DUDA PERJAKA

1
10

DUDA PERJAKA

“Apa salahnya bila aku melamar Gebol Siti, Mak? Aku pernah gagal, harusnya Umak sadar itu,” gugat Cakok Tantowi atas larangan yang dibuat umak.

“Tapi kamu masih perjaka, Nak. Sebaiknya mencari jodoh yang perawan,” saran umak mengharap yang terbaik untuk putra semata wayangnya. Dari tujuh anak yang dilahirkan, hanya Cakok Tantowilah yang bertahan hidup. Istilah desa, tak bertuah.

Cakok Tantowi hanya tertunduk lesu, dilema hati bergejolak. Melawan keinginan orang tua sama saja dengan memilih menjadi anak durhaka, tapi bila menurut saja, maka wanita mana yang sudi menerima duda perjaka seperti dirinya. Statusnya memang sebagai duda atas kematian sang istri yang belum sempat dijamah sedikit pun.

Itu peristiwa tiga tahun yang lalu, saat usia Cakok Tantowi hampir kepala empat, 37 tahun. Saat malam akad, semua berjalan lancar. Namun, adat istiadat di desa Pedamaran melarang untuk langsung mencampurkan sepasang manusia yang telah resmi sebagai suami istri dalam satu kamar. Ada malam khusus, yaitu malam Senin dan malam Kamis setelah usainya segala rangkaian prosesi resepsi pernikahan, atau setelah arak-arakan pengantin kala sore. Akhirnya, Cakok Tantowi disuruh tidur di ruang keluarga, dan istrinya di dalam kamar pengantin.

Esoknya, ketika acara masak-masak di kediaman mempelai perempuan, sebuah peristiwa terjadi membuat gempar di kecamatan itu. Dari hilir hingga ke hulu, darat sampai ke laut, topik pembicaraan masyarakat sama. Si Koneng, Istri Cakok Tantowi meninggal karena kecelakaan saat lari bersama mantan kekasihnya dengan mengendarai kendaraan roda dua.

Tragedi itu terjadi di simpang kota Tikar, ketika sepeda motor itu hendak keluar dari jalan desa dan memasuki jalan lintas timur. Anehnya, sang mantan kekasih yang membawa lari istri orang tidak apa-apa, hanya sedikit luka di bagian tangan dan kaki.

Langit seakan runtuh, bumi serasa belah kala Cakok Tantowi menerima kabar itu. Matanya basah sambil melihat kerbau besar dan hitam yang siap disembelih saat menjelang hari H di kediamannya. Malu bukan main, mau ditaruh ke mana mukanya waktu itu. Namun dia sadar, memang tidak ada cinta dari hati sang istri untuknya. Semua terjadi hanya karena perjodohan kedua orang tua mereka. Kini, semua hancur berantakan. Tidak ada arak-arakan pengantin, tidak ada malam campur atau malam pertama, yang ada hanya malam-malam sepi seperti dulu.

“Mak, perawan mana yang masih mau kepadaku? Apakah Umak yakin? Lihat saja, di desa kita tidak ada perawan tua, banyak yang usianya masih muda. Pasti mereka menolak lelaki duda sudah tua sepertiku,” jelas Cakok Tantowi panjang lebar mencoba meyakinkan hati umak.

Umak pun terdiam mendengar penjelasan Cakok Tantowi. Memang benar, setelah dipikir, tidak ada gadis yang cocok untuk mendampingi seorang sopir seperti anaknya. Apa lagi mengingat usia anaknya sekarang resmi berkepala empat, mana mau gadis sekarang menerimanya.

“Setidaknya, kamu mencari janda yang belum punya anak,” tegas umak lagi, bersikukuh mempertahankan egonya.

“Aku ingin mencari keturunan, Mak. Janda perawan itu belum tentu bisa memberiku anak. Lalu siapa yang meneruskan silsilah keluarga kita?” Umak pun mengangguk memberi kebenaran kepada Cakok Tantowi.

***

Cakok Tantowi resmi menikahi Gebol Siti, janda cerai hidup beranak dua, meski tak ada restu dari kedua anak tirinya, Barab Romi dan Guluk Reno. Si anak kembar yang mulai beranjak remaja itu memilih tinggal terpisah dari sang ibu. Mereka tinggal di rumah kontrakan bapaknya yang masih sendiri di kampung satu, Rentes Pedamaran 6, sedangkan ibunya ikut suami baru di kampung dua, simpang zebra Pedamaran 3.

Hari-hari berlalu selalu dilewati oleh cibiran anak tiri, mereka bukan saja tidak menyukai, melainkan menyimpan rasa benci kepada Cakok Tantowi. Setiap kali dia melajukan mobil Avanza untuk keliling mencari penumpang yang hendak ke Palembang, si kembar tersebut senantiasa mencebik bila bertatap mata.

“Ah, sudahlah. Mereka juga masih anak-anak. Jangan terlalu dimasukan ke dalam hati,” senyum Cakok Tantowi menghias jelas dari kaca spion, menambah ketampanan dan kesantunan hingga penumpang ketagihan menjadi pelanggan setia tiap kali bepergian.

Dia juga tahu kalau kedua anak tirinya itu sering meminta uang jajan kepada istrinya. Bahkan juga kerap mendapat beras dan lain sebagainya, tapi semua harus dirahasiakan kepada dirinya atas permintaan dua remaja itu. Namun, si istri bukanlah tipe wanita yang pandai bersilat lidah. Dia selalu meminta izin untuk bertemu dan memberi keperluan kepada dua anaknya. Hanya saja, Cakok Tantowi selalu berpura-pura tidak mengetahui itu. Padahal, semua yang mereka dapat atas jerih payah si bapak tiri.

Pernah, saat Gebol Siti melahirkan anak kedua, mereka datang ke rumah untuk meminta jatah. Cakok Tantowi yang menyambut kedatangan mereka karena hari itu sengaja ia meliburkan diri, tapi kedua anak itu hanya bergeming di atas anak tangga rumah panggung. Lalu, si bapak tiri masuk dan keluar setelah menyiapkan sejumlah uang untuk keperluan mereka. Jangankan senyuman atau ucapan terima kasih yang ia terima, basa-basi pun tidak ada. Dengan raut wajah cemberut, Barab Romi dan Guluk Reno kompak berlalu pergi dengan uang yang dikantongi.

Cakok Tantowi menatap kepergian mereka sambil menggelengkan kepala, tak lupa senyum mengambang dari bibir tipisnya selalu mampu menghapus rasa sakit yang ia peroleh. Dia sudah terbiasa dengan keburukan atau kepahitan hidup, sedikitpun tidak mengagetkannya.

Luar biasanya lagi, ketika Barab Romi menyatakan niatnya untuk menikah, Cakok Tantowilah yang rela merogoh kocek mengeluarkan biaya pernikahan. Tak hanya di situ, ia juga memberi modal untuk si anak tiri membuka usaha guna menyambung hidup. Dari mana ia dapat uang sebanyak itu? Dengan cara meminjam di bank ternama dengan BPKB mobil sebagai jaminan.

“Alhamdulillah, Dek. Sepertinya usaha Barab Romi semakin maju. Bagaimana rencananya ke depan? Suruh dia beli tanah lalu membangun rumah agar bisa mengajak Bapaknya dan Guluk Reno tinggal bersamanya,” saran Cakok Tantowi malam itu sambil menggendong si bungsu.

“Terima kasih, Kak. Semua atas bantuan dari kamu. Rencananya dia mau mengembalikan uang modal yang dia pakai,” sahut Gebol Siti sambil mengipaskan kain untuk menghalau nyamuk agar tidak menggigit si sulung. Maklum, malam itu mati lampu padahal hujan turun tidaklah terlalu deras.

“Soal itu jangan dipikirkan, yang pertama tetap fokus pada masa depan mereka. Tidak lama lagi akan lunas juga hutang kita di bank.” Cakok Tantowi melepaskan gendongan, lalu meminta bertukar tugas. Dia yang mengipaskan kain, Gebol Siti yang menggendong si kecil karena rewel.

Lambat laun, Barab Romi mulai menyadari dan menerima saran si bapak tiri. Usahanya kini semakin sukses, dia membangun rumah tak jauh dari lokasi berdagang. Awalnya hanya sederhana, tapi kini sudah bagaikan istana. Dia tinggal di sana bersama anak istrinya dan juga Guluk Reno beserta bapak kandung mereka.

Setiap bulan, Barab Romi selalu menyisihkan uang untuk diberikan kepada Cakok Tantowi. Namun, sekali pun uang itu tak pernah sampai ke tangan si bapak tiri. Guluk Reno sengaja menggelapkan amplop coklat yang berisi helaian kertas uang ratusan.

“Pak, ada sedikit rezeki, mohon diterima. Ini Guluk Reno lagi di jalan untuk ke rumah Bapak,” ucap Barab Romi dari layar handphonenya memberi tahu Cakok Tantowi.

“Jangan repot-repot, Nak. Baiknya disimpan saja buat tambahan modal,” jawab Cakok Tantowi berbasa-basi.

Begitulah setiap bulannya, tak satu pun amplop yang tiba di tangan Cakok Tantowi dan Gebol Siti, tapi kejadian ini tetap disimpan dengan baik demi terjaganya sebuah keharmonisan rumah tangga.

“Entah, dengan cara apa aku harus berterima kasih padamu. Betapa beruntungnya aku memiliki lelaki sepertimu yang punya hati seluas samudra. Tolong ajarkan kepada anak kita tentang sifat ini,” pinta Gebol Siti malam itu merasa malu atas sikap anak keduanya dari pernikahan pertama.

Cakok Tantowi hanya tersenyum sambil menyeruput teh panas, “Ayo masuk, sepertinya akan turun hujan. Tak baik lama-lama kena angin malam.”

Malam itu Gebol Siti merasa gelisah, sedangkan Cakok Tantowi sudah terlelap dalam mimpi indah. Pikirannya berkecamuk, bolak-balik tetap saja merasa tak nyaman. Miring salah tengkurap apa lagi, hingga seperti ada sesuatu yang menarik kakinya sebelah kiri. Keram, sakit, dan stroke telah menghinggapi tubuh besarnya.

Malam itu juga Cakok Tantowi membawa Gebol Siti ke rumah sakit. Benar, wanita gemuk itu harus rela menjalani hari demi hari dengan menghandalkan organ tubuh sebelah kanan karena sebelah kiri sudah tidak berfungsi lagi.

Menjadi tugas baru bagi Cakok Tantowi. Tiap pagi memandikan sang istri, setelah itu berangkat mencari sesuap nasi. Mengingat sang permaisuri di dalam musibah, dia tak lagi membawa mobil taksi ke ibu kota propinsi, hanya sebatas kabupaten agar lebih cepat pulang ke rumah. Beruntung kedua anak hasil pernikahan mereka sudah bisa mandiri.

Pagi-pagi harus pergi ke pasar pagi untuk membeli sarapan, siangnya lauk siap saji menghias di meja makan, sore pun demikian. Begitulah tanpa henti dan mengeluh. Kadang, kala sore membawa sang istri keliling desa untuk melihat arak-arakan pengantin. Semua demi harapan sebuah kesembuhan. Saat musim kemarau, sekedar menghibur diri, Cakok Tantowi mengajak keluarga kecilnya melihat keindahan danau Teluk Rasau di ujung desa Menang Raya. Riak gelombang, deburan ombak, kicauan burung, dan semilir angin mampu membuat Gebol Siti kembali tersenyum.

“Terima kasih, sayang,” lirihnya dengan bahasa isyarat dan hanya Cakok Tantowi yang bisa mengerti.

Berbulan berlalu, untung tak dapat diraih, malang tak sanggup ditolak. Barab Romi datang membawa Guluk Reno yang juga terkena stroke. Kata dokter, Guluk Reno sering mengkonsumsi alkohol dan obat terlarang. Ia tak sanggup merawat adiknya karena di rumah ia mesti menjaga Monde Dahlan bapaknya yang juga sakit. Apalah daya, Cakok Tantowi rela menerima anak tiri itu. Padahal, bila mengingat perlakuannya selama ini, wajar bila seandainya dia harus menolak. Belum lagi kondisi ekonomi yang kini mulai morat-marit karena lama tak bekerja.

“Masalah ekonomi biar aku yang tanggung, Pak. Mohon dimaafkan kesalahan kami, dan tolong rawatlah Ibu dan Guluk Reno. Kumohon …” ratap Barab Romi dengan derai air mata berharap sungguh-sungguh.

Bagi Cakok Tantowi bukanlah masalah, ia sudah terbiasa merawat orang sakit. Mulai dari rahimahullah bapaknya dulu, kemudian ibunya yang juga sekarang telah tiada, kini sang istri dan satu anak tiri.

Untungnya lagi, seperti sudah diwariskan sifat sang bapak, kedua anak kandung Cakok Tantowi ikut membantu meringankan pekerjaan. Bila si bapak lagi memandikan si ibu dan Guluk Reno, maka mereka berdua memasak air untuk membuat teh, kemudian pergi bersepeda membeli jajanan pagi buat disantap bersama. Kadang mereka berdua membuat pempek godo, pernah juga membuat bingko.

Melihat ketulusan cinta yang dimiliki Cakok Tantowi, Barab Romi merasa terenyuh. Ia teringat atas segala dosa yang telah diperbuat selama ini. Belum lagi kesalahan-kesalahan Guluk Reno yang membuat hatinya bertambah sakit. Sungguh, orang sebaik Cakok Tantowi tidak layak untuk menerima semua itu. Diam-diam, dengan uang yang ada, ia mendaftarkan Gebol Siti dan si bapak tiri untuk berangkat umroh. Berharap agar lelaki tersebut bisa bermunajat di sana, memohon segala kesembuhan untuk ibu dan adiknya.

Di penghujung tahun, sakit Gebol Siti semakin parah hingga harus dirawat di rumah sakit. Dengan sabar, Cakok Tantowi setia menemaninya. Tanpa kenal lelah, siang dan malam ia lakukan apa pun demi kesembuhan orang tercinta. Sampai di akhir sisa tenaga berkorban, Cakok Tantowi harus ikhlas melepas kepergian Gebol Siti untuk selama-lamanya.

Kini, sambil mendorong kursi roda Guluk Reno, ia telah berada di Tanah Suci. Meluruhkan segala air mata, memohon agar diampuni segala dosa, baik untuk dirinya sendiri mau pun untuk orang-orang tersayang yang telah berpulang.

End
Jum’at malam Sabtu, 03 Januari 2020.

Keterangan :
Umak = ibu
Bapak = bapak
Gde jantan = kakek
Gde betino = nenek
Barab = panggilan untuk anak laki-laki atau perempuan tertua (bila sudah punya keponakan menjadi Pak Tuo/Mak Tuo, bila bercucu sebutannya Gde Tuo)
Guluk = panggilan untuk anak laki-laki atau perempuan kedua (bila tua panggilannya Gulu)
Manga = panggilan untuk anak laki-laki atau perempuan ke tiga (panggilan saat masa tuanya menjadi Tenga)
Monde = panggilan untuk anak laki-laki atau perempuan ke empat (bila tua panggilannya menjadi Ndi)
Cakok = panggilan untuk anak laki-laki ke lima (bila sudah tua panggilannya menjadi Jagok)
Gebol = panggilan untuk anak perempuan ke lima (bika tua panggilannya menjadi Gebal)
Gelek = panggilan untuk anak laki-laki ke enam
Koneng = panggilan untuk anak perempuan ke enam
Kote = panggilan untuk anak laki-laki ke tujuh (bila tua panggilannya menjadi Ute)
Kcek = panggilan untuk anak perempuan ke tujuh
Ketom = panggilan untuk anak laki-laki ke delapan (bila tua panggilannya menjadi Itam)
Bulat = panggilan untuk anak perempuan ke delapan
Buntak = panggilan untuk anak laki-laki/perempuan ke sembilan
Uju = panggilan untuk anak laki-laki atau perempuan ke sepuluh
Ujong = panggilan untuk anak laki-laki ke sebelas
Buncit = panggilan untuk anak laki-laki atau perempuan paling bungsu (biasanya setelah ini tidak ada anak lagi)

Views All Time
Views All Time
16
Views Today
Views Today
1

1 COMMENT

LEAVE A REPLY