FROM BALIKPAPAN TO BALANGAN oleh Sahrifani Abdi, Siswa SMPN1 Lampihong, Balangan, Kalsel

0
10

Saya sangat senang dapat bersekolah di SMPN 1 Lampihong,  karena bagi saya SMPN 1 Lampihong ada sekolah yang berkesan dan penuh rasa kekeluargaan. Hari pertama sekolah, saya tidak dapat berhadir,  karena waktu itu saya masih berada di kota Balikpapan. Kota Balikpapan adalah salah satu kota yang terletak di wilayah Provinsi Kalimantan Timur yang merupakan provinsi tetangga Kalimantan Selatan. Perjalanan dapat ditempuh menggunakan angkutan darat kurang lebih 8 jam perjalanan dari Kota Paringin,  Ibukota Kabupaten Balangan.

Saya merasa sedih tidak dapat hadir saat hari pertama sekolah. Saya menelepon sopir langganan yang biasanya membawa saya pulang ke kampung halaman saya, Desa Batu Merah. Akhirnya,  saya pun dapat  berangkat pulang menuju Balangan. Waktu itu saya sampai di Lampihong kurang lebih jam 02.30 WITA . Setelah sampai dirumah, saya langsung tertidur,  karena kelelaha  dan mengantuk yang sangat tidak tertahankan.

Keesokan harinya,  saya cepat-cepat bangun dan bergegas mandi untuk sekolah walaupun saya merasa masih mengantuk tetapi saya harus sekolah,  karena kemarin saya tidak dapat hadir di hari pertama sekolah. Saya pergi ke sekolah menggunakan sepeda pada pagi itu.  Setelah , sampai di sekolah saya merasa sangat senang dan gembira,  karena dapat datang tepat waktu dan tidak terlambat meski rasa lelah dan mengantuk masih bergelayut menemaniku.

Terdengar oleh saya dari pengeras suara sekolah, siswa baru diminta memasuki ruang labatorium IPA. Saat saya memasuki ruangan tersebut, di sana sudah banyak siswa yang hadir. Saya juga banyak mendapat teman baru hari itu, diantaranya Pardi, Lana, Rais dan Rabidin. Saat kegiatan berlangsung, salah seorang guru memanggil saya untuk memperkenalkan diri kepada teman-teman yang lain karena saya di hari pertama tidak dapat berhadir.

Setelah dari ruangan laboratorium IPA,  saya dan teman-teman mengikuti kegiatan Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS)  pada hari kedua waktu itu. Guru yang pertama kali saya , kenal waktu itu adalah Bapak Ahmadiyanto atau yang sering kami panggil Pak Anto. Bagi saya Pak Anto merupakan sosok guru yang paling akrab dengan murid dan guru yang selalu memberikan motivasi serta disegani oleh murid.

Di sekolah kami tersebut banyak sekali kegiatan ekstrakurikuler seperti olah raga, pramuka, seni dan kegiatan ekstarkurikuler lainnya. Saya mulai aktif ikut kegiatan ekstrakurikuler sejak dari  kelas 8, dan  itupun karena  saya termotivasi dari teman saya. Saya hanya mengikuti satu kegiatan ekstrakurikuler yakni pramuka.

Pramuka mengajarkan saya berbagai  pengetahuan, keterampilan dan berbagai pengalaman yang bermakna. Waktu itu terjadi musibah kebakaran di Kecamatan Halong, yang merupakan kecamatan yang terletak ujung timur Kabupaten Balangan. Sedangkan Lampihong adalah  kecamatan yang terletak di ujung barat Kabupaten Balangan. Keesokan harinya Pak Anto meminta saya dan teman-teman pramuka penggalang dari Gudep kami untuk membantu dan ikut serta dalam kegiatan bakti sosial (baksos) penggalangan dana untuk korban musibah kebakaran tersebut bersama kakak-kakak dari anggota DKR Kwaran Lampihong.

Saya pun merasa senang,  karena baru kali ini dapat  ikut berpartisipasi dan membantu orang lain yang sedang dalam kesusahanan. Saya juga diminta turut serta untuk mengantarkan hasil kegiatan baksos tersebut ke tempat kejadian musibah kebakaran tersebut. Di tempat kejadian musibah kebakaran tersebut, saya dan teman-teman melihat langsung kondisi korban yang rumahnya ikut terbakar. Ada dua buah rumah yang menjadi sasaran amukan si jago merah kala itu. Saya merasa sedih dengan kejadian tersebut dan saya juga merasa bangga bisa berpartisipasi membantu korban kebakaran tersebut.

Selain kegiatan bakti sosial, kami juga pernah diikutkan kegiatan bersih-bersih lingkungan yakni kegiatan World Clean Up Day (WCD) tahun 2019 yang dilaksanakan di Kota Paringin dan sekitarnya. Saya ikut serta membersihkan lingkungan sekitar Masjid Al Akbar,  yang merupakan salah satu ikon Kota Paringin. Masjid ini terletak diatas perbukitan, sehingga terlihat megah dan gagah. Kami warga Balangan sangat bangga dengan keberadaan masjid ini.

Selain itu ada yang juga teman-teman lain yang bersih-bersih di sekitar Taman Hijau Balangan.  Taman Hijau Balangan juga merupakan salah satu ikon Kota Paringin. Taman ini terletak tidak terlalu jauh dengan Masjid Al Akbar. Taman ini terletak di pinggir jalan sebelah kiri kalau kita menuju kota Paringin dari arah Barabai, Hulu Sungai Tengah. Taman ini sering dikunjungi oleh  pengunjung lokal maupun pengunjung berbagai daerah yang berkunjung ke Balangan dan sekitarnya. Taman ini sering ramai dikunjungi setiap sore harinya. Banyak orang yang berjualan di bagian depan taman, ada juga berbagai wahana permainan anak, berbagai bunga dan pepohonan yang rindang serta jalan untuk pengunjung yang dicat warna warni menambah semangat untuk berkunjung ke taman ini.

Selain Taman Hijau, ada juga yang bertugas bersih-bersih di sekitar terminal dan Gedung Sanggam.  Gedung Sanggam merupakan salah satu bangunan yang terletak berdekatan dengan terminal dan pasar Paringin. Lokasinya tepat berada di depan pasar Paringin. Nama gedung “Sanggam” ini diambil dari semboyan Kabupaten Balangan yakni dari kata “Sanggam”. Kata “Sanggam” dalam bahasa Banjar berarti kuat, kokoh. Sementara sanggam sendiri memiliki akronim, yakni “Sanggup Bagawi Gasan Masyarakat”.

Ada juga pengalaman lain yang berkesan dan tidak dapat  saya lupakan. Waktu itu,  Pak Anto bersama Pak Aji,  yang merupakan guru olahraga di sekolah kami,  mengajak saya, anggota OSIS dan anggota dokter remaja pergi ke salah satu objek wisata di kabupaten kami yakni ke Gunung Batu. Gunung Batu merupakan salah satu objek wisata yang terletak di Kecamatan Tebing Tinggi. Kecamatan Tebing Tinggi merupakan salah kecamatan baru pemekaran dari kecamatan induk yakni Awayan. Di sana terdapat sungai dengan jeram yang lumayan deras, airnya jernih dan segar terasa. Kami sudah tidak sabar untuk bisa menikmati segarnya sungai tersebut.

Sebelum kami mandi-mandi, Pak Anto meminta kami agar memasang perlengkapan untuk tempat kami memasak dan makan siang bersama nantinya. Beberapa siswa bergantian mandi dan ada juga yang membantu memasak di pinggir sungai. Kami bermain air dengan sepuasnya. Lelah dan penat diperjalanan terasa hilang setelah mandi di air yang sangat segar dan jernih. Pak Anto dan pak Aji mandi belakangan setelah masakan sudah agak siap. Mereka berdua mandi dengan kedua anak mereka. Pak Aji membawa anaknya yang bernama Agha dan Pak Anto membawa anaknya yang bernama Raihan. Mereka mandi dengan gembira sambil sesekali berfoto bersama.

Setelah mandi-mandi, kami bersiap-siap untuk makan siang. Setelah makan siang kami lanjutkan dengan Sholat Dzuhur berjemaah di salah satu mesjid pada  desa yang dengan dekat sungai tersebut. Kegiatan kami ternyata tidak hanya di situ, karena kami akan melanjutkan menuju goa Gunung Batu serta  kalau waktunya memungkinkan,  kami akan mendaki puncak gunung tersebut.

Sebenarnya tempat itu adalah sebuah perbukitan batu yang tidak terlalu tinggi, namun karena kebiasaan warga sekitar menyebutnya dengan sebutan gunung,  yakni Gunung Batu. Sebelum kegiatan dilaksanakan, ada beberapa hal yang disampaikan oleh Pak Aji dan Pak Anto. Kami diminta agar berhati-hati dan konsentrasi saat kegiatan nantinya,  karenakondidi  goa lumayan gelap dan jalur pendakiannya juga relatif terjal.

Kami pun bersiap menuju goa yang dimaksud sambil sesekali kami berfoto bersama. Suasana goa masih alami. Hal tersebut  tercium dari aroma yang kurang sedap dari dalam goa,  yakni bau kotoran kelalawar. Untungnya,  ada kakak-kakak anggota pramuka dari DKR Kwaran Tebing Tinggi yang ikut membantu dan menjadi penunjuk jalan. Setelah melalui berbagai halangan dan rintangan kami di dalam goa, kami mulai mendaki perbukitan tersebut.

Jalur pendakiannya perbukitan tersebut ternyata setelah melewati goa tersebut. Jalurnya lumayan terjal dan licin. Setelah beberapa saat, kami pun tiba di puncak bukit tersebut. Dari kejauhan terlihat gunung Hantanung dan Gunung Hauk berdiri kokoh. Betapa indahnya pemandangan dari atas ketinggian tersebut. Menambah kecintaan dan kesyukuran ku menjadi bangsa Indonesia.

Setelah itu kami pun bersiap-siap kembali ke Lampihong menggunakan dua buah mobil yakni mobil Pak Aji , dan satunya lagi mobil angkutan antar desa, mobil pick up yang kami sewa untuk keberangkatan untuk membawa perlengkapan. Sang sopir juga ikut mendaki perbukitan ,  dan beliau juga merasa puas dengan perjalanan hari itu. Ternyata , beliau juga baru pertama kali masuk ke dalam goa dan belum pernah naik mendaki perbukitan tersebut. sebuah pengalaman yang sangat berkesan saya dapatkan hari itu.

Perjalanan saya bersekolah di SMPN 1 Lampihong mengalami berbagai cerita suka dan duka. Namun, itu semua saya anggap sebagai bumbu-bumbu perjalanan. Waktu saya di kelas VII dulu, kami berangkat ke sekolah menggunakan sepeda bersama-sama. Pengalaman itu bagi saya sangat menyenangkan,  karena kami berangkat ke sekolah bersama dan ketika pulang kami pun juga selalu bersama-sama. Hujan dan panas tidak menghalangi kami untuk menuntut ilmu di sekolah.

Namun sayang, pengalaman itu hanya tinggal kenangan seiring dengan perjalanan waktu. Sekarang teman-teman saya pergi ke sekolah sudah banyak menggunakan sepeda motor. Meskipun pihak sekolah sudah mensosialisasikan kepada semua siswa dan kepada orang tua siswa agar anaknya diantar berangkat ke sekolah dan tidak mengijinkan anak-anak mereka naik motor sendiri.

Terkadang saya juga ikut menumpang  naik motor berangkat sekolah, karena saya merasa kesepian dijalan naik sepeda ke sekolah sendirian. Orang tua saya juga tidak memiliki kemampuan untuk membelikan saya sepeda motor seperti teman-teman yang lain. Saya sangat menyadari kondisi tersebut. Dengan sangat terpaksa terkadang saya harus ikut menumpang pergi dan pulang. Bahkan,  terkadang ada juga teman-teman yang mengolok-olok saya karena dianggap menyusahkan dan memberatkan orang lain. Sedih rasanya hati ini, namun  itu semua saya anggap hanya angin lalu. Saya harus kuat dan harus semangat dalam menapaki hidup dan masa depan yang saya masih jauh dan panjang.

Saya tinggal bersama nenek berdua di rumah di Desa Batu Merah. Ayah dan ibu saya sudah lama berpisah sejak saya masih kecil. Sebenarnya saya sangat sedih dan  sangat rindu dengan mereka berdua.  Ibu saya bekerja di luar kota,  sementara ayah saya, saat ini saya tidak tahu di mana keberadaan dan tempat tinggalnya. Terkadang saya merasa iri melihat teman-teman yang lain tinggal bersama orang tua mereka. Saya terkadang sedih dan menangis serta berdoa kepada Tuhan agar diberikan kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi cobaan yang saya rasa sangat berat ini.

Saya selalu berusaha agar selalu bersemangat dan bertawakkal kepada Tuhan dalam menjalani cobaan ini. Saya juga bertekad dan berupaya membuktikan kepada kedua orang tua kalau saya dapat berhasil dan mampu membanggakan mereka berdua. Yaa Allah, mudahkanlah perjuangan dan perjalanan hamba Yaa Allah. Aamiin Yaa Robbal Alamin

 

 

 

 

 

Views All Time
Views All Time
46
Views Today
Views Today
1
Previous articleAntara Kecewa dan Bahagia oleh Yusrijal, Siswa SMPN 1 Lampihong, Balangan, Kalsel
Next articleTutorial Membuat Label CD dengan CorelDraw12
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY