Gagal Mudik

0
6

Sudah hampir lima tahun Pak Radi dimutasikan ke kantor pusat di Jakarta. Sebagai asisten direktur perusahaan yang bergerak dalam bidang garmen. Kepindahannya hanya sendiri saja karena istrinya harus menemani anak sulungnya hingga lulus sekolah dasar. Tentu kesepian karena hanya tinggal di tempat kost. Keluarganya tinggal di Yogyakarta, tidak jauh memang, namun jika harus setiap minggu pulang akan menghabiskan biaya yang tidak sedikit.

Terbayang kedua putrinya yang cantik dan pintar. Tentu terbayang istri tercinta yang selalu setia, mengasuh anak-anaknya dengan penuh kesabaran. Rindu ibunya yang sangat diharapkan doa-doanya yang kini sudah berusia lanjut. Rasa rindu yang ia rasakan itu membuatnya nekad untuk pulang ke Yogyakarta di hari lebaran ini. Segalanya telah dipersiapkan dalam rangka kepulangannya ke Yogyakarta. Membeli oleh-oleh mereka juga untuk ibunya yang sudah menjelang senja. Keesokan harinya Pak Radi siap-siap berangkat setalah salat subuh. Suasana hati gembira terpancar di wajahnya. Pelan-pelan melaju ke arah jalan tol, namun beberapa kilometer mendekati tol, telah berjajar orang-orang dan memberhentikannya.

Para petugas itu mendekati mobilnya dan mengucap salam. Pak Radi membuka kaca jendela mobilnya. Sedikit tegang suasana pagi itu. Selanjutnya ia ditanya apa keperluannya, apa tidak tahu jika saat ini masih dalam suasana waspada. Pandemi Covid-19 yang melanda tanpa bisa dikendalikan. Guna mencegah menyebarnya virus, pemerintah melarang untuk mudik. Pak Radi bercerita tentang keadaannya yang bekerja di Jakarta dan akan pulang ke rumah. Sudah divaksin dua tahap dan sudah ada surat keterangan dari dinas kesehatan tentang bebas covid.

Petugas tersebut dengan tegas menolak dan menyuruhnya untuk putar balik dan kembali ke Jakarta. Betapa kecewanya Pak Radi, kali ini gagal bertemu dengan keluarganya. Meskipun sudah memohon, petugas itu tak mengizinkan untuk lewat. Dalam kekecewaan tersebut ia ingat akan oleh-oleh yang dibawanya. Dengan bergegas menuju kantor jasa paket pengiriman barang.

Akhirnya Pak Radi sedih, andaikan memungkinkan ia ingin berjalan kaki menuju rumahnya. Kangen keluarga melebihi segalanya. Termasuk jika harus berjalan kaki.

 

Views All Time
Views All Time
24
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY