CERPEN : MENGUKIR MIMPI BAGIAN II

0
28

“Han…kita ke kantin!” Rusma mengajak Hanna

“Ya..aku belum sarapan”

“Qam mau ke kantin?” Tanya Hanna kepada Qamariah

“Ya, Han”

Qamariah dan Rusma  mereka teman akrab Hanna di sekolah, mereka pergi dan pulang sekolah juga bersama, rumah mereka satu arah. Itu membuat mereka semakin akrab.

Mereka pergi ke kantin

“Bu..nasi goreng, sama es teh..”pesan Hanna pada penjaga kantin

“Aku pesan sop” kata Rusma

“ Es teh” Ujar Qamariah sembari mengambil dua potong gorengan

Pesanan sudah siap di depan ketiga gadis itu, dan mereka makan dengan lahap, tak lama kemudian mereka selesai makan.

Setelah membayar ketiga gadis remaja itu meninggalkan kantin, istirahat hanya 15 menit mereka bergegas menuju kelas.

Tiba-tiba langkah Hanna terhenti tepat di depan papan mading yang berdiri kokoh disamping pintu masuk perpustakaan, Hanna melihat brosur yang baru ditempel oleh petugas perpustakaan.

Hanna mengamati dan membaca dengan teliti di brosur itu.

“Penelusuran Minat dan Kemampuan” Gumam Hanna membaca brosur itu.

“Han..” masuk kelas sembari Rusma menarik tangan Hanna

Hanna pun mengikuti langkah Rusma menuju kelas

Namun pikiran Hanna masih tertuju pada brosur tadi.

****

Jam pelajaran berakhir,  ketiga sahabat itu menuju parkir untuk mengambil sepeda mereka.

“Kalian pulanglah duluan” kata Hanna

Rusma dan Qamariah memandang Hanna

“Aku mau ke warung telp”

“Oooh”.

“Ok lah” jawab Rusma

Qamariah juga mengiyakan.

Hanna mampir di warung telp dekat pasar, Hanna masuk pada box kamar dan meraih ganggang telp dan menekan sembilan angka, nada sambung pun terdengar.

Hanna menunggu tidak ada jawaban dari rumahnya

Hanna tinggal dirumah kakek untuk bersekolah, karena fasilitas sekolah disini lebih memadai dibandingkan di desa Hanna. Orang tua Hanna menitipkan nya dirumah kakek.

“Hello…”suara dari seberang sana

“Bun..”

“Ya..kamu Han”

“Ya Bun”

“Bun tadi di sekolah ada brosur dari Universitas ditempel di mading”

“Penelusuran minat dan kemampuan” aku mau ikut Bun

“Syaratnya mengirim dokumen yang berisi surat pengantar dari sekolah, mengisi formulir dan menyertakan fotocopy raport dari kelas satu” Hanna menjelaskan pada Bunda

“36.000 rupiah untuk biaya kirim” lanjut Hanna

Hanna setiap semester selalu berada dalam sepuluh besar peringkat di kelasnya, itu sebabnya Hanna berpikir dirinya memenuhi persyaratan untuk mengikuti seleksi ini.

Bunda Hanna langsung memberi persetujuan.

“Fakultas apa yang ingin kamu pilih Han” tanya Bunda

“Ekonomi Bun”. jawab Hanna singkat

Bunda tampak terkejut, dan spontan berkata “Mau jadi apa, kamu Han?’

“Ayah mu bukan pengusaha”

Hanna terdiam. Hanna merasa takut dengan reaksi Bunda yang berlebihan.

Pemikiran orang tua, kuliah di fakultas ekonomi harus anak pengusaha, biar kelak melanjutkan usaha orang tua nya.

“Ya Bun besok aku lihat lagi Fakultas dan jurusan yang lain”.

Hanna mengucapkan Salam dan menutup telp nya.

Hanna kembali menaiki sepeda dengan pikiran yang tidak jelas, Hanna benar-benar ingin melanjutkan ke Perguruan Tinggi.

“Ya, aku mengerti orang tua bukan orang kaya, yang kuliah di fakultas ekonomi itu orang kaya” begitulah pemahaman yang Hanna dapatkan.

Tidak ada yang bisa dilakukan Hanna selain mematuhi orang tua. “Aku tidak ingin membantah dan membebani orang tua”.

Bersambung……

Views All Time
Views All Time
99
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY