GERAKAN PPK DIRUMAH KEDUA SISWA

0
20

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah kita ucapkan setiap saat kehadirat Allah Subhanahu Wata’ala, sang maha penguasaa, maha bijaksana, maha pengasih penyayang, maha pemurah, dan maha pengampun.

Shalawat dan salam  selalu kita hanturkan kepangkuan Nabi besar Muhammad Shallallahu’alaihi Wassalam, beserta keluarga-Nya, sahabat-Nya, semoga Allah senantiasa selalu memberi taufik dan hidayahNya kepada beliau dan kita semua di muka bumi ini semoga amanah menjalankan tugas untuk kemajuan agama dan bangsa, Insya Allah di hari akhirat kita semua termasuk dalam golongan manusia – manusia yang beruntung.

Pendidikan karakter bukanlah gerakan baru bagi masyarakat Indonesia terutama ummat Islam. Hadist Nabi Muhammad SAW:  “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq” Karakter identik dengan akhlak budi pekerti yang tercermin dari hati sanubari yang diaplikasikan dengan perbuatan perilaku keseharian manusia, dan wawasan kenegaraan dan kehidupan sosial masyarakat dari segala sudut perspektifnya. Penguatan karakter dapat mendekatkan manusia dari pengaruh positif dari luar  dan menjauhkan mereka dari pengaruh yang negatif. Dengan demikian pengembangan  penguatan pendidikan karakter menjadi tugas mutlak semua elemen untuk menjalankan segala  hal yang erat hubungannya dengan tugas pokok dan fungsi, terutama guru sebagai pendidik. Guru harus terlebih dahulu memiliki karakter, pengetahuan yang berkarakter, sifat kepribadian yang baik,  berjiwa sosial, profesionalisme, dan cinta tanah air.

Harapan para penulis dalam ulasan tulisan “ Implementasi Penguatan Pendidikan Karakter di Rumah Kedua ” adalah khusus bagi para penulis sendiri yang selama ini masih banyak kekurangan dan perlu kontinyu belajar dalam menjalankan tugas sebagai guru sebagaimana tuntutan agama dan negara. Prinsip hidup ini adalah belajar sepanjang hayat, terus memperbaiki  akhlak budi pekerti setiap waktu, karena bisa saja karena pengaruh negatif seorang yang selama ini baik berubah menjadi manusia yang tidak bermoral dan berakhlak.

Dalam merampungkan buku ini, para penulis mengambil referensi dari beberapa sumber yang dirangkum dengan ulasan pemikiran serta pengalaman, Terbitnya buku ini mudah-mudahan dapat menambah literasi khususnya bagi guru-guru sebagai pendidik dan ujung tombak pembentuk karakter siswa, serta dapat menyumbangkan manfaat serta menjadi pemetaan pikiran  bagi para penulis dan bagi pendidik sejati lainnya. Semoga kita semua menjadi pendidik yang profesional untuk memajukan dunia pendidikan di negara yang kita cintai dalam bingkai  syariat, serta melahirkan generasi penerus bangsa yang hebat memiliki harkat dan martabat.

Para penulis sangat menyadari dan yakin masih sangat banyak sekali kekurangan dalam penulis menyelesaikan penulisan buku ini, baik dalam ulasannya, maupun penulisan kata atau bahasa yang kurang baku. Para penulis sangat mengharapkan saran dan masukan-masukan yang membangun untuk kesempurnaannya.

Perilaku dan tindakan positif kita di dunia ini yang memberi manfaat kepada manusia lain akan diberkahi dan diridhai oleh Allah SWT, Allah penguasa tunggal semata yang dapat mengabulkan doa dan harapan kita.

 

Salam Penulis

WACANA TERIMAKASIH

Puji syukur kehadirat Allah SWT dengan mengucapkan Alhamdulillah dalam situasi dan kondisi apapun, dengan karunia dan hidayah Allah jua yang sudah memberikan keberkahan dan kemampuan pada kami sehingga dapat berkolaborasi untuk menyelesaikan keinginan menulis buku, merupakan tindak lanjut dari rasa untuk berbagi ilmu, dan para penulis diberkahi kepuasan tersendiri yang sangat luar biasa.

Terimakasih  penulis teristimewa kepada kedua orang tua para penulis, keluarga besar para penulis. Terima kasih kepada sahabat, teman sejawat, kepala sekolah dan dewan guru di SDN Lamnga, kepala sekolah dan dewan guru di SDN 1 Indrapuri Aceh Besar. Penulis banyak mendapat inspirasi dan motivasi serta hal positif lainnya dari semua pihak dalam menyelesaikan buku ini.

“Yang terbaik di antara kalian adalah mereka yang berakhlak paling mulia, Allah tidak memandang akan harta dan jabatan.”

( Nabi Muhammad SAW )

SINOPSIS

Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) berbasis budaya sekolah memotret berbagai macam bentuk pembiasaan, model tata kelola sekolah, termasuk di dalamnya pengembangan peraturan dan regulasi yang mendukung PPK. Proses pembudayaan menjadi sangat penting dalam penguatan pendidikan karakter karena dapat memberikan  atau membangun nilai-nilai luhur kepada generasi muda. Budaya sekolah yang baik diharapkan dapat mengubah perilaku peserta didik menjadi lebih baik. PPK berbasis budaya sekolah mengembangkan berbagai macam corak relasi, kegiatan dan interaksi antar individu di lingkungan sekolah yang mengatasi sekat-sekat kelas,  yang membentuk ekosistem dan budaya pendidikan karakter di lingkungan sekolah.

Membangun budaya sekolah yang baik dapat dilakukan melalui kegiatan-kegiatan di sekolah. Contoh kegiatan yang dapat dikembangkan dalam membangun budaya sekolah adalah 1) pembiasaan dalam kegiatan literasi; 2) kegiatan ekstrakurikuler,  yang  mengintegrasikan nilai-nilai utama PPK, dan 3) menetapkan dan mengevaluasi tata tertib atau peraturan sekolah. Budaya sekolah yang baik dapat mengembangkan iklim akademik yang kompetitif dan kolaboratif, yang diperlukan sekolah dalam menetapkan atau memperkuat  branding sekolah.Berbagai studi yang terkait peran masyarakat dalam pendidikan menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan (pendidikan karakter) bergantung pada kemitraan yang sinergis antara para pelaku pendidikan yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pondasi pendidikan karakter sebagaimana digarisbawahi oleh Ki Hajar Dewantara diletakkan oleh keluarga sebagai pendidik yang pertama dan utama. Namun demikian, lingkungan masyarakat juga sangat mempengaruhi keberhasilannya. Praktik baik kolaborasi antaranggota masyarakat telah menjadi bagian dari tradisi Indonesia melalui semangat gotong royong. Kepedulian menjadi kata kunci. Sekaranglah saatnya untuk melakukan penguatan pendidikan karakter yang berbasis komunitas/masyarakat.

Kemitraan tri sentra pendidikan yaitu satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat dalam membangun ekosistem pendidikan, Peningkatan peran komite sekolah dan keluarga dalam PPK sangat diperlukan. Serta diharapkan sejalan dengan visi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yaitu “Terbentuknya insan serta ekosistem pendidikan dan kebudayaan yang berkarakter dengan berlandaskan gotong royong”. Komite Sekolah mempunyai peran besar dalam kemitraan ini termasuk dalam upaya Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang dilakukan untuk menyiapkan generasi emas 2045.

DAFTAR  ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………………………………………

WACANA TERIMAKASIH……………………………………………………………………….

DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………………….
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………………….
A. Latar Belakang Penguatan Pendidikan Karakter……
B. Landasan Regulasi……………………………………………………………….
C. Tujuan Penguatan Pendidikan Karakter
BAB II PRINSIP DASAR PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER
A. Moral Universal……………………………………………………………………
B. Nilai esensial………………………………………………………………………..
C. Terintegrasi dan Partisipatif……………………………………………………
D. Kearifan Lokal……………………………………………………………………..

E. Ketrampilan abad  21………………………………………………………….

F. Adil dan Selaras…………………………………………………………………

G. Keteladanan yang Terukur………………………………………………….

H. Intervensi dan Kasih Sayang……………………………………………….

BAB III PERAN AKTIF IMPLEMENTASI PENGUATAN PENDIDIKAN  KARAKTER……………………………………………………………………………
A. Peran Sekolah………………………………………………………………….
B. Peran Orang Tua/Keluarga………………………………………………..
C. Peran Masyarakat………………………………………………………………
BAB IV STRATEGI  DAN PENGUKUHAN PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER  ……………………
A. Strategi Penguatan Pendidikan karakter……………………………….
B. Pengukuhan Penguatan Pendidikan Karakter………………………
BAB V  NILAI- NILAI PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER………….
A. Nilai Spiritual……………………………………………………………………..
B. Penanaman Nilai Kebangsaan Kebhinnekaan………………………
C. Interaksi Positif dengan Sesama Siswa……………………………….
D. Interaksi Positif dengan Guru dan Orang Tua………………………
E. Penumbuhan Potensi Unik dan Utuh Setiap Siswa……………….
F. Pemeliharaan Lingkungan Sekolah…………………………………….
G. Pelibatan Orang Tua dan Masyarakat
BAB  VI GERAKAN PEMBIASAAN PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER………
A. Tujuan ………………………………………………………………..
B. Sasaran………………………………………………………………………….
C. Pelaksanaan……………………………………………………………………
D. Pembiasaan…………………………………………………………………….
E. Indikator Ketercapaian Pendidikan Karakter………………………..
F. Tahap Pembentukan Pendidikan Karakter…………………………..
BAB VII PENERAPAN PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SDN LAMNGA
A. Perencanaan PPK di SDN Lamnga………………………..
B. Waktu dan Pembiasaan……………………………………………………
C. Perubahan Perilaku Warga Sekolah…………………………………..
BAB VIII PENUTUP………………………………………………………………………………
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………..

 

PROFIL  PENULIS

Mohammad Isa, lahir pada tanggal 05 Februari 1965, anak kedua dari pasangan Ayah Pang Malem  dan Ibu Cut Asiah. Adapun jenjang pendidikan yang telah ditempuh adalah: SD Negeri Jeuram Kec. Seunagan  Kab. Aceh Barat tamat tahun 1979, SMP  Negeri Jeuram Kabupaten Aceh Barat  tamat tahun 1982, SPG Negeri Meulaboh  Kabupaten Aceh Barat  tamat tahun 1985. Kemudian mengikuti seleksi CPNS dan Lulus sebagai Guru pada sekolah Dasar Negeri Leungah pada tahun 1986 serta telah menyelesaikan program  Sarjana (S-1) pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Abulyatama (UNAYA), tamat pada tahun 2003. Tahun 2016 melanjutkan pendidikan pada Magister Administrasi Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Iskandar Muda  (UNIDA).

Memulai karir  sebagai Guru jenjang Sekolah Dasar di SD Negeri Leungah Kabupaten Aceh Besar pada tahun 1986. Pada tahun yang sama (1986) penulis diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil pada SD Negeri Leungah  Kabupaten Aceh Besar. Pada tahun1997 mutasi ke SD Negeri Trans Despot Leungah Kabupaten Aceh Besar hingga tahun 2014. Mulai tahun 2015 hingga sekarang penulis bertugas sebagai Pengawas Sekolah jenjang SD yang bertugas di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Besar.  Penulis pernah menjadi sekretaris KKG Gugus 6  SD  Negeri  Lampanah pada tahun 2010 s/d 2012, Pasilisator Kabupaten  Kurikulum 2013 Guru Kelas jenjang SD pada tahun 2016 s/d 2017.

 

Juwita,S.Pd, kelahiran  Aceh Besar 15 Maret 1978, anak kedua pasangan dari H. Hasbi dan Hj. Rohani. Lulusan Sarjana FKIP Biologi di Universitas Serambi Mekkah tahun 2010. Menjadi guru PNS tahun 2006. sampai November 2007 bertempat tugas di SDN Mureu, dari November 2007- sekarang bertugas di SDN 1 Indrapuri. Mempunyai hobi membaca, menulis, dan juga bersih-bersih. Alamat tempat tinggal di Desa Lambunot, Kecamatan Simpang Tiga Kabupaten Aceh Besar. Sudah berkeluarga dengan 3 anak, 1 putri , dan 2 putra.

Juara I tingkat kabupaten tahun 2009 seleksi TOT guru tematik yang dilaksanakan oleh lembaga P4TK Pkn dan IPS Malang, pernah memiliki pengalaman bekerja di DBE-2 selama 2 tahun dari 2010 sampai 2011 sebagai Pemandu Bidang Sains(PBS), menjadi fasilitator Inklusi bersama HKI ( Hellen Keller Indonesia ) tahun 2013, Meraih juara I guru SD berprestasi tingkat kabupaten tahun 2014 dan juara III guru berprestasi SD tingkat Provinsi tahun 2014. Menjadi bendahara sekolah dari tahun 2012 sampai dengan 2015, berpengalaman menjadi operator sekolah tahun 2012 sampai 2015, serta menjadi operator Kecamatan tahun 2013.

Dari tahun 2016 sampai 2019 menjadi ketua KKG gugus XII SDN 1Indrapuri, dan tahun 2019 membawa gugus XII SDN 1Indrapuri meraih juara 2 tingkat kabupaten. Mendapat penghargaan dari Bupati Aceh Besar sebagai pegiat literasi  tahun 2019, penghargaan tingkat nasional oleh Perpusnas RI sebagai bagian 1000 penulis Indonesia. Masuk dalam 100 coach penggerak literasi versi IGI tahun 2019.

Email : j.ita78@yahoo.co.id. No hp. dan WA 085261769323.

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang Penguatan Pendidikan Karakter

 

Krisis  moral yang sudah mengkhawatirkan era sekarang perlu mendapat perhatian yang serius oleh berbagai pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, sekolah, dan keluarga, karena gejala degradasi moral di masyarakat semakin serius. Kondisi ini dipengaruhi lagi oleh  arus globalisasi dan perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat.

Arus globalisasi yang sangat deras dalam berbagai aspek membuat perkembangan dunia terus melaju ke arah peradaban multi budaya. Kondisi tersebut  menuntut kemampuan bangsa Indonesia untuk  beradaptasi secara aktif namun selektif dengan multikulturalisme tanpa harus kehilangan identitas dan jati diri bangsa yang berideologi Pancasila. Oleh karena itu, pembinaan karakter bangsa harus berlandaskan pada:

  1. Ideologi Bangsa Indonesia, yaitu Pancasila;
  2. Agama-agama, sistem kepercayaan, dan Budaya luhur yang

berkembang di masyarakat Indonesia;

  1. Nilai Moral yang dijunjung tinggi masyarakat;
  2. Sistem norma-hukum yang berlaku di Indonesia.

 

Untuk menginternalisasikan nilai-nilai karakter bangsa tersebut kepada peserta didik di sekolah dasar dapat dilaksanakan melalui empat jalur strategis sebagai berikut, yaitu

(1) pengintegrasian nilai karakter melalui kegiatan pembelajaran; (2)  pengintegrasian nilai karakter ke dalam kegiatan ekstrakurikuler; (3)  pembiasaan nilai karakter dalam kehidupan keseharian di

sekolah melalui program  budaya sekolah, dan

(4)  pembiasaan nilai karakter dalam keseharian di rumah dengan

melibatkan peran serta masyarakat.

 

Pengembangan pendidikan Karakter dilaksanakan sebagai berikut:

  1. Penanaman nilai karakter

Nilai karakter yang akan ditanamkan kepada  peserta didik berdasarkan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.  Nilai-nilai luhur tersebut bersumber dari ideologi bangsa dan negara Indonesia, Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),  dan UU Nomor 20 Tahun 2003. Selain itu nilai-nilai luhur tersebut bersumber dari pengalaman praktik yang baik dan dikembangkan berlandaskan teori pendidikan, psikologi, nilai sosial dan budaya.

 

  1. Pembentukan karakter

Pendidikan karakter dilaksanakan dalam rangka pembentukan perilaku berkarakter luhur melalui:

  1. Pembiasaan keseharian yang dilakukan di lingkungan sekolah dan masyarakat,
  2. Intervensi yang dilakukan oleh sekolah, keluarga dan masyarakat.
  3. Dukungan Perangkat Kebijakan

Dalam rangka menunjang pelaksanaan pendidikan karakter diperlukan dukungan perangkat dalam bentuk kebijakan; pedoman, panduan, sumber daya, lingkungan yang kondusif, sarana dan prasarana, semangat kebersamaan dan komitmen pemangku kepentingan.

  1. Pengembangan Karakter

Semua upaya yang dilakukan melalui pembiasaan dan intervensi yang dilakukan sekolah, keluarga, dan masyarakat diarahkan untuk membangun perilaku peserta didik yang berkarakter sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

 

Adapun ruang lingkup pengembangan pendidikan karakter di sekolah dasar meliputi 3 kelompok, yaitu:

  1. Pendidikan karakter yang menumbuhkan kesadaran sebagai makhluk dan hamba Tuhan YME, yang akan menumbuhkan nilai keagamaan yang kuat pada gilirannya tumbuh sifat kasih sayang, jujur, toleran, sifat malu, saling menghargai dan menghormati, dan menjauhkan diri dari perilaku destruktif dan anarkis.
  2. Pendidikan Karakter yang terkait dengan keilmuan, yang merangsang tumbuhnya “kepenasaranan intelektual” (intellectual curiosity). Pengembangan ini sangat penting untuk membangun pola pikir, tradisi, budaya keilmuan, dan daya inovasi serta kreativitas peserta didik.
  3. Pendidikan Karakter yang menumbuhkan rasa cinta dan bangga sebagai Bangsa Indonesia. Kecintaan karena sadar bahwa bangsa dan negara yang dilandasi oleh empat pilar yaitu: Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
  4. Landasan Regulasi

 

  1. Pancasila dan UUD NRI Tahun 1945;
  2. Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional;
  3. Peraturan Pemerintah RI Nomor 32 Tahun 2013 tentang perubahan atas PP RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan;
  4. Peraturan Pemerintah RI Nomor 66 Tahun 2010 tentang  Perubahan Atas PP RI Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan;
  5. Peraturan Presiden Nomor 43 Tahun 2014 tentang Rencana Kerja Pemerintah tahun 2015.
  6. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah;
  7. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah;
  8. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 20 tahun

2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan;

  1. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 41 Tahun

2007 tentang Standar Proses;

  1. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 39 Tahun

2008 tentang Pembinaan Kesiswaan;

  1. Rencana Strategis Kemendikbud Tahun 2015-2020;
  2. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional

(RPJMN) Tahun 2015-2019

 

  1. Tujuan Penguatan Pendidikan Karakter

 

Karakter adalah akhlak, watak, tabi’at atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan yang diyakini dan dimplementasikan sebagai landasan untuk bersikap, berpikir, dan bertindak.

Manusia diciptakan Tuhan bukan dengan kebetulan tanpa mamfaat, namun dibalik  penciptaanNya ada suatu tujuan untuk kita masing-masing mengembann tugas di bumi ini. Manusia adalah satu khalifah yang dan merupakan makhluk yang berakal dan bijak, dibekali potensi dan kekuatan positif untuk mengubah corak kehidupan di dunia ke arah yang lebih baik. Ditundukkan dan dimudahkan kepada manusia alam raya untuk dikelola dan dimanfaatkan.

Tujuan penguatan pendidikan karakter diantaranya : mempengaruhi pikiran, perasaan,sikap perilaku siswa. Menjadikan nilai positif dari cara pandang siswa sebagai individu anggota masyarakat dan warga Negara. Merubah tindakan menjadi bernilai moral dan bernorma, dan menjadi bangsa yang beradab. Mengembangkan potensi dasar, agar berhati baik, berpikiran baik dan berperilaku baik. Memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multikultur. Meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia agar dapat memilih dan memilah budaya yang kurang sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila.

Pendidikan Karakter juga bertujuan untuk menumbuhkan rasa cinta dan bangga sebagai Bangsa Indonesia. Kecintaan karena sadar bahwa bangsa dan negara yang dilandasi oleh empat pilar yaitu: Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).  Pendidikan Karakter yang terkait dengan keilmuan, yang merangsang tumbuhnya “kepenasaranan intelektual” (intellectual curiosity). Pengembangan ini sangat penting untuk membangun pola pikir, tradisi, budaya keilmuan, dan daya inovasi serta kreativitas peserta didik.

Tujuan pendidikan karakter sepeti yang terdapat dalam tema dalam rangka memperingati Hardiknas, 20 Mei 2011 : “Mengembangkan karakter bangsa agar mampu mewujudkan nilai-nilai luhur Pancasila “Pendidikan karakter sebagai pilar kebangkitan bangsa, raih prestasi junjung tinggi budi pekerti”

 

BAB II

PRINSIP DASAR

PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTERPK

 

Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dikembangkan dan dilaksanakan dengan memperhatikan prinsip dasar sebagai berikut:

 

  1. Moral Universal

Gerakan PPK berfokus pada penguatan nilai-nilai moral universal yang prinsip-prinsipnya dapat didukung oleh segenap individu dari berbagai macam latar belakang agama, keyakinan, kepercayaan, sosial, dan budaya. Gerakan PPK dilaksanakan secara holistik, dalam arti pengembangan fisik (olah raga), intelektual (olah pikir), estetika (olah rasa), etika dan spiritual (olah hati) dilakukan secara utuh-menyeluruh dan serentak, baik melalui proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler, berbasis pada pengembangan budaya sekolah maupun melalui kolaborasi dengan komunitas-komunitas di luar lingkungan pendidikan.

 

  1. Nilai Esensial

Mengangkat nilai-nilai esensial yang berintikan dari nilai-nilai Pancasila. Nilai-nilai yang diinternalisasikan dapat membantu peserta didik memahami dan menjadi manusia yang berkarakter baik. Nilai-nilai yang diinternalisasikan eksplisit pada visi, misi, tujuan, dan harapan masa depan sekolah. Nilai-nilai yang diinternalisasikan tersebut, dapat diaplikasikan dalam praktik kehidupan komunitas sekolah secara konsisten.

 

  1. Terintegrasi dan Partisipatif

Gerakan PPK sebagai poros pelaksanaan pendidikan nasional terutama pendidikan dasar dan menengah dikembangkan dan dilaksanakan dengan memadukan, menghubungkan, dan mengutuhkan berbagai elemen pendidikan, bukan merupakan program tempelan dan tambahan dalam proses pelaksanaan pendidikan.

Gerakan PPK dilakukan dengan mengikutsertakan dan melibatkan publik seluas-luasnya sebagai pemangku kepentingan pendidikan sebagai pelaksana Gerakan PPK. Kepala sekolah, pendidik, tenaga kependidikan, komite sekolah, dan pihak-pihak lain yang terkait dapat menyepakati prioritas nilai-nilai utama karakter dan kekhasan sekolah yang diperjuangkan dalam Gerakan PPK, menyepakati bentuk dan strategi pelaksanaan Gerakan PPK, bahkan pembiayaan Gerakan PPK.

  1. Kearifan Lokal

Gerakan PPK bertumpu dan responsif pada kearifan lokal nusantara yang demikian beragam dan majemuk agar kontekstual dan membumi. Gerakan PPK harus bisa mengembangkan dan memperkuat kearifan lokal nusantara agar dapat berkembang dan berdaulat sehingga dapat memberi indentitas dan jati diri peserta didik sebagai bangsa Indonesia.

  1. Ketrampilan Abad 21

Gerakan PPK mengembangkan ketrampilan abad 21 yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk hidup pada abad tersebut, antara lain kecakapan berpikir kritis (critical thinking), berpikir kreatif (creative thinking), kecakapan berkomunikasi (communication skill), termasuk penguasaan bahasa internasional, dan kerja sama dalam pembelajaran (collaborative learning).

 

  1. Adil dan Selaras

Gerakan PPK dikembangkan dan dilaksanakan berdasarkan prinsip keadilan, non-diskriminasi, menghargai kebinekaan dan perbedaan, dan menjunjung harkat  martabat manusia.

Gerakan PPK dikembangkan dan dilaksanakan selaras dengan perkembangan peserta didik baik perkembangan biologis, psikologis, maupun sosial, agar tingkat kecocokan dan keberterimaannya tinggi dan maksimal. Dalam hubungan ini kebutuhan-kebutuhan perkembangan peserta didik perlu memperoleh perhatian intensif.

  1. Keteladan YangTerukur

Pengembangan karakter dilakukan oleh pendidik dan tenaga kependidikan yang kompeten dan patut diteladani., semua warga sekolah dan pemangku pendidikan dapat memberikan contoh yang baik kepada siswa. Memfungsikan seluruh staf sekolah sebagai komunitas moral yang berbagi tanggung jawab untuk pendidikan karakter dan setia pada nilai dasar yang sama. Menfungsikan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam usaha membangun karakter dengan prinsip saling menghargai, setara, dan memberi manfaat

Gerakan PPK dikembangkan dan dilaksanakan berlandaskan prinsip keterukuran agar dapat diamati dan diketahui proses dan hasilnya secara objektif. Dalam hubungan ini komunitas sekolah mendeskripsikan nilai-nilai utama karakter yang menjadi prioritas pengembangan di sekolah dalam sebuah sikap dan perilaku yang dapat diamati dan diukur secara objektif; mengembangkan program-program penguatan nilai-nilai karakter bangsa yang mungkin dilaksanakan dan dicapai oleh sekolah; dan mengerahkan sumber daya yang dapat disediakan oleh sekolah dan pemangku kepentingan pendidikan

 

  1. Intervensi Dengan Kasih Sayang

Dalam pelaksanaan pendidikan karakter, perlu dilakukan intervensi agar secara konsisten dapat terarah secara efektif sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Intervensi ini misalnya dalam bentuk peraturan dan tata tertib sekolah, pemberian hadiah, teguran dan sebagainya. Kepala sekolah, pendidik, staf administrasi, laboran, pengelola kantin di sekolah menjalankan kepemimpinan moral yang membangun inisiatif pendidikan karakter.

Pendidikan karakter mengedepankan pendekatan kasih sayang untuk lebih meningkatkan hubungan emosional yang erat antara pendidik, peserta didik dan orang tua. Dengan hubungan emosional ini diharapkan terjadi pembentukan karakter luhur yang kokoh. Dengan demikian akan dapat memperkuat ketahanan moral peserta didik.

 

BAB III

PERAN AKTIF IMPLEMENTASI

PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER

  1. Peran Sekolah

Peran sekolah untuk pembinaan karakter dengan menyusun program pengembangan pendidikan karakter di sekolah berdasarkan panduan teknis yang disusun oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang diarahkan pada perilaku kehidupan sehari-hari melalui pembelajaran, budaya sekolah, ekstrakurikuler, dan peran serta masyarakat. Adapun kegiatan tersebut melalui tahapan sebagai berikut :

  1. Menyusun kurikulum dengan pengintegrasian nilai-nilai

karakter yang dimasukkan pada kerangka dasar, visi, tujuan,

kegiatan ekstra kurikuler, dan terprogram dalam kalender

pendidikan.

  1. Menyusun Silabus, dan RPP dengan mengintegrasikan nilai-nilai

karakter

  1. Menyusun program budaya sekolah, yang akan dikembangkan

dalam keseharian sesuai dengan kearifan lokal.

  1. Menyusun program kegiatan ekstrakurikuler dengan

mengintegrasikan nilai-nilai karakter dan budaya.

  1. Memberdayakan peran serta masyarakat dalam menerapkan

nilai-nilai karakter dalam keseharian di rumah dan di masyarakat.

  1. Mengembangkan dan mengimplementasikan pendidikan karakter

di sekolah melalui pembelajaran di kelas.

  1. Mengembangkan dan mengimplementasikan pendidikan karakter

disekolah melalui kegiatan ekstrakurikuler,  mengintegrasikan

nilai-nilai karakter pada bidang kegiatan yang relevan atau sesuai.

  1. Mengembangkan dan mengimplementasikan pendidikan karakter

di sekolah melalui budaya sekolah.

  1. Mengembangkan dan mengimplementasikan pendidikan karakter

di sekolah melalui pemberdayaan peran serta masyarakat.

  1. Mengomunikasikan dan melaporkan perkembangan karakter

peserta didik kepada orang tua melalui buku penghubung dan

buku laporan pendidikan (rapor).

11.Melakukan evaluasi diri sekolah (EDS) terkait dengan

pelaksanaan pendidikan karakter secara periodik dan

berkelanjutan. EDS dilakukan untuk mengetahui keterlaksanaan

program pengembangan pendidikan karakter, kelebihan, dan

hambatan-hambatannya.

  1. Melaporkan hasil pengembangan dan pengimplementasian

pendidikan karakter di sekolah kepada dinas pendidikan

kabupaten/kota melalui UPTD kecamatan.

 

  1. Peran Orangtua / Keluarga
  2. Memberi dukungan terhadap pelaksanaan pendidikan karakter

bagi anak yang sesuai dengan nilai-nilai inti yang dikembangkan.

  1. Melakukan komunikasi yang intensif dengan sekolah untuk

mengembangkan nilai-nilai karakter sesuai dengan program

sekolah, dengan menggunakan buku penghubung.

  1. Menciptakan suasana yang kondusif bagi peserta didik dalam

rangka memberikan penguatan berdasarkan  pengalaman

belajar di sekolah.

  1. Memberikan contoh/teladan penerapan karakter yang

dikembangkan di sekolah dan di rumah.

  1. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pendidikan

karakter di sekolah dan di rumah.

 

  1. Peran Masyarakat

Keberhasilan pendidikan (pendidikan karakter) bergantung pada kemitraan yang sinergis antara para pelaku pendidikan yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pondasi pendidikan karakter sebagaimana digarisbawahi oleh Ki Hajar Dewantara diletakkan oleh keluarga sebagai pendidik yang pertama dan utama. Namun demikian, lingkungan masyarakat juga sangat mempengaruhi keberhasilannya. Praktik baik kolaborasi antaranggota masyarakat telah menjadi bagian dari tradisi Indonesia melalui semangat gotong royong. Kepedulian menjadi kata kunci. Sekaranglah saatnya untuk melakukan penguatan pendidikan karakter yang berbasis komunitas masyarakat.

Pembinaan karakter melalui Peran Serta Masyarakat dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut :

  1. Identifikasi dan klasifikasi masalah
  2. Penentuan karakter positif yang dibina
  3. Menentukan langkah pembinaan dan pihak yang terlibat
  4. Sosialisasi program PSM berkarakter
  5. Implementasi kerjasama pembinaan karakter siswa
  6. Penguatan karakter siswa terintegrasi
  7. Monitoring dan evaluasi

 

BAB IV

STRATEGI DAN PENGUKUHAN

PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER

 

  1. Strategi Penguatan Pendidikan Karakter

Mengacu pada program prioritas pemerintah tahun 2015 yang dikenal dengan “nawacita” bahwa program ke-8 adalah “melakukan revolusi karakter bangsa  melalui kebijakan penataan kembali kurikulum pendidikan nasional dengan mengedepankan aspek pendidikan kewarganegaraan, yang menempatkan secara proporsional aspek pendidikan, seperti pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cinta Tanah Air, semangat bela negara, dan budi pekerti di dalam kurikulum pendidikan Indonesia”.

Salah satu Misi Pembangunan Nasional yang tertuang dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2015 yaitu  mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila. Makna dari misi tersebut adalah memperkuat jati diri dan karakter bangsa melalui pendidikan yang bertujuan membentuk manusia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, mematuhi aturan hukum, memelihara kerukunan internal dan antarumat beragama, melaksanakan interaksi antarbudaya, mengembangkan modal sosial, menerapkan nilai-nilai luhur budaya bangsa, dan memiliki kebanggaan sebagai bangsa Indonesia dalam rangka memantapkan landasan spiritual, moral, dan etika pembangunan bangsa.

Sesuai dengan arah kebijakan tersebut di atas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memprogramkan pengembangan dan implementasi  pendidikan karakter di sekolah dasar.

Adapun strategi pengembangan dan implementasi pendidikan karakter  di sekolah dasar mencakup:

  1. pengembangan regulasi,
  2. sosialisasi,
  3. pengembangan kapasitas,
  4. implementasi dan kerjasama, serta
  5. monitoring dan evaluasi.

Strategi tersebut dilaksanakan dengan prinsip komprehensif dan berfokus pada tugas, pokok, fungsi, dan sasaran  masing-masing Unit Utama di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Tingkat Sekolah

Pendidikan karakter di sekolah dasar diimplementasikan melalui pendekatan menyeluruh, dengan mementingkan keseimbangan pengembangan unsur karakter  yakni: Ngerti (mengerti), Ngroso (merasa), dan Nglakoni (melakukan), atau  pengetahuan moral (moral knowing), perasaan moral (moral feeling), dan tindakan moral (moral action). Pendekatan menyeluruh (komprehensif) dapat digambarkan sebagai berikut:

pengembangan pendidikan karakter di sekolah dibagi dalam empat pilar, yakni:

  • kegiatan pembelajaran di kelas,
  • kegiatan keseharian dalam bentuk pengembangan budaya sekolah;
  • kegiatan ekstrakurikuler, dan
  • kegiatan keseharian yang melibatkan PSM.

Gambar di atas menunjukkan alur kebijakan implementasi pendidikan karakter dari tingkat pusat sampai di tingkat sekolah. Dimana pusat menetapkan  berbagai regulasi, menghimpun pendapat berbagai praktisi, dan melakukan revitalisasi program secara nasional.  Kegiatan tersebut diikuti dengan kegiatan sosialisasi, pengembangan regulasi yang lebih operasional, pengembangan kapasitas pendidik dan tenaga kependidikan, dilanjutkan dengan implementasi di tingkat sekolah. Dalam mengimplementasikan program tersebut sekolah melakukan  kerja sama dengan pihak terkait baik komite sekolah, tokoh masyarakat, maupun komponen masyarakat lainnya.

Evaluasi perlu dilakukan untuk mengetahui keterlaksanaan program, hambatan-hambatan dalam rangka perbaikan program selanjutnya. Untuk mengembangkan pendidikan karakter yang baik, sekolah dapat mencontoh, mengadopsi, dan mengadaptasi pengalaman praktik yang baik pelaksanaan pendidikan karakter dari sekolah lain.

Secara konkret pelaksanaan pengembangan pendidikan karakter di sekolah dilakukan melalui:

  1. Kegiatan Pembelajaran di kelas.
  2. Pengembangan Budaya Sekolah.
  3. Kegiatan Ekstrakurikuler dan program kegiatan sekolah lainnya.
  4. Kegiatan pembiasaan dalam kehidupan keseharian di rumah dan masyarakat

maka pendidikan karakter di Sekolah Dasar dapat diimplementasikan sebagai berikut.

  1. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yakni dengan mengintegrasikan dalam kegiatan belajar mengajar melalui berbagai mata pelajaran baik secara parsial maupun terpadu (tematik).
  2. Pelaksanaan kegiatan pembiasaan keseharian yang berada di Sekolah Dasar, melalui pengembangan budaya/kultur sekolah untuk pengembangan pendidikan karakter.
  3. Pelaksanaan ekstrakurikuler dengan mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti pendidikan kepramukaan, olah raga, seni, keagaamaan, dan lain-lain.
  4. Kegiatan pembiasaan keseharian di sekolah dan rumah dilakukan dengan memberdayakan dukungan orangtua dan masyarakat.

Pendidikan karakter dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas, dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan terintegrasi dalam semua mata pelajaran. Khusus untuk materi Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan, karena memang misinya adalah mengembangkan nilai dan sikap. Oleh karena itu pengembangan karakter harus menjadi misi utama yang dapat menggunakan berbagai strategi/metode pendidikan karakter. Untuk kedua mata pelajaran tersebut, karakter dikembangkan sebagai dampak langsung dan dampak pengiring melalui pengalaman belajar tertentu. Sementara itu mata pelajaran lainnya, yang secara formal memiliki misi utama selain pengembangan karakter, wajib mengembangkan rancangan pembelajaran pendidikan karakter yang diintegrasikan ke dalam substansi/kegiatan mata pelajaran sehingga memiliki dampak langsung dan pengiring bagi berkembangnya karakter dalam diri peserta didik.

Lingkungan sekolah perlu ditata situasinya agar lingkungan fisik dan sosial kultural sekolah memungkinkan para peserta didik bersama dengan warga sekolah lainnya terbiasa melakukan kegiatan keseharian di sekolah yang mencerminkan perwujudan karakter yang ingin dicapai. Pola ini ditempuh dengan melakukan pembiasaan dengan pembudayaan aspek-aspek karakter dalam kehidupan keseharian di sekolah dengan pendidik sebagai teladan.

Kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan sekolah yang bersifat umum dan terkait  pada berbagai mata pelajaran.  Kegiatan ekstra- kurikuler meliputi kegiatan kepramukaan, dokter kecil, Palang Merah Remaja (PMR), pecinta alam, klub olahraga, dan seni budaya  perlu dikembangkan secara terprogram dan berkelanjutan. Kegiatan tersebut dilakukan melalui proses pembiasaan dan penguatan dalam rangka pengembangan karakter. Kegiatan ekstrakurikuler olahraga, seni dan keterampilan dilakukan dalam bentuk pembelajaran, pelatihan, kompetisi atau festival. Berbagai kegiatan olahraga dan seni tersebut diorientasikan terutama untuk penanaman dan pengembangan sikap, perilaku, dan kepribadian para sesuai agar menjadi manusia Indonesia berkarakter baik seperti: jiwa sportif, kerjasama, kebanggaan, disiplin, menghargai orang/kelompok lain, berjiwa besar dan tanggungjawab.

Dalam lingkungan keluarga dan masyarakat diupayakan agar terjadi proses penguatan dari orang tua/wali serta tokoh-tokoh masyarakat terhadap karakter mulia yang dikembangkan di sekolah. Proses penguatan tersebut dilakukan secara kontinyu sehingga menjadi kegiatan keseharian di rumah dan di lingkungan masyarakat masing-masing. Hal ini dapat dilakukan lewat komite sekolah, pertemuan peserta didik murid, kunjungan/kegiatan peserta didik murid yang berhubungan dengan kumpulan kegiatan sekolah dan keluarga yang bertujuan untuk menyamakan langkah dalam membangun karakter luhur di sekolah, di rumah dan masyarakat.

 

  1. Pengukuhan Penguatan Pendidikan Karakter

Untuk dapat mencapai tujuan pendidikan nasional yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab, diperlukan strategi berbentuk:

(1) pengukuhan nilai etika dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara;

(2) pengukuhan pelaksanaan pembangunan karakter bangsa.

Untuk mencapai hal tersebut dilakukan dengan

(a) memantapkan  hasil-hasil penyadaran mengenai pembangunan karakter bangsa serta implementasinya sehingga menjadi perilaku nyata secara perorangan maupun kolektif,

(b) meningkatkan kesadaran dan pemahaman akan nilai-nilai baik karakter bangsa agar menjadi semakin kukuh jika didesain melalui perilaku konkret secara personal dan antarpersonal dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

(c) meningkatkan strategi dan implementasi pembangunan karakter dengan dimantapkan melalui kegiatan nyata yang dilakukan oleh keluarga, komunitas, atau masyarakat dengan cara dan bentuk yang sesuai dengan budaya lokal, nasional, dan budaya global yang diadaptasi melalui proses akulturasi.

 

BAB V

 NILAI– NILAI

PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER

 

  1. Nilai Spiritual

Menghayati hubungan spiritual dengan Sang Pencipta dan diwujudkan dengan sikap moral keseharian untuk menghormati sesama makhluk hidup dan alam sekitar.

Kegiatan wajib

Membiasakan untuk menunaikan ibadah bersama sesuai agama dan kepercayaannya baik dilakukan di sekolah maupun bersama masyarakat. Membiasakan perayaan Hari Besar Keagamaan dengan kegiatan yang sederhana dan hikmat. Membiasakan siswa menginisiasi dan melakukan kegiatan sosial.

Guru dan peserta didik berdoa bersama sesuai keyakinan masing-masing-masing, sebelumdan sesudahhari pembelajaran, dipimpin oleh seorang peserta didik secara bergantian di bawah bimbingan guru.

 

  1. Penanaman nilai kebangsaanan kebhinnekaan

Keteguhan menjaga semangat kebangsaan dan kebhinnekaan untuk menjalin dan merekattenun kebangsaan. Mampu terbuka terhadap perbedaan bahasa, suku bangsa, agama dan golongan, dipersatukan oleh keterhubungan untuk mewujudkan tindakan bersama sebagaisatu bangsa dan satu tanah air.Melaksanakan upacara bendera setiap hari Senin dengan mengenakan seragam atau pakaian yang sesuai dengan ketetapan sekolah. Melaksanakan upacara bendera pada pembukaan MOPDB. Sesudah berdoa setiap memulai hari pembelajaran, guru dan peserta didik menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Sebelum berdoa saat mengakhiri hari pembelajaran, guru dan peserta didik menyanyikan lagu daerah, lagu wajib nasional maupun lagu terkini yang bernuansa patriotik atau cinta tanah air.

Kegiatan wajib

Mengenalkan beragam keunikan potensi daerah asal siswa melalui berbagai media dan kegiatan.

Membiasakan perayaan Hari Besar Nasional dengan mengkaji atau mengenalkan pemikiran dan semangat yang melandasinya melalui berbagai media dan kegiatan.

 

  1. Interaksi positif dengan sesama siswa

Kepedulian terhadap kondisi fisik dan psikologis antar teman sebaya, adik dan kakak kelas. Membiasakan pertemuan di lingkungan sekolah dan/atau rumah untuk belajar kelompok yang diketahui oleh guru dan/atau orangtua.

Kegiatan wajib

Gerakan kepedulian kepada sesama warga sekolah dengan menjenguk warga sekolah yang sedang mengalami musibah, seperti sakit, kematian, dan lainnya.

Gerakan kakak kelas asuh, di mana seorang kakak kelas membimbing seorang adik kelas yang baru masuk ke sekolah.

 

  1. Interaksi positif dengan guru dan orangtua

Interaksi sosial positif antara peserta didik dengan figur orang dewasa di lingkungan sekolahdan rumah, yaitu mampu dan mau menghormati guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan,warga masyarakat di linglkungan sekolah dan orang tua, yang sebaliknya menghargai danmenyayangi para siswa. Sekolah mengadakan pertemuan dengan orangtua siswa pada setiap tahun ajaran baru untuk mensosialisasikan: a) visi; b) aturan; (c) materi; dan (d) rencana capaian belajar siswa agar orangtua turut mendukung keempat poin tersebut.

Kegiatan wajib

Memberi salam, senyum dan sapaan kepada setiap orang di komunitas sekolah.Guru dan tenaga kependidikan datang lebih awal untuk menyambut kedatangan peserta didik sesuai dengan tata nilai yang berlaku. Membiasakan peserta didik untuk berpamitan dengan orang tua/wali/penghuni rumah saat pergi dan lapor saat pulang, sesuai kebiasaan/ adat yang dibangun masing-masing keluarga.

Secara bersama peserta didik mengucapkan salam hormat kepada guru sebelum pembelajaran dimulai, dipimpin oleh seorang peserta didik secara bergantian.

 

  1. Penumbuhan potensi unik dan utuh setiap anak

Penghargaan terhadap keunikan dan keutuhan potensi peserta didik untuk dikembangkan.Mendorong siswa mengembangkan kecakapan dasar serta minat-bakatnya menggunakan 15 menit sebelum hari pembelajaran untuk membaca buku selain buku mata pelajaran.

Kegiatan wajib

Peserta didik membiasakan diri untuk memiliki tabungan dalam berbagai bentuk (rekening bank, celengan, dan lainnya).

Membangun budaya bertanya dan melatih peserta didik mengajukan pertanyaan kritis dan membiasakan siswa mengangkat tangan sebagai isyarat akan mengajukan pertanyaan.

Membiasakan setiap peserta didik untuk selalu berlatih menjadi pemimpin dengan cara memberikan kesempatan pada setiap siswa tanpa kecuali, untuk memimpin secara bergilir dalam kegiatan-kegiatan bersama/berkelompok.Warga sekolah memanfaatkan waktu sebelum memulai hari pelajaran pada hari-hari tertentu (dilaksanakan secara berkala dan rutin) untuk kegiatan olah fisik seperti senam kesegaran jasmani. Siswa melakukan kegiatan positif secara berkala sesuai dengan potensi dirinya.

 

  1. F. Pemeliharaan lingkungan sekolah

Ikut bertanggung jawab memelihara lingkungan sekolah secara bergotong-royong untukmenjaga keamanan, ketertiban, kebersihan dan kenyamanan lingkungan sekolah.

Membiasakan penggunaan sumber daya sekolah (air, listrik, telepon, dsb) secara efisien melalui berbagai kampanye kreatif dari dan oleh siswa. Menyelenggarakan kantin yang memenuhi standar kesehatan. Membangun budaya peserta didik untuk selalu menjaga kebersihan di bangkunya masing-masing sebagai bentuk tanggung jawab individu maupun kebersihan kelas dan lingkungan sekolah sebagai bentuk tanggung jawab bersama.

Kegiatan wajib

Mengajarkan simulasi antri melalui baris sebelum masuk kelas, dan pada saat bergantian memakai fasilitas sekolah.

Peserta didik melaksanakan piket kebersihan secara beregu dan bergantian regu. Menjaga dan merawat tanaman di lingkungan sekolah, bergilir antar kelas. Melaksanakan kegiatan bank sampah bekerja sama dengan dinas kebersihan setempat.

 

  1. Pelibatan orangtua dan masyarakat

Penguatan peran orangtua dan unsur masyarakat di sekitar sekolah dengan melibatkansecara aktif dalam kegiatan pembiasaan sikap dan perilaku positif di sekolah. Mengadakan pameran karya siswa pada setiap akhir tahun ajaran dengan mengundang orangtua dan masyarakat untuk memberi apresiasi pada siswa.

Kegiatan wajib

Orangtua membiasakan untuk menyediakan waktu 20 menit setiap malam untuk bercengkerama dengan anak mengenai kegiatan di sekolah. Sekolah bekerja sama dengan instansi swasta dan organisasi profesi untuk mengenalkan profesi dan kegiatan kemasyarakatan kepada para siswa. Masyarakat bekerja sama dengan sekolah untuk mengakomodasi kegiatan kerelawanan oleh peserta didik dalam memecahkan masalah-masalah yang ada di lingkungan sekitar sekolah.

 

BAB VI

GERAKAN PEMBIASAAN

PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER

 

  1. Tujuan

Belum seluruh sekolah menjadi tempat yang nyaman dan menginspirasi bagi siswa, guru, dan tenaga kependidikan Pembiasaan sikap dan perilaku positif di sekolah belum sepenuhnya menjadi bagian proses belajar dan budaya sekolah  Pendidikan karakter belum sepenuhnya menjadi gerakan bersama yang melibatkan pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, dan orang tua.

kegiatan pembiasaan sikap dan perilaku positif di sekolah yang dimulai sejak dari masa orientasi siswa baru sampai dengan tamat pendidikannya di sekolah.

Adapun tujuan dari kegiatan pembiasaan adalah sebagai berikut :

  1. Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan bagi warga sekolah
  2. Menumbuhkembangkan kebiasaan yang baik sebagai bentuk pendidikan karakter sejak di sekolah.
  3. Menjadikan pendidikan sebagai gerakan yang melibatkan pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, dan keluarga.
  4. Menumbuhkembangkan lingkungan dan budaya belajar yang serasi antara sekolah, masyarakat, dan keluarga.

 

 

 

  1. Sasaran

Sasaran dari pelaksanaan gerakan karakter di sekolah yaitu:

  1. Peserta didik
  2. Guru

3.Tenaga kependidikan

  1. Orang tua
  2. Komite sekolah
  3. Alumni
  4. Masyarakat

 

  1. Pelaksanaan
  2. Masa Orientasi Peserta Didik Baru, diantaranya dengan melakukan kegiatan beriktut.
  3. MOPDB dilaksanakan pada setiap awal tahun pelajaran baru selama 3 (tiga) atau paling lama 5 (lima) hari.
  4. MOPDB dilaksanakan melalui Gerakan Mengantar Anak ke Sekolah pada hari pertama masuk sekolah oleh orangtua/wali
  5. Pengenalan lingkungan belajar baru di sekolah bagi siswa
  6. Pengenalan kelembagaan dan program sekolah
  7. Pengenalan cara belajar yang efektif baik di sekolah maupun di rumah
  8. Pengenalan sesama warga sekolah secara egaliter, akrab, hangat, dan menyenangkan
  9. Pentas Seni, Bakat Minat, dan/atau Olahraga di Sekolah.

 

Kegiatan MOPDB hari pertama meliputi:

  1. gerakan orangtua/wali mengantarkan peserta didik ke sekolah;
  2. upacara bendera pembukaan MOPDB yang meliputi: defile per kelompok peserta didik baru; menyanyikan lagu Indonesia Raya; sambutan-sambutan; membaca doa
  3. sambutan kepala sekolah tidak berisi hal-hal yang terkait dengan biaya/anggaran;
  4. pentas seni/olahraga dan kreativitas MOPDB terdiri dari: menyanyikan lagu patriotik; menyanyikan lagu daerah;
  5. penampilan pakaian daerah; pengenalan makanan dan minuman tradisional yang sehat; dan/atau memilih kegiatan lain yang sesuai dengan kondisi sekolah;
  6. penanaman pohon per kelompok untuk dipelihara sampai kelompok bersangkutan tamat;
  7. perkenalan antar peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali, dan masyarakat.

 

Kegiatan hari kedua dan ketiga

Kegiatan dilaksanakan melalui kegiatan pengenalan program sekolah, lingkungan, cara belajar, penanaman konsep pengenalan diri peserta didik, dan kepramukaan sebagai pembinaan awal kearah terbentuknya kultur sekolah yang kondusif bagi proses pembelajaran lebih lanjut sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

 

  1. Pembiasaan
  2. Pembiasaan umum
  3. memberi salam, senyum, dan sapaan kepada setiap orang di komunitas sekolah;
  4. membersihkan lingkungan sekolah dari limbah fisik dan visual;
  5. santun dalam berbicara, bersikap, dan berperilaku;
  6. berpakaian sopan sesuai norma dan budaya nasional dan/atau lokal;
  7. menggunakan sumber daya sekolah (air, listrik, telpon, dsb.) secara efisien untuk mencegah berbagai bentuk pemborosan;
  8. mengurangi penggunaan plastik atau bahan lain yang tidak mudah terurai;
  9. mematikan lampu dan semua alat yang menggunakan listrik saat
  10. mematikan kran air saat tidak diperlukan;
  11. membuang sampah pada tempat yang telah disediakan;
  12. membersihkan sanitasi seperti toilet, wastafel, kamar mandi,

dan/atau saluran air sekolah;

  1. Menjaga ketertiban dan kenyamanan layanan sekolah;
  2. menyanyikan lagu-lagu bermuatan moral;
  3. Setiap warga sekolah menjenguk warga sekolah lainnya

yang mengalami musibah, seperti sakit, kematian,

  1. Siswa membiasakan membuat skala prioritas kebutuhan

sesuai dengan tingkat kepentingannya; dan

  1. Siswa membiasakan diri untuk memiliki tabungan dalam

berbagai bentuk (misalnya bank, celengan,  dan sejenisnya).

 

  1. Pembiasaan harian
  2. siswa mencium tangan dan/atau memeluk orang tua/wali sebelum berangkat ke sekolah;
  3. Guru dan tenaga kependidikan datang lebih awal untuk menyambut kedatangan siswa sesuai dengan tata nilai yang berlaku;
  4. siswa berbaris menjelang masuk kelas yang dipimpin oleh satu orang siswa secara bergantian;
  5. Secara bersama siswa mengucapkan salam hormat kepada guru sebelum pembelajaran dimulai, dipimpin oleh seorang siswa secara bergantian;
  6. siswa berdoa bersama sebelum dan sesudah pembelajaran, dipimpin oleh seorang siswa secara bergantian berdasarkan kesepakatan kelas;
  7. siswa dan warga sekolah harus membaca buku bacaan minimal 15 (lima belas) menit setiap hari sebelum pembelajaran dimulai di sekolah;
  8. Siswa membiasakan diri untuk bertanya kepada guru selama proses pembelajaran dan/atau setelah selesai pembelajaran, dengan mengangkat tangan untuk memohon ijin terlebih dahulu;
  9. Siswa selalu merapikan bangku masing-masing sebelum meninggalkan ruang kelas diakhir proses pembelajaran;
  10. warga sekolah menyanyikan lagu wajib nasional, lagu daerah, dan/ atau lagu patriotik, seperti Bagimu Negeri, Halo-Halo Bandung, Pancasila Rumah Kita, Kebyar– Kebyar, Bendera, Garuda di Dadaku, dan lain-lain;
  11. Siswa melaksanakan piket kebersihan kelas secara beregu

dan bergantian regu;

  1. warga sekolah menunaikan ibadah bersama di sekolah sesuai

dengan agama dan kepercayaannya; dan

  1. setiap siswa dapat menjadi pemimpin dalam setiap kegiatan

bersama, seperti berbaris menjelang masuk kelas, membaca

doa sebelum dan sesudah belajar, piket kelas, kerja bakti.

  1. Pembiasaan mingguan
    1. melaksanakan apel bendera setiap hari Senin dengan

berpakaian seragam sekolah;

  1. melaksanakan senam nasional bersama dan/atau senam yang

diciptakan oleh daerah masing-masing;

  1. pemeriksaan kebersihan pakaian, gigi, kuku, dan rambut oleh

Usaha Kesehatan Sekolah (UKS);

  1. Pemeriksaan isi tas dan gawai (gadget) siswa secara acak;
  2. Menyelenggarakan kantin yang memenuhi standar kesehatan;
  3. melaksanakan kegiatan bank sampah bekerja sama dengan

dinas kebersihan setempat.

 

  1. Pembiasaan bulanan
  1. menjaga dan merawat tanaman di lingkungan sekolah;
  2. melaksanakan kerja bakti;
  3. penataan ruang kelas sesuai dengan kondisi dan kebutuhan kelas;
  4. membuat buletin dan/atau majalah dinding;
  5. Siswa melakukan diskusi kelompok dihadiri oleh guru dan tenaga kependidikan; dan
  6. Sekolah menyediakan ruang publik untuk berkreasi siswa secara bebas dan bertanggung jawab.

 

  1. Pembiasaan per semester
    1. melaksanakan kerja bakti untuk lingkungan sekitar sekolah;
    2. melaksanakan berbagai jenis lomba antarkelas;
    3. menyelenggarakan forum diskusi siswa dengan narasumber berasal dari siswa dihadiri oleh guru dan tenaga kependidikan;
    4. memelihara bangku kelas dan fasilitas sekolah lainnya agar selalu tetap bersih dari coretan dalam bentuk apapun; dan
    5. siswa berlatih membuat produk kreatif yang dapat dijual.

 

  1. Pembiasaan tahunan
  1. memperingati hari besar nasional dan keagamaan;
  2. melaksanakan kerja bakti bersama warga lingkungan sekitar sekolah;
  3. melaksanakan lomba kelas sehat secara berkelanjutan;
  4. mengikutsertakan perwakilan siswa dalam penyusunan tata tertib sekolah;
  5. melaksanakan pentas seni dan/atau pameran karya siswa;
  6. mengikuti kegiatan perlombaan dan festival di luar sekolah baik tingkat sekolah, kecamatan, kabupaten/kota, propinsi, atau nasional.

 

  1. Pembiasaan kegiatan setelah ujian akhir
  2. orang tua/wali menjemput siswa pada hari akhir ujian;
  3. mengadakan kerja bakti di lingkungan sekolah dan sekitar sekolah;
  4. mengadakan kegiatan-kegiatan keagamaan;
  5. mengumpulkan dan membagikan baju layak pakai kepada pihak lain yang lebih membutuhkan;
  6. mengadakan senam bersama, lomba dan festival olahraga, permainan tradisional, bakat dan minat, melibatkan perwakilan siswa, guru, tenaga kependidikan, orangtua, dan masyarakat sekitar sekolah; dan
  7. mengadakan hari berbagi pengalaman dengan mengundang tokoh masyarakat atau pemimpin informal yang memiliki pengaruh.
  8. mengadakan perkemahan Sabtu-Minggu (Persami) untuk membangun keakraban di antara siswa dan siswa, serta siswa dan guru, melibatkan partisipasi masyarakat sekitar perkemahan;
  9. Menghilangkan praktik coret-coret seragam, konvoi di jalan umum, dan pesta-pesta yang tidak sesuai dengan norma dan tata nilai, setelah pengumuman ujian;
  10. Menghibahkan pakaian seragam sekolah layak pakai kepada adik kelas atau pihak lain yang membutuhkan;
  11. mengadakan hari refleksi sekolah, seperti Mabita (malam pembinaan iman dan taqwa); dan
  12. mengadakan kegiatan perpisahan secara hikmat dan murah.
  13. Indikator Ketercapaian Pendidikan Karakter
  • BERSIH, RAPI DAN NYAMAN
  • Tersedia toilet yang selalu bersih dan tersedia air dan fasilitasnya
  • Bak sampah tersedia di tempat-tempat yang semestinya
  • Tanaman di halaman terpelihara dan menimbulkan rasa sejuk
  • Halaman dan ruang kelas yang bersih dan rapih
  • DISIPLIN
  • Pendidik, tenaga pendidik dan peserta didik datang tepat waktu dan pembelajaran berlangsung dengan baik
  • Aturan yang sudah disetujui oleh warga sekolah harus dilaksanakan dengan baik
  • SOPAN
  • Guru dan tenaga kependidikan serta peserta didik saling memberi salam jika bertemu
  • Berpakaian rapi dan sopan
  1. Tahapan Pembentukan Pendidikan Karakter
  2. Tahap Penanaman :
  • Dikenalkan contoh-contoh konkrit yang baik dan
  • Jelaskan konsekuensi positif dan negatifnya.
  • Dipantau orang tua, guru, masyarakat.
  • Dibetulkan yang salah dan silap dengan cara baik.
  1. Tahap Penumbuhan :
  • Hasil “penanaman” selalu diingatkan, dibimbing, pantau.
  • Jangan dicela/dihina agar tumbuh dgn baik dalam hati sanubari.

Tahap Pengembangan :

  • Melalui kegiatan konkrit, berikan kepercayaan melalui diskusi, permainan peran, simulasi, dan lain-lain.
  • Dengan memerankan – mudah internalisasi sesuai potensinya.
  1. Tahap Pemantapan :
  • Diberi kesempatan untuk mengaktualisasikan diri dalam bentuk kegiatan nyata bersama teman / masyarakat.
  • Didorong untuk partisipasi aktif, bertanggung jawab dalam sikap, tindakan, dan tutur kata.

BAB VII

PENERAPAN PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER

DI SDN LAMNGA ACEH BESAR

  1. Perencanaan PPKdi SDN Lamnga

 

 

Perencanaan program PPK SD Negeri Lamnga adalah program sekolah yang disusun oleh semua warga sekolah dan stakehoders yang ada di SDN Lamnga. Program ini disusun berdasarkan masukan dari berbagai warga sekolah dan semua pihak yang berkepentingan. Program-program PPK ini diputuskan melalui rapat dewan pendidikan yang di hadiri oleh warga sekolah dan dipimpin langsung oleh kepala sekolah. Program sekolah yang telah direncanakan bersama diharapkan sebagai pijakan dalam mengembangkan mutu sekolah, mampu memberikan inspirasi, motivasi, kekuatan sesuai Visi, Misi dan tujuan sekolah.

Visi SDN Lamnga adalah Terwujudnya warga sekolah yang berakhlakul karimah, disiplin, berprestasi, terampil dan berwawasan IPTEK. Selanjutnya proses pendidikan diarahkan pada penampilan untuk mengembangkan kecakapan peserta didik yang berkarakter.  Hal yang harus dikembangkan dalam perencanaan program PPK yang berbasis budaya sekolah SDN Lamnga antara lain :

  1. Rencana kegiatan pengembangan kapasitas kepala sekolah dalam penguatan pendidikan karakter
  2. Branding Sekolah
  3. Nilai utama PPK
  4. Pembelajaran terinterasi dalam kurikulum / intrakurikuler
  5. Kegiatan ekstrakurikuler
  6. Partisipasi orang tua dalam PPK
  7. Partisipasi masyarakat terhadap PPK

 

Program PPK sekolah agar berhasil dengan baik perlu adanya evaluasi secara berkala. Juga perlu adanya system pengawasan dan kontrol yang baik dari semua pihak yang berkepentingan. Komite sekolah berfungsi sebagai alat kontrol tentang pelaksanaan program PPK sekolah apakah sudah sesuai target yang diharapkan sesuai dengan visi, misi dan tujuan sekolah atau belum. Sementara kepala sekolah selaku manajerial sebagai sentral suksesnya program sekolah yang dimanagenya.

Penguatan Pendidikan Karakter  SD Negeri Lamnga  dilaksanakan dengan program perencanaan dan jadwal yang tersusun sesuai hasil keputusan warga sekolah,  memiliki implikasi pada kebijakan pembelajaran di sekolah , berdampak pada penyusunan jadwal pembelajaran, pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler, penguatan karakter dan budaya sekolah serta dibutuhkannya interaksi dengan wali murid secara lebih terkoordinir.  Di SDN Lamnga kegiatan PPK berbasis budaya sekolah telah berlangsung sejak tahun 2012 hingga kini. Dalam pelaksanaannya tentu saja masih perlu evaluasi demi kelancaran program ini di masa yang akan datang. Jam pelaksanaan kegiata PPK di SDN Lamnga dilaksanakan sebelum dan sesudah proses belajar rmengajar.

  1. Waktu dan Pembiasaan

Peserta didik mulai kelas I s/d VI diharapkan sudah di sekolah pukul 7.30 dengan pembiasaan diantaranya :

  1. Pembiasaan budaya bersalaman
  2. Piket kelas
  3. Setiap hari Senin dilaksanakan Upacara Bendera yang wajib diikuti peserta didik dan dewan guru SDN Lamnga ( pada pukul 07.30 – 08.00 )
  4. Selanjutnya siswa kelas I s/d VI masuk kelas dimulai dengan kegiatan Sarapan Pagi ( Pukul 08.00 – 08.15 )
  5. Dilanjutkan dengan pembelajaran jam pertama dimulai pukul 08.15 – 10.15
  6. Jam istirahat pertama pada pukul 10.15 – 10.35 selama 20 menit dimanfaatkan peserta didik untuk istirahat, makan bersama, dan lain-lain.
  7. Jam istirahat kedua selama 35 menit pukul 12.35 – 13.10 dimanfaatkan untuk sholat dhuhur berjamaah.

 

  1. Senam Pagi ( selasa s/d kamis ) pada pukul 07.30 – 08.00
  2. Untuk kegiatan lain sebagai pendukung gerakan PPK di sekolah antara lain pelaksanaan Wirid yasin setiap Jum’at ( pada pukul 07.30 – 08.00 )
  3. Asmaul Husna setiap sabtu( pada pukul 07.30 – 08.00)
  4. 1. Perubahan Perilaku Warga Sekolah

Kegiatan penguatan pendidikan karakter ini dilaksanakan atas kesadaran warga sekolah guna terwujudnya sekolah yang diharapkan sesuai dengan visi, misi dan tujuan sekolah. Diharapkan dengan kegiatan tersebut dapat mendukung kelancaran Penguatan Pendidikan Karakter di SD Negeri Lamnga Kabupaten Aceh Besar.

Pelaksanaan PPK yang berbasis budaya sekolah di SDN Lamnga telah berlangsung semenjak tahun 2012. Kegiatan tersebut merupakan hasil dari kesepakatan semua warga sekolah untuk menanam kembali karakter budaya bangsa yang telah berkembang lama di Negara kita. Selanjutnya dibaregi dengan pendekatan religious, nasionalis, tanggungjawab, gotong royong dan mandiri.

Setelah dilaksanakan program PPK berbasis budaya  sekolah di SD Negeri Lamnga nampak perubahan – perubahan positif pada siswa, guru dan sekolah diantaranya :

  1. Siswa termotivasi dan bersemangat dalam belajar
  2. Kerajinan siswa, dan guru mencapai rata-rata 99 %
  3. Kedisiplinan siswa dan guru rata-rata 99 %
  4. Kreatifitas siswa dan guru meningkat
  5. Prestasi sekolah sudah Nampak pada kompetisi baik tingkat Gugus, UPTD Kabupaten dan Propinsi.

  BAB  VIII

 PENUTUP

Sudah banyak best practice  yang dilakukan di Sekolah,  namun masih banyak pekerjaan rumah yang harus dituntaskan dan dibenahi  untuk memastikan agar proses pembudayaan nilai-nilai karakter berjalan dan berkesinambungan. Kebijakan yang lebih komprehensif dan bertumpu pada kearifan lokal untuk menjawab tantangan zaman yang makin kompleks, mulai dari persoalan yang mengancam keutuhan dan masa depan bangsa sampai kepada persaingan global.

Peran sekolah dan masyarakat sangat strategis untuk penyempurnaan implementasi Penguatan pendidikan karakter  di satuan pendidikan.Penguatan pendidikan karakter dapat menumbuhkan semangat belajar dan mengoptimalkan potensi peserta didik sehingga menjadi warga negara yang memiliki karakter kuat, mencintai bangsanya dan mampu menjawab tantangan era global. Selamat berkarya untuk berjaya.

DAFTAR  PUSTAKA

  1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
  2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2013 tentang perubahan atas PP RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
  3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor  66 Tahun 2010 tentang  Perubahan Atas PP RI Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan
  4. Peraturan Presiden Nomor 43 Tahun 2014 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2015
  5. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah
  6. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah
  7. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah
  8. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan
  9. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses
  10. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kesiswaan
  11. Rencana Strategis Kemendikbud Tahun 2015-2020
  12. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015-2019
  13. Sambutan Mendikbud pada Peringatan Hari Pendidikan

Nasional Tahun 2015

  1. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2015. Panduan

Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar melalui Empat Jalur

Strategis. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar,

Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar.

  1. Bahan pada Sosialisasi Permendikbud tentang GPKDS, 2 Juli

2015

  1. Panduan Teknis Pengembangan Pendidikan Karakter

di Sekolah Dasar

 

 

Views All Time
Views All Time
63
Views Today
Views Today
1
Previous articleGELORA LITERASI DI ACEH BESAR OLEH : JUWITA,S.Pd
Next articleMENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR TENTANG KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN PADA SISWA KELAS IA SMP NEGERI 4 ROTE BARAT LAUT MELALUI PENDEKATAN DEMOKRATIS
Nama :Juwita, S.Pd Tempat tanggal lahir :Aceh besar 15 Maret 1978 Tempat tugas :SDN 1 Indrapuri Hobi: membaca, menulis, dan bersih-bersih Berstatus kawin dan memiliki 1 putri dan 2 orang putra, Tinggal di Desa Lambunot, Kecamatan Simpang Tiga,Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Mengecap pendidikan Min Paya Seunara Sabang, Lalu SMP 6 Kota Sabang,SMU di Banda Aceh, Lalu kuliah D-II di STKIP Getsempena. Melanjutkan S-1 FKIP Universitas Serambi Mekkah. Menjadi guru PNS April 2006,pertama mendapat SK di SDN Mureu Indrapuri, setahun kemudian di mutasi ke SDN 1 Indrapuri sampai sekarang,,, Pengalaman selama menjadi guru,,, pernah bersama DBE-2 sebagai fasilitator Sains, Fasilitator di HKI, Guru inti di gugus, dan memfasilitasi beberapa kegiatan di UPTD. Dalam mengembangkan kompetensi pernah mengikuti guru berprestasi tahun 2014, namun hanya mendapat juara 3 tingkat provinsi. Terimakasih banyak kepada semua pihak yang telah membantu saya untuk dapat bergabung di blog.igi yang is the best,,semoga kita selalu sharing and growing together. salam satu hati guruku di Indonesia, ditangan kita ujung tombak bangsa.

LEAVE A REPLY