Enam Catatan, Refleksi Hari Guru Nasional Tahun 2019

0
58

Enam Catatan, Refleksi Hari Guru Nasional Tahun 2019

Edy Siswanto*

Hari ini tepat tanggal 25 Nopember 2019. Diperingati Hari Guru Nasional (HGN). Sering disebut hari lahir organisasi profesi (orprof) besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang ke-74. Sekalipun penyebutan ini ada penentangan.

HGN tahun ini lekat dengan “new hope” (harapan baru). Dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) termuda sepanjang sejarah Mas Nadiem. Diharap mampu “merubah lompatan besar” arah dan paradigma baru pendidikan Indonesia.

Tema HGN tahun 2019 adalah “Guru Penggerak Indonesia Maju”. Tema dipilih mengingat tantangan pendidikan di abad XXI semakin berat. Hal ini meniscayakan peningkatan profesionalisme menyangkut sikap mental dan komitmen para guru “sebagai garda terdepan” pendobrak dan perubah kemajuan Indonesia.

Setiap kali memperingati HGN selalu diingatkan. Momentum instropeksi diri untuk senantiasa meningkatkan kualitas dan profesionalisme. Menjadi bahan tema setiap tahunnya. Peringatan hari HGN bukan hanya seremonial belaka.

Membicarakan kemajuan pendidikan tak bisa lepas dari guru. Guru tak bisa lepas dari aturan dan regulasi pemerintah (bangunan sistem). Termasuk organisasi profesi (orprof) guru yang menaunginya.

Setidaknya ada enam catatan khususnya masalah orprof guru. Untuk bahan renungan bersama.

Pertama, kesolidan orprof guru yang ada. Munculnya peraturan dalam UU Guru/Dosen. Disatu sisi memberi kebebasan guru berserikat memilih orprofnya. Namun disisi lain “belum siapnya” guru berserikat dalam arti sinergi menjaga bersama kemajuan organisasinya. Masih terlihat jalan sendiri belum ada sinergi antar orprof.

Guru diwajibkan berhimpun dalam salah satu orprof. Sesuai edaran Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK). Ada enam orprof yang diakui pemerintah. Pemikiran orprof besar menjadi pelindung pengayom bagi orprof “spesialis” lain belum bisa dilaksanakan.

Anggapan orprof guru disamakan dengan semisal “orprof dokter” belum semuanya menerima. Berbeda kondisi dan keadaannya. Mesti bisa jalan sinergis membantu dan mengisi kekurangan dan kelebihannya masing-masing.

Kedua, landasan orprof guru. Amanat UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mewajibkan guru untuk membentuk dan berpartisipasi dalam organisasi guru. Dimana Orprof guru berfungsi untuk memajukan profesi, meningkatkan kompetensi, karier, wawasan kependidikan, perlindungan profesi, kesejahteraan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Kecenderungan sinergi antar Orprof mutlak diperlukan. Karenanya orprof tidak bisa sendirian bekerja diperlukan sinergi. Ada orprof yang cenderung pada peningkatan kompetensi anggotanya. Ada yang kesejahteraan anggotanya. Ini mesti bisa berjalan bersama bukan sebagai pesaing.

Pertanyaannya sudahkah guru sadar untuk melibatkan diri dalam orprof, dan sejauh mana orprof guru dapat meningkatkan kompetensi, mengayomi, memberdayakan dan melindungi anggotanya?

Di negara maju orprof guru yang kuat dan mapan akan memiliki “bargaining position” yang kuat terhadap pemerintah. Sebuah keharusan orprof guru kuat keberadaan guru menjadi “aset” yang diperhitungkan-dihargai oleh pemerintah. Bukan terkesan “ekploitasi” kepentingan sesaat politik tertentu.

Ketiga, manajemen organisasi”. Idealnya organisasi guru yang ada selain mampu menjaga dan meningkatkan kompetensi guru, harus mampu menyusun, menetapkan dan menegakkan kode etik guru, memberikan bantuan hukum kepada guru, memberikan perlindungan profesi guru, melakukan pembinaan, dan memajukan pendidikan nasional.

Perubahan “zaman now” berujung terjadinya perubahan paradigma pendidikan nasional. Menempatkan guru sebagai “makhluk” yang dituntut profesional, dan ke-profesionalan guru harus didukung dengan orprof yang profesional pula.

Modernisasi orprof sebuah keharusan. Orprof modern saat ini tidak lagi mengutamakan kuantitas anggota namun fokus terhadap kualitas anggotanya. Orprof harus mampu menjadi dan dijadikan wadah pengembangan anggota. Kesadaran anggota terhadap pentingnya orprof tersebut, menuntunnya masuk dan mengembangkan diri dalam organisasi tersebut.

Namun, jika yang terjadi sebaliknya, anggota orprof merasakan kurang ada manfaatnya menjadi anggota orprof. Maka tinggal menunggu waktu. Organisasi tersebut pelan-pelan ditinggalkan. Dalam arti jika organisasi terlihat “melempem” tak mampu menghadirkan aktifitas organisasi yang bermakna.

Tidak mampu menggali dan menemukan momentum yang berharga bagi komunitas profesi, serta selalu ketinggalan dalam aksinya, maka itu ciri organisasi yang “wujudihi kaa adamihi” ada dan tidak adanya sama saja, laa ya mutu wala Yahya (hidup segan mati tak mau).

Wajar ditinggalkan anggotanya, meskipun pada kenyataannya tidak ada satu orang anggota pun yang nyata mengundurkan diri secara tertulis.

Organisasi guru harus mampu menjadi tempat mengadu dan meminta perlidungan jika merasa kegiatan profesinya terkendala. Organisasi guru juga harus mengembangkan kualitas diri dan wawasan guru dengan cara-cara yang profesional.

Organisasi guru harus menghindari pemanfaatan organisasi untuk hal-hal yang berhubungan dengan politik machefelis (kekuasaan sesaat) yang tidak profesional.

Keempat, kembalikan pengurus orprof ke guru, mengharapkan para pengurus orprof adalah guru. Bukan dari pejabat atau birokrat pendidikan. Pengurus mesti punya kepekaan dalam menyadari tuntutan anggotanya.

Banyaknya permasalahan yang dihadapi guru saat ini, baik langsung maupun tidak langsung. Perlu pembenahan dan regulasi orprof guru.

Seringnya guru menghadapi kendala dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab profesinya harus menjadi perhatian dari orprofnya.

Tak bisa dibiarkan guru tak leluasa (ketakutan) dalam mendidik atau mengajar dalam kelasnya sendiri. Lebih parah lagi jika guru telah meninggalkan jiwa profesionalismenya karena merasa tak dihargai. Kasus-kasus guru yang dilaporkan ke pihak berwajib karena persoalan “melanggar UU Perlindungan Anak” atau UU HAM mutlak menjadi agenda advokasi orprof guru.

Urusan dengan pihak berwajib tentu mengganggu aktifitas profesinya sebagai guru. Orprof gurulah yang semestinya menjadi tempat “mengadu” dan meminta perlidungan sehingga guru tidak terbebani harus berhadapan dengan pihak berwajib.

Apalagi, persoalan yang banyak muncul sangat dimungkinkan untuk diselesaikan secara kekeluargaan. Tentu akan sangat elegan jika orprof guru menfasilitasi MOU dengan pihak berwajib (kepolisian) dengan penyelesaian di internal dalam orprof guru. Baik dalam pelaporan masyarakat maupun penyelesaian permasalahan.

Kelima, masih lemahnya daya tawar “posisi” guru. Orprof guru seharusnya berdiri tegak seperti organisasi profesi yang lainnya. Yang mampu bersuara lantang jika profesi guru di caci dan dihina. Mampu sebagai rumah yang asri sebagai wadah guru untuk membangun profesionalisme diri. Mampu membangkitkan semangat guru, sadar akan marwah dan martabatnya sebagai seorang guru yang mencintai profesinya.

Orprof guru harus mampu meningkatkan daya tawar seluruh komponen guru didepan pemerintah, sehingga tak ada lagi mutasi cacat hukum, pemecatan sepihak, maupun diskriminasi terhadap guru.

Keenam, beratnya beban tugas guru. Seperti dalam naskah teks pidato Medikbud Nadiem yang viral. Alih-alih guru berhimpun berserikat memikirkan nasib profesinya.

Yang terjadi waktu guru habis terkuras. Banyak tugas-tugas administratif, kewajiban mengejar penilaian angka kredit, serta kurikulum yang terlalu padat hingga guru sulit berinovasi dalam proses belajar mengajar.

Disisi lain beban guru dalam urusan adminsitratif masih terlihat dari kewajiban untuk menyusun Rencana Pelaksanaan Pelajaran (RPP). Guru harus merinci bagan pembelajaran tatap muka untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran siswa dalam upaya mencapai Kompetensi Inti/Dasar seperti diamantkan Permendikbud nomor 65 tahun 2013. Ini yang “dianggap” membuat guru “terbelenggu” belum bisa merdeka.

Sebagai salah satu faktor strategis, guru menentukan keberhasilan pendidikan. Peletak dasar serta turut mempersiapkan pengembangan potensi siswa untuk masa depan bangsa.”

Momentum HGN tahun 2019 ini harus dijadikan kesadaran dan kepekaan tinggi segenap pengurus dan anggotanya janganlah sia-siakan amanah sebagai guru. Janganlah dijadikan kepentingan sesaat politik tertentu yang haus “kekuasaan” untuk menggapai dan mengamankan jabatan birokrasi pendidikan, sehingga organisasi guru hanya dijadikan “komoditas”.

Sudah saatnya duduk bersama dan bergandengan tangan mengubah mindset dalam mengurusi orprof guru.

Dibutuhkan orang-orang visioner untuk mengurusi guru yang semakin hari tantangannya semakin berat. Orang-orang yang peka terhadap “derita” dan kemauan rekan seprofesinya. Mengerti dibawah kesulitan guru sampai kesejahteraan guru terutama guru tidak tetap (GTT)/honorer.

Momentum HGN tahun ini bukanlah seremonial belaka, tidak boleh lewat begitu saja. Tanpa ada komitmen guru melakukan perubahan terhadap organisasi yang “melempem” tadi. Jika guru masih mencintai organisasinya. Maka guru harus mau turut dalam usaha memperbaiki orprofnya.

Orprof guru adalah dari, oleh, dan untuk guru. Semoga guru diperhatikan dan sejahtera menjadikan anak didik merdeka. Penebar virus kebenaran dan solusi problem bangsa..Selamat Hari Guru 2019!!!

#merdekabelajar #gurupenggerak # indinesiamaju

* : Penulis adalah pemerhati pendidikan, tulisan pendapat pribadi.

Views All Time
Views All Time
31
Views Today
Views Today
1
Previous articleUpacara HGN Ke 25 MTsN 3 Mataram
Next articleGuru dan Sebuah Dilema Masa Depan Bangsa
Edy Siswanto, S.Pd., M.Pd., Pemerhati Politik dan Pendidikan, Guru SMK Negeri 4 Kendal Jawa Tengah. Lahir di Pemalang, 28 Oktober 1976. Lulus terbaik S1 Teknik Mesin Univet Semarang, tahun 2000. Lulus Cumlaude Pascasarjana S2 Manajemen Pendidikan Unnes Semarang, tahun 2009. Saat kuliah kegiatan aktivisnya berkembang. Pengalaman organisasi semasa kuliah. Berturut-turut : Menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Teknik Mesin tahun 1997-1998. Tercatat pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa di Fakultasnya tahun 1998-1999. Seiring bergulirnya reformasi pada tahun1998, aktif di organisasi mahasiswa Islam baik intra maupun ekstra kampus. Di Semarang turut membidani kelahiran Forum Kajian dan Studi Islam Aktual Strategis Semarang. Ikut serta melibatkan, mengorganisir gerakan aktivis kampus kala itu. Bersama lembaga mahasiswa ekstra kampus. Karenanya diskusi pemikiran dan Kajian keislaman menjadi santapan sehari-hari. Pengalaman pekerjaan sebagai Guru Teknik Mekanik Otomotif Kendaraan Ringan (TKRO) sejak tahun 1998 sampai sekarang. Dilaluinya penuh keprihatinan dengan jualan Koran, Majalah Forum Keadilan, Tempo dan Tabloid Adil saat itu. Mulai menulis sejak tahun 2001. Dengan dimuat di opini Harian Jawa Pos. Karenanya bacaan dan bahasan politik tak pernah asing. Dengan mengajar di berbagai SMK. Sejak tahun 1998-2000, Sebagai Guru Teknik Mekanik Otomotif Kendaraan Ringan SMK IPTEK Tugu Suharto Semarang. Tahun 2000-2003, Guru Teknik Mekanik Otomotif Kendaraan Ringan SMK Pondok Modern Selamat Kendal. Tahun 2003-2008, Guru Teknik Mekanik Otomotif Kendaraan Ringan SMK Bina Utama Kendal. Tahun 2008-sekarang, Guru Teknik Mekanik Otomotif Kendaraan Ringan SMK Negeri 4 Kendal. Tahun 2010-2015, sebagai Ketua PGRI Ranting SMKN 4 Kendal. Tahun 2012-sekarang, sebagai Ketua Komite Sekolah SDIT Alkautsar Sidorejo Brangsong Kendal. Tahun 2015-2020, sebagai Wakil Ketua PGRI Cabang Brangsong Kabupaten Kendal. Tahun 2016-2021, sebagai Ketua Bidang Organisasi Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Kendal. Tahun 2013-2017, Dosen Metodologi Penelitian dan Penulisan Karya Tulis Ilmiah Populer Universitas Ivet Semarang. Tahun 2017-2019, sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMK Negeri 4 Kendal. Tahun 2017-2022, Sebagai Ketua MGMP Teknik Kendaraan Ringan Otomotif (TKRO) SMK Kabupaten Kendal. Tahun 2017-2022, sebagai Ketua Guru Pembelajar Online TKRO SMK Kabupaten Kendal. Tahun 2017-2022, sebagai Direktur BUMDes Pangestu Hayati Desa Kertomulyo Brangsong Kendal. Tahun 2018-2021, sebagai Humas Asosiasi Guru Penulis (AGP) Kabupaten Kendal. Tahun 2018-sekarang, sebagai Kolumnis "Opini untukmu Guruku" Harian Jawa Pos Radar Semarang, wilayah Kendal. Tahun 2019-2024, Ketua Bidang Dakwah dan Kajian Alqur'an, Yayasan Majelis Taklim Pengkajian Alqur'an Husnul Khatimah Kendal. Beberapa tulisan artikel dan opini seputar politik dan pendidikan. Banyak dimuat diharian online maupun offline. Seperti Jawa Pos Radar Semarang, LPMP Jateng, Blog.IgI.or.id, gurusiana.id. Buku yang sudah ditulis, "Bunga Rampai Pemikiran Pendidikan" Penerbit MediaGuru Surabaya, tahun 2018. Buku yang lain dalam proses : "Guru Membangun Paradigma Berfikir" (on proses), "Smart School dan Sekolah Unggul" (on proses), "Pembelajaran Berbasis STEM" (on proses). "Membangun Kinerja Team Work yang Kuat" Tinggal di Kendal dengan satu istri dan tiga anak. Bisa dihubungi di HP. 081215936236 dan Facebook Edy Siswanto ; edysiswanto.gurusiana.id ; kurikulumedysiswanto atau email siswantoedy1976@gmail.com; myazizy_2008@yahoo.co.id ; tweeter : Edy Siswanto ; IG : Siswanto Edy

LEAVE A REPLY