Cerpen Kami Anak Sungai : Bagian 8. Masuk Madrasah di Kampung Seberang

0
8

Aku berjalan mendatangi rumah Aswan siang itu. Rumah Aswan berjarak sekitar 500 meter dari rumahku. Rumah orang tua Aswan cukup besar, dan merupakan salah satu rumah di kampung kami yang terbilang mewah. Jika  mau masuk  ke rumahnya, maka harus  menaiki beberapa anak tangga. Rumah tersebut terbuat dari kayu ulin dengan pintu  dan jendala yang besar.  Halaman rumahnya  juga luas, dan menjadi salah tempat favorit anak-anak sekitar bermain.

Siang itu, aku mendatangi Aswan di rumahnya untuk memastikan apakah dia jadi ikut mendaftar untuk belajar pada madrasah di kampung seberang. Maklum saja, di kampung kami belum ada mempunyai  madrasah,  atau biasa disebut masyarakat kampung kami ‘sekolah arab’. Di kampung kami baru ada sekolah dasar (SD) , dan aku duduk di kelas 2.

“ Assalamualaikum “ ucapku sambil mengetuk pintu rumah Aswan.

“ Waalaikumsalam “ terdengar suara laki-laki tua  menyahut dari dalam.

Lalu, laki-laki tua itu membuka pintu rumah.

“ O,kamu kah Lan” ucap laki-laki tua yang datang menghampiriku.

Inggih,Kai, ulun Ilan “ jawabku.

Ternyata yang membalas salam dan menemuiku adalah ayah Aswan. Beliau sering dipanggil  dengan nama Kai Main. Sedangkan nama lengkap beliau adalah  Armain. Beliau merupakan salah satu tokoh masyarakat di kampungku yang disegani masyarakat. Aku memanggil beliau kai atau kakek.

“ Aswan adakah Kai “kataku lagi.

“ Ya, ada. Dia lagi makan di dalam “ ujar Kai Main.

“ Inggih “jawabku  singkat.

“ Kamu tunggu lah sebentar, aku mau ke dalam “ujar Kai Main lagi.

Aku menunggu Aswan di pelataran rumahnya yang luas, dan tidak lama kemudian Aswan keluar dan menemuiku.

“  Bagaimana,  jadikah kita sore ini mendaftar ke madrasah di seberang “ ucapku saat sudah duduk bersama Aswan di pelataran  rumahnya.

“ Iya, jadi. Lalu, bagaimana dengan Masrani dan Syaifudin” ujar Aswan menjawab.

“ Aku belum ketemu juga dengan mereka, apakah jadi ikut atau tidak” jawabku.

“ Kalau begitu, bagaimana kita temui saja  mereka di rumahnya”ujar Aswan mengajakku.

“ Ayo, kita ke rumahnya” jawabku singkat.

Kami berdua segera mendatangi  Syaifudin dan Masrani di rumahnya masing-masing untuk memastikan mereka jadi mendaftar di madrasah kampung  seberang. Ternyata Syaifudin dan Masrani turut bergabung dengan kami untuk mendaftar ke madrasah di kampung seberang.  Kami berempat sepekat selepas Shalat Zuhur akan berangkat ke kampung seberang untuk mendaftarkan diri menjadi santri madrasah di kampung tersebut.

Selepas Shalat Zuhur Aku,Masrani,Syaifudin,dan Aswan berkumpul di rumahku. Kami berkumpul untuk mewujudkan rencana yang sudah disepakati, yaitu mau mendaftar ke madrasah yang ada di kampung seberang Sungai  Martapura. Dari pelataran bagian belakang rumahku dapat terlihat kampung seberang  dengan jelas, termasuk bangunan madrasah yang akan kami datangi.

“  Lan, jukung yang dipakai untuk ke seberang” ujar Aswan membuka pembicaraan.

“ Itu, jukung Masraniyang sudah siap di tumpakan” ujarku menjawab.

“Ooh, yang itukah” jawab Aswan sambil menunjukkan jarinya pada sebuah jukung yang cukup besar yang talinya masih terikat pada tiang tumpakan.

Jukung merupakan sebutan masyarakat kami orang Banjar,yaitu perahu atau sampan. Sedangkan yang dimaksud dengan tumpakan adalah sejenis pelabuhan tempat mandi dan aktivitas lainnya yang dibuat di tepi sungai. Terbuat dari kayu galam maupun kayu ulin.

“Ayo,Din.Kamu yang mengayuh jukung dengan Iran ” ujarku mengajak Syaifudin dan  Masrani naik jukung.

“ Ya, ayo kita naik “lanjut Aswan mengajak naik jukung.

Kami pun berangkat naik jukung ke seberang dengan menyeberangi Sungai Martapura yang jaraknya sekitar 250 meter. Syaifudin mengayuh di buritan, sedangkan Masrani di haluan jukung. Aku dan Aswan duduk manis di tengah-tengah jukung untuk menjaga keseimbangan jukung itu sendiri. Rencananya pada pulang nanti aku dan Aswan yang mendayung. Jadi,kami bergatian mendayung jukung tersebut.

Beberapa saat kemudian sampailah jukung kami di kampung seberang. Jukung kami tambatkan di tumpakan milik Kai Saleh. Selanjutnya, kami berjalan kaki menuju rumah ustad yang mengajar pada madrasah tersebut  yang jaraknya sekitar 500 meter. Kami mendaftar dulu dengan ustad tersebut,beliau dikenal dengan panggilan Guru Matzai. Nama asli Guru Matzai adalah Muhammad Zaini, tetapi dikenal masyarakat dengan panggilan Guru Matzai.

“ Kalian memang mau belajar di madrasahkah ” ujar Guru Matzai menanyai kami saat datang dan mendaftar ke rumahnya.

“ Inggih, Guru, kami mau belajar di madrasah “ jawab Syaifudin mewakili kami berempat.

“ Baiklah,  kalau begitu,mulai esok siang kalian sudah dapat masuk “ kata Guru Matzai kembali.

“ Inggih, terima kasih “ ucap kami semua.

Selanjutnya, kami mohon pamit dan bersalaman dengan  Guru Matzai untuk pulang ke rumah kami di sebarang sungai, dan besok kami akan kembali lagi untuk belajar di madrasah dan di kelas yang baru. Meski kami sudah duduk di kelas 2 sekolah dasar, tetapi di madrasah tersebut kami berempat harus duduk di kelas 1,  karena mata pelajarannya  sangat jauh berbeda.

Pada sekolah dasar kami diajari mata pelajaran umum, seperti berhitung, ilmu pengetahuan alam, dan sebagainya. Sedangkan di madrasah itu belajar ilmu agama (Islam) sepenuhnya,  seperti al quran, nahu, syaraf, dan sebagainya,yang dikenal juga sebagai madrasah diniyah. Dengan demikian, aku dan kawan-kawan yang mendaftar di madrasah tersebut akan belajar penuh setiap hari. Kalau pagi belajar  di sekolah dasar atau sekolah umum, sedangkan pada siang harinya belajar di madrasah atau sekolah agama.

Kami menuju jukung yang ditambatkan pada tumpakan Kai Saleh. Aku mendayung pada bagian buritan,sedangkan Aswan  di bagian haluan jukung.  Syaifudin dan  Masrani dengan manisnya duduk di tengah-tengah jukung sambil menggerakkan jari-jemarinya ke air sungai. Tidak berapa lama kemudian jukung sudah sampai ke tempat semula. Setelah jukung diikat pada tempatnya, kami pun segera beranjak untuk naik ke darat dan kembali ke rumah masing-masing guna beristirahat bersama keluarga.

****

Views All Time
Views All Time
17
Views Today
Views Today
1
Previous articleHamparan Pasir Putih
Next articleCerpen Kami Anak Sungai : Bagian 9. Mengejar dan Menaiki Kayu Gelondongan
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY