HARI PERTAMA DALAM SEBUAH CATATAN 15 JULI 2019

0
43
Upacara pagi senin SMPN Satu Atap 1 Dusun Tengah 2019

Hari pertama, jam menunjukkan pukul 06.00 wib saya meninggalkan rumah mengendarai motor xeon berwarna putih orange, saya melaju menuju jalan raya, jalanan ramai, pedagang sayur keliling berderet di pinggir jalan menyiapkan daganggan nya, ibu-ibu muda mengendarai motor membonceng anak-anak kecil berseragam merah putih, anak-anak berseragam putih biru dan remaja-remaja berseragam putih abu-abu memacu sepeda dan kendaraan bermotor mereka.

Mobil pribadi, taxi colt dan truk ikut meramaikan jalan utama Ampah Kota. Becak-becak di parkir tak beraturan dan mobil exspedisi menurunkan barang di depan sebuah ruko. Ini membuat saya harus bersabar, jalanan berubah macet.

Seorang penjaga parkir mengambil inisiatif menertibkan kemacetan lalu lintas, dia meminta paman-paman pemilik becak memindahkan becak mereka. Perlahan kemacetan mulai teratasi. Saya melanjutkan perjalanan saya.

Tidak jauh dari terminal, saya mengambil arah ke kanan meninggalkan jalan utama kota kecil ini. Matahari bersinar terang, udara terasa lebih dingin dari hari-hari biasanya, embun-embun kecil di daun-daun di terpa sinar matahari, memantulkan cahaya yang menyilaukan mata.

Saya menempuh perjalanan berjarak 7 km, menuju desa Netampin. Di desa itu saya bekerja sebagai guru PPKn SMPN Satu Atap 1 Dusun Tengah.

Saya hanya memerlukan waktu 15 menit untuk mencapai sekolah ini bila perjalanan bebas hambatan. Sesampai di sekolah saya mengucapkan salam “selamat pagi” dan bersalaman kepada rekan-rekan yang telah tiba lebih awal.

Saya berpapasan dengan pak Yuda, beliau staf tata usaha di sekolah kami. Saya bertanya pada beliau “Pak berapa calon siswa baru yang terdaftar di sekolah kita?” Beliau menjawab “41 siswa bu untuk tahun ini, tapi tiga orang kelas VII akan pindah”. Saya lanjut bertanya “41 siswa hadir semua?” “iya bu, kata panitia semua hadir” ujar pak Yuda.

Saya diam dan mulai menghitung jam pelajaran saya yang akan diakui dapodik. Kelas VIIA-B 6 jp, kelas VIII hanya 37 siswa artinya hanya akan diakui 1 kelas 3 jp dan kelas IX masih menggunakan KTSP, IX A-B dapat diakui 4 jp dan ditambah tugas tambahan sebagai kepala perpustakaan 12 jp, jumlah total 25 jp. “Alhamdulillah” saya mengucap syukur dalam hati

Pukul 07.00 wib Lonceng berbunyi, seluruh siswa diminta berkumpul kelapangan, Ibu Siti Karimah dan Pak Nyoman mengatur barisan siswa. Upacara senin sekaligus pembukaan MPLS (masa pengenalan lingkungan sekolah) segera dimulai. Hari ini yang bertindak sebagai pembina upacara adalah kepala sekolah.

Dalam amanat nya beliau berpesan kepada calon siswa baru SMPN Satu Atap 1 Dusun Tengah “ Manfaatkan waktu masa pengenalan ini sebaik-baiknya, belajar sungguh-sungguh dan ikuti kegiatan MPLS ini dengan tertib sampai hari terakhir”. Beliau tidak banyak menyampaikan amanat dengan pertimbangan cuaca yang semakin terik.

Setelah upacara selesai, saya bersiap untuk memberi materi wawasan wiyata mandala pada ruang Patimura, saya mengambil absen dan materi yang sudah saya siapkan sejak satu hari sebelumnya.

Saya masuk kelas mengucapkan salam “selamat pagi” seluruh siswa diam tidak ada yang menjawab salam yang saya ucapkan, saya tersenyum. Ini selalu terjadi, sama pada tahun-tahun sebelumnya setiap masa pengenalan siswa baru

Lalu, saya katakan “sebelum memulai pelajaran atau aktivitas alangkah lebih baiknya kita berdo’a, ada gak yang bisa memimpin do’a kita hari ini” kelas hening. Beberapa siswa menundukkan kepala, saya tahu mereka merasa takut dan gugup. Saya melihat ke penjuru kelas, saya melihat seorang siswa yang tampak memiliki kepercayaan diri. Saya menanyakan namanya dan memintanya memimpin do’a.

Dengan percaya diri dia maju kedepan dan memimpin do’a “teman-teman sebelum kita memulai pelajaran marilah kita berdo’a menurut kepercayaan kita masing-masing. Berdo’a mulai!” Semua siswa dengan hikmat berdo’a. “Berdo’a selesai”. Saya mengucapkan terimakasih karena sudah mau memimpin do’a pada hari pertama ini.

Saya memperkenalkan diri

“Nama ibu,,Nurjanah. Biasa dipanggil Bu Nur, Ibu mengajar PPKn kelas IIV, IIIV, dan IX”

“Hari ini ibu akan menyampaikan tentang Wawasan Wiyata mandala”

“Hmmm, tapi sebelumnya ibu ingin mengenal kalian semua, bagaimana kalau Ibu minta kalian memperkenalkan diri terlebih dahulu”

Mereka mengikuti kata-kata saya, satu persatu menyebutkan nama, asal sekolah dan alamat. Sebagian terlihat percaya diri dan sebagian terlihat malu-malu.

Saya memulai materi wawasan wiyata mandala, mulai dari pengertian lalu menjelaskan. Siswa terlihat jenuh, saya sangat tahu. Saya mempunyai karakter melankoles dan perfeksionis, sulit bagi saya menghidupkan suasana tanpa alat bantu dalam mengajar, saya bukan tipe guru humoris yang mudah menarik perhatian siswa. Di kelas ini hanya ada papan tulis berwarna putih dan spidol untuk menulis.

Kendala besar di sekolah ini adalah sarana prasarana yang serba terbatas, berbeda dengan sekolah-sekolah negeri reguler. Di akhir materi, saya masih berusaha membangkitkan semangat mereka, saya berikan pertanyaan ringan secara lisan sebagai bentuk evaluasi, saya meminta mereka menulis dengan cepat jawaban mereka. Kemudian saya meminta membaca jawaban mereka, saya berikan reward pujian pada siswa yang tercepat dan tepat menjawab.

Lonceng berbunyi, tanda waktu berakhir…

Saya menutup pertemuan dengan mempersilahkan siswa beristirahat, saya ucapkan salam penutup dan saya meninggalkan kelas.

Saya menuju ruang guru, di depan meja piket saya menghentikan langkah. Saya bertemu pak Luthfi Musthafa, kami berdiskusi tentang persiapan usul kenaikan pangkat ke III/d. Kebetulan kami mempunyai kesamaan periode kenaikan pangkat bulan April 2020. Jadi kami pikir berkolaborasi menyiapkan berkas lebih baik dari pada berjalan sendiri-sendiri.

“Bu Nur, Pak Luthfi diminta bapak kepala sekolah ke ruang beliau” ujar pak Yuda

Saya dan pak Lutfhi bersama-sama menuju ruang kepala sekolah, di susul Pak Nyoman yang juga di minta ke ruang kepala sekolah.

“Selamat pagi bapak ibu, saya sengaja meminta bapak ibu keruangan saya karena ada beberapa hal yang mau saya diskusikan”.

Beliau meminta konsep pembagian tugas kepada pak Nyoman, menyusun jadwal mengajar, jadwal pekit dan rancangan penetapan wali kelas kepada pak Luthfi Musthafa dan Saya.

Beliau juga menanyakan penyebab sekolah ini tidak terakreditasi dalam isian data simpena- S/M online yang telah saya input. Saya menjelaskan ini terjadi karena sarana prasarana yang tidak memenuhi syarat, nilai sarana prasarana hanya 33. Beliau menanggapi, jika permasalahan nya sarana prasarana kita tidak bisa berbuat apa-apa, memang begini kenyataan sekolah satu Atap kita.

Diskusi singkat itu berakhir. Kepala sekolah mengucapkan terimakasih. Kami meninggalkan ruangan kepala sekolah

Saya menuju meja saya, membuka laptop dan mulai menulis catatan 15 Juni 2019,  saya memadupadankan kata-kata, kalimat demi kalimat. Saya larut dengan diri saya sendiri sampai lonceng pulang berbunyi.

****

 

 

Views All Time
Views All Time
28
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY