Filosofi Santan

4
161

Ketika seseorang merasakan betapa hidupnya mengalami kesulitan dan kesusahan bertubi-tubi. Selesai satu permasalan muncul permasalahn yang lain. Seolah-olah tidak ada habisnya, padahal kita ingin berproses menjadi lebih baik. Apalagi hingga kita merasa pada kondisi titik terendah dalam kehidupan. Berbahagialah, selama kita mengambil tindakan-tindakan yang tidak menyimpang. Yakinlah ini adalah bentuk kasih sayang dari Allah kepada kita.

Sekiranya Allah tidak menyayangi kita, boleh jadi kita dibiarkan begitu saja, tidak diberikan ujian apa-apa. Salah-benar yang kita lakukan, kehidupan kita lurus-lurus saja, mulus tanpa ganjalan. Mungkin ini justru bentuk kita ‘dicuekin’ Allah.

Allah memberikan ujian itu untuk menaikkan level kualitas kita. Agar kita menjadi jauh lebih baik dan jauh lebih hebat. Bukankah dalam ujian itu kita akan mendapatkan ilmu yang ‘mengayakan’ kita.

Coba lihatlah perjalanan santan. Tahu kan, santan? rasanya gurih, kalau dicampur ke makanan akan menjadikan lezat makanan itu. Yang jarang kita sadari adalah bagaimana proses dari kelapa menjadi santan. Sungguh ia mengalami perjalanan amat panjang. Jika kita mengawali dari tumbuhnya pohon kelapa, tunas kelapa sampai tumbuh pohon yang berbuah membutuhkan waktu bertahun-tahun. Setelah berbuah untuk membuat santan diperlukan buah kelapa yang tua. Dari ‘cengkir’ hingga menjadi kelapa tua memerlukan waktu yang beberapa bulan lagi.

Setelah tua, inilah saatnya diambil santannya. Saat ini pula ‘ujian hidup’ kelapa dimulai. Biasanya kelapa diambil seseorang dengan cara memanjat pohon, memuntir buahnya dan dijatuhkan ke tanah. Selanjutnya dikupas sabutnya dengan cara bacok-bacok dan dicongkel-congkel. Setelah kelihatan tempurungnya, dipecahlah kulit hingga kelihatan daging kelapa. Seandainya kelapa ini bisa protes, dia akan bilang Allah, “Sudah cukup penderitaan saya. Tolong hentikan!”

Selesai? Belum. Dagingnya kemudian diparut untuk jadi serbuk-serbuk kecil. Masih lagi dicampur dengan air, diperas-peras. Sudah? Masih harus direbus sebelum disajikan. Kalau mau dicampur dengan masakan, harus termasak bersama masakan itu. Barulah selesai sajian menu yang lezat dengan campuran santan di dalamnya.

Tetap berpikir positiflah saat menerima ujian. Semoga ujian itu menjadikan kita pada kualitas lebih tinggi dari sebelumnya. Bukankah pepatah juga mengatakan semakin tinggi suatu pohon, kemakin semakin kencang angin yang mengenainya. Tapi tetap merendahlah dihadapan manusia, Engakau akan tinggi dihadapan Allah.

Menemu Baling pada, 17 Januari 2017

Pingin bisa menulis dengan mulut?
Join Grup WA Menemu Baling (Menulis dengan mulut, Membaca dengan telinga)
https://chat.whatsapp.com/IlSXkIcUi1XIY97Eadgo4w
Join Grup Telegram Menemu Baling (Menulis dengan mulut, Membaca dengan telinga)
https://t.me/joinchat/AAAAAAb7E42H3iZTzjzxVg
Join Grup Line Menemu Baling Remaja (Menulis dengan mulut, Membaca dengan telinga untuk remaja)
http://line.me/R/ti/g/BBMHES47Vw

Views All Time
Views All Time
122
Views Today
Views Today
1

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY