Cerpen Kami Anak Sungai : Bagian 6. Memasang Perangkap Burung Pipit

0
19

Tak terasa perjalanan musim mulai berganti. Musim panen di kampung kami sudah mulai berlalu. Hanya sebagian kecil saja sawah yang berada di lokasi yang baruh, yaitu lokasi persawahan yang berada di posisi bawah dari hamparan areal persawahan di kampung kami. Namun demikian, gerombolan burung pipit tidak berarti berkurang atau menghilang di areal persawahan kampung kami.

Gerombolan burung pipit yang puluhan atau ratusan ekor itu menyerbu butir-butir pada yang masih tersisa di areal persawahan yang sudah dipanen. Kondisi demikian sudah tidak membuat masalah bagi petani, karena burung pipit dan juga burung gelatik yang memanfaatkan sisa panen di areal persawahan yang luas. Kondisi tersebut menjadi bagi anak-anak atau bahkan orang dewasa untuk menjebat atau memasang perangkap burung pipit di titik tertentu.

Selepas makan pagi pada hari Minggu,  aku bersama Masrani, Syaifudin, dan Aswan berencana memasang perangkap burung pipit di sawah orang tua Aswan. Kebetulan areal persawahan milik orang tua Aswan tersebuut dengan pepopohan tempat burung pipit singgah atau bermalam. Aku membawa lunta, yaitu jala yang biasa menangkap ikan di sungai. Lunta itu milik ayahku yang tidak terpakai,  namun masih dapat dimanfaatkan dengan perbaikan sedikit pada titik yang bolong.

Sementara itu, Aswan membawa keranjang yang biasanya digunakan untuk menyimpan ikan di air, sedangkan Masrani dan Syaifudin membawa bilah bambu yang sudah dihaluskan dengan ukuran panjang sekitar 4 meter.

“ Lan, kamu sudah tambal luntanya” tanya Masrani mengecek lunta  yang aku bawa.

“ Sudah, Ran. Tidak banyak juga yang ditambal” kataku.

“ Din, bagaimana bilah bambunya, sudah cukupkah” tanya Masrani pada Syaifudin.

“ Ya, aku kira sudah cukup Ran” balas Syaifudin.

“ Kalau sudah siap semua, ayo kita berangkat” ajak Aswan.

Bocah empat sekawan ini pun berangkat menuju lokasi yang sudah direncanakan, yaitu di areal sawah milik orang tua Aswan. Tidak begitu lama kami berjalan menelusuri pematang sawah yang ada di belakang perkampungan kami, akhirnya tiba di tempat tujuan. Pagi itu cuaca cukup cerah, terlebih di areal persawahan yang terbuka dan tidak banyak pepohonan.

Aku bersama Masrani memeriksa ulang kondisi lunta atau jala yang ku ambil dari karung goni, sedangkan Syaifudin memasang bilah bambu dibantu Aswan. Seusai memeriksa kondisi lunta, aku dan Masrani bergabung dengan Syaifudin dan Aswan membuat perangkap burung pipit dan burung lainnya yang berbentuk setengah lingkaran parabola. Bagian dalam dari lingkaran setengah parabola itu akan ditaburi butiran padi untuk memancing burung pipit dan burung pemakan padi lainnya turun. Seluruh bagian lingkaran  parabola itu ditutupi dengan jerami padi yang diambil dari sekitar.

Sekitar setengah jam membuat jebakan tersebut, lalu sesegaranya kami taburi dengan butiran pada di bagian dalam lingkaran parabola tersebut. Kami berempat mengambil posisi yang terlindung dari penglihatan burung pipit atau burung lainnya, sekitar 2 meter dari perangkap parabola tersebut. Sedapat mungkin gerakan dan suara kami tidak terdengar agar  burung yang kami harapkan turun dalam perangkap kami tidak curiga.  Kami pun berdiam diri di tempat persembunyian dengan tetap memperhatikan lingkungan sekitar.

“ Sssstt, kita jangan bersuara nyaring ya” kata Aswan dengan suara berbisik.

Kami menunggu beberapa lama, namun tidak ada tanda-tanda kawanan burung pipit yang turun mendatangi jebakan kami. Mungkin mereka sudah kenyang, atau sedang pergi ke tempat lain yang banyak sumber makanannya. Setelah cukup lama kami menunggu, ternyata burung pipitnya tidak ada yang mampir, dan akhirnya kami putuskan untuk pulang ke rumah siang itu. Usaha yang belum berhasil, tetapi kami tidak putus asa. Esok atau lusa akan kami coba lagi.

****

Views All Time
Views All Time
21
Views Today
Views Today
1
Previous articleEksistensi Pramuka dan Keutuhan NKRI
Next articleCerpen Kami Anak Sungai : Bagian 7. Menemukan Bayi Burung Betet
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY