Gelora Asmara Di Asrama (Cerpen Pembangun Jiwa)

0
18

Petang itu wajah Afisa meredup bak remang malam yang mulai datang menyapa senja. Afisa, seorang santriwati pondok pesantren yang “mewah”, mepet sawah bernama Pondok HIRMA. Dua tahun yang lalu ia tiba di pondok itu dengan semangat penuh juang dan hati bersuka riang. Parasnya amat ceria, memancarkan pesona jiwanya yang sholeha. Balutan jilbab lembut yang menutup kepala, menandakan ia benar benar gadis yang hidupnya penuh makna. Matanya begitu tajam menatap misteri masa depan yang masih luas membentang. Langkahnya pun begitu mantap, tuk menggapai harpan yang ia gantungkan jauh diatas atap.

Tapi petang itu, ada yang lain bergejolak pada dirinya. Jiwanya galau, resah tak tentu arah. Hatinya bimbang, dengan apa yang ia alami akhir-akhir ini. Ada perasaan lain yang hadir menyirami sekujur tubuh dan raganya. Perasaan yang tiba-tiba hadir dan tak kuasa ia usir. Tak diduga ia punya rasa kepada seseorang di pondok sebrang, di pondok HIRMA putra. Rasa yang ketika ia hanyut padanya, hatinya turut berbunga. Jiwanya pun melayang bak menari di atas awan.

Adalah Roozma, seorang santri putra yang telah mengguncang hati Afisa. Mereka memang tak pernah saling kenal sebelumnya. Tapi aktivitas menjadi pengurus OSIS di sekolah, membuat Afisa bisa berinteraksi dengan siapa pun, tak terkecuali dengan santri putra yang bernama Roozma. Roozma adalah santri yang sholeh, perawakannya tinggi dan gagah. Bacaan Qur’annya begitu merdu. Selain itu, ia juga memiliki hafaalan Al-Qur’an yang lumayan banyak dibanding dengan teman-teman seangkatannya.

Pada suatu kesempatan apel pagi di sekolah, Roozma didaulat untuk membacakan tasmi’ Al-Qur’an sebagai pembuka mengawali acara. Dengan mantap, suara merdunya mengalun seiring dengan pancaran sinar mentari yang menghangatkan pagi itu. Afisa yang tengah berdiri di barisan santri putri memperhatikan dengan seksama alunan itu. Jiwanya tenang.., hatinya begitu sejuk, meresapi ayat demi ayat surat Ar-Rahman yang sedang terlantunkan dari pribadi yang selama ini ia kagumi. Sesekali, wajah Afisa terangkat, mencuri-curi pandang pada si dia, sang dambaan hati.

Perasaan itu, semakin lama semakin hanyut mengisi aliran darah Afisa. Waktu demi waktu perasaan itu semakin kuat dan menggebu-gebu. Afisa semakin hari semakin memahami, apa inilah yang namanya cinta?. Cinta, yang sebagaimana orang diluar sana menyanjungnya setinggi dewa. Cinta yang kata tetangga adalah pelita diatas cahaya. Cinta yang orang bilang adalah bunga dari taman kehidupan. Cinta yang katanya tiada satupun insan yang kan mampu bertahan hidup tanpanya. Sementara, selama ini Afisa memahami dari lingkungan pondok dan ustadz-utadzahnya, cinta adalah fitrah insani. Ia adalah karuna indah yang Allah SWT karuniakan kepada hamba-hambanya. Ia adalah motivasi kehidupan, agar makin bernilai dan bermakna. Makanya ia harus dijaga dengan aturan main Sang Pencipta.

Tak kuasa menahan gejolak dan gelora jiwa, akhirnya Afisa memberanikan diri mencari cara untuk mengungkapkan persaannya pada si dia. Ia mencari strategi terbaik, agar cintanya tersampaikan pada Roozma. Lalu, dipilihlah dengan cara mengirim surat yang ia selipkan melalui ibu petugas penghantar makanan ke pondok putra. Itu pun dengan model rahasia tingkat tinggi, tak ada seorang pun yang boleh mengetahuinya.

Kini, perasaannya sedikit plong, dengan terkirimnya surat cinta yang pertama kali ia buat sepanjang sejarah hidupnya. Mulai hari itu, buku diary Afisa tertutup rapat untuk teman-teman asramanya. Saat-saat setelah itu, lembar demi lembar buku pribadinya, tergores coretan-coretan pena tentang cinta dan Roozma. Ia menjadi lebih mahir menulis bait-bait puisi dan lantunan syair. Salah satu puisinya berjudul “Apakah ini Namanya Cinta”, bercerita tentang gejolak perasaan yang terus mengisi hati dan alam pikirnya kepada Roozma.

Sudah berhari-hari Afisa menanti jawaban dari Roozma, Afisa mulai bimbang juga. Beberapa kali ia menghampiri ibu petugas pengantar makanan sambil berbisik pelan, apakah sudah ada surat balasan atau belum. Ternyata penantian panjang baginya segera terjawab. Pagi itu hari Ahad, di saat teman-temannya sedang bergotog royong, di dapur pondok Afisa mendapati si ibu petugas pengantar makanan menempelkan jemari tanganya kepada tangan Afisa. Isianya, secarik kertas yang ditekuk menjadi delapan bagian. Kertasnya memang biasa saja, hanya selembar kertas tengahan dari buku tulis Sinar Dunia. Tapi, tulisan di dalamnya dinanti oleh Afisa melebihi tulisan bapak presiden untuk dirinya.

Ketika teman-teman asramanya terlelap dalam dekapan malam, pukul 00.00 malam itu Afisa masih terjaga. Dengan pelan ia buka surat dari Roozma dengan jantung berdebar. Dibacanya kata-demi kata tulisan di atas kertas putih itu. Tibalah ia pada kalimat, “Aku juga punya persaan yang sama denganmu, ukhti.., selama ini aku memperhatikan dirimu dan tertarik padamu..,kita jadian ya”. Membaca tulisan itu, air mata haru jatuh mengaliri pipi Afisa. Hatinya semakin mewangi penuh bunga. Jiwanya semakin hanyut pada aura asmara anatara ia dengan Roozma. Dalam kesendiriannya itu, seorang teman kamarnya tiba-tiba terbangun, dan menyapa Afisa, “ Mbak.., kenapa menangis mbak?”. Degan kaget Afisa pun menjawab, “ Anu.., eh anu.., aku tiba-tiba kangen sama ibuku”.

Asmara diantara dua insan ini pun semakin lama semakin menggelora. Berbagai cara untuk menyambung cinta kasih selalu dilakukan. Hari demi hari kehidupan mereka diwarnai dengan gelora jiwa, walau hanya lewat tulisan dan lirikan mata sejauh jarak pandang. Puncaknya, saat liburan panjang tiba, mereka pun sudah biasa berkirim pesan cinta, melalui sms-an, cahating-chatingan, dan ngobrol berjam-jam lewat telpon dikala malam. Bukan hanya itu, bahkan mereka sudah berani ketemuan, berpacaran sebagaimana sepasang kekasih yang bertebaran di luar sana.

Singkat cerita, akibat dari sibuk hubungan cinta yang buta ini, nilai akademik mereka jatuh. Mereka tetinggal di kelas, dan tidak fokus lagi menghadapi pelajaran. Begitu juga di pondok, hafalan Quran mereka jadi berantakan. Lama-lama, mereka merasakan akibat yang tak baik dari hubungan mereka. Waktu yang terus berlalu hubungan mereka membawa masalah demi masalah. Akhirnya mereka jenuh juga, menyadari diri tentang kealpaan jiwa. Tersadar betapa mereka telah menghianati nilai-nilai Islami pondok pesantren yang luhur dan dijunjung tinggi.

Tibalah di suatu sepertiga akhir malam, Afisa kembali menyendiri, kali ini ia duduk di pojok Mushola pondok putri. Ia sangat menyesal dengan apa yang telah ia lakukan selama ini. Ia hanyut dalam sujud panjang penyesalan. Air matanya berderai membasahi sajadah merah dalam remang gulita kesunyiaan. Tubuhnya begitu terguncang menuding diri, atas segala kesalahan dan khilaf yang berkepanjangan. Ia menengadahkan tangan sembari berdoa seiring deraian air mata, “Ya Rabb.., maafkan aku yang telah menduakan cintaMu.., Ya Rabbi.., ampuni aku atas kebodohan jiwa dan bermaksiat kepada Mu. Ya Allah.., kembalikan aku pada jalan Mu yang indah membentang”.

Pagi itu Afisa putuskan untuk kembali menyurati Roozma, tapi kali ini surat untuk mengakhiri hubungan diantara mereka dan mengajak kembali pada cinta-Nya. Mendapat surat itu, Roozma yang juga sudah menyesal dengan tulus sepakat mengakhiri hubungan gelap dan bertaubat. Bulan demi bulan berlalu, mereka kembali menjadi santri yang lurus. Kehidupan mereka kembali penuh kebermaknaan jiwa. Hati mereka kembali bersih menyongsong diri memenuhi panggilan suci sebagai generasi Rabbani. Merekapun lulus sekolah dan pondok dengan capaian yang cukup memuaskan

Views All Time
Views All Time
18
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY