CERPEN : TAMAN SURGA BAGIAN II

0
16

Di pelataran mesjid berdiri tegak puluhan payung raksasa setinggi 20 meter. Beberapa bagian pelataran juga dilapisi batu pualam berwarna putih. Dinding mesjid bercahaya kemilau di padu lampu-lampu penuh harmoni.

Hanna melangkah kaki kedalam mesjid Nabawi, Hanna tak punya banyak kata-kata untuk menggambarkan kemegahan dan keindahan mesjid ini, batu-batuan, ukiran tangan, bahkan bagian kubah juga dilapisi emas.

Hanna melaksanakan sholat tahayatul mesjid. Sujud syukur, shalat sunat qobliyah dan dilanjutkan shalat Isya. Penuh syukur Hanna mengangkat tangan dan berdo’a memohon ampun dan keberkahan untuk perjalanan ini.

Jam menunjukkan jam 03.00 subuh.

Askar berteriak, membangunkan wanita-wanita yang tidur di dalam mesjid.

“Ibu bangun…!! Ibu bangun..!!”

Dia berteriak dalam beberapa bahasa. Rupanya para askar telah dilatih menguasai banyak bahasa.

Perjalanan panjang melelahkan, masih ada waktu 2 jam sebelum shalat subuh. Hanna dan keluarga  memutuskan kembali ke hotel untuk beristirahat.

Di lobi ketua rombongan memberi arahan.

“Pukul tujuh setelah sarapan besok kita berkumpul di lobi. Kita akan ziarah ke raudhah”. Ujar ketua rombongan.

****

Jam menunjukkan pukul 06.30, Hanna masih sibuk menyiapkan diri.

“Kak, aku sama bunda turun duluan ke lobi”

“Ya”. Jawab Hanna

Hanna masih di depan cermin, menata hijab nya. Dia tersenyum melihat dirinya sendiri di cermin.

“Aku senang, abaya ini terlihat cocok denganku”

Hanna mengambil kaos kaki hitam didalam tas nya, dengan tergesa-gesa dia mengenakannya. Lalu, Hanna meninggalkan kamar menuju lift.

Hanna menekan tombol turun. Sayang, lift tidak berhenti di lantai delapan untuk membawa Hanna turun. Hanna menekan semua tombol turun pada ke empat lift. Tak satupun pintu lift terbuka untuk Hanna.

Hanna telah terlambat 15 menit. Ia mulai gelisah, Hanna kembali kekamar, mengambil segelas air dan minum.

Hanna menarik nafas dan berpikir, sambil berdo’a.

“Aku datang ke tanah haram ini atas panggilan Mu, lindungilah aku”.

Hanna keluar kamar dan kembali menuju lift lagi, Hanna menekan tombol untuk turun lagi.

Dia memperhatikan nomor tiap lantai yang dilalui lift 12, 11, 10, 9, dan 8 akhirnya pintu terbuka Hanna masuk dan menekan tombol lobi. Di dalam lift dia sendirian.

“Syukurlah arus padat telah berlalu” pikir Hanna.

Pintu lift terbuka saat sampai di lobi.  Hanna melangkah keluar.

Hanna melempar pandangannya ke seluruh ruangan lobi, semua orang asing disana. Semua orang asing. Hanna terlambat hampir 25 menit.

Rupanya seluruh rombongan telah pergi. Ini hari pertama Hanna di Madinah.  Hanna merasa gugup.

“Ya Tuhan, mereka tidak ada”

“Bagaimana?”

“Coba saja dulu keluar sendirian, bismillah”

Hanna menuju keluar hotel “lebih baik aku foto setiap jalan yang aku lalui, aku akan mudah”pikir Hanna

Hanna yang mengenakan pakaian seperti wanita arab kebanyakan, dia merasa aman untuk berkeliaran seorang diri dan memberanikan diri untuk pergi keluar.

Suasana ramai, bis-bis besar parkir di sisi jalan di depan hotel-hotel, rombongan-rombongan tampak sibuk, mereka akan berangkat city tour dan ziarah.

Hanna berusaha menghilangkan ketakutan nya dengan mengalihkan perhatian kepada pemandangan kota tanah haram itu”

“Sudahlah…nikmati saja”

“Bukankah di Indonesia, aku kemana-mana juga selalu sendiri”

Hanna melanjutkan langkahnya, ia semakin takjub melihat tugu di penuhi burung-burung merpati.

Perempuan India menaburkan biji kacang-kacangan disana, burung-burung berkerumun mematuk-matuk kacang itu. Tiga anak laki-laki Negro bermain kejar-kejaran dengan burung merpati. Mereka menghentakkan kaki, merpati terbang lalu kembali mematuk kacang-kacangan.

“Masha Allah, sangat indah” Hanna kagum.

Views All Time
Views All Time
40
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY