EFISIENSI WAKTU DAN PENINGKATAN CAPAIAN KOMPETENSI LULUSAN PADA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI TUJUH MARET HADAKEWA MELALUI PENERAPAN KEBIJAKAN PEMBELAJARAN TERPADU

0
6
Oleh : Marselinus Boli
Sesuai PP No 19, tahun 2005, pasal. 26, ayat (1) diharapkan agar, Lulusan pada jenjang pendidikan dasar harus bisa meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, ahklak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Nyatanya sampai akhir tahun 2015 capaian Kompetensi Lulusan (SKL) pada SMP Negeri Tujuh Maret Hadakewa masih jauh di bawah standar (klasifikasi C; nilai capaian 50,85). Menindaklanjuti rekomendasi Tim Penjamin Mutu Internal Sekolah (TPMIS), Musayawarah kerja sekolah menentapkan pembelajaran terpadu sebagai model yang wajib diterapkan. Kepala sekolah mendalami pelaksanaan program melalui Penelitian Tindakan Sekolah (PTS).
Penelitian tindakan ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana dampak positif penerapan kebijakan pembelajaran terpadu terhadap efisiensi waktu tatap muka dan peningkatan capaian kompetensi lulusan pada SMP Negeri Tujuh Maret Hadakewa. Diharapkan hasil penelitian dapat bermanfaat antara lain : Menjadi acuan dalam menetapkan strategi pengembangan sekolah.
Dari hasil analisa data diketahui bahwa ada penghematan waktu tatap muka baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Pada siklus I : Pembelajaran di luar kelas 40%, nilai perbandingan 0,60; pembelajaran di dalam kelas 45,88%, nilai perbandingan 0,54. Sedangkan pada siklus II : Pembelajaran di luar kelas 44%, nilai perbandingan 0,56; pembelajaran di dalam kelas 47,92%, nilai perbandingan 0,52.
Capaian SKL siklus I : di luar kelas diperoleh mean 81,55; standar eror 1,55; standar deviasi 5,63; nilai tertinggi 96,83; nilai terendah 76,67. pembelajaran di dalam kelas, mean 83,66; standar eror 0,74; standar deviasi 4,00; nilai tertinggi 91,50; nilai terendah 78,33. Siklus II : Pembelajaran di luar kelas diperoleh mean 83,31; standar eror 0,81; standar deviasi 4,37; nilai tertinggi 92,67; nilai terendah 77,5. Pembelajaran di dalam kelas, mean 84,99; standar eror 0,67; standar deviasi 3,61; nilai tertinggi 93,33; nilai terendah 79,67. Artinya bahwa ada peningkatan SKL dibanding keadaan sebelum tindakan (50,85).
Apa yang dicapai melalui penelitian ini sesuai dengan pernyataan Aisyah (2008 : 25) bahwa pembelajaran terpadu dapat merangkaikan beberapa ide atau gagasan untuk disajikan dalam waktu bersamaan. Sebagimana Jamaris (2009), belajar jadi lebih bermakna melalui pembelajaran terpadu.
Penerapan kebijakan pembelajaran terpadu pada SMP Negeri Tujuh Maret Hadakewa berdampak positif terhadap efisiensi waktu tatap muka dan peningkatan capaian kompetensi lulusan. Disarankan agar perlu diadakan pelatihan guru terkait pengelolaan pembelajaran terpadu.

Kata Kunci : Pembelajaran Terpadu, Peningkatan SKL
.

PENDAHULUAN

Sesuai Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005, tentang Standar Nasional Pendidikan, pasal 26, ayat (1), standar kompetensi lulusan pada jenjang pendidikan dasar harus bisa meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, ahklak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Mencapai standar ini tentu memerlukan tidak sedikit waktu, menempuh proses yang melibatkan ketrampilan guru dan dukungan sarana prasarana.
Sampai akhir tahun 2015 capaian Kompetensi Lulusan (SKL) pada SMP Negeri Tujuh Maret Hadakewa masih jauh di bawah standar (klasifikasi C; nilai capaian 59,33). Dari hasil analisis Tim Penjamin Mutu Internal Sekolah (TPMIS) ternyata menjadi faktor penghambatnya adalah keterbatasan waktu dan kemampuan pendidik dalam mengelolah pembelajaran. Aktivitas di kelas lebih difokuskan pada aspek pengetahuan saja. Pembelajaran cendrung monoton, kurang memperhatikan cakupan kompetensi lulusan yang mesti dicapai. Atas kenyataan ini tim menyarankan, perlunya upaya memacu pencapaian target SKL melalui latihan ketrampilan guru dan revisi strategi. RPP yang disusun guru harus memperhatikan karakteristik pembelajaran dengan ketrampilan multi dimensi, berwawasan lingkungan hidup, norma agama dan norma sosial.
Menindak lanjut rekomendasi TPMIS, musyawarah kerja pendidik, tenaga kependidikan dan stike holder SMP Negeri Tujuh Maret Hadakewa, tanggal 08 s/d 10 Januari 2016 menetapkan model pembelajaran terpadu sebagai salah satu strategi untuk memacu pencapaian SKL di tahun 2016. Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini dipandang sebagai langkah reflektif atas kebijakan sekolah terkait penerapan model pembelajaran tersebut.
Sebagaimana lampiran Permendikbud RI Nomor 22 Tahun 2016, Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah, penerapan model pembelajaran terpadu termasuk tindakan nyata sekolah dalam mendukung perubahan paradigma pembelajaran dari parsial menjadi terpadu.
Menurut Aisyah (2008:25) Pembelajaran terpadu adalah salah satu pendekatan dalam pembelajaran dengan mengintegrasikan kegiatan yang mewakili semua bidang kurikulum atau bidang-bidang pengembangan yang meliputi aspek kognitif, bahasa, fisik/motorik, seni, sosial, dan sebagainya. Biasanya dijabarkan ke dalam langkah-langkah kegiatan belajar yang berpusat pada satu tema. Oleh Jamaris (2009:27) dikategorikan dalam sistem pembelajaran dengan konsep belajar bermakna yang ditanamkan melalui pengalaman langsung alami. Konsep-konsep tersebut dipelajari secara terpadu. Oleh Forgarty dalam Isjoni, (2007:13), Dikatakan bermakna karena dalam pembelajaran terpadu anak akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka miliki. Dijelaskan Joni dalam Trianto (2014:56), pembelajaran terpadu memungkinkan siswa, baik secara individual maupun kelompok, aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara holistik, bermakna dan otentik.
Sebagaimana lampiran III Permendikbud Nomor 57 Tahun 2014, ada tiga model pembelajaran terpadu yang bisa diterapkan sekolah, yaitu model jaring laba-laba (spider webbed), model terhubung (connected), dan model terpadu (integrated). Ketiga tipe belajar terpadu ini sangat menunjang perubahan paradigma dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju pembelajaran dengan jawaban multi dimensi. Ada keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskills) dan keterampilan mental (softskills).
Yeni Suryaningsih melalui penelitian tentang Implementasi Pembelajaran Terpadu Tipe Shared Untuk Meningkatkan Kecerdasan Spiritual Siswa, menyimpulkan bahwa model pembelajaran terpadu tipe Shared dapat meningkatkan Kecerdasan Spiritual. Model ini baik untuk diterapkan di sekolah (jurnal bio educatio, volume 1, nomor 1, oktober 2016, hlm. 64-71)
Niken Laksitarini, dalam penelitian tentang pengaruh model pembelajaran terpadu dan kemandirian belajar terhadap kemampuan menulis deskripsi menyimpulkan bahwa kemampuan menulis deskrpsi dari siswa yanng diberikan model pembelajaran terpadu (integrated) lebih tinggi dibanding yang diberikan model fragmented. Kelompok siswa berkemandirian belajar baik yang diberikan model pembelajaran integrated memiliki kemampuan menulis deskripsi lebih tinggi dibanding kelompok siswa berkemandirian belajar baik yang diberikan model fragmented (Jurnal Pendidikan Dasar Volume 7 Edisi 2 Desember 2016).
Muhammad Zulkifli, dkk, dalam penelitian tentang Penerapan Model Pembelajaran terpadu untuk mengukur hasil belajar siswa SMP Negeri 3 Palu, menyimpulkan bahwa model pembelajaran terpadu baik tipe integrated, maupun tipe conected dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Meski demikian tipe integrated yang menghubungkan konsep-konsep antara lebih dari satu mata pelajaran memiliki wawasan lebih luas, penggunaan waktunya pun lebih efisien (Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Vol. 4 No. 1 ISSN 2338 3240)
Penelitian tindakan ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana dampak positif penerapan kebijakan pembelajaran terpadu terhadap efisiensi waktu tatap muka dan peningkatan capaian kompetensi lulusan pada SMP Negeri Tujuh Maret Hadakewa. Diharapkan hasil yang diperoleh bisa bermanfaat, antara lain : Menjadi acuan dalam menetapkan strategi pengembangan sekolah, meningkatkan ketrampilan guru dalam menyajikan pembelajaran dan rasa empati siswa terhadap pembelajaran.

METODE

Penelitian ini merupakan sebuah tindakan reflektif sekolah atas penerapan program pembelajaran terpadu. Prosesnya berlangsung dalam dua siklus, masing-masing siklus menempu tahapan : 1) Perencanaan (planning), 2) Tindakan (acting), 3) Refleksi (reflecting). Siklus pertama dilaksanakan dari bulan Juli sampai Desember 2016, sedangkan siklus kedua bulan Juli sampai Desember 2017.
Lokasi penelitian SMP Negeri Tujuh Maret Hadakewa, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sasaran penelitiannya siswa kelas VIIA tahun pelajaran 2016/2017, siswa kelas VIIIA tahun pelajaran 2017/2018, guru mata pelajaran Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial.
Variabel-variabel penelitian : 1) Variabel tindakan : Penerapan kebijakan pembelajaran terpadu; 2) Variabel masalah : Efisiensi waktu tatap muka dan capaian kompetensi lulusan pada SMP Negeri Tujuh Maret Hadakewa.
Indikator penelitian meliputi : 1) Efisiensi waktu tatap muka yang diukur dari perbandingan antara waktu penyajian ril dengan waktu yang ditetapkan dalam dokumen silabus mata pelajaran. 2) Capaian kompetensi lulusan, sub kompetensi : a) Sikap spiritual yang diukur dari nilai pengamatan atas sub unsur memulai dan mengakhiri kegiatan dengan doa; mengucapkan salam kepada guru dan tamu yang mengunjungi kelas; b) Sikap sosial yang diukur dari nilai pengamatan atas sub unsur jujur dalam mengerjakan tugas, menerima risiko atas tindakan dan meminta maaf atas kekhilafan; peduli sesama teman dan peduli lingkungan; gotong royong dalam aktifitas diskusi; percaya diri dalam mempresentasikan hasil diskusi, mengajukan dan menjawab pertayaan; c) Sikap pembelajar sejati yang diperoleh dari hasil penilaian atas karya yang berhubungan dengan literasi; d) pengetahuan yang diukur dari hasil uji kompetensi pengetahuan; e) Ketrampilan berpikir yang diukur dari nilai pengamatan ketrampilan berpikir kreatif ; f) Ketrampilan bertindak yang diukur dari nilai pengamatan ketrampilan bertindak secara mandiri. Data hasil pengukuran dan pengamatan diolah dengan metode descriptive statistic.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil monitoring dan supervisi yang dilakukan kepala sekolah selama semester genap tahu pelajaran 2015/2016, diketahui bahwa waktu tatap muka minimal sesuai kalender pendidikan selalu tidak cukup untuk mata pelajaran seperti IPA, IPS, Matematika, Bahasa Inggris dan PKn. Ada pokok kajian dari masing-masing mata pelajaran tersebut memiliki kemiripan dan saling terkait. Dalam satu perioda pembelajaran (semester) selalu ada keluhan guru soal kekasiban waktu dan banyak tunggakan materi yang tidak bisa diselesaikan. Capaian SKL pada akhir tahun 2015 sebesar 50,85.
Pada tahap perencanaan tindakan siklus pertama diadakan diskusi terbatas antara kepala sekolah dengan guru mata pelajaran sasaran. Hasil kesepakatan dari diskusi tersebut antara lain : 1) Menetapkan pembelajaran terpadu tipe integrated sebagai model; 2) Menetapkan area luar kelas dan dalam kelas sebagai jalur penerapan model; 3) Menetapkan model diskusi dan seminar sebagai pendekatan untuk jalur dalam kelas; 4) Menetapkan model penjelajahan dengan permainan game hunian baru sebagal pendekatan untuk jalur luar kelas.
Ketika pelaksanaan pada siklus pertama teridentifikasi bahwa Kemampuan individu anggota kelompok termasuk faktor yang turut mempengaruhi capaian prestasi kelompok. Dengan demikian maka pemerataan kemampuan antara upper, lower dan medial pada setiap kelompok perlu diperhatikan supaya bisa diminimalisir kesenjangan prestasi antar kelompok. Tindakan ini termasuk bagian yang direvisi pada siklus kedua.
Khusus untuk pembelajaran di luar kelas bentuk permainan edukatif perlu di sesuaikan lagi jumlah dan relevansinya. Hal ini mengingat ketersedian waktu dan kesinambungan nalar antara model permainan dengan materi yang sedang dipelajari. Permainan edukatif termasuk bagian yang direvisi pada pembelajaran di luar kelas siklus kedua.
Setelah pengamatan dan analisa data diketahui bahwa, ada penghematan waktu tatap muka baik di dalam maupun di luar kelas. Pada siklus I : Pembelajaran di luar kelas 40%, nilai perbandingan 0,60; pembelajaran di dalam kelas 45,88%, nilai perbandingan 0,54. Sedangkan pada siklus II : Pembelajaran di luar kelas 44%, nilai perbandingan 0,56; pembelajaran di dalam kelas 47,92%, nilai perbandingan 0,52. Dari nilai perbandingannya maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran terpadu berdampak positif terhadap efisiensi waktu tatap muka.

Gambar 1. Grafik perbandingan waktu normal dengan waktu realisasi

Menurut Aisyah (2008 : 25) pembelajaran terpadu dapat merangkaikan beberapa ide atau gagasan untuk disajikan dalam waktu bersamaan. Cara ini tentu lebih menghemat waktu dibanding penyajian terpisah-pisah.
Hasil dekriptif statistik untukcapaian SKL sebagai berikut : Putaran pertama pada pembelajaran di luar kelas diperoleh mean 81,55; standar eror 1,55; standar deviasi 5,63; nilai tertinggi 96,83; nilai terendah 76,67. Sedangkan pembelajaran di dalam kelas, mean 83,66; standar eror 0,74; standar deviasi 4,00; nilai tertinggi 91,50; nilai terendah 78,33. Putaran krdua pada pembelajaran di luar kelas diperoleh mean 83,31; standar eror 0,81; standar deviasi 4,37; nilai tertinggi 92,67; nilai terendah 77,5. Pada pembelajaran di dalam kelas, mean 84,99; standar eror 0,67; standar deviasi 3,61; nilai tertinggi 93,33; nilai terendah 79,67. Artinya bahwa ada peningkatan SKL dibanding keadaan sebelum tindakan. Sebaran mien berada pada kategori B. Simpangan baku terhadap mean dari masing-masing kategori relatif sama.

Gambar 2. Grafik capaian SKL siklus I dan II

Melihat standar erornya tingkat akurasi sampel pada siklus II dikatakan lebih baik dibanding siklus I. Kenyataan ini menunjukan bahwa ada pengaruh revisi tindakan, khususnya dalam mekanisme pembentukan kelompok belajar baik di luar maupun di dalam kelas dan pemilihan model permainan edukatif saat penyajian melalui kema pembelajaran.
Meningkatnya capaian nilai pada semua sub kompetensi menunjukan bahwa tindakan pembelajaran terpadu berdampak positif terhadap capaian SKL. Hal ini sejalan dengan pemikiran Jamaris (2009), bahwa pembelajaran terpadu memberikan konsep belajar bermakna yang diperoleh melalui pengalaman langsung. Oleh Rusman (2013) belajar bermakna itu timbul karena adanya aktifitas mengkaji hubungan antar konsep yang telah mereka pahami. Menurut Kemdikbud (2014: 15) Pembelajaran terpadu adalah roh kurikulum 2013. Salah satu model pembelajaran efektif, karena dianggap mampu mewadahi dan menyentuh secara terpadu dimensi emosi, fisik, dan akademik peserta didik di dalam kelas atau di lingkungan sekolah.

PENUTUP

Dari hasil analisa data dan pembahasannya dapat disimpulkan bahwa penerapan kebijakan pembelajaran terpadu pada SMP Negeri Tujuh Maret Hadakewa berdampak positif terhadap efisiensi waktu tatap muka selama tahapan proses dan peningkatan capaian kompetensi lulusan.
Untuk mendorong naik kwalitas pembelajaran disarankan kepada sekolah supaya menyelenggarakan pelatihan ketrampilan guru dalam mengelolah pembelajaran terpadu. Penelitian ini tidak bersifat final, oleh karena itu perlu didalami lagi melalui penelitian korelasional.

DAFTAR PUSTAKA
Aisyah, Siti dkk. (2008). Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Universitas Terbuka

Arikunto, Suharsimi. (2010). Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Asep Hernawan, Novi Resmini, Andayani. 2012. Pembelajaran terpadu di SD, Jakarta Universitas Terbuka.

Julianto. (2010). Kajian Teori dan Implementasi Model Pembelajaran Terpadu Dalam Pembelajaran Di Kelas. Surabaya: Unesa University Press.

Kemendikbud. (2014). Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013 Tahun 2014. Jakarta: Kemendikbud.

Laksitarini Niken, Pengaruh Model Pembelajaran Terpadu dan Kemandirian Belajar Terhadap Kemampuan Menulis Deskripsi, Jurnal Pendidikan Dasar Volume 7 Edisi 2 Desember 2016.

Nur, Mohamad. (2003). Pemotivasian Siswa Untuk Belajar. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya (Pusat Sain dan Matematika Sekolah).

Suryaningsih Yeni, Implementasi Pembelajaran Terpadu Tipe Shared Untuk Meningkatkan Kecerdasan Spiritual Siswa, jurnal bio educatio, volume 1, nomor 1, oktober 2016.

Zulkifli Muhammad, dkk, Penerapan Model Pembelajaran terpadu untuk mengukur hasil belajar siswa SMP Negeri 3 Palu, Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Vol. 4 No. 1

Views All Time
Views All Time
27
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY