Cerpen Kami Anak Sungai : Bagian 3. Belajar Mengaji dengan Kai Dulah

0
10

Malam menjelang, dan gelap pun menyelimuti seisi kampung. Jalanan kampung yang berbatu krikil tidak terlihat lagi alurnya, karena gelapnya malam menutup pemandangan . Bunyi binatang kecil yang suka aktif malam hari mulai terdengar nyaring, terutama suara jangkrik. Memang, kampung kami gelap gulita ketika malam tiba, karena tidak ada penerangan apapun di jalan kampung. Ketika malam menyelimuti bumi, kampung kami pun sepi.

Magrib sudah usai, terdengar dari kejauhan suara anak-anak yang sedang berjalan dalam kegelapan malam. Seusai Magrib ini merupakan masa kami anak kampung menuju rumah tokoh agama atau guru mengaji seraya berjalan membawa lampu berbahan bakar minyak tanah yang kami sebut lampu palitaan. Lampu yang terbuat dari bekas kaleng susu kental yang dimodifikasi sedemikian rupa hingga menjadi alat penerangan sederhana.

“ Lan, ayo kita berangkat ngaji” terdengar suara keras dari luar rumah ku.

“ Ya, tunggu Ran” jawabku menjawab ajakan Masrani dari luar rumah.

Ya, malam itu aku bersama Masrani sudah berjanji akan berangkat ke rumah Kai Dulah untuk belajar mengaji al Quran. Memang, kakek atau Kai Dulah, salah satu guru mengaji anak-anak kampung, disamping ada juga guru mengaji di rumah lainnya. Kebetulan aku  bersama Masrani sama-sama berguru mengaji dengan Kai Dulah. Kai Dulah ini masih keluarga dekat dengan Masrani dan aku.

“ Ayo, siapa yang mau mengaju dulu” ujar Kai Dulah ketika aku dan Masrani sudah membaca untuk memperlancar bacaan ayat  yang sudah diajari malam – malam sebelumnya.

“ Ilan saja Kai “ ujar Masrani menjawab pertanyaan Kai Dulah.

“ Ya, kamu Ilan  ke sini” ujar Kai Dulah

Aku pun mendekati Kai Dulah untuk menyejikan bacaan yang sudah lancar bacaan ayat sebelumnya. Lampu palitaan yang menjadi satu-satunya penerangan aku mengaji malam itu sangat berguna menerangi lembaran kitab suci al Quran yang aku baca. Kai Dulah mendangarkan ayat demi ayat suci al Quran yang aku baca, sambil beliau membetulkan bacaanku jika ada yang kurang tepat.

“ Lan, kamu bisa naik ke ayat berikutnya, karena kamu sudah lancar” ujar Kai Dulah mengomentari setoran bacaanku malam itu.

Inggih, Kai” ujarku menanggapi komentar Kai Dulah.

Kai Dulah pun mulai membacakan ayat baru. Aku mendengarkan dan menyimak bacaan beliau. Suara khas beliau yang indah membuatku nyaman mendengarkannya. Sehabis membacakan ayat baru yang jumlah sebanyak 4 ayat, maka Kai Dulah menyuruhku untuk membacakan ayat yang baru diajarkannya. Aku mencoba membaca dengan segala kemampuan yang ada, dan ternyata bacaanku masih belum lancar.

“ Kamu belajar lagi semalam atau dua malam lah “ ujar Kai Dulah sehabis aku membaca.

Inggih, Kai” ujarku dengan pelan.

“ Sekarang kamu Masrani “ panggil Kai Dulah kepada Masrani yang duduk tidak jauh dariku.

Aku mendengarkan Masrani mengaji dengan Kai Dulah. Batas kemampuan mengajinya tidak begitu jauh dengan aku, masih pada juz 1. Kami berdua memang saat belajar mengaji dengan kai Dulah mulai dari awal juz pertama al Quran. Sebelumnya kami belajar alif-alifan yang merupakan pelajaran dasar sebelum mengaji al Quran. Belajar alif-alifan adalah belajar dasar huruf hijaiyah atau huruf Arab. Setelah lancar dan mampu membaca dasar huruf Arab dari belajar alif-alifan, maka berlanjut belajar membaca ayat suci al Quran.

Menjelang Shalat Isya kami berdua selesai belajar membaca al Quran dengan Kai Dulah. Kami berdua pamit pulang ke rumah masing-masing. Kembali lampu palitaan kami hidupkan untuk penerangan pulang ke rumahku. Jarak rumahku dengan rumah kai Dulah sekitar 300 meter.

“ Kami pulang Kai” ujar aku dan Masran dengan Kai Dulah.

“ Ya, hati-hatilah di jalan” ujar Kai Dulah menyahut.

“ Assalamualikum ..” ujar kami berdua

“ Waalaikumsalam “ jawab Kai Dulah.

Kami langsung pulang ke rumah dengan diterangi lampu palitaan di tangan masing-masing.

“ Ran, aku duluan lah” kataku dengan Masrani ketika sampai di muka rumahku.

“ Ya, Lan” jawab Masrani yang terus berjalan menuju rumahnya yang tidak begitu jauh dari rumahku.

****

Views All Time
Views All Time
21
Views Today
Views Today
1
Previous articleCATATAN KEGIATAN PETUGAS PUSKESMAS TANJUNG HAMBULU
Next articleCerpen Kami Anak Sungai : Bagian 4. Membuat Lugu Sendiri
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY