

***

Hari ini hujan turun lagi. Lebih deras dari hari biasanya. suara petir bersahut-sahutan. Sesekali kilatan cahaya seperti berlomba ingin masuk ke kamarku. Kusibakkan tirai yang menutup jendela. Pelan-pelan aku mencari sosok yang biasanya terlihat bermain di hujan. tak kulihat sosok itu. Mungkin karena kamarku berada di lantai dua, jadi aku tidak jelas melihatnya. Aku berusaha mengeluarkan kepalaku melalui jendela. Tapi tetap tak kutemui sosok itu. Beberapa saat aku menunggu kehadirannya di bawah sana, tetap tak ada hasil. Aku menyerah, kututup kembali tirai yang mulai basah.

***

Hari ini hujan turun lagi. Tak terasa hari ini hampir sebulan lamanya aku tidak pernah mendengar kabar tentang Inces. Biasanya di mana saja, orang-orang heboh menceritakan kejahilannya. Lama sekali kutunggu-tunggu kehadirannya di bawah sana bermain-main hujan, tapi Ia tetap tak muncul. Hujan kali ini terasa begitu sepi.

Views All Time
Views All Time
35
Views Today
Views Today
3

LEAVE A REPLY