CERPEN : MENGUKIR MIMPI BAGIAN III

0
14

Keesokan pagi Hanna berangkat lebih awal, kaki Hanna mendayung pedal sepeda dengan cepat.

Sesampai di sekolah Hanna langsung menuju mading yang terletak didepan perpustakaan.

Hanna mengamati setiap jurusan dan fakultas yang disajikan pada brosur itu.

Hanna berpikir.“Aku akan pilih fakultas keguruan. Hanna teringat pada guru favorit nya. “aku menyukai ibu guru Rohaya wali kelas ku, dia guru yang pandai menyampaikan materi”.

“Menjadi guru, ini pilihan terbaik”

“Bunda juga pasti setuju, aku kuliah di fakultas guru”

Sepulang sekolah Hanna kembali menelpon bundanya dengan perasaan yakin bundanya akan memberi persetujuan.

“Hallo”

“Hallo, aku bun”

“Aku sudah lihat brosur itu lagi”

“Aku sudah pikirkan, aku memilih fakultas keguruan Bun”

Kalau bunda setuju aku siapkan semua dokumen dan besok akan bicara pada wali kelas ku

“Ya Hanna”

Dugaan Hanna benar, bunda setuju.

“Ok! Bun,”

“Aku akan siapkan dokumen nya”.

“Semoga kamu bisa berhasil”

“Terimakasih Bun, terus berdo’a untuk ku Bun”

“Ya Hanna”

“Bun, aku tutup ya..”

Hanna menutup telpnya. Hanna pulang menuju rumah, sepanjang jalan panas terik, sesekali angin bertiup. Hanna mendayung sepeda dengan perlahan sambil melepaskan pikirannya.

“Aku yakin aku bisa masuk Universitas” Hanna meyakinkan diri.

Waktu berlalu, dokumen telah lama dikirim, Hanna pun tidak pernah mengingatnya.

Kini tiba waktu ujian akhir. Hanna duduk di barisan paling belakang sesuai nomor peserta nya, dengan penuh konsentrasi Hanna mengerjakan butir demi butir soal yang ada dihadapan nya.

Beberapa kali Hanna mengganti posisi duduk, soal bahasa arab ini tampak begitu sulit bagi Hanna.

Seorang guru mengetuk pintu ruang ujian, ternyata dia wali kelas ku ibu Rohaya.

Beliau mengucapkan permisi pada pengawas ruangan.

“Maaf pak mengganggu, boleh saya masuk”

“Silahkan bu”

Ibu Rohaya masuk dan mendekati Hanna.

“Hanna, ibu punya surat untukmu”

Ibu Rohaya menyerahkan sepucuk surat, wajah Hanna tampak bingung dan sedikit takut, Hanna menerima amplop putih tertulis bahwa itu dikirim dari sebuah Universitas.

Hanna masih tertegun, belum sempat mengucapkan terima kasih, Ibu Guru Rohaya telah menghilang dari hadapannya.

Hanna tidak sabar membuka amplop putih ditangannya.

Secara perlahan Hanna membuka amplop, lalu membaca surat itu tertanggal 28 Mei 2002 yang menerangkan panggilan Tes Kesehatan/NAFZA kepada peserta yang dinyatakan lulus saringan I (seleksi prestasi akademik) program penelusuran minat dan keterampilan tahun 2002/2003.

Hanna terdiam sambil tersenyum bahagia. “Ini adalah awal” ucap Hanna.

****

Views All Time
Views All Time
76
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY