Diklat 7 Jam Menjadi Penulis, Mungkinkah?

0
12

Diklat 7 Jam Menjadi Penulis, Mungkinkah?

Meskipun kehadiran Diklat Sagusaku (Satu Guru Satu Buku)
di ujung timur pulau Flores hanya berlangsung sekitar 7 jam saja, namun memberikan semangat baru bagi para guru di kabupaten Flores Timur, agar terus berpacu mengasah kemampuan, bakat, dan talenta-talenta terpendam menjadi seorang penulis hebat. Harapan-harapan itu akan menjadi nyata di depan mata, jika kita terus memupuk dan menjaga semangat yang telah terpatri dalam hati kita.

Kini, Diklat Sagusaku telah usai dan pergi meninggalkan sejuta asa di bumi Lamaholot, Flores Timur.
Secara individual, penulis terkesan dengan diklat Sagusaku di kota Reinha Larantuka, sehingga penulis tergugah untuk memunculkan pertanyaan yang sengaja diangkat sebagai judul di atas. Kemudian, pertanyaan tersebut penulis jadikan tema dalam tulisan sederhana ini adalah sebuah pertanyaan yang menggelitik dan menjadi sebuah tantangan besar bagi Alumni Sagusaku Flores Timur.

Makna di balik pertanyaan di atas, janganlah dipahami secara dangkal berbau pesimistis. Tetapi, pahamilah makna di balik pertanyaan tersebut dari sudut pandang optimistis, sebagai pemacu adrenalin kita agar mau menulis, minimal kita mampu menelurkan karya-karya inspiratif setelah mengikuti diklat Sagusaku.

Sadar atau tidak, sejatinya Sagusaku telah mewariskan segudang harapan baru. Harapan agar kita mampu mengubah kondisi yang ada menjadi lebih baik. Harapan untuk keluar dari zona nyaman sebagai pembaca budiman yang pasif. Harapan untuk keluar dari ‘penjara mental’ yang selama ini mengekang dan membuat kita terkurung olehnya, sehingga tak berdaya meski sekedar menulis secuil kalimat sederhana berbentuk catatan harian dalam buku diary.

Melalui organisasi independen IGI (Ikatan Guru Indonesia), telah digelar diklat Sagusaku di Nusa Bunga ini agar kita bisa ‘terbang tinggi’ bersama mereka, para guru senusantara yang telah banyak membuat perubahan melalui kegiatan menulis.

Jika ada kemauan dan kerja keras, tidak ada yang mustahil bagi guru-guru di Flotim, meski secara perlahan tapi pasti dengan meminjam ‘sayap-sayap’ mereka, maka kita juga bisa ‘terbang tinggi’ bersama mereka menggapai semua asa yang selama ini terpendam.

Selama ini, barangkali sebagian besar rutinitas para guru di Flotim hanya aktif membaca karya orang lain. Jika demikian, maka inilah saatnya bagi kita untuk ‘menetaskan’ butiran telur karya kita melalui tulisan, sehingga karya-karya kita dapat dibaca oleh orang lain, setidaknya untuk kalangan kita sesama Alumni Diklat Sagusaku Flores Timur.

Views All Time
Views All Time
42
Views Today
Views Today
2

LEAVE A REPLY