Gengsi untuk Mengaku di Atas Langit Masih Ada Lagi

0
14

Wajar jika kita mempunyai ego yang begitu ‘luwes’ untuk menjadikan diri menjadi individu yang cukup dalam.

 

Semua hal yang dianggap benar belum tentu benar di mata orang lain. Apalagi jika sisi mata uang yang satu lebih menarik daripada harus melihat sisi yang lain. Begitulah manusia dengan segala macm watak/karakter/perilaku.

Keegoisan akan jabatan pun masih terasa ketika seseorang diberi tanggung jawab yang belum pernah dijalani. Keluwesan yang diminta pun sulit jika karakter di dalam pribadi sudah terbentuk dari awal. Tanpa melihat sisi ke arah mana dijalankan cara sesuai aturan teknis.

 

Manakala seseorang menganggap dirinya mencapai batas langit yang dianggapnya sudah terasa ’empuk’ dan ‘terlelap’ namun tidak memberikan “kibasan” baik terhadap sekitar.

Wajar Kesenjangan keegoisan perindividu akan tampak terlihat jelas dan nyata. Tampak di mana yang berkuasa merasa dan tertindas merasa tergilas. Meski jelas nyata di dalam wujud yang tidak jelas. Masih ada beberapa gilasan-gilasan yang dianggap remeh ternyata lebih menampakkan kekuasaannya tanpa perlu terbatas.

 

Ini hanya sekelumit helaan nafas seorang teman, sekaligus rekan kerja. Berbagai macam kata telah Dia curahkan. Simbolik secara paradoks pun terlihat nyata.

…lanjut nanti ya?

 

ini hanya sekedar share saja tanpa “menyudutkan” namun jika ada yg berkenan dan merasa maka semoga kita ambil yang baiknya saja

 

 

Views All Time
Views All Time
14
Views Today
Views Today
1
BAGIKAN
Tulisan sebelumnyaPENGAMBILAN SUMPAH/JANJI PEGAWAI NEGERI SIPIL Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara
Tulisan berikutnya
EL Bara Rahma nama pena dari Lilis Suryani, kelahiran Lumajang 28 April. Telah Menyelesaikan S1 FKIP UNLAM Banjarmasin jurusan Bahasa Indonesia, Sastra dan Daerah (2010). Tenaga Pendidik di MTsN 1 Kintap (2011), SMAN 1 KINTAP (2011-sekarang),SMAN 2 JORONG (2014-sampai sekarang), SMAS AL HIDAYAH (2011-Sekarang). Beberapa karya puisi pernah dimuat di media lokal Banjarmasin Post (2008), Pernah memerankan salah satu tokoh di pementasan Teater Islam, Nur Rasulullah (Adjim Ariyadi,2007). Kembali berkarya lagi, antara lain Antalogi Puisi Penyair Nusantara oleh Tuas media berjudul Simbolik Diafragma Hati (2016), Bias Setitik Harapan Hati(Peserta Lomba Cipta Puisi Ruas ke-3 Indonesia-Malaysia 2016), Antalogi Puisi Pelita Tanpa Cahaya berjudul Jadi Hati Abu (Aksara Aurora Media,2016) , Antalogi Puisi Warna judul Enkripsi Warna Duniaku(WAP,2017), Karya artikel opini ' Orang Tua Hebat adalah Orang tua Terlibat' ( Radarbanjarmasin, 2017)

LEAVE A REPLY