Fenomena “Prank” dan Tantangan Dunia Pendidikan Di Era Revolusi Industri 4.0

0
26

Terjadinya fenomena marak “Prank” saat ini memberikan dampak yang luar biasa bagi dunia pendidikan saat in terutama di era revolusi industri 4.0. Peristewa Prank yang berujung maut yang terjadi kemaren (24/02/2020) di Kolunprogo, DIY merupakan sebuah pelajaran  yang harus disikapi oleh kita para orangtua, guru dan pemerintah.

Lalu apa yang dimaksud dengan “Prank” dan apa saja penyebab terjadinya prank ini?

Prank adalah kosakata bahasa inggris yang artinya olok-olokan, lelucon, gurauan. Saat ini prank ini menjadi fenomena yang mewabah di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Di tengah kepenatan yang ada, hadirnya prank dianggap sebagai sebuah penyegaran dari kepenatan tersebut.

Konten-konten prank pun banyak dibuat oleh para youtubers demi menarik banyak likers dan subscriber. Dan memang faktanya, konten prant selalu menjadi trending di youtube. Menandakan konten lucu-lucuan memang dicari oleh banyak orang. Akhirnya berbagai konten prank pun membanjiri laman youtube masa kini. Mulai dari yang bercanda ala kadarnya hingga berlebih-lebihan, bahkan sampai menyakiti orang lain.

Sebagai muslim tentu kita tidak boleh menelan bulat-bulat segala sesuatu yang sedang trend. Karena sejatinya seorang muslim terikat dengan hukum syara. Maka mengikuti trend semata, tanpa memahami esensinya, bisa jadi akan menjerumuskan pada perbuatan sia-sia bahkan mengundang laknat.

Ada beberapa hal yang harus kita soroti dari fenomena prank tersebut. Di antaranya pertama, konten bohong. Banyak di antara para youtubers yang mengunggah konten prank dengan kebohongan. Misalnya mengaku hamil di depan ibunya, sehingga membuat ibunya kaget dan sedih. Bahkan ada yang sampai ingin di usir dari rumah. Ada juga yang pura-pura jatuh sampai berdarah-darah, pura-pura memakai narkoba. Dll.

Dalam pandangan Islam jelas kebohongan-kebohongan seperti itu tak dapat dibenarkan. Islam melarang kita berbohong meski hanya bercanda.

Rasulullah saw bersabda: “Celakalah orang yang berbicara, padahal ia berbohong untuk sekedar membuat orang-orang tertawa, celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Kedua, mengumbar kemesraan suami istri. Ada banyak konten istri menge-prank suaminya atau sebaliknya. Salah satu prank yang dibuat adalah istri meminta berhubungan seksual pada suaminya. Padahal suaminya sedang lelah. Ketika suaminya sudah mau, istri pun memberi tahu bahwa itu hanya prank. Sang suami pun sangat malu dibuatnya. Jelas yang demikian adalah hal yang tidak pantas untuk dipertontonkan ke publik.

Ketiga, aktivitas kesia-siaan alias tidak bermanfaat. Sebagian besar prank hanya memuat konten lucu-lucuan dengan dalih hiburan. Namun sayangnya tidak terdapat unsur edukasi sedikitpun di dalamnya. Lantas untuk apa? dan bagaimana tugas guru dalam hal ini di dunia pendidikan jaman sekarang.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu cepat dan mendasar. Dengan kondisi ini pendidik harus bisa menyesuaikan diri dengan responsif, arif, dan bijaksana. Disini pendidik harus bisa meningkatkan proses belajar mengajar yang dilakukan agar peserta didik tidak ketinggalan zaman. Apalagi pada Era Zaman Now ini pendidik, peserta didik, dan pendidikan di era ini harus menyesuaikan dengan tantangan globalisasi agar tidak ketinggalan zaman dan terus berkarya guna menghasilkan anak-anak bangsa yang cerdas dan terampil.

Disamping itu, tantangan yang sangat berat adalah pembentukan karakter anak didik yang memiliki kepribadian dan akhlak mulia serta tidak sembarang dalam prilakunya, seprti berprilaku yang tidak senonoh dan membahayakan orang lain dan teman sekitarnya seperti membuat perilaku prank untuk mengerjai dan menjahili temannya.

Menghadapi tantangan demikian, maka diperlukan pendidik yang profesional. Guru yang profesional akan tercermin dalam pelaksanaan pengabdian tugas-tugas yang ditandai dengan keahlian baik dalam materi maupun metode. Guru profesional hendaknya mampu memikul dan melaksanakan tanggung jawabnya dalam melaksanakan tanggung jawabnya dalam melaksnakan tanggung jawab terhadap peserta didik, orang tua, masyarakat, bangsa maupun negara. Jadi untuk itu pendidik haruslah selalu tetap melaksanakan tugasnya dengan baik dan berkarya agar peserta didik khususnya di Negara kita ini Indonesia  menjadi peserta didik yang lebih baik lagi dan tidak ketinggalan zaman agar negara kita Indonesia ini tetap berjaya dan mampu menghadapi tantangan-tantangan yang akan terjadi dari masa yang akan datang.

 

Views All Time
Views All Time
20
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY