Antara guru dan google ada kesamaan. Ya… sama-sama di awali dengan huruf “G”. hehehe… tetapi kalau ditanya lebih pintar siapa, jelaslah google pemenangnya. Apa sih yang google buat google?.  Bandingkan dengan guru kalau ditanya oleh siswa. Terkadang jawabannya kurang memuaskan. Tapi guru tidak kurang akal.  Sambil berkelakar ia berkata : “ Anak- anak, kalau jawaban tadi kurang memuaskan, mohon maaf. Karena Bapak bukan alat pemuas….” Hehehehe…Bisa aja.

Karena Guru Punya Hati

Google memang pintar. Para ahli menyebutnya artificial intellegence atau Al. Artinya kecerdasan buatan. Kalau begitu yang sebenarnya pintar itu siapa?, ya… manusia yang membuatnya. Ya gak. Bagaimana pun pintarnya google, tetap saja tidak akan mengalahkan kepintaran manusia.

Guru sebagai pelaku utama pendidikan, keberadaannya tidak bisa tergantikan oleh teknologi secanggih apapun. Seperti google. Mengapa ?. Karena guru punya akal dan hati. Sedangkan google tetaplah google. Mesin pencari yang keberadaannya baru berfungsi kalau dikendalikan oleh manusia.

Siswa dan Google

Hubungan siswa dengan google ibarat amlop dengan perangko. Tidak bisa dipisahkan. Ketergantungan siswa terhadap google sulit untuk dihindari. Hampir setiap saat mereka berinteraksi dengan google.

Kedekatan siswa dengan google. Bukan tanpa masalah. Tanpa pengawasan orang tua dan guru, mereka akan tersesat di jagat maya. Google bisa memberikan segalanya. Terutama informasi yang mereka cari.

Sesuai dengan perkembangan jiwanya, mereka serba ingin tahu. Selanjutnya mencoba.  Kalaulah yang mereka lakukan dalam hal yang positif. Itu tentu saja baik.  Untuk meminimalisir dampak negatifnya, Pemahaman siswa dalam literasi digital perlu diarahkan dengan benar.

Google Memang Pintar, tapi Tidak Punya Hati.

Pergeseran pola pembelajaran dari teacher centre menjadi student centre, bertujuan untuk memotivasi siswa supaya  lebih aktif lagi dalam belajar. Student centre bukan  berarti guru menyerahkan sepenuhnya kepada siswa untuk mencari sumber lain tanpa kendali. Tetapi guru harus berusaha memaksimalkan tugas dan fungsinya sebagai fasilitator pendidikan. Yang pada akhirnya pembelajaran bermakna dapat terwujud sesuai dengan yang diharapkan. Pembelajaran bermakna tidak bisa dipisahkan dari pendidikan karakter. Penanaman nilai nilai karakter inilah yang tidak bisa dilakukan oleh mesin pencari yang bernama google.

Semoga bermanfaat.

Sukabumi, 19 Maret 2021

Views All Time
Views All Time
22
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY