ERA INDUSTRI 4.0 DAN PEMBELAJARAN ABAD 21

0
40

Tantangan dunia pendidikan dari tahun ke tahun semakin banyak dan komplek. Perubahan regulasi dan kebijakan dalam bidang pendidikan menjadi tantangan tersendiri bagi kalangan pendidik dan praktisi pendidikan di lapangan, seperti kebijakan ‘Merdeka Belajar’ yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan  Nadiem Anwar Makarim pada akhir-akhir ini. Sektor pendidikan yang menjadi ujung tombak dalam mewujudkan tujuan nasional sebagaimana diamanatkan Pembukaan UUD 1945, mencerdaskan kehidupan bangsa, perlu mendapatkan perhatian serius dalam menghadapi era industri 4.0.

Pada sisi lain, pendidik dan praktisi pendidikan juga sedang menghadapi tantangan yang terus menerpa mereka dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari. Sementara itu, metode pembelajaran yang mereka kelola selama ini juga mendapat banyak kritikan dari berbagai kalangan, karena pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik tersebut masih dianggap belum mampu mengantisipasi perkembangan era industri 4.0. Pembelajaran masih bersifat ‘tradisional’ dan kurang memberikan ruang kepada peserta didik dengan mengambangkan kemampuan mereka dalam pembelajaran yang bersifat 4 C, Comunikatif, Collaboratif, Critical Thinking, Creatif.

Selain merubah pola pembelajaran yang bersifat mendasar dilakukan oleh pendidik, penataan ruangan belajar juga perlu mendapat perhatian untuk dilakukan perubahan. Perubahan itu tidak mesti dengan menggunakan biaya yang relatif mahal, namun adanya perubahan tata ruang kelas diharapkan apat meningkatkan motivasi dan semangat belajar peserta didik.  Namun demikian, dalam menghadapi era industri 4.0 patut pula diperhatikan penataan kelas yang mendukung dan memberikan gambaranakan sebuah kelas yang membuat pendidik dan peserta didik tidak tertinggal jauh dari abad 21.

Ciri –ciri pembelajaran abad 21 yang mendukung proses pemahaman peserta didik dalam menghadapi tantangan era industri 4.0 dengan menerapkan pola atau metode pembelajaran 4C. Pembelajaran abad 21 secara sederhana diartikan sebagai pembelajaran yang memberikan kecakapan abad 21 kepada peserta didik, yaitu 4C yang meliputi: (1) Communication (2) Collaboration, (3) Critical Thinking and problem solving, dan (4) Creative and Innovative. Berdasarkan Taksonomi Bloom yang telah direvisi oleh Krathwoll dan Anderson, kemampuan yang perlu dicapai siswa bukan hanya LOTS (Lower Order Thinking Skills) yaitu C1 (mengetahui) dan C-2 (memahami), MOTS (Middle  Order Thinking Skills) yaitu C3 (mengaplikasikan) dan C-4 (mengalisis), tetapi juga harus ada peningkatan sampai HOTS (Higher Order Thinking Skills), yaitu C-5 (mengevaluasi), dan C-6 (mengkreasi).( Kompasiana.com/idrisapandi/5b8e7fcd12ae9436241aabf5/mewujudkam-pembelajaran-abad-21-dan-hots-melalui-penguatan-keterampilan-proses-guru-dalam-pbm?page=all).

Salah satu solusi alternatif dalam pembelajaran menghadapi era industri 4.0 yang menerapkan  model STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics). Dalam pelaksanaannya, kurikkulum robotika menerapkan pula kegiatan pembelajaran dengan menggunakan peserta didik lainnya sebagai tutor sebaya.  STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematic) adalah pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan antara pengetahuan alam, teknologi, mesin dan matematika dalam satu pengalaman belajar siswa.
Ketepatan dalam memilih dan menyajikan materi pembelajaran saat ini menjadi kunci keberhasilan tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan, oleh sebab itu STEM merupakan pendekatan yang mampu menjawab tantangan tersebut

Penerapan pendekatan STEM dalam pembelajaran dewasa ini sangat sesuai dengan tuntutuan kompetensi abad 21 dan dalam rangka menjawab tantangan menghadapi revolusi industri 4.0, oleh karena itu gabungan antara pengetahuan (Science), keterampilan mendesain sebuah karya (Engineering) dan menyusunnya secara sistematis dan logis (Mathematic) dapat digunakan untuk menjawab masalah dalam kehidupan sehari – hari dengan memanfaatkan kemajuan teknologi saat ini.( https://www.haloprofesi.com/2019/03/pengertian-dan-penerapan-stem-dalam.html).

Pembelajaran abad 21 memang banyak menuntut banyak perubahan seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat pesat dan perubahannya pun dalam hitungan detik.  Dalam seminar kurikulum robotika yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tanah Laut, Kalimantan Selatan, Jumat (14/2/2020), Timotius  Theopelus, ST,MCSE  dari Axioo Class Program-Bandung selaku pemateri mengutip pernyataan Thomas  Murray ( State and District Digital Learning Policy anda Advocacy Director for Alliance Education, mengatakan bahwa banyak sekolah masih mengajar para anak abad 21 dengan metode dari abad ke-19.

Views All Time
Views All Time
20
Views Today
Views Today
1
Previous articleKOMPETISI ROBOTIK MUDA TANAH LAUT
Next articlePENGERTIAN PENDIDIKAN INKLUSIF
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY