DISABILITAS BUKAN PEMBATAS OLEH : JUWTA,S.Pd

0
23

 

KATA PENGANTAR

 

Allah Subhanahu Wata’ala sang penguasa alam yang maha bijaksana, maha pemurah, maha pengampun, pemberi rahmat, yang menciptakan manusia dengan sangat sempurna. Allah sang maha agung dan sangat terang bukti bagi manusia yang berpikir dengan kesucian hati, kepada-Nya lah manusia dan semua isi bumi menghanturkan segala puji dan syukur Alhamdulillah.

 

Shalawat beriring salam tiada putus kita sampaikan keharibaan Nabi besar Muhammad Shallallahu’alaihi Wassalam, beserta keluarga-Nya, sahabat-Nya, semoga Allah menganugerahi kita untuk cepat bertemu dengan beliau Junjungan alam di Yaumil akhir, dan kita semuanya umat Nabi Muhammad SAW termasuk dalam golongan manusia yang dirindukan Allah.

 

Alhamdulillah buku berjudul “DISABILITAS BUKAN PEMBATAS”, penulis sajikan dari berbagai sumber dan referensi, serta dari hasil kegiatan TOT dan beberapa pelatihan inklusi  yang pernah penulis ikut.

 

Hak Azazi manusia adalah hak dasar pada tiap individu manusia yang melekat secara fitrah. Bersifat universal dan kontinyu yang harus dihormati, dilindungi, dan dipertahankan tiada terkecuali dalam hal pendidikan. Secara harfiah hak azazi manusia memiliki persamaan, walaupun berasal dari latar belakang dan tingkat disabilitas yang berbeda. Perlakuan tidak manusiawi seperti diskriminatif, penyiksaan mental dan fisik, pengekangan eksploitasi, merendahkan harkat dan martabat, perolehan hak yang berbeda dalam pelayanan sosial, merupakan sinyal pelanggaran hak azazi dan hijab untuk mengoptimalkan integritas mental dan fisik manusia.

Sesuai landasan yuridis yang telah diamanahkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia pasal 31 ayat 1, bahwa setiap warga Negara Indonesia berhak mendapat pendidikan. Maka pemerintah dalam hal ini telah mengeluarkan regulasi untuk mewujudkan  amanah dalam undang-undang tersebut.

Motivasi  penulis menerbitkan tulisan “Afermasi Perbedaan” ini didorong oleh keinginan untuk berbagi ilmu inklusi mengingat sekarang gencarnya gaung penerapan inklusi di sekolah-sekolah reguler. Penulis sendiri selama ini masih terlalu banyak kesalahan dan kekurangan dalam menjalankan kehidupan seperti tuntunan Allah SWT, dengan harapan dapat membangkitan gairah untuk lebih  semangat melakukan hal yang diridhai Allah dan disenangi sesama serta hal positif lainnya, Karena kita semua sadar bahwa kepada-Nya  kita akan kembali mempertanggung jawabkan semua yang sudah kita lakukan didunia fana ini. Semoga kita semua termasuk manusia yang kembali kepada- Nya dalam keadaan husnul khatimah.

 

 

 

 

 

WACANA TERIMAKASIH

Alhamdulillah setiap detak jantung kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, berkat karunia dan hidayah Allah yang mana penulis selalu merasakan kemudahan dan kemampuan untuk kami dapat menyelesaikan menulis buku yang merupakan tindak lanjut dari minat membaca dan menulis serta hasrat ingin berbagi ilmu, dan penulis merasakan berkah yang sangat luar biasa.

Ucapan terimakasih para penulis teristimewa kepada orang tua, suami dan anak tercinta, keluarga besar penulis. Berkat do’a orang tua penulis diberikan kemudahan, dan kemampuan untuk menulis buku yang kesekian. Terima kasih kepada sahabat, teman sejawat penulis para guru-guru semua yang ada di wilayah Indrapuri, yang sudah banyak memberi inspirasi dalam menyelesaikan buku ini. Terima Kasih penulis kepada Bapak kepala sekolah SD Negeri 1 Indrapuri Bapak Mukhtaruddin, S.Pd yang sangat mendukung dan mensuport kami guru-guru dibawah pimpinannya, yang selama beliau menjadi kepala sekolah banyak memberi inspirasi, motivasi dan hal positif lainnya kepada penulis.

 

Salam Penulis

 

 

 

 

 

DAFTAR  ISI

KATA PENGANTAR ……………………………………………………….

WACANA TERIMAKASIH……………………………………………….

DAFTAR ISI……………………………………………………………………..

 BAB I PENDAHULUAN…….……..

A.  Pengertian Pendidikan Inklusif…………………….

B.  Landasan Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif……

C.  Model Pendidikan Inklusif……..

D.  Komponen Pendidikan Inklusif….

E.  Pembelajaran Model Inklusif di Kelas Reguler……

 

 BAB II SEKOLAH INKLUSIF…………………………

A.  Ciri Sekolah Inklusif…….

B.  Manfaat pendidikan Inklusif…..

C.  Kesetaraan Hak Difabel……

D.  Partisipasi Terhadap Inklusi

E.  Sekolah Inklusif Sekolah Masa Depan……

 

BAB III PARADIGMA PENDIDIKAN UNTUK SEMUA…

A.  Inklusif Akses peningkatan Mutu Semua Anak……..

B.  Tujuan Pendidikan Inklusif….

C.  Pemberdayaan Disabilitas…….

D.  Hambatan dan Hak Disabilitas…..

 

 

BAB  IV KLASIFIKASI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS…

A.  Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus……

B.  Siapa anak Berkebutuhan Khusus…..

C.  Cara Membantu Anak Berkebutuhan Khusus…..

D.  Penyebab Anak Menjadi Berkebutuhan Khusus……

E.  Pencegahan Dini Anak Berkebutuhan Khusus……

 

 BAB  V……………..

    PENUTUP…….

 
 LAGU-LAGU INKLUSI………………………..

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………..

PROFIL PENULIS………………………………..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Pengertian Pendidikan Inklusif

 

Inklusif memiliki pemahaman yang universal. Istilah inklusif dapat dikaitkan dengan persamaan keadilan, dan hak dasar individual dalam pembagian sumber-sumber seperti politik, pendidikan, sosial, dan ekonomi. Menurut Reid, masing-masing dari aspek-aspek tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan satu sama lain. Reid ingin menyatakan bahwa istilah inklusif berkaitan dengan banyak aspek hidup manusia yang didasarkan atas prinsip persamaan, keadilan, dan hak individu.

Dalam ranah pendidikan, istilah inklusif dikaitkan dengan model pendidikan yang tidak membeda-bedakan individu berdasarkan kemampuan dan atau kelainan yang dimiliki individu. Dengan mengacu pada istilah inklusif yang disampaikan Reid di atas, pendidikan inklusif didasarkan atas prinsip persamaan, keadilan, dan hak individu.

Istilah pendidikan inklusif digunakan untuk mendeskripsikan penyatuan anak-anak berkelainan (penyandang hambatan/cacat) ke dalam program sekolah. Konsep inklusi memberikan pemahaman mengenai pentingnya penerimaan anak-anak yang memiliki hambatan ke dalam kurikulum, lingkungan, dan interaksi sosial yang ada di sekolah.

MIF. Baihaqi dan M. Sugiarmin menyatakan bahwa hakikat inklusif adalah mengenai hak setiap siswa atas perkembangan individu, sosial, dan intelektual. Para siswa harus diberi kesempatan untuk mencapai potensi mereka. Untuk mencapai potensi tersebut, sistem pendidikan harus dirancang dengan memperhitungkan perbedaan-perbedaan yang ada pada diri siswa. Bagi mereka yang memiliki ketidakmampuan khusus dan/atau memiliki kebutuhan belajar yang luar biasa harus mempunyai akses terhadap pendidikan yang bermutu tinggi dan tepat.

Baihaqi dan Sugiarmin menekankan bahwa siswa memiliki hak yang sama tanpa dibeda-bedakan berdasarkan perkembangan individu, sosial, dan intelektual. Perbedaan yang terdapat dalam diri individu harus disikapi dunia pendidikan dengan mempersiapkan model pendidikan yang disesuaikan dengan perbedaan-perbedaan individu tersebut. Perbedaan bukan lantas melahirkan diskriminasi dalam pendidikan, namun pendidikan harus tanggap dalam menghadapi perbedaan.

Daniel P. Hallahan mengemukakan pengertian pendidikan inklusif sebagai pendidikan yang menempatkan semua peserta didik berkebutuhan khusus dalam sekolah reguler sepanjang hari. Dalam pendidikan seperti ini, guru memiliki tanggung jawab penuh terhadap peserta didik berkebutuhan khusus tersebut[4]. Pengertian ini memberikan pemahaman bahwa pendidikan inklusif menyamakan anak berkebutuhan khusus dengan anak normal lainnya. Untuk itulah, guru memiliki tanggung jawab penuh terhadap proses pelaksanaan pembelajaran di kelas. Dengan demikian guru harus memiliki kemampuan dalam menghadapi banyaknya perbedaan peserta didik.

Senada dengan pengertian yang disampaikan Daniel P. Hallahan, dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 70 Tahun 2009 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya.

Pengertian pendidikan dalam Permendiknas di atas memberikan penjelasan secara lebih rinci mengenai siapa saja yang dapat dimasukkan dalam pendidikan inklusif. Perincian yang diberikan pemerintah ini dapat dipahami sebagai bentuk kebijakan yang sudah disesuaikan dengan kondisi Indonesia, sehingga pemerintah memandang perlu memberikan kesempatan yang sama kepada semua peserta didik dari yang normal, memilik kelainan, dan memiliki kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan. Dengan demikian pemerintah mulai mengubah model pendidikan yang selama ini memisah-misahkan peserta didik normal ke dalam sekolah reguler, peserta didik dengan kecerdasan luar biasa dan bakat istimewa ke dalam sekolah (baca: kelas) akselerasi, dan peserta didik dengan kelainan ke dalam Sekolah Luar Biasa (SLB).

Rumusan mengenai pendidikan inklusif yang disusun oleh Direktorat Pendidikan Sekolah Luar Biasa (PSLB) Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Mandikdasmen) Kementrian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) mengenai pendidikan inklusif menyebutkan bahwa pendidikan inklusif adalah sistem layanan pendidikan yang mensyaratkan anak berkebutuhan khusus belajar di sekolah-sekolah terdekat di kelas biasa bersama-sama teman seusianya. Sekolah penyelenggara pendidikan inklusif adalah sekolah yang menampung semua murid di sekolah yang sama. Sekolah ini menyediakan program pendidikan yang layak dan menantang, tetapi disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan setiap murid maupun bantuan dan dukungan yang dapat diberikan oleh para guru agar anak-anak berhasil.

Dalam ensiklopedi online Wikipedia disebutkan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan inklusi yaitu pendidikan yang memasukkan peserta didik berkebutuhan khusus untuk bersama-sama dengan peserta didik normal lainnya. Pendidikan inklusif adalah mengenai hak yang sama yang dimiliki setiap anak. Pendidikan inklusif merupakan suatu proses untuk menghilangkan penghalang yang memisahkan peserta didik berkebutuhan khusus dari peserta didik normal agar mereka dapat belajar dan bekerja sama secara efektif dalam satu sekolah.

Pengertian-pengertian yang dikemukakan di atas secara umum menyatakan hal yang sama mengenai pendidikan inklusif. Pendidikan inklusif berarti pendidikan yang dirancang dan disesuaikan dengan kebutuhan semua peserta didik, baik peserta didik yang normal maupun peserta didik berkebutuhan khusus. Masing-masing dari mereka memperoleh layanan pendidikan yang sama tanpa dibeda-bedakan satu sama lain.

  1. Landasan Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif

Landasan yang digunakan dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif di Indonesia yaitu landasan filosofis, landasan yuridis, dan landasan empiris. Secara terperinci, landasan-landasan tersebut dijelaskan sebagai berikut:

  1. Landasan Filosofis

Secara filosofis, penyelenggaraan pendidikan inklusif dapat dijelaskan sebagai berikut:

1)   Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berbudaya dengan lambang negara Burung Garuda yang berarti Bhinneka Tunggal Ika. Keragaman dalam etnik, dialek, adat istiadat, keyakinan, tradisi dan budaya merupakan kekayaan bangsa yang tetap menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

2)   Pandangan Agama (khususnya Islam) antara lain ditegaskan bahwa: (a) manusia diciptakan berbeda-beda untuk saling silaturahmi (inklusif) dan bahwa kemuliaan manusia di sisi Allah adalah ketaqwaannya. Hal tersebut dinyatakan dalam Al Qur’an sebagai berikut:

Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

(b)Allah pernah menegur Nabi Muhammad SAW karena beliau bermuka masam dan berpaling dari orang buta. Al Qur’an menceritakan kisah tersebut sebagai berikut:

(1)Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, (2)karena telah datang seorang buta kepadanya, (3)tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), (4)atau Dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?(5)Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, (6)Maka kamu melayaninya, (7)Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau Dia tidak membersihkan diri (beriman), (8)dan Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), (9)sedang ia takut kepada (Allah), (10)Maka kamu mengabaikannya, (11)sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, (12)Maka Barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya, (13)di dalam Kitab-Kitab yang dimuliakan, (14)yang ditinggikan lagi disucikan, (15)di tangan Para penulis (malaikat), (16)yang mulia lagi berbakti.

(c) Allah tidak melihat bentuk (fisik) seorang muslim, namun Allah melihat hati dan perbuatannya. Hal ini dinyatakan dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, yaitu:

حَدَّثَنَا عَمْرٌو النَّاقِدُ حَدَّثَنَا كَثِيرُ بْنُ هِشَامٍ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ بُرْقَانَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ الأَصَمِّ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Artinya: dari Abu Hurairah RA: Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk dan harta kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati dan perbuatan kalian.

(d)Tidak ada keutamaan antara satu manusia dengan manusia yang lain. Nabi Muhammad mengajarkan hal tersebut dalam hadis:

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ الْجُرَيْرِيُّ عَنْ أَبِي نَضْرَةَ حَدَّثَنِي مَنْ سَمِعَ خُطْبَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَسَطِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى

Artinya: Seseorang yang mendengar khutbah Rasulullah SAW di tengah hari Tasyriq bercerita kepadaku bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: Wahai manusia, sungguh Tuhan kalian itu satu, bapak kalian satu, maka sungguh tidak ada keutamaan orang Arab atas orang ‘Ajam, begitu pula sebaliknya, tidak ada keutamaan yang merah atas yang hitam, begitu pula sebaliknya, kecuali taqwa.

3)   Pandangan universal hak asasi manusia menyatakan bahwa setiap manusia mempunyai hak untuk hidup layak, hak pendidikan, hak kesehatan, dan hak pekerjaan.

Landasan Yuridis

Secara yuridis, pendidikan inklusif dilaksanakan berdasarkan atas:

1)   UUD 1945

2)   UU Nomor 4 Tahun 1997 Tentang Penyandang Cacat

3)   UU Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia

4)   UU Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak

5)   UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional

6)   Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan

7)   Surat Edaran Dirjen Dikdasmen No. 380/C.C6/MN/2003 Tanggal 20 Januari 2003 Perihal Pendidikan Inklusif: Menyelenggarakan dan mengembangkan di setiap Kabupaten/Kota sekurang-kurangnya 4 (empat) sekolah yang terdiri dari SD, SMP, SMA, dan SMK.

8)   Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 70 tahun 2009 Tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa

Khusus untuk DKI Jakarta, landasan yuridis yang berlaku yaitu:

9)   Peraturan Gubernur Nomor 116 Tahun 2007 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif

Landasan Empiris

Landasan empiris yang dipakai dalam pelaksanaan pendidikan inklusif yaitu:

1)   Deklarasi Hak Asasi Manusia 1948 (Declaration of Human Rights)

2)   Konvensi Hak Anak 1989 (Convention of The Rights of Children)

3)   Konferensi Dunia Tentang Pendidikan untuk Semua 1990 (World Conference on Education for All)

4)   Resolusi PBB nomor 48/96 Tahun 1993 Tentang Persamaan Kesempatan Bagi Orang Berkelainan (the standard rules on the equalization of opportunitites for person with dissabilities)

5)   Pernyataan Salamanca Tentang Pendidikan Inklusi 1994 (Salamanca Statement on Inclusive Education)

6)   Komitmen Dakar mengenai Pendidikan Untuk Semua 2000 (The Dakar Commitment on Education for All)

7)   Deklarasi Bandung 2004 dengan komitmen “Indonesia Menuju Pendidikan Inklusif

  1. Model Pendidikan Inklusif

Pendidikan inklusif merupakan perkembangan baru dari pendidikan terpadu. Pada sekolah inklusif setiap anak sesuai dengan kebutuhan khususnya, semua diusahakan dapat dilayani secara optimal dengan melakukan berbagai modifikasi dan atau penyesuaian, mulai dari kurikulum, sarana-prasarana, tenaga pendidik dan kependidikan, sistem pembelajaran sampai pada sistem penilaiannya.

Keuntungan dari pendidikan inklusif adalah bahwa anak berkebutuhan khusus maupun anak biasa dapat saling berinteraksi secara wajar sesuai dengan tuntutan kehidupan sehari-hari di masyarakat dan kebutuhan pendidikannya dapat terpenuhi sesuai dengan potensinya masing-masing.

Pendidikan inklusif mensyaratkan pihak sekolah yang harus menyesuaikan dengan tuntutan kebutuhan individu peserta didik, bukan peserta didik yang menyesuaikan dengan sistem persekolahan. Pandangan mengenai pendidikan yang harus menyesuaikan dengan kondisi peserta didik ini sangat terkait dengan adanya perbedaan yang terdapat dalam diri peserta didik. Pandangan lama yang menyatakan bahwa peserta didiklah yang harus menyesuaikan dengan pendidikan dan proses pembelajaran di kelas lambat laun harus berubah.

Istilah inklusif berimplikasi pada adanya kebutuhan yang harus dipenuhi bagi semua anak dalam sekolah. Hal ini menyebabkan adanya penyesuaian-penyesuaian yang harus dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran. Penyesuaian pendidikan (adaptive education) dilaksanakan dengan menyediakan pengalaman-pengalaman belajar guna membantu masing-masing peserta didik dalam meraih tujuan-tujuan pendidikan yang dikehendakinya. Penyesuaian pendidikan dapat berlangsung tatkala lingkungan pembelajaran sekolah dimodifikasi untuk merespon perbedaan-perbedaan peserta didik secara efektif dan mengembangkan kemampuan peserta didik agar dapat bertahan dalam lingkungan tersebut.

Dengan melihat adanya penyesuaian terhadap kebutuhan peserta didik yang berbeda-beda, maka dalam setting pendidikan inklusif model pendidikan yang dilaksanakan memiliki model yang berbeda dengan model pendidikan yang lazim dilaksanakan di sekolah-sekolah reguler.

Pendidikan inklusif pada dasarnya memiliki dua model. Pertama yaitu model inklusi penuh (full inclusion). Model ini menyertakan peserta didik berkebutuhan khusus untuk menerima pembelajaran individual dalam kelas reguler. Kedua yaitu model inklusif parsial (partial inclusion). Model parsial ini mengikutsertakan peserta didik berkebutuhan khusus dalam sebagian pembelajaran yang berlangsung di kelas reguler dan sebagian lagi dalam kelas-kelas pull out dengan bantuan guru pendamping khusus.

Model lain misalnya dikemukakan oleh Brent Hardin dan Marie Hardin. Brent dan Maria mengemukakan model pendidikan inklusif yang mereka sebut inklusif terbalik (reverse inclusive). Dalam model ini, peserta didik normal dimasukkan ke dalam kelas yang berisi peserta didik berkebutuhan khusus. Model ini berkebalikan dengan model yang pada umumnya memasukkan peserta didik berkebutuhan khusus ke dalam kelas yang berisi peserta didik normal.

Model inklusif terbalik agaknya menjadi model yang kurang lazim dilaksanakan. Model ini mengandaikan peserta didik berkebutuhan khusus sebagai peserta didik dengan jumlah yang lebih banyak dari peserta didik normal. Dengan pengandaian demikian seolah sekolah untuk anak berkebutuhan khusus secara kuantitas lebih banyak dari sekolah untuk peserta didik normal, atau bisa juga tidak. Model pendidikan inklusif seperti apapun tampaknya tidak menjadi persoalan berarti sepanjang mengacu kepada konsep dasar pendidikan inklusif.

Model pendidikan inklusif yang diselenggarakan pemerintah Indonesia yaitu model pendidikan inklusif moderat. Pendidikan inklusif moderat yang dimaksud yaitu:

  1. Pendidikan inklusif yang memadukan antara terpadu dan inklusi penuh
  2. Model moderat ini dikenal dengan model mainstreaming

Model pendidikan mainstreaming merupakan model yang memadukan antara pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus (Sekolah Luar Biasa) dengan pendidikan reguler. Peserta didik berkebutuhan khusus digabungkan ke dalam kelas reguler hanya untuk beberapa waktu saja.

  1. Filosofinya tetap pendidikan inklusif, tetapi dalam praktiknya anak berkebutuhan khusus disediakan berbagai alternatif layanan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya. Anak berkebutuhan khusus dapat berpindah dari satu bentuk layanan ke bentuk layanan yang lain, seperti:

1)   Bentuk kelas reguler penuh

Anak berkelainan belajar bersama anak lain (normal) sepanjang hari di kelas reguler dengan menggunakan kurikulum yang sama

2) Bentuk kelas reguler dengan cluster

Anak berkelainan belajar bersama anak lain (normal) di kelas reguler dalam kelompok khusus

3)   Bentuk kelas reguler dengan pull out

Anak berkelainan belajar bersama anak lain (normal) di kelas reguler namun dalam waktu-waktu tertentu ditarik dari kelas reguler ke ruang sumber untuk belajar dengan guru pembimbing khusus

4)   Bentuk kelas reguler dengan cluster dan pull out

Anak berkelainan belajar bersama anak lain (normal) di kelas reguler dalam kelompok khusus, dan dalam waktu-waktu tertentu ditarik dari kelas reguler ke ruang sumber untuk belajar bersama dengan guru pembimbing khusus

5)   Bentuk kelas khusus dengan berbagai pengintegrasian

Anak berkelainan belajar di kelas khusus pada sekolah reguler, namun dalam bidang-bidang tertentu dapat belajar bersama anak lain (normal) di kelas reguler

6)   Bentuk kelas khusus penuh di sekolah reguler

Anak berkelainan belajar di dalam kelas khusus pada sekolah reguler.

Dengan demikian, pendidikan inklusif seperti pada model di atas tidak mengharuskan semua anak berkelainan berada di kelas reguler setiap saat dengan semua mata pelajarannya (inklusi penuh). Hal ini dikarenakan sebagian anak berkelainan dapat berada di kelas khusus atau ruang terapi dengan gradasi kelainannya yang cukup berat. Bahkan bagi anak berkelainan yang gradasi kelainannya berat, mungkin akan lebih banyak waktunya berada di kelas khusus pada sekolah reguler (inklusi lokasi). Kemudian, bagi yang gradasi kelainannya sangat berat, dan tidak memungkinkan di sekolah reguler (sekolah biasa), dapat disalurkan ke sekolah khusus (SLB) atau tempat khusus (rumah sakit).

  1. Komponen Pendidikan Inklusif

Karena terdapat perbedaan dalam konsep dan model pendidikan, maka dalam pendidikan inklusif terdapat beberapa komponen pendidikan yang perlu dikelola dalam sekolah inklusif, yaitu:

  1. Manajemen Kesiswaan
  2. Manajemen Kurikulum
  3. Manajemen Tenaga Kependidikan
  4. Manajemen Sarana dan Prasarana
  5. Manajemen Keuangan/Dana
  6. Manajemen Lingkungan (Hubungan Sekolah dan Masyarakat)
  7. Manajemen Layanan Khusus

Manajemen kesiswaan merupakan salah satu komponen pendidikan inklusif yang perlu mendapat perhatian dan pengelolaan lebih. Hal ini dikarenakan kondisi peserta didik pada pendidikan inklusif yang lebih majemuk daripada kondisi peserta didik pada pendidikan reguler. Tujuan dari manajemen kesiswaan ini tidak lain agar kegiatan belajar mengajar di sekolah dapat berjalan lancar, tertib, dan teratur, serta mencapai tujuan yang diinginkan.

Pendidikan inklusif masih menggunakan kurikulum standar nasional yang telah ditetapkan pemerintah. Namun dalam pelaksanaan di lapangan, kurikulum pada pendidikan inklusif disesuaikan dengan kemampuan dan karakteristik peserta didik.

Pemerintah menyatakan bahwa kurikulum yang dipakai satuan pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang mengakomodasi kebutuhan dan kemampuan peserta didik sesuai dengan bakat, minat dan potensinya.

Model kurikulum pendidikan inklusif terdiri dari:

  1. Model kurikulum reguler
  2. Model kurikulum reguler dengan modifikasi
  3. Model kurikulum Program Pembelajaran Individual (PPI)

Model kurikulum reguler, yaitu kurikulum yang mengikutsertakan peserta didik berkebutuhan khusus untuk mengikuti kurikulum reguler sama seperti kawan-kawan lainnya di dalam kelas yang sama.

Model kurikulum reguler dengan modifikasi, yaitu kurikulum yang dimodifikasi oleh guru pada strategi pembelajaran, jenis penilaian, maupun pada program tambahan lainnya dengan tetap mengacu pada kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus. Di dalam model ini bisa terdapat siswa berkebutuhan khusus yang memiliki PPI.

Model kurikulum PPI yaitu kurikulum yang dipersiapkan guru program PPI yang dikembangkan bersama tim pengembang yang melibatkan guru kelas, guru pendidikan khusus, kepala sekolah, orang tua, dan tenaga ahli lain yang terkait.

Kurikulum PPI atau dalam bahasa Inggris Individualized Education Program (IEP) merupakan karakteristik paling kentara dari pendidikan inklusif. Konsep pendidikan inklusif yang berprinsip adanya persamaan mensyaratkan adanya penyesuaian model pembelajaran yang tanggap terhadap perbedaan individu. Maka PPI atau IEP menjadi hal yang perlu mendapat penekanan lebih.

Thomas M. Stephens menyatakan bahwa IEP merupakan pengelolaan yang melayani kebutuhan unik peserta didik dan merupakan layanan yang disediakan dalam rangka pencapaian tujuan yang diinginkan serta bagaimana efektivitas program tersebut akan ditentukan.

Tenaga kependidikan merupakan salah satu unsur penting dalam pendidikan inklusif. Tenaga kependidikan dalam pendidikan inklusif mendapat porsi tanggung jawab yang jelas berbeda dengan tenaga kependidikan pada pendidikan noninklusif. Perbedaan yang terdapat pada individu meniscayakan adanya kompetensi yang berbeda dari tenaga kependidikan lainnya. Tenaga kependidikan secara umum memiliki tugas seperti menyelenggarakan kegiatan mengajar, melatih, meneliti, mengembangkan, mengelola, dan/atau memberikan pelayanan teknis dalam bidang pendidikan.

Guru yang terlibat di sekolah inklusi yaitu guru kelas, guru mata pelajaran, dan guru pembimbing khusus. Manajemen tenaga kependidikan antara lain meliputi: (1)Inventarisasi pegawai, (2)Pengusulan formasi pegawai, (3)Pengusulan pengangkatan, kenaikan tingkat, kenaikan berkala, dan mutasi, (4)Mengatur usaha kesejahteraan, (5)Mengatur pembagian tugas.

Manajemen sarana-prasarana sekolah bertugas merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan, mengkordinasikan, mengawasi, dan mengevaluasi kebutuhan dan penggunaan sarana-prasarana agar dapat memberikan sumbangan secara optimal pada kegiatan belajar mengajar.

Pendanaan pendidikan inklusif memerlukan manajemen keuangan atau pendanaan yang baik. Walaupun penyelenggaraan pendidikan inklusif dilaksanakan pada sekolah reguler dengan penyesuaian-penyesuaian, namun tidak serta merta pendanaan penyelenggaraannya dapat diikutkan begitu saja dengan pendanaan sekolah reguler. Maka diperlukan manajemen keuangan atau pendanaan yang mampu memenuhi berbagai kebutuhan dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif dan mengatasi berbagai permasalahan terkait dengan pendanaan.

Pembiayaan pendidikan inklusif untuk wilayah DKI Jakarta bersumber pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah pada pos anggaran Dinas Dikdas, Dinas Dikmenti dan Kanwil Depag dan sumber lain yang sah. Pembiayaan pelaksanaan penyelenggaraan pendidikan inklusif untuk lembaga pendidikan swasta dibebankan pada anggaran yayasan/lembaga pendidikan swasta yang bersangkutan.

Dalam rangka penyelenggaraan pendidikan inklusi, perlu dialokasikan dana khusus, yang antara lain untuk keperluan: (1)Kegiatan identifikasi input siswa, (2)Modifikasi kurikulum, (3)Insentif bagi tenaga kependidikan yang terlibat, (4)Pengadaan sarana-prasarana, (5)Pemberdayaan peran serta masyarakat, (6)Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.

Penyelenggaraan pendidikan inklusif tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Stake holder pendidikan lain seperti masyarakat hendaknya selalu dilibatkan dalam rangka memajukan pendidikan. Apalagi dalam semangat otonomi daerah dimana pendidikan juga merupakan salah satu bidang yang didesentralisasikan, maka keterlibatan masyarakat merupakan suatu keharusan. Dalam rangka menarik simpati masyarakat agar mereka bersedia berpartisipasi memajukan sekolah, perlu dilakukan berbagai hal, antara lain dengan memberitahu masyarakat mengenai program-program sekolah, baik program yang telah dilaksanakan, yang sedang dilaksanakan, maupun yang akan  dilaksanakan sehingga masyarakat mendapat gambaran yang jelas tentang sekolah yang bersangkutan.

Sekolah penyelenggara pendidikan inklusif perlu mengelola dengan baik hubungan sekolah dengan masyarakat agar dapat tercipta dan terbina hubungan yang baik dalam rangka upaya memajukan pendidikan di daerah.

Dalam pendidikan inklusif terdapat komponen manajemen layanan khusus. Manajemen layanan khusus ini mencakup manajemen kesiswaan, kurikulum, tenaga kependidikan, sarana-prasarana, pendanaan dan lingkungan. Kepala sekolah dapat menunjuk stafnya, terutama yang memahami ke-PLB-an, untuk melaksanakan manajemen layanan khusus ini.

  1. Pembelajaran Model Inklusif di Kelas Reguler

Pelaksanaan pembelajaran dalam kelas inklusif sama dengan pelaksanaan pembelajaran dalam kelas reguler. Namun jika diperlukan, anak berkebutuhan khusus membutuhkan perlakuan tersendiri yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan anak berkebutuhan khusus.

Untuk mengetahui kondisi dan kebutuhan anak berkebutuhan khusus diperlukan proses skrining atau assesment yang bertujuan agar pada saat pembelajaran di kelas, bentuk intervensi pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus merupakan bentuk intervensi pembelajaran yang sesuai bagi mereka. Assesment yang dimaksud yaitu proses kegiatan untuk mengetahui kemampuan dan kelemahan setiap peserta didik dalam segi perkembangan kognitif dan perkembangan sosial melalui pengamatan yang sensitif.

Seorang pendidik hendaknya mengetahui program pembelajaran yang sesuai bagi anak berkebutuhan khusus. Pola pembelajaran yang harus disesuaikan dengan anak berkebutuhan khusus biasa disebut dengan Individualized Education Program (IEP) atau Program Pembelajaran Individual (PPI). Perbedaan karakteristik yang dimiliki anak berkebutuhan khusus membuat pendidikan harus memiliki kemampuan khusus.

Sebelum Program Pembelajaran Individual dijalankan oleh pendidik, terlebih dahulu pendidik harus melakukan identifikasi terhadap kondisi dan kebutuhan anak berkebutuhan khusus agar diperoleh informasi yang akurat mengenai kebutuhan pembelajaran anak berkebutuhan khusus.

Setelah proses skrining atau assesmentdilakukan dan kebutuhan anak berkebutuhan khusus teridentifikasi, maka Program Pembelajaran Individual (IEP) dapat dijalankan di kelas-kelas reguler. Program Pembelajaran Individual tersebut sebenarnya tidak mutlak diperlukan bagi anak berkebutuhan khusus dalam pembelajaran model inklusif di kelas reguler. Pada praktiknya ada beberapa anak berkebutuhan khusus yang tidak memerlukan Program Pembelajaran Individual. Mereka dapat belajar bersama dengan anak reguler dengan program yang sama tanpa perlu dibedakan.

Program Pembelajaran Individual meliputi enam komponen, yaitu elicitors, behaviors, reinforcers, entering behavior, terminal objective, dan enroute. Secara terperinci, keenam komponen tersebut yaitu:

  1. Elicitors, yaitu peristiwa atau kejadian yang dapat menimbulkan atau menyebabkan perilaku
  2. Behaviors, merupakan kegiatan peserta didik terhadap sesuatu yang dapat ia lakukan
  3. Reinforcers, suatu kejadian atau peristiwa yang muncul sebagai akibat dari perilaku dan dapat menguatkan perilaku tertentu yang dianggap baik
  4. Entering behavior, kesiapan menerima pelajaran
  5. Terminal objective, sasaran antara dari pencapaian suatu tujuan pembelajaran yang bersifat tahunan
  6. Enroute, langkah dari entering behaviormenujut ke terminal objective

Model pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus harus memperhatikan prinsip umum dan prinsip khusus. Prinsip umum pembelajaran meliputi motivasi, konteks, keterarahan, hubungan sosial, belajar sambil bekerja, individualisasi, menemukan, dan prinsip memecahkan masalah. Prinsip umum ini dijalankan ketika anak berkebutuhan khusus belajar bersama-sama dengan anak reguler dalam satu kelas. Baik anak reguler maupun anak berkebutuhan khusus mendapatkan program pembelajaran yang sama. Prinsip khusus disesuaikan dengan karakteristik masing-masing peserta didik berkebutuhan khusus. Prinsip khusus ini dijalankan ketika peserta didik berkebutuhan khusus membutuhkan pembelajaran individual melalui Program Pembelajaran Individual (IEP).

Model pembelajaran anak berkebutuhan khusus memerlukan komponen-komponen tertentu yang meliputi:

Rasional

Layanan pendidikan dan pembelajaran anak berkebutuhan khusus seharusnya sejalan dan tidak lepas dari prinsip, kebijakan, dan praktik dalam pendidikan berkebutuhan khusus.

Visi dan misi

Model pembelajaran anak berkebutuhan khusus mengarah pada visi dan misi sebagai sumber pengertian bagi perumusan tujuan dan sasaran yang harus ditetapkan

Tujuan pembelajaran

Tujuan pembelajaran anak berkebutuhan khusus harus didasarkan pada visi dan misi pembelajaran yang sudah ditetapkan

Komponen dasar model pembelajaran

Berdasarkan pada visi dan misi pembelajaran, komponen-komponen dasar model pembelajaran anak berkebutuhan khusus dapat dikelompokkan menjadi:

1)        Masukan yang berupa masukan mentah yang terdiri dari elicitors,behaviors, dan reinforcers, masukan instrumen yang terdiri dari program, guru kelas, tahapan, dan sarana, dan masukan lingkungan yang berupa norma, tujuan, lingkungan, dan tuntutan

2)        Proses yang terdiri dari atas program pembelajaran individual, pelaksanaan intervensi, dan refleksi hasil pembelajaran

3)        Keluaran berupa perubahan kompetensi setiap peserta didik yang mempunyai kesulitan atau hambatan perkembangan diri

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

 SEKOLAH INKLUSIF

 

  1. Ciri Sekolah Inklusif

Ada 20 kriteria anak yang tergolong berkebutuhan khusus (ABK) di antaranya yaitu tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunagrahita, tuna daksa, tuna laras (anak dengan gangguan emosi, sosial dan perilaku), tuna ganda, lamban belajar, autis, dan termasuk pula anak dengan potensi kecerdasan luar biasa (genius). Untuk sebagian ABK tersebut khususnya tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunagrahita, tuna daksa telah mempunyai tempat belajar khusus di Sekolah Luar Biasa. Bagimana untuk anak autis dan ABK yang lain dapat bersekolah? Pemerintah saat ini telah menyediakan Sekolah Inklusi, khususnya di kota-kota besar sudah berjalan. Apakah sekolah inklusi itu? Mengapa ada sekolah inklusi dan bagaimana sekolah inklusi memberikan pelayanan kepada ABK?

Apakah sekolah iklusi? Sekolah inklusi adalah sekolah regular (biasa) yang menerima ABK dan menyediakan sistem layanan pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan anak tanpa kebutuhan khusus (ATBK) dan ABK melalui adaptasi kurikulum, pembelajaran, penilaian, dan sarana prasarananya. Dengan adanya sekolah inklusi ABK dapat bersekolah di sekolah regular yang ditunjuk sebagai sekolah inklusi. Di sekolah tersebut ABK mendapat pelayanan pendidikan dari guru pembimbing khusus dan sarana prasarananya. Prinsip mendasar dari pendidikan inklusi adalah selama memungkinkan, semua anak seyogyanya belajar bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka. Jadi disini setiap anak dapat diterima menjadi bagian dari kelas tersebut, dan saling membantu dengan guru dan teman sebayanya maupun anggota masyarakat lain sehingga kebutuhan individualnya dapat terpenuhi.

Mengapa harus ada sekolah inklusi? Setiap orang memiliki hak yang sama untuk memperoleh manfaat maksimal dari pendidikan. UUD 1945 pasal 31 ayat (1) dan (2) mengamanatkan bahwa setiap warga Negara mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan. Selain itu, UU No. 20 tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional pasal 3, 5, 32 dan UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak pasal 48 dan 49, yang pada intinya Negara, pemerintah, keluarga, dan orang tua wajib memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada anak untuk memperoleh pendidikan. Jadi semua orang berhak sekolah.

Bagaimana Sekolah Inklusi Memberikan Pelayanan ABK? Di dalam sekolah inklusi terdapat peserta didik dengan berbagai macam latar belakang dari yang reguler (biasa) sampai anak berkebutuhan khusus. Pelayananan pendidikan yang diberikan secara bersamaan, sehingga akan terjadi interaksi antara keduanya, saling memahami, mengerti adanya perbedaan, dan meningkatkan empati bagi anak-anak reguler. Untuk proses belajar mata ajaran tertentu bagi sebagian ABK dengan kategori autis,  tunanetra, tunarungu, atau tuna grahita, ABK tersebut dimasukkan di dalam ruang khusus untuk ditangani guru khusus dengan kegiatan terapi sesuai kebutuhan. Anak-anak berkebutuhan khusus tersebut juga tetap bisa belajar di kelas regular dengan guru pendamping bersamanya selain guru kelas.

Model-model pembelajaran ABK yang dapat diterapkan di sekolah inklusi:

(1).Kelas regular/ inklusi penuh yaitu ABK yang tidak mengalami gangguan intelektual mengikuti pelajaran di kelas biasa.

(2). Cluster, para ABK dikelompokkan tapi masih dalam satu kelas regular dengan pendamping khusus,

(3). Pull out, ABK ditarik ke ruang khusus untuk kesempatan dan pelajaran tertentu, didampingi guru khusus,

(4). Cluster and pull out, kombinasi antara model cluster dan pull out,

(5). Kelas khusus, sekolah menyediakan kelas khusus bagi ABK, namun untuk beberapa kegiatan pembelajaran tertentu siswa digabung dengan kelas regular, dan

(6). Khusus penuh, sekolah menyediakan kelas khusus ABK, namun masih seatap dengan sekolah regular.

ABK perlukah ikut Ujian Nasional? Ujian nasional wajib diikuti oleh anak-anak reguler, sebaliknya anak ABK tidak perlu ikut ujian nasional. Setiap anak ABK memiliki kemampuan berbedaada yang memiliki kecerdasan rata-rata atau bahkan di atas rata-rata. Untuk ABK dengan kecerdasan semacam itu bisa mengikuti ujian nasional. Namun untuk ABK dengan kecerdasan kurang seperti tuna grahita sedang sampai berat dan autis dengan kecerdasan kurang diperbolehkan tidak perlu mengikuti ujian nasional. Ssaat kelulusan sekolah anak tersebut hanya memperoleh Surat Tanda Tamat Belajar (STTB).  Dengan berbekal surat inilah  ABK dapat  melanjutkan ke sekolah inklusi jenjang berikutnya. ( Disarikan dari berbagai sumber oleh Upik Kesumawati Hadi, Fakultas Kedokteran Hewan IPB Bogor).

  1. Manfaat Pendidikan Inklusif

Pendidikan inklusi memberikan hak untuk belajar pada semua anak, tanpa memandang perbedaan fisik, intelektual, sosial, emosi, bahasa, atau kondisi lainnya. Hal ini memberi tantangan pada guru untuk mengetahui bagaimana cara mengajar anak dengan latar belakang dan kemampuan yang beragam. Dalam pendidikan inklusif juga berupaya untuk memberi perlindungan pada semua anak. Anak akan merasa aman belajar didalam kelas walaupun “berbeda” dari segi fisik, sosial, intelektual, dan emosi peserta didik lainnya.
Pembelajaran dilaksanakan secara fleksibel dengan memperhatikan kebutuhan masing-masing anak sebagai peserta didik. Pembelajaran dalam kelas ramah dan kondusif sehingga anak menjadi lebih bersemangat dalam belajar. Selain itu pembelajaran diberikan dengan menggunakan berbagai bahan yang bervariasi untuk semua mata pelajaran. Kemudian penilaian dilakukan berdasarkan observasi terhadap kemamupan anak.

Bagi Siswa:

  1. Siswa ABK dan siswa umum belajar untuk sensitif, memahami,
    menghargai, dan menumbuhkan rasa nyaman dengan perbedaan individual.
  2. ABK belajar keterampilan sosial dan menjadi siap untuk tinggal di masyarakat karena mereka dimasukkan dalam sekolah umum.
  3. ABK terhindar dari dampak negatif dari sekolah segregasi, antara lain kecenderungan pendidikannya yang kurang berguna untuk kehidupan nyata, label “cacat” yang memberi stigma pada anak dari sekolah segregasi
    membuat anak merasa inferior, serta kecilnya kemungkinan untuk saling
    bekerjasama, dan menghargai perbedaan.

Bagi Masyarakat:

  1. Mengajarkan nilai sosial berupa kesetaraan.
  2. ABK tidak lagi dipandang sebagai ancaman dan beban bagi masyarakat yang harus dipisahkan, dan dikontrol oleh sekolah segregasi.

3.Bagi sekolah reguler mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru tentang bagaimana mengelola ABK.

 

 

 

 

  1. Kesetaraan Hak Difabel

Indonesia merupakan negara hukum, hal ini tercantum pada ketentuan pasal 1 ayat 3 undang- undang dasar republik indonesia tahun 1945. Hukum sendiri merupakan suatu norma atau kaidah yang didalamnya terdapat berbagai macam peraturan dan ketentuan- ketentuan yang memaksa sehingga setiap orang harus tunduk dan mematuhi aturan tersebut, supaya menciptakan keadaan masyarakat yang harmonis dan tenteram. Dan jika ada yang melanggarnya akan dikenai sanksi yang tegas sesuai dengan peraturan tersebut. Sebagai negara hukum, Indonesia menerima hukum sebagai ideologi untuk menciptakan ketertiban, keamanan, keadilan, serta kesejahteraan bagi warga negaranya. Konsekuensi dari hal tersebut adalah bahwa hukummengikat setiap tindakan yang dilakukan oleh warga negara indonesia.
Menurut satjipto Raharjo hukum dibuat untuk dilaksanakan. Sehingga hukum tidak lagi bisa dikatakan sebagai hukum manakala ia tidak  pernah dilaksanakan. Hukum dapat dilihat bentuknya melalui kaidah- kaidah atau peraturan – peraturan yang terkandung tindakan- tindakan yang harus dilaksanakan tidak lain adalah penegakan hukum (marulak parade,2003: 73)
Salah- satu fungsi hukum, baik sebagai kaidah maupun sebagai suatu sikap tindak atau perilaku teratur adalah membimbing perilaku manusia, sehingga hal itu juga menjadi salah- satu ruang lingkup studi terhadap hukum secara alamiah. Salah satu ciri dari negara hukum adalah menghormati dan melindungi hak- hak asasi manusia. Perlindungan hak asasi manusia salah satunya yaitu perlakuan yang sama bagi setiap warga negara sesuai dengan pasal 27 ayat 1 UUD 1945 bahwa “ segala warga negara bersamaan kedudukannya didalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”.
Didalam penjelasan umum undang undang nomor 48 tahun 2009 tentang kekuasaan kehakiman (selanjutnya disingkat UU No.48 tahun 2009),dijelaskan bahwa: Undang- undang dasar negara republik indonesia tahun 1945 menegaskan bahwa indonesia adalah negara hukum. Sejalan dengan ketentuan tersebut maka salah- satu prinsip penting negara hukum adalah adanya jaminan penyelenggaraan kekuasaan kehakiman yang merdeka, bebas dari pengaruh kekuasaan lainnya untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan.
Peradilan yang bebas sebagaimana pasal 24 ayat 1 UUD 1945 bahwa “ kekuasaan kehakiman yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan”, dipertegas oleh pasal 1 ayat 1 UU No.48 Tahun 2009, bahwa “kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan pancasila dan undang- undang dasar republik indonesia demi terselenggaranya negara hukum republik Indonesia. Bahwa hak asasi manusia merupakan hak dasar yang secara kodrati melekat pada diri manusia, bersifat universal dan langgeng sehingga itu harus dilindungi, dihormati, dan dipertahankan. Artinya setiap manusia memiliki hak yang sama, seperti halnya seorang penyandang disabilitas, mereka pun mempunyai hak yaitu harus bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang kejam, tidak manusiawi, merendahkan martabat manusia bebas dari eksploitasi, kekerasan dan perlakuan semena- mena serta memiliki hak untuk mendapatkan penghormatan atas intregitas mental dan fisiknya berdasarkan kesamaan dengan orang lain. Termasuk didalamnya hak untuk mendapatkan perlindungan dan pelayanan sosial dalam rangka kemandirian, serta dalam keadaan darurat.
Dalam kemandiriannya difabel perlu mendapatkan pendidikan yang mampu memfasilitasi secara utuh kebutuhan mereka. Karena pendidikan merupakan pondasi kuat dalam mewujudkan kemandirian anak. Sesuai dengan deklarasi universal tentang hak asasi manusia (PBB, 1948) dan secara kuat dipertegas oleh deklarasi dunia tentang pendidikan bagi semua (UNESCO, 1990), yang antara lain mengatakan bahwa setiap penyandang difabel berhak menyatakan keinginannya sehubungan dengan pendidikannya, sejauh hal tersebut dapat difahami; dan orang tua berhak untuk dikonsultasi mengenai bentuk pendidikan yang paling sesuai dengan kebutuhan, keadaan dan aspirasi anaknya.
Kerangka aksi mengenai pendidikan kebutuhan khusus (unesco, 1994) mengakui prinsip bahwa sekolah seyogyanya mengakomodasi semua anak tanpa memandang kondisi fisik, intelektual, sosial, emosi, linguistik ataupun kondisi- kondisi lainnya. Dalam konteks Kerangka Aksi tersebut, istilah “kebutuhan pendidikan khusus” mengacu pada semua anak dan remaja yang kebutuhannya timbul akibat kecacatan atau kesulitan belajarnya. Banyak anak mengalami kesulitan belajar dan oleh karenanya memiliki kebutuhan pendidikan khusus pada saat mereka sedang menempuh pendidikannya. Sekolah harus mencari cara agar berhasil mendidik semua anak, termasuk mereka yang memiliki kekurangan dan kecacatan yang parah.
Sesuai dengan UUD 1945 bahwa tujuan dari pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Sehingga proses belajar yang terwadahi dalam lembaga pendidikan tentunya menjadi sebuah hal yang vital bagi kemajuan suatu bangsa. Tujuan belajar secara umum adalah ingin mencapai kedewasaan individu, baik secara jasmani,rohani,maupun social (Langevel). Secara umum difabel dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu mampu didik, mampu latih, dan mampu rawat. Selama ini dalam dunia pendidikan, disediakan Sekolah Luar Biasa (SLB) bagi kaum difabel. Sekolah ini dibagi jenisnya berdasarkan tingkat “kecacatan” siswanya, misalnya SLB-A (sekolah khusus anak tuna netra), SLB-B (sekolah khusus anak tuna rungu), SLB-C (sekolah khusus anak tuna grahita), SLB-D (seklah khusus anak tuna grahita), SLB-E (sekolah khusus anak tuna laras), dll. Sekolah dengan model eksklusif (keterpisahan) bukanlah suatu model pendidikan yang ideal bagi difabel. Sistem seperti ini justru memberikan kesan mengkotak- kotakkan manusia. Sehingga perlu adanya inovasi baru dalam dunia pendidikan difabel.
Bagi difabel yang mampu didik akan lebih baik apabila diberikan kesempatan untuk mengakses sekolah inklusi. Sekolah inklusi merupakan sekolah reguler yang mengkoordinasi dan mengintegrasikan siswa difabel dalam program yang sama. Pentingnya pendidikan inklusi adalah memberikan lingkungan yang tepat guna mencapai kesamaan kesempatan dan partisipasi penuh. Keberhasilannya menuntut usaha bersama, bukan hanya dari guru- guru dan staf sekolah, orang tua, keluarga, relawan, tetapi juga dari teman sebayanya. Namun, sangat disayangkan belum banyak difabel yang mengakses sekolah model inklusi ini, akibat minimnya informasi mengenai sekolah inklusi, ketiadaan biaya, infrastruktur yang kurang mendukung serta kondisi kultural budaya yang cenderung ‘menyembunyikan’ anak difabel karena dianggap sebagai aib. Peran orang tua sebenarnya sangat penting bagi perkembangan anak, terutama penyandang disabilitas.
Oleh karena itulah perlu disadari bersama usaha pencerdasan dan sosialisasi yang masiff terkait keberadaan sekolah iklusi dan peran orang tua dalam perkembangan anak difabel. Kondisi seperti ini mengajak kita bersama untuk lebih memperhatikan dan peka tehadap kondisi penyandang disabilitas. Hak- hak atas mereka layak untuk kita perjuangkan bersama.
Berdasar pada Permendiknas no.70 tahun 2009 tanggal 5 Oktober 2009 bahwa Pendidikan inklusi diberikan bagi peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/ atau bakat istimewa. Dalam kebijakan sosial global selama dua dasa warsa terakhir ini adalah meningkatkan integrasi dan partisipasi serta memerangi eksklusi (keterpisahan). Di sekolah inkusi akan lebih banyak memberikan keuntungan, karena tidak hanya memenuhi hak asasi manusia dan hak- hak anak, namun lebih penting lagi adalah bagi kesejahteraan anak. Pendidikan inklusi dimulai dengan merealisasikan perubahan paradigma masyarakat yang terkandung selama ini, dimana akan menjadi bagian keseluruhan. Dengan demikian difabel akan merasa tenang, percaya diri, merasa dihargai, dan bertanggungjawab.

 

 

  1. Partisipasi Terhadap Inklusi

Inklusi dan partisipasi merupakan hal yang sangat penting bagi harga diri manusia serta memungkinkan orang menikmati dan mempraktekkan hak- hak asasinya sebagai manusia. Di dalam bidang pendidikan, hal tersebut tercermin dalam pengembangan strategi- strategi yang berusaha memberikan kesamaan kesempatan yang sesungguhnya.Dalam pengembangan pendidikan inklusi yang diimplementasikan dalam lembaga sekolah inklusi perlu adanya kesiapan yang matang. Inklusi tidak hanaya terbatas pada aspek peserta didik saja, namun dalam aspek yang lebih luas, mencakup aspek hardware, software, dan brainware.

Pertama adalah aspek hardware, aspek ini berkaitan dengan lokasi, gedung, sarana prasarana, dan fasilitas pendukung lain. Aspek ini haruslah mengacu pada inklusi tadi, bagaimana ketercakupan dalam satu gedung mampu memfasilitasi semua kebutuhan peserta didik yang heterogen. Oleh karena itulah perlu adanya aksesibilitas yang diterapkan pada sekolah inklusi. Aksesibilitas adalah kemudahan yang disediakan bagi difabel guna mewujudkan kesamaan kesempatan dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan, serta menciptakan lingkungan yang lebih menunjang mereka untuk dapat hidup bermasyarakat. Penyediaan aksesibilitas ini dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat secara menyeluruh, terpadu,dan berkesinambungan. Cukup jelas peraturan undang-undang yang mengatur hal tersebut yaitu Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat 7 secara tegas memuat, “setiap penyandang difabel mempunyai hak dan kesempatan yang sama dalam segala aspek kehidupan dan peghidupan”. yang dilanjutkan dengan Keputusan Menteri (Kepmen) Pekerjaan Umum (PU) Nomor 468 Tahun 1998 tentang Persyaratan Teknis Aksesibilitas pada Bangunan Umum dan Lingkungan serta Kepmen Perhubungan Nomor 71 Tahun 1999 tentang Aksesibilitas Penyandang cacat dan Orang Sakit pada Sarana dan Prasarana Perhubungan. Contohnya adalah penyediaan kamar mandi yang aksesibel mampu dijangkau oleh tuna daksa, pemakai kursi roda, terdapat ram pada setiap gedung bertingkat, penyediaan perpustakaan maupun ruang kelas dengan menggunakan fasilitas pembelajaran berbasis IT seperti software yang mampu mereproduksi tampilan visual ke dalam bentuk audio, sehingga dapat diakses oleh pengguna tuna netra, dan lain-lain.
Kedua adalah aspek software, yaitu meliputi kurikulum, silabus, dan perangkat penunjang yang lain. Kurikulum yang digunakan pada sekolah inklusi adalah kurikulum anak normal (reguler) yang disesuaikan atau dimodifikasi sesuai dengan kemampuan awal dan karakteristik siswa. Modifikasi ini dapat dilakukan dengan cara modifikasi alokasi waktu, materi atau isi, proses belajar mengajar atau pembelajaran, sarana prasarana, lingkungan belajar, dan pengelolaankelas.
Kurikulum berbasis kompetensi adalah kurikulum yang cocok  bagi penyelenggaraan sekolah inklusi. Dengan kurikulum ini, maka akan memberikan peluang terhadap tiap- tiap anak untuk mengaktualisasikan segala potensi yang mereka miliki sesuai dengan bakat, kemampuan dan perbedaan yang ada pada setiap anak. Sistem evaluasi pada kurikulum ini berbasis kompetensi yang menggunakan prinsip ounthentic assessment, yang salah- satu bentuknya adalah porto folio, memberikan peluang kepada guru untuk melakukan  evaluasi dengan lebih objektif dan adil.

Ketiga adalah aspek brainware, yaitu meliputi tenaga kependidikan, peserta didik, staf ahli, psikolog, dan staf pendukung lainnya. Tenaga kependidikan atau guru di sekolah inklusi yaitu guru kelas, guru mata pelajaran, dan guru pembimbing khusus. Dalam perannya guru tidak berdiri sendiri, namun kerjasama dari psikolog, dokter anak, bahkan orang tua siswa pun turut andil dalam implementasi menuju sekolah inklusi yang lebih baik.
Inklusi (ketercakupan) selayaknya tidak dimaknai secara sempit pada aspek peserta didik saja. Namun inklusi adalah ketercakupan tiga aspek diatas yaitu aspek hardware, software, dan brainware. Dengan sinerginya ketiga aspek tersebut bukan tidak mungkin sekolah inklusi akan menjadi benar sebagai awal kesetaraan hak difabel dalam memperoleh pendidikan, sehingga mampu mewujudkan tujuan pendidikan nasional. education for all menunggu dukungan dari semua pihak.

Mengingat penanganan ABK tidak sekadarnya, apalagi ketika belajar bersama dengan anak-anak regular, maka dalam menangani anak-anak berkelainan khusus diperlukan psikopedagogis tersendiri, serta guru pembimbing khusus yang lebih mengetahui psikologi anak luar biasa. Selain pembelajaran yang khusus, perlu adanya sebuah kurikulum khusus agar penanganan anak berkelainan tersebut berjalan secara sistematis berdasarkan identifikasi awal, klasifikasi, dan analisis kebutuhan siswa.

Jika kurikulum pendidikan khusus ini dibuat secara ideal, sekolah penyelenggara inklusi tidak akan kesulitan mencari pola-pola pembelajaran bagi siswa-siswanya yang berkebutuhan khusus. Dan program pendidikan inklusi tidak hanya menjadi sebuah kepentingan program Dinas Pendidikan saja, tetapi sekolah-sekolah penyelenggara betul-betul berupaya memberdayakan anak-anak berkebutuhan khusus demi keberlanjutan masa depan mereka.

 

  1. Sekolah Inklusif Sebagai Masa Depan

Sekolah inklusi adalah sekolah yang menggabungkan layanan pendidikan khusus dan regular dalam satu sistem persekolahan, dimana siswa berkebutuhan khusus mendapatkan pendidikan khusus sesuai dengan potensinya masing-masing dan siswa regular mendapatkan layanan khusus untuk mengembangkan potensi mereka sehingga baik siswa yang berkebutuhan khusus ataupun siswa regular dapat bersama-sama mengembangkan potensi masing-masing dan mampu hidup eksis dan harmonis dalam masyarakat.

Dalam sekolah inklusi ada kurikulum individual yaitu kurikulum khusus individu tertentu sehingga dengan metode seperti ini, sistem kurikulum mencoba mengembangkan anak sesuai dengan bakat yang dimilikinya. Tujuannya adalah membimbing anak untuk sukses dalam kehidupan masyarakat dengan bakat yang mereka miliki. Walaupun sekolah inklusi memiliki kurikulum individual bukan berarti kurikulum nasional diabaikan. Kurikulum individual itu sebagai pelengkap atau penyempurna kurikulum nasional sehingga perserta didik mampu lebih mengoptimalkan potensinya.

Sebelum sekolah inklusi berkembang, di Indonesia berkembang model sekolah Segregasi dan Integratif. Sekolah Segregasi yaitu sekolah yang menempatkan anak-anak berkebutuhan khusus (tunanetra, tunarungu, tunadaksa, tunagrahita) ditempatkan sekolah khusus semacam sekolah luar biasa (SLB). Sedangkan sekolah integratif adalah sekolah yang memiliki kurikulum standar dan menghendaki setiap siswa untuk menempuh kurikulum tersebut. Biasanya yang dapat bersekolah di sekolah ini adalah siswa-siswa yang memiliki fisik dan mental yang normal. Sekolah model integratif ini adalah sekolah-sekolah yang banyak diketahui oleh masyarakat pada umumnya.

Sekolah Segregasi memang dirancang baik kurikulum maupun sarana prasarana untuk anak special need. Tetapi dalam kehidupan mereka kelak, mereka akan berbaur dan berinteraksi dengan masyarakat. Hal ini membuat mereka sukar beradaptasi karena keluar dari lingkaran kenyamanan komunitas special need masuk dalam lingkungan yang baru yaitu masyarakat. Hal ini akan menjadi masalah ketika dua komunitas tersebut berbaur dalam masyarakat. Sekolah integratif yang pada umumnya terdiri dari siswa-siswa regular akan terasa asing dengan kehadiran special need, hal ini disebabkan karena mereka belum mengenal, mengetahui, dan memahami tentang special need. Untuk membiasakan anak-anak special need supaya mampu berinteraksi dalam masyarakat dan mampu hidup eksis dalam masyarakat dan bagi siswa regular tercipta pengetahuan, pemahaman serta peran aktif dalam berinteraksi dengan special need maka perlu adanya sebuah sistem sekolah yang memepertemukan mereka dalam satu sistem sekolah yaitu sekolah inklusi.

Sekolah inklusi pada dasarnya bertujuan merangkul semua siswa berbagai latar belakang dan kondisi dalam satu sistem sekolah dan mencoba untuk menemukan dan mengembangkan potensi siswa yang majemuk tersebut. Dalam mengembangkan potensi siswa tidak hanya diterapkan kepada siswa special need tetapi juga siswa yang lain yang bukan special need. Pada dasarnya setipa siswa memiliki potensi, Cuma kadang yang menajdi masalah adalah sekolah kurang jeli melihat potensi tiap-tiap siswa dan tidak ada progam individual untuk mengembangkan potensi masing-masing siswa tersebut. Dalam multiple intelligences oleh Howard Gardner di jelaskan bahwa kecerdasan/potensi seseorang tidak bertumpu pada kecerdasan intelektual saja, tetapi ada banyak kecerdasan yang lain, misalnya kecerdasan logis matematis yaitu berpikir dengan penalaran, mendudukan masalah secara logis, ilmiah dan kemampuan matematik. Ada kecerdasan linguistik verbal yaitu kemahiran dalam berbahasa untuk berbicara, menulis, membaca, menghubungkan dan menafsirkan. Ada juga kecerdasan musikal ritmik misalnya menyanyi, irama, melodi dan alat musik. Ada kecerdasan interpersonal yaitu keterampilan manusia dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan manusia lain, mislanya dalam organisasi, memimpin, berpidato, bersosialisasi. Seseorang yang pandai menari, berolah raga, bermain drama merupakan seseorang yang memiliki kecerdasan kinestetik. Ada juga seseorang yang memiliki kecerdasan spacial visual misalnya seorang desainer, illustrator, peluksi. Selain itu ada juga kecerdasan naturalis dan intrapersonal. Setiap manusia pasti memiliki kedelapan kecerdasan diatas walaupun kuat disatu sisi dan lemah disisi lain.

Sekolah-sekolah di Indonesia pada umumnya terlalu fokus pada kecerdasan intelektual saja, sehingga kecerdasan yang lain kurang begitu ditangani apalagi dikembangkan. Disinilah peran sekolah inklusi di masa depan sebagai sekolah yang mampu menemukan dan mengembangkan potensi-potensi siswa baik siswa special need ataupun siswa reguler sehingga menjadi siswa yang sepcialis dan berkembang sesuai dengan bakat dan potensinya. Kelak, generasi tersebut akan menjadi generasi yang ahli, harmonis dan memberi manfaat bagi diri sendiri, masyarakat dan bangsa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PARADIGMA PENDIDIKAN UNTUK SEMUA

Jangan  selalu melihat dari keterbatasannya tapi lihatlah kelebihannya, jangan selalu melihat dari kelemahannya tapi lihatlah kemampuannya. Beri kesempatan untuk mengemmbangkan potensinya. Perhatikan haknya, bimbing untuk melakukan kewajibannya. Jaga hatinya. Hargai prestasinya.

  1. Inklusi Akses Peningkatan Mutu Semua Anak

Pertemuan Millennium menyepakati delapan Millennium Development Goals (MDGs) atau Tujuan Pembangunan Millenium (New York, September 2000)

– Pertemuan ini dihadiri oleh 189 negara anggota PBB, merupakan

pertemuan terbesar yang pernah dilakukan PBB

– Dua tujuan PUS diintegrasikan kedalam MDGs, yaitu:

– Mencapai Pendidikan Dasar untuk Semua pada tahun 2015

– Kesetaraan Gender dalam pendidikan

– Pendidikan Untuk Semua Hakekat dari “Pendidikan untuk Semua” adalah mengupayakan agar setiap warga negara dapat memenuhi haknya, yaitu layanan pendidikan.

UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 5 ayat 5 :

“Setiap warga negara berhak mendapatkan kesempatan meningkatkan pendidikan sepanjang hayat”. Semua Terlayani (Semua Anak) .Semua Melayani (Pemangku Kepentingan, Perencana, Dan Praktisi Pendidikan)

Strategi penting yang diadopsi : 

  • Memastikan dukungan dana untuk PUS atau EFA
  • Mempromosikan kemitraan antara pemerintah dan masyarakat sipil
  • Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif Untuk dapat mewujudkan EFA, semua komponen bangsa, baik pemerintah, swasta, lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan, maupun warga negara secara individual, secara bersama-sama atau sendiri-sendiri, berkomitmen untuk berpartisipasi aktif dalam menyukseskannya sesuai dengan potensi dan kapasitas masing-masing. Dalam upaya mewujudkan visi pembangunan nasional, penerapan konsep pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan merupakan suatu keharusan.
  • Pengembangan Sumber Daya Manusia berkualitas, penguasaan sains dan teknologi dan bagaimana pendidikan memberi kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi merupakan dasar pijakan.
  • Dalam pembangunan pendidikan nasional itu sendiri juga terdapat sejumlah tantangan, isu dan permasalahan.
  • Sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 4 ayat (1) pendidikan di Indonesia diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan   serta tidak diskriminatif dengan menjunjung  tinggi hak asasi  manusia, nilai keagamaan, nilai kultural,  dan kemajemukan bangsa.
  • Dalam pemenuhan hak memperoleh pendidikan yang bermutu masih ditemui peserta didik yang rentan dan
  • Peserta didik yang rentan dan terdiskriminasi antara lain Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK)
  • Berbicara Pendidikan Inklusif adalah berbicara semua anak

 

  1. Tujuan Pendidikan Inklusi
  2. Memastikan bahwa semua anak memiliki akses terhadap pendidikan yang terjangkau, efektif, relevan dan tepat dalam wilayah tempat tinggalnya
  3. Memastikan semua pihak untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif agar seluruh anak terlibat dalam proses pembelajaran
  4. Memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada semua anak.
  5. Membantu mempercepat program wajib belajar pendidikan dasar.
  6. Membantu meningkatkan mutu pendidikan dasar dan menengah dengan menekan angka tinggal kelas dan putus sekolah.
  7. Menciptakan sistem pendidikan yang menghargai keanekaragaman, tidak diskriminatif, serta ramah terhadap pembelajaran.
  8. Pemberdayaan Disabilitas

Pemberdayaan adalah upaya untuk menguatkan keberadaan Penyandang Disabilitas dalam bentuk penumbuhan iklim dan pengembangan potensi sehingga mampu tumbuh dan berkembang menjadi individu atau kelompok Penyandang disabilitas yang tangguh dan mandiri. Pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik termasuk peserta didik berkebutuhan khusus untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran secara bersama-sama dalam lingkungan pendidikan/sekolah/kelas yang terbuka, ramah, dan tidak mendiskriminasi. Pendidikan inklusif adalah sistem  penyelenggaraan pendidikan yang menjamin kesetaraan bagi peserta didik berkebutuhan khusus dan peserta didik pada umumnya untuk mengikuti pendidikan dalam satu lingkungan pendidikan secara bersama dengan suatu sistem layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. Pendidikan inklusif menyertakan semua anak secara bersama-sama dalam suatu iklim dan proses pembelajaran dengan layanan pendidikan yang layak dan sesuai dengan kebutuhan individu peserta didik tanpa membeda-bedakan anak yang berasal dari latar suku, kondisi sosial, kemampuan ekonomi, politik, keluarga, bahasa, geografis (keterpencilan) tempat tinggal, jenis kelamin, agama, dan perbedaan kondisi fisik, mental/ intelektual, sosial, emosional dan perilaku.

Dalam konteks menumbuhkan masyarakat inklusif atau demokratis, pendidikan inklusif dipahami sebagai proses penanaman sikap toleran di kalangan peserta didik agar mereka siap menghadapi atau apresiatif terhadap perbedaan dalam kehidupan seperti pendapat, pandangan, kepercayaan, budaya dan ideologi.

Melalui pendidikan inklusif kesadaran kritis terhadap isu-isu keadilan akan dapat ditumbuhkan melalui refleksi. Semua anak dengan berbagai latar belakang berhak atas pendidikan.

Hal ini merupakan perwujudan dari hak asasi yaitu “the right to education”. Oleh karena itu Satuan Pendidikan Penyelenggara Pendidikan Inklusif (SPPPI) seharusnya mengenali dan memenuhi kebutuhan peserta didik yang beragam, mengakomodasi keragaman gaya dan tempo belajar peserta didik serta menjamin bahwa setiap individu dapat mengenyam pendidikan bermutu dengan menggunakan kurikulum yang sama, strategi mengajar yang tepat, penggunaan sumber yang ada dan dukungan masyarakat.

Kurikulum bagi Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK) sama dengan peserta didik pada umumnya namun kurikulumnya diadaptasi (eskalasi, duplikasi, modifikasi, subtitusi, dan omisi) sesuai dengan karakteristik peserta didik berkebutuhan khusus. Pasal 42 UU No.8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.

Pemerintah Daerah wajib memfasilitasi pembentukan Unit Layanan Disabilitas untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan inklusif tingkat dasar dan menengah.

Konsep pendidikan atau pembelajaran ini mengandung ciri-ciri seperti kebutuhan peserta didik harus menjadi isu utama, memberikan kebebasan (otonomi) dan tanggung jawab kepada peserta didik atas pembelajaran yang menjadi pilihannya dam rangka memperdalam pemahaman menurut kebutuhan dan kepentingan masing-masing pribadi. Anak-anak yang memerlukan pendidikan secara khusus harus menjadi bagian dari program pembinaan pendidik.

Selanjutnya, pembelajaran harus diadaptasikan dengan kebutuhan peserta didik dengan cara misalnya menyediakan bantuan ekstra yang diperlukan untuk menjamin terwujudnya pendidikan secara efektif, demokratis, memiliki komitmen terhadap keadilan dan anti diskriminasi.

Titik tekan manifestasi pendidikan inklusif adalah isu akses pendidikan bermutu untuk anak-anak berkelainan dan atau yang memiliki kebutuhan khusus tampak sangat menonjol.

Pendidikan inklusif diwujudkan dalam Satuan Pendidikan Penyelanggara Pendidikan Inkjlusaif  inklusif yang mempunyai misi memberi kesempatan kepada setiap peserta didik dan menjamin anak-anak berkebutuhan khusus diakui sebagai warga belajar dan kebutuhan khusus mereka dipenuhi.

Sejatinya, sasaran pendidikan inklusif adalah menyingkirkan hambatan-hambatan yang mengakibatkan kelompok anggota masyarakat seperti anak-anak perempuan, kelompok yang tidak beruntung, anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus dan anak-anak yang tidak terjangkau melalui sistem pendidikan formal dan non formal karena sulit mengakses pendidikan dapat berkesempatan memperoleh akses pendidikan bermutu yang inklusif dan berkelanjutan.

  1. Hambatan dan Hak Disabilitas
  • Hambatan Lingkungan (Geografis)
  • Hambatan Sikap
  • Hambatan Kebijakan (Kesenjangan regulasi dan implementasi)
  • Hambatan Praktek
  • Hambatan Sumberdaya

HAK PENYANDANG DISABILITAS (Pasal 5 Ayat 1 UU No.8)

  • Hidup
  • Bebas dari stigma
  • Privasi
  • Keadilan dan perlindungan hukum
  • Pendidikan
  • Pekerjaan, kewirausahaan, dan koperasi
  • Kesehatan
  • Politik
  • Keagaam
  • Keolahragaan
  • Kebudayaan dan pariwisata
  • Kesejahteraan sosial
  • Aksesibilitas
  • Pelayanan publik
  • Perlindungan dan bencana
  • Habilitasi dan rehabilitasi
  • Konsesi
  • Pendataan
  • Hidup secara mandiri dan dilibatkan di masyarakat
  • Berekspresi, berkomunikasi, dan memperoleh informasi
  • Berpindah tempat dan kewarganegaraan
  • Bebas dari tindakan diskriminasi, penelantaran, penyiksaan, dan eksploitasi.

Pasal 5 ayat (3) Selain hak Penyandang Disabilitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), anak penyandang disabilitas memiliki hak:

  1. mendapatkan Pelindungan khusus dari Diskriminasi, penelantaran, pelecehan, eksploitasi, serta kekerasan dan kejahatan seksual;
  2. mendapatkan perawatan dan pengasuhan keluarga atau keluarga pengganti untuk tumbuh kembang secara optimal;
  3. dilindungi kepentingannya dalam pengambilan keputusan;
  4. perlakuan anak secara manusiawi sesuai dengan martabat dan hak anak;
  5. pemenuhan kebutuhan khusus;
  6. perlakuan yang sama dengan anak lain untuk mencapai integrasi sosial dan pengembangan individu; dan
  7. mendapatkan pendampingan sosial.
  8. Pasal 11 Hak pekerjaan, kewirausahaan, dan koperasi untuk Penyandang Disabilitas meliputi hak: a. memperoleh pekerjaan yang diselenggarakan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, atau swasta tanpa Diskriminasi; b. memperoleh upah yang sama dengan tenaga kerja yang bukan Penyandang Disabilitas dalam jenis pekerjaan dan tanggung jawab yang sama; c. memperoleh Akomodasi yang Layak dalam pekerjaan; d. tidak diberhentikan karena alasan disabilitas; e. mendapatkan program kembali bekerja; f. penempatan kerja yang adil, proporsional, dan bermartabat; g. memperoleh kesempatan dalam mengembangkan jenjang karier serta segala hak normatif yang melekat di dalamnya; dan h. memajukan usaha, memiliki pekerjaan sendiri, wiraswasta, pengembangan koperasi, dan memulai usaha sendir

HAK PENDIDIKAN

Pasal 10 UU NO. 8 Tahun 2016

Hak pendidikan untuk Penyandang Disabilitas meliputi hak:

  1. mendapatkan pendidikan yang bermutu pada satuan pendidikan di semua jenis, jalur, dan jenjang pendidikan secara inklusif dan khusus;
  2. mempunyai Kesamaan Kesempatan untuk menjadi pendidik atau tenaga kependidikan pada satuan pendidikan di semua jenis, jalur, dan jenjang pendidikan;
  3. mempunyai Kesamaan Kesempatan sebagai penyelenggara pendidikan yang bermutu pada satuan pendidikan di semua jenis, jalur, dan jenjang pendidikan; dan
  4. mendapatkan Akomodasi yang Layak sebagai peserta didik.

HAK PEKERJAAN, KEWIRAUSAHAAN, DAN KOPERASI

Pasal 11 UU No. 8 Tahun 2016

Hak pekerjaan, kewirausahaan, dan koperasi untuk Penyandang Disabilitas meliputi hak:

  1. memperoleh pekerjaan yang diselenggarakan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, atau swasta tanpa Diskriminasi;
  2. memperoleh upah yang sama dengan tenaga kerja yang bukan Penyandang Disabilitas dalam jenis pekerjaan dan tanggung jawab yang sama;
  3. memperoleh Akomodasi yang Layak dalam pekerjaan;
  4. tidak diberhentikan karena alasan disabilitas;
  5. mendapatkan program kembali bekerja;
  6. penempatan kerja yang adil, proporsional, dan bermartabat;
  7. memperoleh kesempatan dalam mengembangkan jenjang karier serta segala hak normatif yang melekat di dalamnya; dan
  8. memajukan usaha, memiliki pekerjaan sendiri, wiraswasta, pengembangan koperasi, dan memulai usaha sendiri.

HAK KESEHATAN

Pasal 12 UU No. 8 Tahun 206

Hak kesehatan untuk Penyandang Disabilitas meliputi hak:

  1. memperoleh informasi dan komunikasi yang mudah diakses dalam pelayanan kesehatan;
  2. memperoleh kesamaan dan kesempatan akses atas sumber daya di bidang kesehatan;
  3. memperoleh kesamaan dan kesempatan pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau;
  4. memperoleh kesamaan dan kesempatan secara mandiri dan bertanggung jawab menentukan sendiri pelayanan kesehatan yang diperlukan bagi dirinya;
  5. memperoleh Alat Bantu Kesehatan berdasarkan kebutuhannya;
  6. memperoleh obat yang bermutu dengan efek samping yang rendah;
  7. memperoleh Pelindungan dari upaya percobaan medis; dan
  8. memperoleh Pelindungan dalam penelitian dan pengembangan kesehatan yang mengikutsertakan manusia sebagai subjek.

 

 

                                BAB  IV

KLASIFIKASI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

  1. Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus

Anak berkebutuhan khusus (Heward) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik.

Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang mengalami gangguan yang signifikan baik aspek psikis, sosial, emosional, dan indrawi yang menghambat proses pertumbuhan dan perkembangan anak tersebut sehingga membutuhkan layanan pendidikan khusus agar dapat hidup wajar.

Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang memerlukan penanganan khusus sehubungan dengan gangguan perkembangan dan kelainan yang dialami anak.

Anak berkebutuhan khusus (ABK) ini ada dua kelompok, yaitu:

  1. ABK temporer (sementara): Anak-anak yang berada di lapisan strata sosial ekonomi yang paling bawah, anak-anak jalanan (anjal), anak-anak korban bencana alam, anak-anak di daerah perbatasan dan di pulau terpencil, serta anak-anak yang menjadi korban HIV-AIDS.
  2. ABK permanen: Tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, Autis, ADHD/ADD, Anak Berkesulitan Belajar, Anak Lambat Belajar, Anak berbakat dan sangat cerdas (Gifted), Indigo.
  3. Siapa Anak Berkebutuhan Khusus
  4. Anak dengan  Gangguan Penglihatan (Tunanetra)

Anak dengan  gangguan penglihatan (Tunanetra) adalah anak yang mengalami gangguan daya penglihataan sedemikian rupa, sehingga membutuhkaan layanan  khusus dalam pendidikan maupun kehidupannya.

Layanan khusus dalam pendidikan bagi mereka, yaitu dalam membaca menulis dan berhitung diperlukan huruf Braille bagi yang buta, dan bagi yang sedikit penglihatan (low vision) diperlukan kaca pembesar atau huruf cetak yang besar, media yang dapat diraba dan didengar atau diperbesar.

  1. Anak dengan Gangguan Pendengaran (Tunarungu)

Tunarungu adalah anak yang kehilangan seluruh atau sebagian daya pendengarannya sehingga mengalami gangguan berkomunikasi secara verbal. Walaupun telah diberikan pertolongan dengan alat bantu dengar, mereka masih tetap memerlukan layanan pendidikan khusus.

  1. Anak dengan Gangguan Intelektual (Tunagrahita)

Tunagrahita (retardasi mental) adalah anak yang secara nyata mengalami hambatan dan keterbelakangan perkembangan mental- intelektual di bawah rata-rata,  sehingga mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Mereka memerlukan layanan pendidikan khusus.

  1. Anak dengan Gangguan Gerak Anggota Tubuh  (Tunadaksa)

Tunadaksa adalah anak yang mengalami kelainan atau cacat yang menetap pada anggota gerak [tulang, sendi,otot]. Mereka mengalami gangguan gerak karena kelayuhan otot, atau gangguan fungsi syaraf otak (disebut Cerebral Palsy /CP].

Pengertian anak Tunadaksa bisa dilihat dari segi fungsi fisiknya dan dari segi anatominya.

  1. Anak dengan gangguan Prilaku dan Emosi (Tunalaras)

Anak dengan gangguan prilaku (Tunalaras) adalah anak    yang    berperilaku menyimpang baik pada taraf sedang, berat dan sangat berat, terjadi pada usia anak dan remaja, sebagai akibat terganggunya perkembangan emosi dan sosial atau keduanya, sehingga merugikan dirinya sendiri maupun lingkungan, maka dalam mengembangkan potensinya memerlukan pelayanan   dan pendidikan secara khusus.

  1. Anak dengan Kecerdasan Tinggi dan Bakat Istimewa (Gifted and Tallented)

Anak yang memiliki potensi kecerdasan tinggi (giftted) dan Anak yang memiliki Bakat Istimewa (talented) adalah anak yang memiliki potensi kecerdasan (intelegensi), kreativitas, dan tanggung jawab terhadap tugas (task commitment ) di atas anak-anak seusianya ( anak normal ), sehingga untuk mengoptimalkan potensinya, diperlukan pelayanan pendidikan khusus

  1. Anak dengan gangguan Prilaku dan Emosi (Tunalaras)

Anak dengan gangguan prilaku (Tunalaras) adalah anak    yang    berperilaku menyimpang baik pada taraf sedang, berat dan sangat berat, terjadi pada usia anak dan remaja, sebagai akibat terganggunya perkembangan emosi dan sosial atau keduanya, sehingga merugikan dirinya sendiri maupun lingkungan, maka dalam mengembangkan potensinya memerlukan pelayanan   dan pendidikan secara khusus.

  1. Anak dengan Kecerdasan Tinggi dan Bakat Istimewa (Gifted and Tallented)

Anak yang memiliki potensi kecerdasan tinggi (giftted) dan Anak yang memiliki Bakat Istimewa (talented) adalah anak yang memiliki potensi kecerdasan (intelegensi), kreativitas, dan tanggung jawab terhadap tugas (task commitment ) di atas anak-anak seusianya ( anak normal ), sehingga untuk mengoptimalkan potensinya, diperlukan pelayanan pendidikan khusus

  1. Anak Lamban Belajar ( Slow Learner)

Lamban belajar (slow learner) adalah anak yang memiliki potensi intelektual sedikit di bawah anak normal, tetapi tidak termasuk anak tunagrahita (biasanya memiliki IQ sekitar  80-85). Dalam beberapa hal anak ini mengalami hambatan atau keterlambatan berpikir, merespon rangsangan dan kemampuan untuk beradaptasi, tetapi lebih baik dibanding dengan yang tunagrahita. Mereka membutuhkan waktu belajar lebih lama disbanding dengan sebayanya.  Sehingga mereka memerlukan layanan pendidikan khusus.

  1. Anak Berkesulitan Belajar Spesifik

Anak berkesulitan belajar adalah individu yang mengalami gangguan dalam suatu proses psikologis dasar, disfungsi sistem syaraf pusat, atau gangguan neurologis yang dimanifestasikan dalam kegagalan-kegagalan nyata dalam: pemahaman,  gangguan mendengarkan, berbicara, membaca, mengeja, berpikir, menulis, berhitung, atau keterampilan sosial.

  1. Anak Autis

Autis dari kata auto, yang berarti sendiri, dengan  demikian  dapat diartikan  seorang anak yang hidup dalam dunianya.  Anak autis cenderung mengalami hambatan dalam interaksi, komunikasi, dan perilaku sosial.

  1. Anak Hiperaktif

Hiperaktif adalah pola perilaku anak yang tidak mau diam, tidak terkendali, tidak menaruh perhatian, impulsif/ bergerak sekehendak hatinya. Dia selalu bergerak dan tidak pernah merasakan asyiknya permainan atau mainan yang disukai oleh anak-anak sebaya. Hal ini disebabkan perhatiannya selalu beralih dengan sangat cepat dari satu fokus ke lainnya.

 

  1. Cara Membantu Anak Berkebutuhan Khusus

TUNANETRA

Tuna netra / Gangguan penglihatan

Sumber : kumorofoto.blogspot.com

Sumber : www.v2020.org

 

                  Low vision / penglihatan jarak pendek

Tuna netra / Gangguan penglihatan

 

                                                                                                                                                                                                                                       

Cara Membantu

  • Sapa terlebih dahulu sebelum menyentuhnya
  • Sentuhlah agar mereka tahu posisi anda
  • Ajak bicara
  • Tawarkan bantuan (Membacakan buku, dan koran, bila diperlukan sangat baik bila dapat menulis dalam Braille).

Reglet & stylus untuk menulis Braille

TUNA RUNGU

Tuna rungu / Gangguan pendengaran

Bahasa isyarat tangan

Tuna rungu / Gangguan pendengaran

Anak dengan gangguan pendengaran yang menggunakan ABM (Alat Bantu Mendengar)

 

 

TUNADAKSA

 

Cara Membantu:

  • Bantu mendorong kursi rodanya
  • Biarkan mereka berpegangan pada kita saat bergerak
  • Tawarkan tempat duduk yang dekat pintu
  • Menyediakan bidang miring (ramp) bila ada perbedaan ketinggian atau tangga

 

 

 

 

 

 

 

TUNA GRAHITA

 

 

Dengan sedikit bantuan beberapa anak dengan retardasi mental mampu untuk berkesenian dan menguasai kemampuan akademik dasar

Cara Membantu :

  • Gunakan kalimat yang pendek.
  • Ajarkan keterampilan dengan cara bertahap.
  • Terangkan dengan benda konkret.

KESULITAN BELAJAR

Gangguan pada kemampuan dasar : pemahaman dan penggunaan bahasa, berbicara, menulis, berpikir, menghitung

 

CARA MEMBANTU:

  • Membaca dengan pelan-pelan, dengan bantuan penggaris agar baris tidak terlewat
  • Menggunakan bantuan 5 pertanyaan dasar (apa, kapan, dimana, siapa, bagaimana) untuk membantu memperoleh pemahaman bacaan dan membuat karangan.
  • Berhitung dengan bantuan tanda-tanda khusus

 

 

 

AUTIS

Pengertian :

  • Gangguan dalam interaksi sosial
  • Gangguan dalam berkomunikasi
  • Pola mengulang dan meniru secara terbatas dalam perilaku, ketertarikan/minat, dan aktivitas

George Orwell, Albert Einstein and Thomas Jefferson

 

Anak autis belajar bersama di sebuah sekolah negeri di Jayapura

Cara membantu

  • Ajarkan kemampuan berinteraksi, seperti : melihat saat diajak berbicara/berjabat tangan
  • Belajar dengan menggunakan benda kongkrit
  • Konsultasikan dengan tenaga ahli (dokter anak, psikolog)

 

Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktif (GPP/H)

Pengertian :

Anak mengalami gangguan perilaku yang ditandai dengan ketidakmampuan anak dalam memusatkan perhatian pada dua atau lebih situasi yang berbeda.

Karakteristik :

Perhatian mudah teralih, menghentikan/meninggalkan suatu tugas sebelum selesai, sering beralih dari satu kegiatan ke kegiatan yang lain, dalam situasi yang menuntut keadaan yang relatif tenang anak tampak gelisah, berjalan mondar-mandir, berlari tanpa arah, melompat berlebihan, bicara berbelit-belit, tidak sabar menunggu giliran, sering memotong pembicaraan dan memberikan respon yang terlalu cepat (impulsif).

Cara membantu :

  • Konsultasikan dengan tenaga ahli (dokter anak, psikolog)
  • Bimbing dengan tegas
  • Ajarkan untuk duduk diam pada beberapa kesempatan tertentu
  • Ajarkan membuat jadwal harian

CERDAS / BERBAKAT

 

Kiri : tim olimpiade fisika RI yang menempati posisi kedua di Olimpiade Fisika Internasional

 

  1. Penyebab Anak Menjadi Berkebutuhan Khusus
  • Status Gizi dan Kesehatan ibu buruk selama kehamilan
  • Kegagalan aborsi – bila dilakukan oleh orang yang bukan ahli
  • Infeksi selama kehamilan
  • Kesehatan buruk dan menderita penyakit kronis selama kehamilan (DM, TBC, hipertensi, hati dan ginjal)
  • Kehamilan kembar
  • Terluka atau mengalami kecelakaan selama kehamilan
  • Umur ibu terlalu muda atau terlalu tua pada kehamilan pertama. Umur yang baik untuk hamil pertama 20-30 tahun Ibu terlalu sering hamil Pemeriksaan kehamilan tidak rutin
  • Terpapar sinar X, zat kimia, racun, rokok, alkohol dan pengobatan yang dilakukan sendiri (tanpa petunjuk ahli).

Dari berbagai sumber lainnya :

  • Genetik (keturunan)
  • Virus (cont : rubella, toksoplasma, cytomegalovirus)
  • Kelahiran prematur (lahee prematur)
  • Kecelakaan
  • Tidak diketahui
  1. Pencegahan Dini Anak Berkebutuhan Khusus

1.Pemeriksaan kesehatan calon ibu/ayah sebelum kehamilan.

  1. Perawatan selama kehamilan meliputi:
  • Mengkonsumsi makanan bergizi
  • Menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan Menjaga kesehatan tubuh
  • Menghindari konsumsi obat tanpa resep, aborsi secara sengaja, tertular penyakit infeksi, terpapar sinar X, terpapar zat beracun, merokok, konsumsi alkohol, terluka dan kecelakaan, terlalu lelah, perjalanan jauh terutama pada minggu terakhir kehamilan. Perawatan selama melahirkan.
  • Proses kelahiran harus ditangani oleh orang yang ahli
  • Tali pusar bayi harus dipotong dengan pisau steril
  • Keluarnya plasenta dan terjadinya perdarahan rahim setelah proses kelahiran harus ditangani dengan hati-hati
  • Bila terjadi kesulitan kelahiran atau kelahiran tidak normal, ibu harus segera dibawa ke rumah sakit terdekat
  • Setelah melahirkan, ibu harus berisirahat segera.

Perawatan bayi baru lahir

  • Bayi harus segera disusui setelah dilahirkan
  • Bayi harus segera dibawa ke rumah sakit bila bayi demam kuning, kejang-kejang dsb
  • Bayi juga harus diperiksa dokter bila mengalami sulit makan atau tidur, bermasalah dengan pernafasannya atau BAB-nya.
  • Pada kelahiran prematur, bayi harus mendapatkan perawatan tenaga ahli atau dokter.

     Perawatan bayi

  • Selalu memonitor perkembangan pertumbuhan bayi
  • Memberi gizi yang sesuai pada bayi
  • Ibu mengerti cara membesarkan/merawat bayi dengan benar. Ibu tahu bagaimana memandikan, memberi makan dan merawat bayi agar tumbuh normal/baik. Ibu juga harus mengetahui bagaimana mendisiplinkan anak.
  • Pemberian imunisasi pada bayi
  • Mencegah bayi mengalami trauma fisik karena terluka, kecelakaan, terbakar atau jatuh.
  • Pernikahan dengan saudara dekat
  • Konsultasi genetika

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

Hak Azazi manusia adalah hak dasar pada tiap individu manusia yang melekat secara kodrat. Bersifat universal dan kontinyu yang harus dihormati, dilindungi, dan dipertahankan.Secara harfiah hak azazi manusia memiliki persamaan, walaupun berasal dari latar belakang dan tingkat disabilitas yang berbeda.

Perlakuan tidak manusiawi seperti diskriminatif, penyiksaan mental dan fisik, pengekangan eksploitasi, merendahkan harkat dan martabat, perolehan hak yang berbeda dalam pelayanan sosial, merupakan sinyal pelanggaran hak azazi dan hijab untuk mengoptimalkan integritas mental dan fisik manusia.

Sesuai landasan yuridis yang telah diamanahkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia pasal 31 ayat 1, bahwa setiap warga Negara Indonesia berhak mendapat pendidikan. Maka pemerintah dalam hal ini telah mengeluarkan regulasi untuk mewujudkan  amanah dalam undang-undang tersebut.

Pendidikan inklusi adalah pendidikan yang didasarkan pada hak azazi dan model sosial, dengan sistem yang disesuaikan dengan kebutuhan anak, bukan anak yang menyesuaikan dengan sistem. Pendidikan inklusi juga dapat dipandang sebagai  pergerakan yang menjunjung tinggi nilai-nilai, hakikat keyakinan mendidik, dan prinsip-prinsip utama yang berkaitan dengan anak, keragaman pendidikan , dan pendidikan tanpa diskrimantif.

Pendidikan inklusi sebagai sistem pelayanan pendidikan yang menitik beratkan agar semua anak dapat terlayani dan juga terpenuhi pendidikannya tanpa harus dipisahkan degan anak-anak dikelas  reguler yang seusia pada umumnya.Include menjadi komunitas yang mendukung pemenuhan kebutuhan khusus setiap anak. Pendidikan inklusi merupakan pendidikan yang terbuka dan ramah terhadap anak, dengan mengedepankan tindakan menghargai  juga merangkul perbedaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 LAGU-LAGU INKLUSI

  1. LAGU GEMBIRA

Maju tiga langkah

Langkah kekiri …..

Mundur tiga langkah

Langkah kekanan….

Berjalan berputar

Membuat Lingkaran ….

Sambil Tepuk Tangan

Bersama Sama….

 

  1. MARINA

MARINA MENARI DIATAS MENARA

DIATAS MENARA MARINA MENARI

MARINA MENARI DIATAS MENARA

DIATAS MENARA MARINA MERANA

 

  1. Lagu “Aku Guru Sejati”
    (irama Lagu: “Aku Adalah Anak Gembala”

Aku adalah guru sejati

Selalu riang bekerja sama

Dengan siswaku serta ortunya

juga komite dan masyarakat

Reff:

Inklusi, tiada hambatan

Inklusi, mari kerja sama

Aku adalah manajer kelas

Menata kelas dan buat rencana

Blajar berpusat pada siswaku

Yang unik dan berkbutuhan khusus

Reff:

Inklusi, tidak menghakimi

Inklusi, mari kerja sama

 

 

  1. SATU-SATU

SATU-SATU AKU SAYANG IBU

DUA-DUA JUGA SAYANG AYAH

TIGA-TIGA SAYANG ADIK KAKAK

SATU DUA TIGA SAYANG SEMUANYA

( PIJIT2  BAHU)

( CINCANG BAHU)

( GARU2 PUNGGUNG)

 

  1. INKLUSI KU

INKLUSI DIDADAKU

ABK KEBANGGAAN KU

KU YAKIN

KITA SEMUA

PASTI BISA       2 X

 

 

 

  1. TANGANKU

Tanganku adalah mataku

Dia juga jadi telingaku

Tanganku adalah mulutku

Sayangi aku

dengan lembut

 

  1. SING TOGETHER A TRAINER’S SONG

 

AKU TRAINER SEHAT, TUBUHKU KUAT

KARENA AKU RAJIN BEKERJA

MEMBERI TRAINING DENGAN

HATI YANG SUKACITA

MEMBAGIKAN ILMU –DENGAN TULUS HATI

WALAUPUN KERJA TAK SLALU MUDAH

NAMUN  KUJALANI DENGAN GEMBIRA

AGAR BAKAT SEMUA ORANG DAPAT DIKEMBANGKAN

DAN INDONESIA – – SEMAKIN MAJU

  1. Inklusi (Pelangi-Pelangi)

Inklusi –inklusi alangkah indahmu….

Merah kuning hijau

Latar belakangnya ….

Siapapun Kamu

Marilah bersama….

Inklusi inklusi

Milik kita semua…

 

  1. How Are You?

Hello hello … how are you?

You are my friend

And I love you …..

Hello hello …. how are you?

Welcome to inklusive .. School…..

 

 

 

 

 

 

  1. Bersama kita bisa (ABANG BECAK)

 

Kami mau berbagi dengan semua guru

Pendidikan inklusi, ramah dan menyenangkan

Hilangkan diskriminasi, adil dan inovatif

Kerja sama tuk majukan bangsa

 

Tiadakan hambatan, berikan kesempatan

Bagi semua anak tak kenal perbedaan

Pemrintah, masyarakat, ikut bertanggung jawab

Kerja sama tuk majukan bangsa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Gavin Reid, Dyslexia and Inclusion; Classroom Approaches for Assesment, Teaching and Learning, (London: David Fulton Publisher, 2005), h. 88.

  1. David Smith, Inklusi, Sekolah Ramah untuk Semua, (Bandung: Penerbit Nuansa, 2006), h. 45

MIF. Baihaqi dan M. Sugiarmin, Memahami dan Membantu Anak ADHD,(Bandung: PT. Refika Aditama, 2006), h. 75-76.

Daniel P. Hallahan dkk., Exceptional Learners: An Introduction to Special Education, (Boston: Pearson Education Inc., 2009), cet. ke-10, h. 53.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 Tentang Pendidikan Inklusif Bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa.

Pedoman Umum Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif, h. 4.

Ensiklopedi Online Wikipedia “Inclusion” darihttp://en.wikipedia.org/wiki/Inclusion_%28education%29, 7 Juni 2010.

Bandi Delphie, Pembelajaran Anak Tunagrahita; Suatu Pengantar dalam Pendidikan Inklusi, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2006), h.

 

 

 

 

PROFIL  PENULIS

 

Juwita,S.Pd, kelahiran  Aceh Besar 15 Maret 1978, anak kedua pasangan dari H. Hasbi dan Hj. Rohani. Lulusan Sarjana FKIP Biologi di Universitas Serambi Mekkah tahun 2010. Menjadi guru PNS tahun 2006. sampai November 2007 bertempat tugas di SDN Mureu, dari November 2007- sekarang bertugas di SDN 1 Indrapuri. Mempunyai hobi membaca, menulis, dan juga bersih-bersih. Alamat tempat tinggal di Desa Lambunot, Kecamatan Simpang Tiga Kabupaten Aceh Besar. Sudah berkeluarga dengan 3 anak, 1 putri , dan 2 putra.

Juara I tingkat kabupaten tahun 2009 seleksi TOT guru tematik yang dilaksanakan oleh lembaga P4TK Pkn dan IPS Malang, pernah memiliki pengalaman kerja di DBE-2 selama 2 tahun dari 2010 sampai 2011 sebagai Pemandu Bidang Sains (PBS), menjadi fasilitator Inklusi bersama HKI ( Hellen Keller Indonesia ) tahun 2013, Meraih juara I guru SD berprestasi tingkat kabupaten tahun 2014 dan juara III guru berprestasi SD tingkat Provinsi tahun 2014. Menjadi bendahara sekolah dari tahun 2012 sampai dengan 2015, berpengalaman menjadi operator sekolah tahun 2012 sampai 2015, serta menjadi operator Kecamatan tahun 2013.

Dari tahun 2016 sampai 2019 menjadi ketua KKG gugus XII SDN 1Indrapuri, dan tahun 2019 membawa gugus XII SDN 1Indrapuri meraih juara 2 tingkat kabupaten. Mendapat penghargaan dari Bupati Aceh Besar sebagai pegiat literasi  tahun 2019, penghargaan tingkat nasional oleh Perpusnas RI sebagai bagian 1000 penulis Indonesia. Masuk dalam 100 coach penggerak literasi versi IGI tahun 2019.

Email : j.ita78@yahoo.co.id. No hp. dan WA 085261769323.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SINOPSIS

 

Pendidikan inklusi adalah pendidikan yang didasarkan pada hak azazi dan model sosial, sistem yang disesuaikan dengan kebutuhan anak  bukan anak yang harus menyesuaikan dengan sistem. Pendidikan inklusi juga dapat dipandang sebagai  pergerakan yang menjunjung tinggi nilai-nilai, hakikat keyakinan mendidik, dan prinsip-prinsip utama yang berkaitan dengan anak, keragaman pendidikan , dan pendidikan tanpa diskrimantif.

Pendidikan inklusi sebagai tata cara pelayanan pendidikan yang menitik beratkan agar semua anak dapat terlayani dan juga terpenuhi pendidikannya tanpa harus dipisahkan dengan anak-anak di kelas  reguler yang seusianya. Anak-anak dengan disabilitas Include menjadi komunitas yang mendukung pemenuhan kebutuhan khusus setiap individu. Pendidikan inklusi merupakan pendidikan yang terbuka dan ramah terhadap anak dengan mengedepankan tindakan menghargai  juga merangkul perbedaan.

   “ PERBEDAAN ADALAH TANTANGAN UNTUK PERUBAHAN MENUJU PEMBAHARUAN ”

 

 

Views All Time
Views All Time
20
Views Today
Views Today
1
Previous articleKLASIFIKASI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
Next articleSIMULASI UNBK Tahun Terakhir Server Pusat “Error”
Nama :Juwita, S.Pd Tempat tanggal lahir :Aceh besar 15 Maret 1978 Tempat tugas :SDN 1 Indrapuri Hobi: membaca, menulis, dan bersih-bersih Berstatus kawin dan memiliki 1 putri dan 2 orang putra, Tinggal di Desa Lambunot, Kecamatan Simpang Tiga,Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Mengecap pendidikan Min Paya Seunara Sabang, Lalu SMP 6 Kota Sabang,SMU di Banda Aceh, Lalu kuliah D-II di STKIP Getsempena. Melanjutkan S-1 FKIP Universitas Serambi Mekkah. Menjadi guru PNS April 2006,pertama mendapat SK di SDN Mureu Indrapuri, setahun kemudian di mutasi ke SDN 1 Indrapuri sampai sekarang,,, Pengalaman selama menjadi guru,,, pernah bersama DBE-2 sebagai fasilitator Sains, Fasilitator di HKI, Guru inti di gugus, dan memfasilitasi beberapa kegiatan di UPTD. Dalam mengembangkan kompetensi pernah mengikuti guru berprestasi tahun 2014, namun hanya mendapat juara 3 tingkat provinsi. Terimakasih banyak kepada semua pihak yang telah membantu saya untuk dapat bergabung di blog.igi yang is the best,,semoga kita selalu sharing and growing together. salam satu hati guruku di Indonesia, ditangan kita ujung tombak bangsa.

LEAVE A REPLY