Harga Sebuah Rapor

2
245

Masih segar dalam ingatan kita, baru beberapa minggu sekolah menyelenggarakan hajat semesteran dan diakhiri dengan penyerahan rapor kepada orang tua/ wali. Bagaimana hiruk pikuknya orang tua, terutama bagi mereka yang masuk kategori ekonomi lemah dengan menanggung beberapa anak sekolah. Begitu terima rapor, merekapun pasrah, terserah kepada sekolah yang penting sudah menyelesaikan administrasi yang berkaitan dengan keuangan.

Sebelum dilaksanakan kurikulum 13 masyarakat/orang tua sangat apresiasif ketika menerima rapor anaknya. Mereka merasa senang dan bangga apabila anaknya menduki peringkat pertama atau masuk 3 besar di kelasnya. Mereka bangga karena anaknya tergolong anak yang pandai di kelasnya. Berbeda dengan mereka yang anak-anaknya tidak memiliki peringkat / atau peringkat di bawah, tampak di wajah mereka kurang ceria, mereka merasa malu karena anaknya dianggap bodoh di kelasnya. Dengan adanya peringkat maka bagi orang tua yang anaknya tidak masuk peringkat berusaha memotivasi agar anaknya giat belajar dan dapat mengejar ketertinggalannya, begitu juga orang tua yang anaknya memiliki peringkat dimotivasi belajar agar jangan sampai dilampaui peringkatnya oleh anak yang memiliki peringkat di bawahnya.

Bagi guru sendiri rapor yang dibuat sebelum kurikulum 13 lebih simpel dan praktis, lebih mudah dipahami orang tua wali, begitu juga proses pengerjaannya oleh guru. Bagi orang tua sendiri cukup sederhana tuntutannya, bagaimana perkembangan anaknya selama di sekolah dengan tolok ukur nilai yang ada. Mereka tidak membutuhkan deskripsi berbelit-belit dan cukup banyak seperti pada rapor dari kurikulum 13. Pada intinya kurikulum 13 telah memproduksi rapor yang menyusahkan banyak orang bagi sekolah maupun masyarakat, termasuk juga bagi lembaga pendidikan. Dulu rapor untuk satu semester cukup 2 halaman (kiri dan kanan) dengan pesan simpel dan praktis. Berbeda dengan rapor K-13, selain diabaikan siswa, tidak dipahami orang tua , membuat guru stress, dan membutuhkan kertas yang lebih banyak, bisa mencapai 6 halaman. Bayangkan berapa rim dan biaya yang dikeluarkan untuk sekali mengeluarkan nilai rapor (dalam satu semester).

Bagi sekolah-sekolah favorit mungkin tidak ada masalah, karena penilaian harus dengan nilai B baru dinyatakan lulus atau naik kelas. Tetapi bagi sekolah pinggiran yang mana siswanya mau berangkat sekolah rutin saja sudah untung. Guru dibuat stress, mengolah nilai agar menjadi B dengan sekian banyak format penilaian yang harus dilengkapi, dengan rumitnya format-format yang ada. Luar biasa K-13 telah membuat pendidikan acakadul, bukan hanya rapor, tetapi masih banyak yang lainnya membuat kerja ekstra keras dengan hasil yang sangat tidak maksimal, termasuk pengadaan ijazah yang selalu terlambat di era teknologi yang serba capat.

Haruskan K-13 berjalan terus, meskipun sudah banyak revisi ternyata belum memberikan perubahan atau kemudahan bagi pelaksananya. Bahkan nampak kesan lebih banyak menghambur-hamburkan biaya, tanpa memikirkan output yang dihasilkan. Haruskan kita membiarkan pendidikan semakin parah.

Jangan lupa artikel kelanjutannya :

  1. Rekayasa Nilai sebuah rapor !
  2. Lambatnya Pelayanan DI Era Digital
Views All Time
Views All Time
392
Views Today
Views Today
1

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY