DILEMATIS PERLINDUNGAN PROFESI GURU DALAM PROSES PENDIDIKAN DI SEKOLAH

0
47

Beberapa waktu yang lalu masyarakat sempat dikejutkan dengan beberapa
pemberitaan baik di Media elektronik, cetak maupun online tentang pelaporan guru oleh orangtua siswa kepada Polisi bahkan penganiayaan secara fisik yang dilakukan oleh siswa dengan orangtuanya terhadap guru,serta berbagai kasus lainnya yang menimpa guru sehingga harus berurusan dengan pihak berwajib. Keadaan ini tentunya sungguh memprihatinkan. Guru sebagai sosok yang dijadikan panutan, pendidik, dihormati, menjadi pengganti orang tua dirunah justru harus berhadapan dengan hukum dan berurusan dengan pihak berwajib, hanya  karena emosi dan kurangnya
komunikasi antara guru, siswa dan orang tua.
Ironis !!! kiranya itu kata yang bisa menggambarkan salah satu sisi kondisi guru dalam
dunia pendidikan. Di satu sisi guru memikul tanggung jawab besar sebagai pendidik
berdasarkan UU Pendidikan Nasional No 14 tahun 2005 dalam perannya mencerdaskan
kehidupan bangsa. Akan tetapi, disisi yang lain kewajiban guru sebagai pendidik harus
terkekang dan dilematis oleh tindakan orang tua dan siswa yang kadang-kadang semena-mena mengkriminalkan guru hanya karena alasan sepele misalnya hanya karena guru menghukum siswa karena melanggar disiplin, memarahi dan tindakan sejenisnya, lalu orang tua begitu mudah melaporkan guru kepada pihak yang berwajib, bahkan tega menganiaya guru. keadaan ini dikhawatirkan bila terus berlanjut akan membuat guru
kehilangan jiwa pendidiknya dan bersikap apatis dalam menjalankan tugas dan kewajibannya
hanya memberikan ilmu tapi tidak memberikan pendidikan, karena takut akan mendapat
masalah yang berujung pada tindakan kekerasan fisik dan hukum.Melihat fenomena di atas tentu kiranya diperlukan suatu perlindungan hukum terhadap
profesi guru baik dari tindak kekerasan, ancaman,intimidasi, perlakuan diskriminatif dari semua pihak agar guru merasa aman dan tidak merasa takut serta was-was dalam kewajiban melaksanakan amanah pendidikan Nasional. Kiranya semua pihak perlu diingatkan kembali tentang hak guru yang tercantum dalam PP 74 tahun 2008 Pasal 39 ayat 1 yang berbunyi “Guru memiliki kebebasan memberikan sanksi kepada peserta didiknya yang melanggar norma pagama, norma kesusilaan, norma kesopanan, peraturan tertulis maupun tidak tertulis yang ditetapkan guru, peraturan tingkat satuan pendidikan dan peraturan perundang undangan
dalam proses pembelajaran yang berada di bawah kewenangannya. Ayat 2 berbunyi “ Guru
dapat memberikan sanksi berupa teguran dan/atau peringatan, baik lisan maupun tulisan serta hukuman yang bersifat mendidik sesuai dengan kaedah pendidikan, kode etik guru dan
peraturan perundang undangan. Dan ternyata perlindungan terhadap profesi guru sudah ada
dinyatakan dalam Pasal 40 yang berbunyi “ guru berhak mendapatkan perlindungan dalam
melaksanakan tugas dalam bentuk rasa aman dan jaminan keselamatan dari pemerintah,
pemerintah Daerah, satuan pendidikan, Oganisasi Profesi Guru, dan/atau masyarakat sesuai
dengan kewenangan masing-masing”. Hal ini pertegas lagi oleh Pasal 41 yang berbunyi “ Guru
berhak mendapatkan perlindungan dari tindak kekerasan, ancaman, perlakukan diskriminatif,
intimidasi atau perlakuan tidak adil dari pihak peserta didik, orang tua peserta didik,
masyarakat, birokrasi, atau pihak lain”. Tetapi sayangnya, UU yang melindungi profesi guru ini
kadang-kadang harus dihadapkan dengan UU perlindungan anak yang kerap dikeluhkan oleh
para guru menjadi batu sandungan dalam proses pendidikan dan penegakan disiplin di
sekolah. Memang tujuan adanya UU perlindungan anak sebenarnya baik untuk memberikan
perlindungan kepada setiap anak, akan tetapi UUPA ini juga dijadikan alasan peserta didik dan
orang tua bertindak seenaknya terhadap guru bahkan mengkriminalisasi guru dalam proses
pendidikan di sekolah ketika memberikan sanksi kepada siswa sebagai bagian dari proses
pendidikan.
Memang tujuan adanya UU perlindungan anak sebenarnya baik untuk memberikan
perlindungan kepada setiap anak, akan tetapi UUPA ini juga dijadikan alasan peserta didik dan
orang tua bertindak seenaknya terhadap guru bahkan mengkriminalisasi guru dalam proses
pendidikan di sekolah ketika memberikan sanksi kepada siswa sebagai bagian dari proses
pendidikan.
Untuk itu kiranya diperlukan sebuah aturan yang jelas, dimana bisa
menjembatani antara UU perlindungan profesi guru khususnya dengan kaitannya terhadap
proses pendidikan di sekolah dengan UU perlindungan anak. Agar kedua peraturan hukum ini
yang sejatinya diperuntukkan untuk melindungi profesi guru dan anak dalam hal ini peserta
didik bisa saling bersinergi dan bukan justru merugikan salah satu pihak, sehingga guru sebagai
pengemban amanah mewujudkan tujuan Pendidikan Nasional dapat melaksanakan tugas dan
tanggung jawabnya dengan baik.

Views All Time
Views All Time
50
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY