Cerpen Kami Anak Sungai : Bagian 13. Lomba Berenang di Sungai Martapura

0
9

Masa kanak-kanak bagi kami anak sungai tidak dapat dilepaskan dengan air, khususnya Sungai Martapura yang mengalir di sepanjang kampung. Sungai Martapura merupakan halaman kedua tempat kami bermain, selain halaman di daratan kampung kami. Setiap melakukan permainan di darat, maka selanjutnya kami  bermain di Sungai Martapura yang dengan mandi,  atau dalam bahasa kami di kampung dengan balumba, yaitu mandi sambil bermain tanpa menghiraukan waktu.

Tidak ada hari  tanpa balumba di Sungai Martapura, terlebih pada masa musim kemarau, yaitu ketika kondisi air Sungai Martapura surut, tenang, dan jernih. Selama bermain di sungai inilah kami menumpahkan kegembiraan, berteriak, bernyanyi, dan sebagainya, sehingga kami tidak ingat waktu jika sudah mandi di Sungai Martapura ini. Kebahagiaan yang tidak ternilai harganya ketika bersama kawan-kawan sebaya mandi dan bermain. Keahlian berenang kami dapatkan dari bermain bersama teman-teman, sehingga hampir semua anak-anak di kampung kami pandai berenang.

Hari-hari masa kanak-kanakku  diisi dengan bermain dan mandi bersama kawan-kawan sebaya di kampung tercinta. Kegembiraan yang selalu tersaji setiap hari, meski hidup dalam kesederhanaan dan bersahabat dengan alam lingkungan.  Mandi dan bermain di Sungai Martapura menjadi menu wajib bagi kami setiap hari, rasanya tidak ada kegembiraan tanpa mandi bersama di Sungai Martapura. Kegembiraan kami lahir dari kebersamaan dan bersahabat dengan alam.

“ Lan, ayo kita mandi, “ ajak Masrani dengan aku.

“ Iya, Ran, aku ganti celana dulu, “ jawabku

Aku dan Masrani berdekatan rumah. Rumah kelurga Marsani berada sekitar 15 meter dari tepi Sungai Martapura, sedangkan rumah persis di tepi atau pinggir Sungai Martapura. Jika aku membuka pintu dapur rumahku, maka langsung melihat aliran Sungai Martapura. Apabila saat air Sungai Martapura banjir, rumahku sepenuhnya dikelingini oleh air.

Setelah kami berdua siap mau mandi, tidak lama kemudian datang Syaifudin yang juga mau mandi bersama kami, karena rumah Syaifudin juga tidak jauh dengan rumahku dan Masrani. Rumah Syaifudin sama posisinya dengan rumah keluarga Masrani, yaitu cukup jauh dari dari tepi Sungai Martapura.

“ Ayo, Din bercebur” ajak aku dengan Syaifudin yang masih berada di tepi sungai.

“ Ya, sebentar lagi, aku melepas baju dulu, “ jawab Syaifudin.

Sementara itu, di bagian hulu dan hilir sungai, terlihat banyak anak-anak yang lain yang mandi dan bermain pada sore itu. Hampir setiap sore anak-anak di kampung kami dan kampung seberang mandi seraya bermain di sungai.

“ Kita ke hilir, bergabung dengan kawan-kawan di sana , ” ajakku dengan Syaifudin dan Masrani.

“ Ayo, kita ke sana, “ jawab Syaifudin dengan bersemangat.

Kami pun menuju tempat dimana banyak anak-anak kampung kami berenang di bagian hilir sungai. Tidak berapa kemudian, sampailah di tempat yang kami tuju. Dengan bergabungnya kami bertiga, maka semakin ramai mandi dan bermain-main sore itu, ada sebanyak tujuh anak yang bergabung di situ. Kami bertiga, aku, Masrani, Syaifudin, lalu dari yang sudah didatangi ada Makmun, Kamarudin, Mulyani, dan Kurdi. Kami yang bertujuh ini usianya tidak jauh beda, dan sama-sama bersekolah pada sekolah dasar yang sama di kampung kami.

“ Kawan-kawan, kita lomba berenangkah, ” ajak Makmun dengan kami semua.

“ Ayo, kemana tujuannya, “ jawabku.

“ Kita berlomba menuju tonggak yang ada di hulu sana , bagaimana?, “ujar Makmun

“ Setuju, “ jawab yang lain.

Ada sekitar 10 meter jarak tonggak yang dimaksud dari titik mereka berkumpul arah ke hulu sungai, sehingga kami berenang melawan arus sungai dulu, lalu balik ke titik awal.

“ Apakah sudah siap kita lomba,“ kata Makmun lagi.

“ Siap,” jawab aku dan kawan yang lainnya.

Sesaat kemudian kami lomba berenang dengan menggunakan gaya bebas sesuai kemampuan yang kami miliki. Meski menuju arah menuju ke hulu, namun arus sungai saat itu tidak terlalu deras, sehingga kami dapat memicuk kecepatan menuju tonggak yang menjadi titik putar. Aku berusaha sekuat tenaga dan segala kemampuan yang ada untuk menyaingi kawan-kawan yang lain. Namun, akhirnya aku tidak dapat mendahului semua lawan dalam lomba renng ala anak sungai ini.

Meski tidak menang, namun aku dan kawan-kawan lainnya merasa senang. Kegembiraan itu bukannya menjadi pemenang, tetapi kebersamaan dalam segala keadaan. Bersaing itu penting, namun yang lebih penting menjaga kebersamaan. Sesudah merasa cukup lelah dan kedinginan, maka akhirnya kami sepakat menyudahi bermain  dan kami naik ke darat untuk pulang ke rumah masing-masing menjelang Magrib.

****

Views All Time
Views All Time
13
Views Today
Views Today
1
Previous articleBagian 114. BERBAGI MENULIS BERSAMA IGI BARITO TIMUR,KALTENG. Makan Malam dan Berbagi Pengalaman Bersama Ketua IGI Bartim
Next articleCerpen Kami Anak Sungai : Bagian 14. Khitan Barsama Kawan-kawan
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY